
Di kota, kemunculan Everon sudah pasti membuat orang-orang terkejut, begitu pun dengan para raja setiap Negeri yang berkumpul di sana, termasuk sang uskup agung sendiri. Bagaimana bisa Sang Naga yang sudah menghilang sekitar 10 tahun yang lalu, tiba-tiba terlihat di sekitar kota mereka, pikir orang-orang itu.
Orang-orang di sana jadi gelisah, mereka takut kalau Naga itu akan menyerang tempat mereka. Tapi nyatanya sang naga malah lenyap tak tersisa, banyak orang yang datang mengecek tampat itu tapi mereka tetap tidak menemukan jejak apapun. Hanya ada tempat yang hangus terbakar di tempat kemunculan Naga itu.
" Bagaimana mungkin kemunculan ini bisa sekebetulan ini, apa kah ini akan manjadi pertanda baik atau buruk. " ucap sang uskup agung dengan resah.
" Terakhir kali sang naga api terlihat saat dia bertarung dengan Kaisar terdahulu kami, sekitar 10 tahun lalu. Kemunculan nya saat ini benar-benar tidak disangka sangka. " ucap Ning.
" Tunggu, Anak-anak masih berada di kota. Bagaimana jika mereka malah terlibat perkelahian ditempat itu??. " ucap raja Ludwing saat teringat putrinya yang pergi sebelum nya.
" Kuharap mereka tidak terlibat apapun. " sahut Lecht.
****
Sedangkan di sebuah gua agak jauh dari tempat Everon muncul, ia membawa Quennevia dan Ethan ke sana bersama dengan Yue juga. Quennevia yang kehabisan kekuatan itu sedang berusaha untuk mengembalikan nya, sekalian menyerap kekuatan dari inti spirit yang tadi ia dapatkan.
" Hmm... Aku terkejut dia hanya berlatih seperti ini dan langsung jadi kuat. " ucap Ethan yang terus memperhatikan Quennevia itu.
" Bukannya kau juga sama, kalian sama-sama bukan manusia biasa. Sudah pasti perkembangan kalian jauh lebih cepat dari orang biasa juga. " sahut Everon datar.
" Iya, tapi aku lebih terkejut lagi saat tahu kau ada di dalam butuhnya. " ucap Ethan lagi, sambil melirik Everon yang ada di samping nya.
" Jangan bicara seolah aku yang ingin masuk dan tersegel di dalam tubuhnya, jika saja ayah bren*sek mu itu tidak membuatku terluka parah, Misika juga tidak akan punya kesempatan untuk menyegel ku seperti itu. " sahut Everon lagi.
Seperti nya mereka cepat akrab satu sama lain, meskipun keakraban mereka itu didasari oleh rasa tidak suka, dan pembicaraan itu membuat Everon maupun Ethan mengingat kenangan menyebalkan mereka. Everon jadi kesal dan ingin memukul ayah Ethan, andai saja dia masih hidup. Sementara itu Ethan juga ingin memukul Everon karena mulutnya yang kurang ajar itu.
Sedangkan Yue yang juga ada bersama mereka, hanya menetap kedua nya dengan tatapan datar. Entah kenapa dia merasa mereka saat ini seperti anak yang sedang ngambek satu sama lain.
" Kekanakan sekali. " batinnya.
Dia tidak mengerti lagi apa yang dipikirkan dua orang itu.
" Sepertinya penyerapan nya akan berakhir besok, lebih baik kau segera kembali sekarang. " ucap Everon pula.
" Lalu bagaimana dengan Quennevia, pangeran Lecht pasti akan memenggal kepala ku jika Quennevia tidak ikut pulang bersama ku. " sahut Ethan.
" Itu mudah.. " ucap Everon, mendengar itu membuat Ethan dan Yue jadi penasaran apa maksud nya.
****
Besok harinya, di aula pertemuan itu. Ethan dan Quennevia sudah ada di sana seperti biasanya, hanya saja.... Quennevia itu bukan Quennevia, melainkan Yue yang sedang menyamar.
" Duh, bagaimana jika ketahuan ya. Semoga tidak ada masalah lain yang akan terjadi. " batin Yue yang sangat gelisah, tapi harus tetep mempertahankan ekspresi datar yang selalu majikan nya tunjukkan.
Di sisi lain Ethan pun sama cemasnya dengan Yue, bagaimana jika mereka mengetahui nya dan malah berpikir kalau dia membawanya kabur. Situasi nya benar-benar akan sangat kacau nantinya.
Hal itu tidak ada yang tahu sama sekali, bahkan Kai dan Meliyana pun juga sama tidak tahunya. Mereka hanya bertemu di tempat yang sudah di janjikan lalu kembali ke tempat pertemuan itu, sama sekali tidak diberitahu tenteng apapun.
****
Ditempat lainnya, kediaman Mentri Hudson. Suasana di luar nya masih sama tenangnya seperti biasanya, tidak ada satupun hal yang mencurigakan, hanya ada para prajurit yang selalu berpatroli di sana.
Hudson mengalami sakit parah beberapa hari ini, karena itu dia tidak banyak beraktivitas seperti biasanya, semuanya ia tugaskan kepada Haika untuk membantu nya menyelesaikan masalah nya. Sedangkan putra nya Jason sedang fokus berlatih untuk jadi kesatria, yang lainnya juga hanya melakukan hal yang biasa mereka lakukan.
Tapi saat ini, di kamar Hudson sendiri....
Prangg....
" Khh... Ka.. kau.. Beraninya kau.. Melak... ukan... " ucap Hudson dengan lemah dan kata-katanya yang menggantung, ia pun menghembuskan nafas terakhir nya saat itu juga.
Sedangkan di sebelah nya yang terbaring itu, seseorang tengah tersenyum dengan licik.
****
Di tempat pertemuan, semua orang tengah mengobrol biasa saja kali ini, pertemuan itu sudah berakhir dan mereka hanya saling mengakrabkan diri di sana. Yue yang ada di sana juga merasa sangat lega karena semua nya berakhir dengan baik, ia sudah sangat ingin kabur saking takutnya jika dia ketahuan.
" Yue, kau baik-baik saja kan. " bisik Ethan kepada nya.
" Tidak, rasanya aku akan segera kabur tanpa keinginan ku saat ini. " sahut Yue, Ethan bisa mengerti hal itu.
" Apa Quennevia belum memberimu kabar atau apapun, bukankah kalian saling terhubung satu sama lain?. " ucap Ethan pula.
" Itu dia masalah nya, master sama sekali tidak menghubungi ku. " jawab Yue dengan gelisah.
Bagi yang lain mereka berdua terlihat sangat akrab saat bersama, mungkin diantara mereka juga ada yang salah paham dengan hubungan keduanya itu. Apalagi saat mereka kembali ke sana kemarin.
" Hoho.. Hubungan Putri Quennevia dan Pangeran Ethan sangat akrab ya. " ucap ratu Seara.
" Iya, mungkin kedua nya jadi lebih akrab saat di kota waktu itu. " sahut Lecht.
" Hohoho... Pangeran Lecht, sebaknya anda mempersiapkan diri untuk mengikhlaskan adik kesayangan mu. Karena mungkin beberapa tahun ke depan dia akan pergi bersama pengeran Ethan. " ucap ratu Seara, Lecht bisa tahu isi pikiran nya.
Iya, dia juga tidak berniat mengekang Quennevia di Chrysos, dia ingin Quennevia menjalani kehidupan yang ia inginkan. Hanya saja...
Tidak secepat ini. Itu yang mengganggunya.
" Seara, jangan menyebarkan gosip aneh lagi. " ucap raja Karai di tengah perbincangan dua orang itu.
" Oh, ya ampun. Jangan seperti itu Karai, bisa saja mereka memang memiliki hubungan. " sahut ratu Seara pula, raja Karai hanya manghela nafas mendengar itu.
" Hahaha... jiwa gosip mu itu sama sekali tidak berubah ya, Seara. " ucap raja Zaras.
" Iya, dia menang seperti itu. " sahut raja Ludwing pula.
" Kekanakan. " bahkan raja Arhad pun juga ikut angkat bicara.
Iya, ratu Seara membagi terkenal dengan julukan ratu gosip, sama seperti putri bangsawan yang lain dia juga suka bergosip. Meski begitu dia tentu tidak akan menyebarkan gosip yang mencemarkan nama baiknya.
Sedangkan Yue dan Ethan, hanya menetap mereka penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, mereka sama sekali tidak mendengar dan orang-orang itu terlihat sangat menikmati nya.
" Apa yang mereka bicarakan??. " ucap Yue yang penasaran.
" Entahlah. " sahut Ethan.
" Mereka sedang membicarakan kalian berdua. " ucap Meliyana pula yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.
Yue dan Ethan hampir meloncat keget karena nya, memangnya sejak kapan Meliyana ada di sana.
" Se.. Sejak kapan kau ada di sana??. " ucap Yue.
" Huh, kalian hanya sibuk sendiri saja, bahkan sampai tidak menyedari kedatanganku." ucap Meliyana merajuk.
" Iya, iya. baiklah maafkan kami, tadi kami sedang membicarakan hal penting. " ucap Ethan pula.
" Hmm.. Baiklah, mengingat Quennevia itu cantik akan aku maafkan. " ucap Meliyana pula.
Ethan dan Yue menatapnya datar, memangnya apa hubungannya antara mereka yang minta maaf dan Quennevia yang cantik. Gadis ini memang sangat aneh.
BRUKK....
Saat orang-orang tengah asik-asiknya mengobrol, tiba-tiba saja atap di tengah-tengah mereka itu runtuh. Itu membuat mereka sangat terkejut dan waspada dengan hal itu. Tak lama debu asap pun hilang dan muncullah seseorang dari sana.