
Sementara itu Quennevia, dalam balutan pilar cahaya merah kehitaman itu, penampilan nya pun ikut berubah. Rambut nya berubah menjadi hitam keemasan, dengan mata yang juga berubah merah menyala seperti ruby. Sisi iblisnya benar-benar bangkit sepenuhnya, dan semua segel yang ada dalam tubuhnya pun hancur.
(👆 anggap aja kaya gitu)
Setelah pilar cahaya itu menghilang, Quennevia pun membuka mata nya dan waktu pun kembali berjalan normal seperti sebelum nya. Disaat yang sama Lorenzo terkesan melihat Quennevia saat ini, itu adalah bentuk iblisnya yang tidak pernah ia lihat.
" Lorenzo... orang-orang berpakaian hitam itu, dari Organisasi bukan??. " tanya Quennevia.
" Yah, kurasa begitu. " jawab Lorenzo dengan santainya.
" Ayo kunjungi mereka. Dari perdana menteri dan para pemerintah yang ikut campur tangan terlebih dahulu. Malam ini badai salju akan turun, malam untuk mengubur mereka dalam kedinginan. Tidak akan ada bulan... ini adalah malam kematian mereka!. " ucap Quennevia pula dengan suara dan ekspresi wajah dingin.
********
- Dirumah salah satu mentri.
Mentri yang dimaksud itu adalah salah satu orang yang memonopoli Organisasi Nevia dulu, dan dia lah orang yang merencanakan untuk menyingkirkan Nevia dengan menuduhnya sebagai pengkhianat. Saat ini waktu yang tepat sekali, mentri itu baru saja selesai berdiskusi dengan pejabat lainnya dan sedang sendirian diruang kerjanya.
" Haha... Para pejabat bodoh, untung saja aku sudah menguasai hampir setengah kekuatan Organisasi. " ucap orang itu sambil menghisap sebatang rokok.
Namun tiba-tiba saja ia harus dikejutkan dengan semua pintu dan jendela yang tiba-tiba terkunci sendiri, ia melihat kesana kemari sambil menyiapkan senjata nya, siapa tahu ada orang yang tiba-tiba muncul.
" Siapa itu?? Keluar kau?!. " ucapnya dengan tegas.
" Lama tidak jumpa ya, Tuan Ryuji. " ucap sebuah suara pula di ruangan itu.
Orang yang dipanggil Ryuji oleh suara itu pun mencari-cari asal suara itu, dan perhatian nya pun langsung terpaku saat melihat seorang gadis yang duduk diatas rak buku di belakang nya. Padahal rak itu tinggi, dan sejak kapan dia ada di sana, pikir nya.
" Siapa kau?? Aku tidak pernah melihat mu sebelum nya. " ucap Tuan Ryuji.
Gadis itu, yang tidak lain adalah Quennevia itu pun melompat turun dari rak buku itu. " Kalau begitu biar ku katakan sesuatu saja agar kau mengingat ku. " ucap Quennevia sambil berjalan melewati Tuan Ryuji mendekat ke arah pintu keluar.
" Kau yang membawaku ke Organisasi, memperlakukan ku seperti anak mu sendiri. Kemudian kau yang mengkhianati ku, dan membuatku mati di markas lily merah, pulau tanpa penghuni di utara. Bukankah begitu?? Tuan Ryuji. " ucap Quennevia yang kemudian kembali berbalik kepada Tuan Ryuji itu.
Yang saat ini ia sudah memasang wajah terkejut sekaligus bingung, tentu saja ia tahu siapa yang dimaksud oleh Quennevia. Itu adalah Nevia, dan dia adalah ayah angkat dari Nevia. Tuan Ryuji menyangkal itu semua didalam Kepala nya, bagaimana bisa orang yang seharusnya sudah mati bisa hidup lagi, pikirnya. Namun yang ia lihat di depannya memang sangat mirip, hanya saja warna mata dan rambut nya berbeda.
" Jangan bilang kau melupakan namaku, ayah. " ucap Quennevia pula.
" Ka-Kau.. bagaimana.. bagaimana.. " ucap tuan Ryuji ketakutan.
" Bagaimana aku bisa hidup?? Kau salah, aku sudah mati. Tapi aku hidup lagi, dan sekarang aku lah yang akan mengirim mu ke neraka. " ucap Quennevia menatap Tuan Ryuji dengan nyalang.
Tuan Ryuji pun mengarahkan senjata apinya kepada Quennevia dan menembakinya terus menerus, namun pedang-perdang terbang Quennevia melindungi nya dengan membentuk perisai ketika mereka berputar. Quennevia bisa menggerakkan pedang itu sesuai keinginan nya, mungkin itulah sesuatu yang disebut Telekinesis di dunia Nevia itu.
Tuan Ryuji tentu saja terkejut ketika melihat semua pedang itu melindungi Quennevia, dia bertanya-tanya bagaimana dan dari mana pedang itu muncul. Dan sayang sekali.. dia kehabisan peluru saat ini.
" Ada apa?? Apa kau kehabisan peluru??. " tanya Quennevia santai.
" Ne-Nevia, Nevia sayang. Aku ini ayahmu, kau tidak akan membunuhku bukan. Aku minta maaf, aku minta maaf karena tidak membelamu waktu itu. Tapi kau kan mengerti posisiku bukan, iya kan??. " pinta Tuan Ryuji, seperti nya ia berpikir dengan membujuk Quennevia maka dia bisa selamat dan bisa terus hidup.
" Jika dulu mungkin Nevia akan langsung memaafkanmu, tetapi sekarang... jika kau benar-benar ingin minta maaf padaku. Maka hidupkan kembali anak-anak itu. " sahut Quennevia dingin.
" A-Anak.. Anak-anak?? Menghidupkan mereka, anak-anak yang mana??. " tanya tuan Ryuji dengan gugup.
" Tidak usah menyembunyikan nya lagi, aku sudah tahu semua nya. Alasan kenapa aku dicap pengkhianat, dan juga kematian anak-anak itu. Aku mendapatkan informasi dari anak buahmu yang paling setia, dan dia juga sudah lebih dulu menemui penciptanya dibandingkan kau. Dan juga... semua orang yang ada ditempat ini pun.. mereka sudah berubah menjadi mayat. " ucap Quennevia.
Setelah mengatakan hal itu, pintu dibelakang Quennevia pun terbuka dengan sendiri nya, mata Tuan Ryuji membulat sempurna melihat apa yang ada di luar sana. Sesuai perkataan Quennevia, semua orang yang ada di sana sudah kaku tak bergerak, semuanya sudah mati.
" Ne-Nevia... Tolong.. kau pasti mengerti aku bukan?? Tolong jangan bunuh aku. " pinta tuan Ryuji lagi.
" Dan kau pasti sangat tahu aku bukan?? Ayah. Aku tidak akan melepaskan siapapun yang jadi terget ku, jangan salahkan aku kejam.. salahkan lah dirimu sendiri yang nasibnya tidak baik. " ucap Quennevia tanpa belas kasihan.
Sesaat kemudian tubuh Tuan Ryuji yang juga adalah ayah angkatnya Nevia itu dihujani oleh pedang milik Quennevia, tidak peduli bahkan jika dia sudah langsung mati sekali pun pedang-pedang itu terus menusuknya. Hingga sekitar 20 pedang menusuk tubuh nya dari kepala hingga kaki.
Pedang-pedang itu kembali menghilang dengan sendiri nya, dan Quennevia pun berbalik untuk pergi dari sana, ia juga langsung hilang dari sana tanpa jejak sedikit pun seperti pedang-pedang nya itu.
- Jam 21:00 waktu setempat.
Berita tentang pembantaian misterius yang mengincar para pejabat itu sudah tersebar luas di seluruh kota, bahkan mungkin diseluruh Negara sejak jam 18:00. Membuat rakyat pun ikut gempar mendengar berita itu, tidak ada yang berani keluar dari rumah mereka masing-masing. Bahkan yang bekerja di luar atau hanya sedang bermain saja pun langsung pulang, para gelandang dan lainnya pun ikut bersembunyi.
Quennevia bukan hanya membunuh Tuan Ryuji, namun juga yang lainnya. Meskipun begitu belum semua nya ia bunuh, karena dia menunggu agar para mangsanya itu berkumpul di satu kandang yang sama, semuanya.
Markas besar Organisasi. Dimana itu adalah tempat paling aman di seluruh negara ini, setidaknya itulah yang mereka pikirkan. Markas itu terhubung dengan semua daerah di Negara ini melalui jalur bawah tanah, karena itu mereka berpikir bisa pergi jika saja ada yang mengancam di tempat itu.
Sedangkan para pejabat negara biasa diungsikan di tempat lain dan dijaga ketat oleh tentara, disisi lain para pejabat yang bekerja di Organisasi berkumpul di sana dengan penjagaan yang jauh lebih baik lagi dari pada yang lainnya.
Sungguh tidak adil bukan, hanya dengan dalih akan membantu menagkap siapa pelaku pembantaian itu, mereka malah bersembunyi dibalik para anggota Organisasi yang tingkatan nya bahkan lebih profesional dari para tentara yang melindungi para pejabat lainnya itu.
Bahkan mereka sampai memanggil para anggota Organisasi lainnya yang ada di luar Negeri, untuk segara kembali dan ditugaskan memburu Quennevia yang wajahnya bahkan tidak diketahui oleh mereka.
" Manusia memang lemah, hanya demi mendapatkan apa yang mereka inginkan dan juga mempertahankan hidup mereka sendiri. Mereka sampai rela mengorbankan orang lain, bahkan jika orang itu tidak bersalah sekalipun. " ucap Quennevia, yang saat ini ada di salah satu gedung tinggi yang ada di pusat kota.
Ia sudah mengganti kembali pakaiannya dengan yang ia kenakan saat datang ke sana sebelum nya. Udara dingin tidak membuatnya merasa gemetar, malahan udara dingin itu serasa tidak ada sama sekali.
" Ada apa?? Apa kau akan bergerak sekarang??. " tanya Lorenzo pula yang baru saja sampai disana.
" Bagaimana dengan jalur bawah tanahnya??. " tanya Quennevia sambil melirik Lorenzo.
" Seperti yang kau inginkan, aku menutup jalan itu sekaligus Membereskan orang-orang yang ada di tiap-tiap daerah itu. Jadi sekarang sisanya bisa kau nikmati di markas utama. " ucap Lorenzo dengan santainya.
Quennevia pun mendongakkan kepada nya menatap langit dengan salju yang turun semakin lebat, "... Kurasa menang saatnya. Sebentar lagi badai salju akan datang, waktu yang tepat untuk memusnahkan mereka di tengah-tengah kedinginan. " ucap nya pula.