
[Season 2]
Saat itu, disuatu tempat dekat dengan wilayah klan Retia. Reeth sedang bersantai diatas sebuah dahan pohon, sambil menikmati matahari dengan menutup kedua matanya.
" Haahh... Sudah lama keadaan tidak setenang ini. "gumamnya pelan saat kemudian suara seseorang terdengar ditelinganya.
" Hei, Reeth. "
Ia pun membuka kedua matanya dan mengalihkan pandangan kepada seorang pemuda yang baru saja kembali kerumah setelah menjelankan misi besar disisi Ethan dan Quennevia.
" Tuan Ryohan, apa ada sesuatu yang anda butuhkan??" tanyanya dengan senyuman misterius seperti biasanya.
Dan didepannya, Ryohan juga tersenyum dengan ramah padanya, seramah saat ia tersenyum kepada Yuki. Namun ekspresi baik nya itu benar-benar berbanding terbalik dengan apa yang telah ia lakukan, bahkan ia masih memiliki bercak darah dipakaian dan wajahnya.
" Mata-mata sudah dibereskan, apa kau tidak mau kembali?" tanyanya dengan tenang layaknya aliran sungai, yang membuat orang yang mendengarnya merasa terhanyutkan.
Reeth yang mendengarnya pun menyambut ajakannya dengan baik, " Tentu saja." katanya.
Ia pun segera melompat turun dari atas pohon, dan berjalan mengikuti Ryohan yang telah berjalan lebih dulu.
" Apa yang kau pikirkan sampai bisa terlelap ditengah pertarungan? " tanya Ryohan kepada Reeth dengan penasaran.
Reeth yang mendengar pertanyaan itu melirik Ryohan dari sudut matanya, selain kepada saudaranya, tuan yang satu ini tidak pernah benar-benar menunjukan wajah aslinya bahkan kepada orang yang jelas-jelas berpihak padanya. Dia benar-benar penipu ulung, itulah yang ia pikirkan tentang Ryohan.
" Saya tiba-tiba teringet kenangan masa lalu." jawab Reeth dengan santai.
" Ingatan masa lalu? Apa itu ingatan yang baik sampai kau masih mengingatnya setelah puluhan ribu tahun tertidur didalam tanah?. " sahut Ryohan pula makin penasaran.
Dan itu disambut oleh kekehan dari Reeth, " Bisa dibilang ya, juga tidak. Sisi baiknya aku mengenal wanita cantik bernama Adelaide yang selalu dikurung dikuil karena menjadi utusan dewi. " kata Reeth dengan nada sedikit menyindir.
" Adelaide itu... Saintess dan Putri Empat Dunia pertama dalam sejarah, bukankah begitu?." tebaknya yang memang benar.
Reeth pun menganggukan kepalanya mendengar itu, " Iya, anda benar. Sayangnya dia menjadi bencana.." ucapnya dengan tatapan kesepian yang entah ditunjukan kemana.
" Kudengar semua orang yang ada dikota tempatnya tinggal dibantai, dan kotanya pun dihancurkan. Tidak ada yang selamat dari hal itu... " Langkah kaki Ryohan berhenti ketika menyadari Reeth juga menghentikan langkahnya dibelakang sana.
Ryohan pun menoleh kearahnya yang saat ini tengah melihat lembah dibawah sana dalam diam, angin pun berhembus menerpa mereka yang masih ada dalam keheningan. Saat kemudian Reeth pun menoleh kearahnya dengan senyuman sinis dan menjawab perkataannya tadi...
" Mereka dibantai, Saintess juga ikut mati. Tapi... pelakunya adalah Saintess sendiri. Dia membunuh semua orang yang begitu mengagungkan dirinya. Aku masih belum bisa melupakan ekspresinya dimalam itu.." ucapnya kepada Ryohan.
****
Sementara itu dipulau Amberis, tiga orang lainnya berusaha mati-matian bertahan dari serangan monster-monster laut yang mengejar mereka sampai ke permukaan.
Dang!
" Gahh!!"
" Ethan!!"
Bruakk!!
Ethan sempat terdorong keatas saat menahan serangan dari ekor belut raksasa itu, dan ia jatuh menghantam tanah dengan cukup keras.
" Cih. Mereka tdk bisa naik ke darat, tapi mereka punya serangan jarak jauh!" ucap Arkan terdengar kesal.
" Awas!" Saat Yuki melemparkan dirinya sendiri kearah Arkan demi membantunya menghindari serangan yang datang kepadanya.
Dan itu berhasil membuat Arkan terkejut, " Oh, wow. Itu hampir saja, terima kasih."
" Fokus. " sahut Yuki yang sekarang saling membelakangi untuk melindungi punggung masing-masing. " Kita harus bertahan disini, atau cari cara untuk pergi secepatnya!" ucapnya pula.
" Sayangnya tidak ada tempat bersembunyi disini, tempat ini hanya lapangan luas ditengah laut! Apa yang telah terjadi disini sebenarnya?!"
Ditempat lain, Ethan berusaha bangun ditempatnya jatuh. Ia tidak mengalami luka yang cukup serius, tapi pasti rasanya tetap sakit.
" Akh! Kepalaku menghantam tanah duluan, ya? Pusing sekali." gumannya sembari memegangi kepalanya.
Saat ia menyadari sesuatu yang aneh dari gelang ruang yang ia miliki...
Itu bergetar lemah, dia tahu apa maksudnya.
" Ah, kau khawatir ya, Quennevia. Tidak apa-apa, aku akan baik-baik saja. Dan akan kupastikan teman-teman yang lain juga. " ucapnya yang memegang erat gelang itu.
Disisi lain ia membantin bingung, "Akan tetapi... Bagaimana caranya? Melepas segel disaat sekarang akan sangat bagus, tapi bagaimana jika aku lepas kendali lagi. Sama seperti 10 tahun yang lalu.." Ethan ragu pada dirinya sendiri.
Sangat sulit mengontrol kekuatan yang sangat besar dan kuat, ia tidak mau kehilangan dirinya sendiri, atau teman-teman nya juga akan terluka.
Ketika ia tiba-tiba merasa ada tangan seseorang yang memegangi pundaknya..
" Ethan, inilah saatnya. Waktu untukmu memberanikan diri, tidak ada waktu untuk merasa ragu lagi. "
Mendengar itu membuatnya sontak menoleh. Namun ketika ia melihat kebelakang, tidak ada siapapun disana, meninggalkan kesan misterius ditempat itu. Akan tetapi Ethan sangat mengenal suara itu, suara yang selalu ia rindukan dan sayangi.
" Ibunda..."
***
Di Foldes, diantara angin kencang dan gejolak ombak dilautan yang diselimuti hujan lebat akibat badai. Titus masih tetap setia berdiri disana, menunggu kembalinya keponakan satu-satunya dan teman-teman nya.
" Ini kesempatanmu, Ethan. Untuk menaklukan rasa takutmu..."
Batin Titus selalu penuh pengharapan, meski begitu.. keputusan tetap ada ditangan nya. Yang bisa ia lakukan hanyalah memohon untuk keselamatannya, agar keponakan satu-satunya itu kembali dengan aman dan selamat.
Tragedi pulai Amberis 10 tahun yang lalu, yang meninggalkan luka dan trauma mendalam pada Ethan. Adalah saat dimana kekuatan nya pertama kali lepas kendali dipulau itu, situasinya hampir sama seperti yang sekarang terjadi padanya.
Saat itu, 32 penghuni pulau yang terdiri dari 14 kepala keluarga tewas, bersama dengan 24 orang pasukan pengawal dan 7 pelayan yang ikut kesana bersama keluarga kekaisaran. Hanya Ethan dan kedua orang tuanya yang saat itu juga terluka parah yang selamat. Setelah kejadian itu, mendengar kata pulau Amberis
saja membuat Ethan gemetar dan kekuatan nya pun akhirnya disegel.
Ia bahkan menghindari lautan dan selalu menatapnya dengan sedih dari kejauhan saja.
Titus tidak akan pernah bisa melupakan hal itu, apalagi saat melihat raut wajah Ethan yang takut kepada dirinya sendiri.
" Tuan Titus."
Gadis itu sendiri menatapnya dengan tenang dan tegak, cukup lama sampai kemudian dia mengatakan maksudnya datang ke sana.
" Tuan Titus, dimana pangeran mahkota? Tuan Ning mengirim saya pada anda setelah mendapat laporan pangeran mahkota telah kembali ke Foldes, namun ia tidak datang ke istana kekaisaran." Nama gadis itu adalah Mira Marlon, seorang manusia setengah elf yang menjadi calon komandan pasukan istana dimasa depan.
Titus menatapnya dalam diam, gadis itu memiliki mata yang tajam, seolah bisa mengorek semua yang ia ketahui. Tatapan yang sungguh berani dan tanpa ragu jika dia bisa menyadari hal itu.
Titus menghela nafas dan tersenyum, kemudian menjawab Mira dengan nada main-main. " Mangapa kau pikir dia ada padaku? Dia mungkin sedang jalan-jalan dikota saat ini, dia kan bukan anak kecil lagi. "
Disisi lain Mira hanya menatapnya tanpa ekspresi, " Itu karena... Hanya anda tempat yang bisa dituju pangeran mahkota selain istana kekaisaran di Foldes. Dan melihat anda yang biasanya suka diam ditempat sepi sekarang ada disini menjelaskan kalau anda tahu kemana pangeran mahkota pergi." ucap Mira pula menimpali-nya.
Titus kembali tersenyum mendengar itu, dia punya kepekaan yang benar-benar bagus. Kemudian Titus pun kembali mengarahkan matanya kelautan yang ada dihadapannya.
" Mungkin... Aku mengirimnya ketempat dimana masalahnya berawal.." sahut Titus pula yang membuat Mira bingung mendengar itu.
***
Saat ini, Ethan termenung ditempatnya untuk sesaat, mengingat apa yang baru saja dengar dari suara ibunya. " 'Waktu untukmu berani, tak ada waktu untuk ragu lagi'.." Sepertinya sekarang ia tahu maksudnya.
Ethan kembali menatap kedepan sana, Yuki dan Arkan masih berjuang menahan serangan demi dirinya. Tidak peduli meski tubuh mereka mengalami luka, tidak ada keraguan.
Ia kemudian menutup kedua matanya, ia bisa merasakan kepercayaan yang mereka miliki terhadap semuanya.
[Bertahan!]
[Untuk Quennevia... Ethan.. Oscar.. Niu.. Meliyana.. Untuk semua orang yang sedang berjuang!!]
[Kita tidak boleh kalah disini!!!]
"Harggh!!"
Duarr!!
Whusshh...
Dia juga ingin jadi berani seperti teman-temannya..
Dia ingin jadi kuat seperti Quennevia...
Sesuatu mulai menyala dalam dirinya, tekad yang telah lama padam kembali bersinar, itu memanggil pedang yang selama ini tertidur dalam kegelapan. Dan itu kini tepat ada dihadapannya, Ethan pun mengulurkan tangannya menggenggam pedang itu. Dan ia pun mendengar nya lagi...
" Ayo, Ethan!."
Suara yang menyuruhnya untuk maju...
Ia merasakan dorongan dari tangan yang hangat dibelakang punggung nya, dari orang yang selama ini telah menunggu dan mengawasinya untuk tumbuh.
" Semuanya tidak akan berakhir sama lagi."
Ethan mengangkat kepalanya dengan sorot mata teguh, dan mengeratkan genggamannya pada pedang itu. " Ya!." Ia menjawabnya, Ethan tidak akan lari dari masa lalu lagi.
Sementara itu Arkan dan Yuki...
Sriiinkk!! Trang!!
" Gah! Ekornya keras!" ucap Arkan yang barusan menahan ekor belut yang menyerang mereka.
" Gawat.. Jika terus seperti ini, kita yang akan kalah duluan. Sebaiknya aku selesaikan dalam satu serangan saja." usul Yuki.
Yang mana langsung ditolak Arkan, " Tidak! Jika kau melakukannya kau juga akan tumbang, bagus jika itu berhasil, tapi jika tidak hasilnya akan sama saja!"
" Tapi bagaimana..." Mereka berada dijalan buntu saat ini.
Dihadapan mereka saat ini terdapat begitu banyak monster besar yang kuat, bahkan sejak pertarungan tadi mereka belum bisa menumbangkan satupun. Disaat mereka mulai kelelahan, mereka tidak punya waktu untuk beristirahat semenit pun.
" Serangan selanjutnya datang!" Arkan kembali memasang kuda-kuda, hanya untuk melihat Ethan tiba-tiba melesat dengan cepat ke hadapannya. " Loh, Ethan?!" ucapnya yang kaget.
" Apa yang dilakukannya??" bahkan Yuki tak kalah terkejut dengan nya.
" Haargghh!!" Namun Ethan tidak mendengarkan siapapun, ia terus maju kehadapan gerombolan monster didepannya sendirian.
Dan serangan para monster itu pun langsung berpusat padanya...
Syuut! Duakk!!
" Ethan!!" Panggil Arkan dan Yuki saat mengira dirinya tertimpa ekor belut itu.
Namun Ethan justru terlihat naik diatasnya, ia terus berlari dan melompat tinggi keudara.
" Terima ini!!." Ethan mengarahkan pedang yang dipegangnya kepada monster itu, dan menusukan nya ke kulit monster yang keras.
Clebb!!
Gryaahhh!!
Monster itu menjerit kesakitan, namun Ethan belum selesai sampai disana. Bersamaan dengan dirinya yang kembali meluncur turun ke tanah, ia menarik pedang itu yang masih tertancap ditubuh monster itu. Merobek dagingnya dari atas ke bawah.
Sraaaat!!
Monster itu bergoyang-goyang dan menjerit dalam kesakitan, sampai akhirnya menabrak yang lain dan mulai tumbang dengan luka parah yang diberikan Ethan, disisi lain teman-teman nya tercengang melihat itu.
" Gi-Gila!! Dia bisa melakukan itu?!" ucap Arkan dalam keterkejutannya.
" Dengan ini kita bisa menang... Selama ada Ethan, kita pasti.." disisi Yuki, dia percara dengan kemenangan didepan mata.
Sedangkan Ethan, ia berdiri didekat monster pertama yang tumbang itu. Menatapnya dengan seksama..
" Aku tidak takut lagi, aku tidak sendirian. " Batinnya saat ia melihat pedang ditangan nya dan menggenggamnya erat.
Seolah merespon hal itu, pedang yang ada ditangannya bersinar samar dan bergetar kegirangan. Bagai anjing yang telah lama menunggu majikannya.
Ia pun berbalik menghadap laut, " Quennevia, tolong berikan kekuatanmu padaku. " gumamnya pelan, kemudian ia mengangkat pedangnya ke monster lain yang masih tersisa. " Sekarang.. Majulah kalian semua!" ucapnya dengan penuh keyakinan.