Quennevia

Quennevia
Serangan Mayat Hidup?!



Setelah Quennevia dan yang lainnya pergi dari arena itu, mereka langsung pergi ke taman hanya untuk berkumpul saja. Lagipula tidak ada tempat yang lebih baik untuk bersantai selain di sana, Kagura juga terlihat sangat senang sekali saat melihat-lihat sekolah bersama dengan Niu sementara Meliyana yang tadi ikut dengan mereka entah pergi ke mana.


Dan kemudian kembali bersama mereka di sana setelah selesai. " Hahaha.... Kakak, lihat. Aku mendapatkan permen saat datang ke kantin. " ucap Kagura yang tengah berlari menghampiri mereka yang berkumpul di teman.


Quennevia pun menoleh kearahnya, " Oh, itu sangat bagus. Apa kau senang dapat berkeliling Akademi??. " tanya nya.


Kagura pun mengangguk, " Um... Ini sangat menyenangkan. " jawabnya.


" Kau harus lihat Kekaisaran Chrysos jika bisa, disana ada banyak tempat menarik. " ucap Arkan yang tengah berbaring di rumput memberi usulan.


" Chysos?? Dimana itu??. " tanya Kagura sembari memiringkan kepalanya.


" Oh, tempatnya ada jauhh~ dari sini. Dan itu adalah rumah kakak Quennevia mu. " jawab Arkan.


" Benarkah?? aku mau ke sana>< " ucap Kagura dgn girang.


Iya, dia kan baru hidup lagi. Sudah pasti belum tahu banyak hal di dunia ini, tidak seperti Quennevia yang memiliki tubuh dan ingatan di dunia ini. Kagura harus belajar semuanya dari awal, dan pasti ada banyak hal yang ingin ia ketahui.


" Kita bisa pergi ke sana lain kali, tapi kupikir saat ini Kagura harus pergi dengan paman Azel dan bibi Aqua. " ucap Quennevia menimpali.


" Kagura!. " suara Azel terdengar tak jauh dari sana, membuat mereka semua langsung menoleh kearahnya.


Didepan sana, mereka berdua tengah menunggu untuk membawa Kagura bersama mereka, kini waktunya untuk kembali ke jantung hutan York. Tentu saja alasan mereka akan membawa Kagura, karena dia masih belum tahu apa-apa tentang dunia ini. Karena itu Kagura akan berlatih di sana sama seperti Quennevia dulu.


" Kagura, ayo kita pergi. " ajak Aqua.


" Heh?? Aku tidak akan bersama kakak??. " tanya Kagura dengan sedih.


" Kagura masih belum bisa bersama kakak, jika Kagura sudah lebih kuat maka kau bisa bersama dengan kakak mu lagi. " jawab Azel.


" Ehh.. tapi aku mau bersama kakak. " rengek Kagura pula sambil memeluk Quennevia.


Iya, wajar saja jika dia tidak ingin berpisah dengan Quennevia, karena dia hanya menghabiskan waktu bersama Quennevia saja. Karena dia sangat manja kepada Quennevia jadinya tidak mau berpisah dengan nya.


Quennevia pun hanya mengusap kepalanya nya dengan lembut, " Kagura harus ikut dengan paman Azel dan bibi Aqua, ya. Setelah itu kau bisa bersama kakak lagi, dan kita akan pergi ke Chysos sama seperti yang Kagura inginkan. " ucap nya dengan lembut.


" Benarkah??. " tanya Kagura memastikan.


Quennevia pun menganggukan Kepala nya, " Um... Bahkan kita juga akan pergi ke tempat-tempat lainnya. " sahut Quennevia.


" Hm... Baiklah, tapi kakak janji, ya. "


" Tentu saja. "


Akhirnya Kagura pun setuju untuk pergi bersama dengan Azel dan juga Aqua, dan ketiga nya langsung pergi dari sana meninggalkan Akademi. Sementara itu Quennevia hanya menatap kepergian mereka itu.


" Oh iya, ngomong-ngomong dimana Meliyana??. " tanya Ethan pula yang langsung menarik perhatian semuanya.


" Benar juga, dia tidak terlihat dari tadi. " sahut Ryohan yang baru sadar dengan hal itu.


" Ah, kalau Meliyana tidak perlu dikhawatirkan. Palingan dia sedang kencan bersama Kai. " ucap Niu menimpali.


" Astaga secepat itukah hubungan mereka??. " ucap Oscar.


" Hehe... setidaknya nya dia tidak seperti mu yang bahkan tidak pernah dekat dengan wanita kecuali Quennevia dan yang lain." ucap Arkan.


" Tentu saja aku tidak bisa, karena aku tidak mau membuat Niu salah paham. " jawab Oscar pula sambil tersenyum membuat Niu jadi merona malu, sementara teman-temannya bingung dengan perkataan nya itu. " Soalnya aku dan Niu sudah bertunangan sejak kami masih kecil. " lanjut Oscar.


************


Beberapa hari setelah kepergian Kagura, saat ini Quennevia dan teman-temannya tengah dikumpulkan di ruang para tetua. Disana juga bukan hanya ada para tetua, ada juga Kepala Akademi, dan juga dua orang yang tidak mereka kenal ada di tempat itu.


Mereka tengah membicarakan sesuatu yang cukup penting di ruangan itu, bahkan mereka juga terkejut mendengar nya.


" Serangan mayat hidup?!!. " ucap Quennevia dan yang lain dengan sangat terkejut.


" Benar, entah dari mana para mayat hidup itu muncul, dan tiba-tiba menyerang desa-desa di sekitar. " ucap salah satu dari dua orang itu membenarkan.


" Di desa kami juga.. para mayat hidup itu tiba-tiba muncul, tetapi bedanya sebelum itu.. ada seorang gadis yang bilang kalau ia melihat orang-orang berjubah hitam di hutan tempat para mayat hidup itu muncul. " ucap orang yang satu lagi.


Obrolan itu benar-benar sangat penting dan juga mengejutkan, pantas saja mereka yang dipercaya untuk mendengarkan pembicaraan itu. Namun ada satu hal yang membuat Quennevia bingung, bagaimana bisa para mayat hidup itu tiba-tiba ada, sementara itu Seretia masih ada di dalam tubuh Quennevia.


Apakah itu artinya ada Necromancer lain, dan orang-orang berjubah itu bisa Quennevia yakini kalau mereka itu adalah klan Retia. Karena Necromancer paling kuat adalah leluhur mereka, sudah pasti ada beberapa orang yang mencoba untuk mempelajari teknik yang dimiliki olehnya.


" Hahaha... apa kau penasaran dengan hal itu, kau benar-benar sangat lucu saat berpikir. " suara itu kembali muncul di dalam kepala Quennevia, Seretia kembali mencoba berkomunikasi dengan nya.


" Kau tidak pernah bosan ya, setelah ku acuhkan selama ini. " batin Quennevia pula yang terhubung dengan Seretia.


Iya, Seretia sudah sering mencoba bicara dengan Quennevia, namun selalu diacuhkan nya. Tadinya Quennevia berpikir kalau itu akan membuatnya berhenti mengganggu nya, namun ternyata tidak.


" Ahaha... Tentu saja tidak akan, dan.. apa kau benar-benar tidak ingin tahu bagaimana caranya membangkitkan mayat hidup??. " tanya Seretia.


" Kau berencana membuatku jadi seorang Necromancer ya, sayang sekali aku tidak tertarik dengan hal seperti itu. " batin Quennevia.


" Hoho... kau terlalu cepat menyimpulkan. "


" Aku tidak ingin mempermainkan mayat orang yang sudah mati, karena aku tidak akan ada bedanya dengan dirimu jika melakukan nya. "


" Quennevia, Quennevia. Para anak-anak ku di klan Retia sangat menginginkan kekuatan besar ini, kenapa kau selalu menolaknya. Padahal kau adalah putri dunia bawah. Necromancer?? kekuatan itu sesungguhnya adalah milikmu. "


Quennevia jadi kesal mendengar itu, selalu saja mengaitkan dirinya dengan sesuatu yang bukan dirinya. Memangnya kenapa jika dia punya hubungan dengan dunia bawah, tapi dia bukan iblis seperti itu, pikirnya.


" Aku bukan putri dunia bawah, jadi diamlah dan jangan banyak bicara!. " batin Quennevia yang sangat geram.


" Haha.. kau hanya tidak ingin mengakui nya, karena kau takut kepada kekuatan mu sendiri, bukan??. " ucap Seretia pula.


" Sudah kubilang... Diam!!. "


" Quennevia..?!. " panggil Meliyana yang duduk di samping nya.


Quennevia tersentak mendengar itu, apalagi saat tangan Meliyana menyentuh tangannya yang hampir membuat gelas digenggaman nya pecah. Quennevia pun menatap sekeliling nya, orang-orang disana juga menatapnya dengan bingung sekaligus khawatir, Quennevia terlalu fokus dengan obrolan nya kepada Seretia hingga lupa kalau ia sedang bersama dengan mereka.


" Ada apa, Quennevia?? Kenapa kau menggeram dengan sangat marah seperti itu, kau membuat ku takut. " ucap Meliyana yang masih memegangi tangannya.


" Ah, tidak. Bukan apa-apa, maaf sudah membuat kalian resah, tidak perlu kalian pikirkan. " jawab Quennevia, kemudian ia pun bangkit dari duduknya.


" Aku ada beberapa hal yang perlu diurus, jadi permisi dulu. " ucapnya pula dan segera meninggalkan ruangan itu.


Meninggalkan mereka semua yang masih menatap Quennevia dengan bingung. Ketika Quennevia keluar dari ruangan itu, ia sudah ditunggu oleh Kai yang langsung mengikuti langkahnya pergi dari sana.


" Kai, kirim pesan kepada klan Aira. Bilang aku ingin bicara dengan pemimpin klan saat ini, dan suruh kak Haika langsung ke Akademi. " ucap Quennevia masih sambil berjalan.


" Baik. " jawab Kai dengan patuh.