
[Season 2]
" Ugh.... "
Oscar membuka matanya setelah menghilang dari hadapan Adelaide sebelum nya, dia masih merasa sangat pusing seolah-oleh dunia disekitar nya berputar-putar dengan cepat. Dia pun bangun dan menyadari kalau dirinya ada diatas sebuah atap rumah, namun melihat keadaan sekitar dia tahu kalau dia belum kembali ke dunia nyata.
" Aduh, apa yang terjadi sebelum nya?? Tiba-tiba saja menghilang sebelum mengatakan hal yang ingin kukatakan, lalu sekarang aku ada dimana lagi??" gerutu Oscar dengan kesal.
Dia menatap langit diatas nya, hari itu malam yang sepi, dimana bulan purnama bersinar sangat terang. Oscar bertanya-tanya berapa lama waktu yang sudah terlewat didunia nyata, apa yang terjadi kepada teman-temannya? Apa mereka baik-baik saja??
Semua pertanyaan-pertanyaan itu berputar dikepalanya, sampai perhatian nya terlaihkan kepada sesuatu...
" Itu kan... "
****
Sedangkan didunia nyata, Niu dan Meliyana masih berusaha melepaskan diri dari jeratan para ubur-ubur. Mereka sangat khawatir dengan Oscar yang sama sekali tidak bereaksi apapun setelah menyentuh Embun darah itu. Ia tidak melepaskan nya, tapi juga tidak mendapatkan nya.
" Sesuatu yang aneh sedang terjadi, kenapa Oscar diam saja??" tanya Meliyana.
" Mungkinkah... dia sedang mendapatkan ujian?? " ucap Niu pula.
Meliyana menatap Niu dengan serius, tapi kelihatannya Niu juga tidak bercanda mengatakan itu.
" Setidaknya... Tidak ada bahaya ditempat ini untuk sekarang... " batin Meliyana.
Disisi Ethan, Yuki dan Arkan. Mereka masih memandangi para monster yang saling menyerang satu sama lain, bebarapa diantara mereka sudah tumbang lebih dulu, tapi Belut raksasa itu masih tetap unggul dari yang lain dan masih mengamuk.
Air laut mulai berubah menjadi merah karena darah, mereka juga merasa kalau lautan mulai berubah jadi gelap karena sesuatu. Itu membawa firasat buruk kepada mereka.
Dan orang yang pertama kali angkat suara adalah Arkan, " Ini sedikit menyeramkan. Haruskah kita pergi, aku tidak ingin melihat hal ini lagi. "
" Kau benar, lebih baik kita mencari tempat bersembunyi atau semacamnya. Sebelum mereka mengalihkan perhatian kepada kita, Ethan. " Yuki pun mengangguk setuju dengan hal itu.
Tapi Ethan sama sekali tidak menimpalinya, dia tenggelam dalam lamunannya sendiri. Entah... bagaimana atau karena apa, tapi kelihatannya dia sangat ketakutan. Tubuhnya gemetar dan raut wajahnya berubah menjadi pucat pasi, jika mereka ada didaratan.. mungkin Ethan sudah berkeringat dingin.
[" Gruarrr...!!" ]
[" Pangeran berlindunglah!! Ackk..!!" ]
Jegerr!!
[" Tidakk...!!" ]
Ingatan-ingatan buruk mulai bermunculan satu demi satu, Ethan benar-benar mulai merasa panik sekarang. Sesuatu dalam dirinya yang selama ini ia sembunyikan mulai keluar.
" Lari.. Lari.. Aku harus lari.. sembunyi.. "
[" Mulai hari ini, kau akan dibatasi."]
[" Tidak apa-apa, Ethan. Semuanya akan baik-baik saja. Ibu dan ayah ada bersamamu."]
[" Jangan pernah menggunakan kekuatan itu lagi, apapun alasannya."]
... han..
.. Ethan..
" Ethan!! " panggil Yuki dan Arkan yang membuyarkan lamunan Ethan sembari mengguncang tubuhnya demi mengembalikan kesadaran Ethan.
Tentu saja, Ethan terkejut sendiri dengan apa yang terjadi, mereka berdua tepat berada didepannya, memagang pundaknya dengan erat.
" Huh... A-Apa..??" tanya Ethan bingung sendiri dengan apa yang terjadi.
" Ethan, berhenti melamun! Apa yang terjadi padamu?!" ucap Arkan dengan serius.
" A-Aku.. Aku.. Tidak.. "
" Tidak ada waktu lagi! Ayo kita segera pergi ke permukaan!. " potong Yuki yang langsung menarik mereka berdua naik bersama.
Dia ber-renang dengan semua kekuatan yang dimilikinya, berusaha secepat mungkin meraih permukaan air. Ketika Arkan dan Ethan menoleh kebawah sana, para monster yang sebelumnya sibuk bertarung sendiri kini mulai mengejar mereka.
" Apa yang kulakukan..? Aku malah menyeret mereka kedalam bahaya.. " Ethan menggertakan gigi dengan kesal.
Karena tidak bisa mengatasi ketakutannya sendiri, dia malah membahayakan nyawa teman-temannya.
Sementara Yuki fokus pada cara agar mereka bisa melarikan diri, " Sedikit lagi... Sedikit lagi kita sampai dipermukaan.. " gumamnya.
" Jangan banyak bergerak, atau aku benar-benar akan melepaskanmu! " sentak Yuki kesal.
Dia juga tahu kalau mereka saat ini sedang dalam bahaya, karena wilayah tempat mereka berada jauh lebih menguntungkan monster-monster itu daripada diri mereka sendiri. Membuat mereka bisa bergerak dengan sangat cepat.
" Yuki, Arkan.. Berpeganganlah dengan kuat.. " ucap Ethan dengan tiba-tiba, ia menarik balik Yuki yang memegang tangannya dan berhenti.
" Huh? Apa yang akan kau lakukan? " tanya Arkan, ketika Ethan terlihat mau melakukan sesuatu.
" Aku akan menghempaskan kita keluar dari air. " jawab Ethan dengan raut wajah serius.
" Apa??" membuat Arkan dan Yuki terkejut mendengar nya.
Ethan pun mulai mengumpulkan kekuatannya dibawah kakinya, membuatnya terlihat seperti sedang membuat sebuah pijakan. Saat kemudian dia meraih kedua temannya itu dan menekuk kedua kakinya...
" Kalian siap? " tanya Ethan kepada mereka.
" Tunggu, tunggu! Apa yang harus kami lakukan?? " tanya balik Arkan dengan khawatir.
" Kalian hanya perlu memegangku dengan erat, jangan pernah lepaskan!. " sahut Ethan.
Saat dari belakang sana, para monster itu hanya tinggal beberapa meter saja dari mereka...
" Mereka datang!!" teriak Yuki panik.
Setelah mendengar itu, Ethan pun melepaskan kekuatannya...
Zuuungg....
Itu membuat mereka bertiga menghilang secepat kilat dari tempat mereka berada, meluncur seperti torpedo dengan kecepatan seperti cahaya, bertepatan dengan Belut raksasa yang mereka pencing sebelumnya yang hendak memakan mereka.
Yuki dan Arkan menutup mata mereka rapat-rapat ketika itu terjadi, tekanan dari air yang mereka lewati terasa sangat besar saat Ethan menghempaskan mereka paksa dengan kekuatannya. Itu terasa sakit, seolah kulit mereka terkelupas terkana air itu.
Dan ketika mereka membuka mata lagi, mereka sudah berada diatas permukaan air...
Wusshh....
Lebih tepatnya dilangit...
" Ki-Kita sekarang melayang?!" ucap Yuki yang masih tidak percaya dengan yang baru saja terjadi.
" Tidak! Kita jatuh! Kita jatuh!!." sangkal Arkan pula yang benar-benar sangat panik.
Yang memang benar, mereka jatuh kebawah lagi usai mencapai ketinggian setelah hempasan tadi..
" Arrgghh..!!." Mereka berteriak sangat kencang, apalagi dengan monster-monster dibawah sana yang siap membuka mulut mereka seolah akan langsung melahap mereka bertiga.
Namun sebelum itu terjadi, Ethan membuka sayapnya membawa mereka terbang kembali sebelum monster-monster itu bisa menyentuh mereka. Dan dia pun membawa Arkan dan Yuki kepulau terdekat yang ada disana...
Dan disaat yang sama, dari kejauhan sana, awan gelap pun juga mulai mendekati mereka...
Gluduk.. Gluduk...
Jedarr...!
Petir-petir mulai menyambar, dimana angin kuat dan hujan besar menerpa. Ombak pun saling bergulung menghantam, lautan berubah ganas, seolah membenarkan firasat buruk yang mereka rasakan ditengah gelapnya langit saat badai...
Dan disuatu tempat, ditengah terumbu karang. Para duyung yang sebelumnya menuntun Ethan dan teman-temannya pergi ke Gua Bersinar duduk sambil menatap permukaan gelap itu dari dalam air.
" Yang Mulia Ethan dan teman-temannya... akan baik-baik saja 'kan?." tanya Dory dengan khawatir.
Saat sebuah tangan kemudian mengusap kepalanya, " Tenang saja, beliau pasti baik-baik saja. Dia sudah berbeda.. dengan pengeran yang kita temui 10 tahun lalu, beliau orang yang kuat sekarang. " ucap Jay menimpalinya.
Cukup kuat untuk tidak takut saat melihat lautan yang luas.
" Iya, kau tidak perlu khawatir. Lagipula Yang Mulia tidak sendirian. " ucap Char pula angkat suara.
Itu membuat Dory tersenyum dan menganggukan kepalanya, " Iya.. " sahutnya.
Sementara dipelabuhan, Titus masih diam berdiri disana sejak Ethan dan teman-temannya pergi. Dia sama sekali tidak beranjak pergi sedetik pun, dia terus menatap lautan yang tak terlihat ujungnya itu dalam diam.
Ketika bayang-bayang hitam yang mulai muncul dari kejauhan terlihat, bersamaan dengan angin dingin yang bertiup membawa ke khawatiran kedaratan.
" Pemandangan seperti ini... benar-benar membawa kenangan buruk dari masa lalu. " gumamnya dengan ekspresi serius.