
[Season 2]
Setelah mendengar tentang konsisi pohon kehidupan, Ethan dan teman-temannya jadi tahu mengapa para Elf jadi sewaspasa itu. Keadaannya memang benar-benar gawat, tapi mereka tidak punya jalan untuk kembali sekarang.
Mereka menghabiskan begitu banyak waktu hanya untuk sampai kesana, jika mereka tidak bisa mendapatkan kulit pohon kehidupan... maka peluang untuk membangkitkan Quennevia jadi menurun. Ditambah, mereka bahkan belum menemukan tubuh kosong yang cocok dengannya.
" Meski begitu, bisakah anda tetap menunjukan pohon kehidupan kepada kami? " tanya Ethan yang kemudian membuat perhatian keluarga kerajaan jadi tertuju kepada nya. " Jika saja kami tahu penyebab yang membuat pohon kehidupan melemah, kami pasti bisa membantu menyembuhkannya lagi. " ucapnya dengan sangat serius.
Teman-temannya yang mendengar itu saling pandang untuk beberapa saat, mereka percaya pada satu sama lain, apalagi jika Ethan sendiri yakin dengan hal itu. Mereka pun ikut menganggukan kepala mereka kepada keluarga kerajaan Elf.
" Yang Mulia, anda mungkin kurang percaya. Tapi hanya ini satu-satunya yang bisa kita lakukan sekarang. " ucap Oscar ikut angkat suara.
" Kami akan berusaha membantu sebisa kami. " tambah Yuki pula berusaha meyakinkan mereka.
Mendengar itu, Sang Raja pun menoleh kepada anak dan istrinya, yang menatapnya dengan yakin. Seperti nya mereka percaya kepada Ethan dan yang lainnya, karena hal itu.. Sang Raja pun jadi tidak memiliki alasan lain lagi untuk menolak.
" Baiklah, aku mengizinkannya. " ucap Sang Raja menyetujui hal itu, membuat Ethan dan teman-temannya pun jadi senang. " Kita akan pergi menemui pohon kehidupan besok pagi, untuk sekarang beristrirahatlah dikamar yang telah kami siapkan. " lanjutnya pula.
" Baik, yang mulia. " yang diiyakan oleh Ethan.
Ia pun kemudian menatap teman-temannya yang tersenyum kepada nya, bahkan Arkan sampai menunjukan ibu jari padanya, yang jika diartikan 'Kerja bagus', dia bilang begitu.
Malam semakin larut, teman-temannya yang lain kini telah berada dikamar mereka masing-masing. Sementara Ethan baru saja akan kembali setelah bicara beberapa hal lain bersama dengan Raja.
" Haah.. Entah kenapa hari ini begitu melelahkan. " gumam Ethan sambil berjalan dengan Quennevia yang sekarang ada ditangannya.
Ethan mengeluarkannya karena berpikir dia akan bosan karena selalu berada dalam gelang ruang, dan Ethan sebenarnya ingin menunjukan desa Elf itu kepadanya.
" Aku penasaran apa yang membuat pohon kehidupan jadi melemah secepat ini, ah.. aku lupa kalau ada ujiannya. Haah, kenapa harus seperti ini... jika tidak ada ujiannya, Quennevia sudah bangkit sejak lama.."
Tidak seperti Ethan, dia sekarang banyak mengeluh. Sementara Quennevia yang mendengarkan semua itu hanya diam tanpa merespon sama sekali, sampai sesuatu membuat kedua telinganya berdiri dan perhatian nya pun teralihkan.
Quennevia merasakan aura yang begitu terasa tidak asing, ia pun segera mengangkat kepalanya dan menoleh kearah lorong lain. Setelah yakin dari mana aura itu berasal, Quennevia pun langsung melompat dari tangan Ethan dan pergi mengikuti aura itu.
" Ah! Quennevia..?!" Ethan yang melihat itu tentu saja terkejut, ia pun langsung buru-buru menyusul Quennevia yang pergi dari tangannya.
Ia bingung dengan apa yang dilakukan oleh Quennevia, terakhir kali dia tiba-tiba lari seperti itu adalah saat direruntuhan kerajaan bulan.
Ethan mengikuti Quennevia sampai ke sebuah ruangan yang berada cukup jauh dari ruangan-ruangan lain, dan Quennevia masuk ke dalam sana begitu saja. Ethan tidak mau menjadi lancang, tapi ia tidak bisa membiarkan Quennevia didalam begitu saja. Karena itu dia pun juga ikutan masuk...
" Quennevia... Kau dimana??" ucap nya mencari-cari keberadaan Quennevia.
Sampai kemudian perhatian nya tertuju kepada seseorang yang tertidur ditempat itu...
Dia seorang Elf yang cantik, dengan rambut pirang pucat yang bersih. Mengingatkan Ethan, dia terlihat mirip dengan Thesia. Dan jika dia ada diistana... maka dia juga seorang putri.
Sampai perhatian Ethan tertuju kepada hal lain didekatnya, " Huh? Quennevia. " dia berada tepat disamping tubuh itu, memandanginya dengan seksama. Dan lalu ia pun melirik Ethan yang berdiri disampingnya...
Namun dalam sekejap, ia kembali mengaluhkan perhatian nya. Melihat itu, Ethan hanya mengangkat sebelah alisnya, dan ia pun kemudian mengulurkan tangan dan mengangkatnya. Membuat Quennevia terlihat terkejut dan kembali menoleh kearahnya dengan ekspresi lucu.
Saat tiba-tiba ia dikejutkan dengan pintu dibelakangnya yang kembali terbuka...
" Anda...!" putri Thesia masuk ke dalam sana dan melihat Ethan, sudah pasti dia terkejut juga karena hal itu.
" Apa yang anda lakukan disini??" tanyanya pula seraya menutup pintu dan menguncinya.
Ethan tersenyum canggung dengan itu, " Ah, maaf, Tuan putri. Kelinciku tiba-tiba kabur dan masuk kemari, saya hanya berniat membawanya kembali. Saya tidak tahu jika tempat ini tidak boleh dimasuki sembarangan. " jawab Ethan kepada Thesia.
Namun kelihatan nya Thesia juga tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, " Oh, begitu. " ucapnya kemudian perhatian nya teralihkan kepada kelinci ditangannya, " Kelinci yang lucu, siapa namanya?" tanyanya penasaran.
" Ah, dia.. Em, namanya.. Nevia, ya itu namanya. " ucap Ethan pula menyahuti.
Dia tidak tahu lagi harus menjawab apa tentang Quennevia yang dilihat orang lain, tidak mungkin juga dia bilang kalau kelinci itu adalah Quennevia. Itu bisa membuat orang syok sampai pingsan.
Kemudian Ethan sadar akan sesuatu, " Ngomong-ngomong apa anda sering datang kemari sambil membawa bunga?" tanya Ethan kepada Thesia saat melihat bunga yang ada ditangannya.
Thesia yang mendengar itu pun baru sadar, " Ah, iya. Aku datang untuk mengunjungi kakak-ku. " jawabnya kemudian menoleh kepada Elf yang tertidur ditempat itu.
Itu agak membingungkan, " Kakak? Tapi Putri... Bukankah anda putri satu-satunya dikerajaan ini?" ucap Ethan pula, mengikuti Thesia yang berjalan mendekati Elf itu.
Thesia pun menaruh bunga itu ditangannya, kemudian menunduk sedih. " Iya, sejak kakak ku meninggal. " jawabnya dengan suara lirih.
Ethan yang mendengar nya mulai mengerti, tapi... mengapa Elf yang telah tiada justru disimpan didalam ruangan seperti ini, bukannya dimakamkan, itu masih membuat Ethan penasaran.
Ada sesuatu yang salah ditempat ini saat ini...
" Bagaimana beliau bisa meninggal?" tanya Ethan dengan hati-hati.
Thesia yang mendengar nya sedikit tersentak, kemudian ia menarik nafas sejenak. " Nama kakak ku adalah Lumia, dia Elf yang baik hati dan juga peduli kepada semuanya. Meski begitu dia lahir dengan tubuh yang lemah dan sering sakit, tapi pohon kehidupan memilihnya sebagai penghubung. Karena itu semua orang semakin menyukainya. " Thesia mencaritakan tentang kakaknya dengan sangat baik.
Mendengar itu membuat Ethan yakin dia sangat menyayangi kakaknya, namun ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa melepaskannya, bahkan setelah ia mati.
" Tapi.. sekitar 5 tahun yang lalu, dihari ulang tahunku. Aku merengek kepadanya karena ingin melihat dunia luar, kakakku terlalu baik... jadi ia tidak bisa menolak permintaanku. Dia pun membawaku sampai ke perbatasan hutan Elf, tapi kami tiba-tiba bertemu dengan sekelompok pemburu. Dan demi melindungiku... kakak mengorbankan dirinya sendiri dan akhirnya terbunuh. " ucap Thesia yang kemudian mulai menangis.
Mengingat hal itu selalu membuatnya merasa bersalah, jika saja dirinya tidak merengek untuk melihat dunia luar dihari itu... kakaknya juga tidak akan mati. Dan Ethan mengerti hal itu.
" Kenapa Putri Lumia tidak dimakamkan??" tapi Ethan tetap ingin mengetahui alasan dia masih ada disini, padahal sudah 5 tahun berlalu semenjak kematiannya.
Thesia berusaha mengusap air matanya, kemudian berkata, " Kami tidak tahu, tapi pohon kehidupan yang bilang kepada kami untuk tetap menjaga tubuh kakak. " jawabnya kepada Ethan.
" Pohon kehidupan??" Ethan tidak menyangka hal itu.
Tapi seperti itulah yang dikatakan oleh Thesia, " Iya, pohon kehidupan bilang kalau suatu hari tubuh kakak akan berguna. Dan sejak saat itu, kami terus menyimpan nya disini. Tubuh kakak juga tidak membusuk atau menghilang, dia selalu terjaga seolah-olah dirinya hanya sedang tidak. Kakak seolah tidak mati tapi juga tidak hidup. " ucap Thesia.
Disaat yang sama, Ethan terpikirkan suatu hal. Seperti nya ia mengerti maksud dari pohon kehidupan melakukan hal itu. Entah itu kebetulan atau sesuatu yang telah direncanakan sebelumnya... namun ia paham pesannya.
Senyuman pun mengembang diwajahnya, kemudian ia berkata. " Tuan putri, apa anda mau membuat perjanjian denganku??" tanyanya kepada Thesia.
Thesia yang mendengar nya pun kemudian menoleh terlihat penasaran...