
[Season 2]
Ditengah malam yang sunyi, ditempat Leana.
Ia sedang memandangi sesuatu berwarna hijau pucat ditangannya, dalam botol kaca kecil. Bawahannya baru saja tiba dan menyerahkan benda itu kepadanya, sesuai dengan apa yang ia minta...
" Kerja bagus. Kau bisa pergi, dan pastikan rahasiakan ini dari siapapun. Jika tidak... Kau akan tahu akibatnya." ucap Leana kepada orang yang ada dihadapannya dengan tegas dan tatapan tajam.
" Baik." Orang itupun membungkukan tubuhnya dan menjawab dengan patuh, kemudian segera menghilang dari sana.
Leana yang masih ada disana pun menyenderkan punggungnya dikursi dan menutup matanya sebentar. Dan ia pun memanggil nama seseorang...
" ....Rian."
" Iya, Nyonya."
Dan pelayan yang sedari tadi ada dibelakangnya pun menjawab dengan sopan dan berjalan mendekat ke sampingnya.
Leana menatap sejenak wanita yang ada bersamanya sekarang. Rian, wanita yang ia selamatkan 10 tahun yang lalu dan masih setia disisinya hingga sekarang. Dia orang paling loyal yang akan melakukan apapun yang dia perintahkan.
Dia yang telah melakukan sumpah kesetiaan padanya dengan menyerahkan hidupnya, Leana sama sekali tidak meragukan kepercayaannya.
" Rian, ambil ini." Leana pun menyerahkan benda yang ada ditangannya itu kepada pelayan kepercayaannya, yang juga langsung disambut olehnya, Leana terus menatapnya dengan tatapan yang begitu serius. Dan ia kembali berkata, " ..Kau tahu harus melakukan apa, kan?"
Rian yang melihat dan mendengar itu menelan ludah sesaat, ia diam dan mengganggam benda yang ada ditangannya itu dengan erat. Saat kemudian ia menganggukan kepalanya tanpa ragu, " Saya mengerti."
Ia berkata seperti itu dan kemudian melangkah pergi dari tempat itu sesuai instruksi Leana. Sementara Leana sendiri, ia tenggelam dalam pikirannya, dan merenung dengan serius.
" Aku tidak yakin kalau benda seperti ini akan membunuhnya. Tapi aku harus membuat Arkan kembali bergantung kepadaku... Benar, aku harus mendapatkan Arkan kembali. Dengan begitu.. rencanaku akan selesai. Pertama...."
Leana menoleh kearah jendela dan menatap bulan purnama yang terlihat bersinar terang dilangit..
" ...Aku harus menyingkirkan penghalang dan memutuskan ikatan mereka terlebih dahulu." matanya menatap dengan penuh kayakinan.
Ditempat lain, Arkan baru saja selesai mandi dan berjalan keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk. Saat kemudian ia merasakan kehadiran seseorang diluar jendelanya...
Arkan menghela nafasnya sejenak kemudian ia pun berkata, " Haa.. Masuklah."
Tak berapa lama setelah ia mengatakan itu, jendela kamarnya terbuka dan seorang pria berpakaian hitam masuk ke dalam. Ia berlutut kepada Arkan...
" Tuan muda, saya membawakan apa yang anda minta." ucap pria itu kepadanya.
Arkan menatapnya sejenak, dan ia pun mengambil beberapa kertas yang disodorkan pria itu kepadanya. Arkan pun melihat isinya, itu sesuai dengan apa yang ia duga, hanya saja...
" Racun yang dibeli ibu berbeda dari aslinya. " itu perubahan yang cukup mencolok baginya tapi ia juga sudah menduga hal itu. " Ini adalah racun yang sulit dideteksi. Ini akan menyebabkan kejang, penurunan kesehatan dan kelumpuhan. Dan dalam kurun waktu 2 hari setelah racun yang telah menyebar berkumpul dijantung, kakek akan mati..."
Tentu saja, ibunya akan melakukan ini. Jika kakeknya tiba-tiba meninggal orang-orang akan curiga padahal dia baik-baik saja, ditambah dia juga tidak bisa memanipulasi bukti dengan menjatuhkan tuduhan kepada Balin yang sekarang posisinya telah lebih kuat.
Tapi, jika dia menginginkan kekuatan Arkan, maka dia harus menghancurkannya terlebih dahulu dan membuatnya bergantung padanya lagi. Maka setelah itu, dia bisa memanipulasi dan membuatnya kembali jadi boneka.
Benar... Itu pasti berhasil, andai saja yang mengontrol tubuh ini bukan Arkan yang sekarang.
" Awasi gerak-gerik pelayan kepercayaan ibu, aku yakin dia sudah menerima perintah." Arkan pun memberi perintah.
" Baik."
Dan orang itu langsung menjawab dan menghilang dari hadapannya. Ia ingat ketika pertama kali memergoki orang itu yang mengawasinya, ini sudah cukup lama menurut waktu dunia ini dan sekarang orang itu benar-benar telah menjadi kaki tangannya.
Sekarang yang ia perlukan hanyalah mencegah dan mengungkap kasus itu dihadapan kakeknya...
{"Kau bertindak terlalu jauh."}
Saat tiba-tiba ia mendengar suara itu didalam kepalanya...
Arkan sedikit tersentak, tapi kemudian ia tersenyum dan menengadahkan kepalanya. "Ah~ Diriku yang lain, setelah lama diam, apa sekarang kau ingin mengajakku mengobrol lagi??" ucapnya terdengar menggoda.
Tapi dirinya yang lain mengabaikan perkataan nya, {"...Kau harusnya tidak perlu melakukan ini. Kau bisa langsung kembali kedunia mu sendiri dengan menjatuhkan tubuhku ke danau lagi."}
{"...."} namun dirinya yang lain tidak lagi menjawabnya.
Jadi Arkan pun melanjutkan kata-kata nya, " Aku ingin menyelesaikan ini sendiri, aku minta maaf karena mengambil tempatmu. Tapi aku juga ingin tahu... alasan ibu melakukan hal ini. " dia sangat serius dengan kata-kata nya, awal dari penderitaannya selama ini, sumber dari retaknya hubungan keluarga yang selama ini ia kira baik-baik saja. "....Dunia ini dibangun dengan menyalin kenyataanku, sekalipun posisiku dan saudaraku bertukar, tapi awal dan permasalahannya tetap sama. Itu artinya tujuan ibu juga tetap sama."
Benar, Arkan ingin tahu kebenaran dari ketidakadilan yang ia lakukan. Dan alasan kenapa dia memberikan penderitaan padanya, ini adalah kebenaran yang ia cari selama ini...
Dirinya yang lain tetap diam dalam kehaningan saat ia mendengar itu, namun Arkan yakin dia masih mendengarkan, tidak... dia selalu melihat dan mendengarkan semuanya. Tapi dia tetap diam.
Sampai akhirnya dia pun menjawab, {"....Baiklah, lakukan saja jika kau ingin."} dia berkata seperti itu.
Arkan yang mendengarnya pun memejamkan matanya dan tersenyum, " Terima kasih atas pengertianmu." sahutnya kemudian.
Dan setelah itu, kehadiran nya pun meredup. Dia kembali ke sudut dalam dirinya dan tidak akan mengajaknya bicara lagi setelah ini. Arkan menghela nafas dengan sikap dirinya yang acuh tak acuh ini, yah, sebenarnya Arkan tidak terlalu barharap.
Arkan perlahan membuka matanya, ada sesuatu yang telah lama ia pikirkan selama ini. Ini tentang, alasan kenapa dia dan teman-temannya diuji seperti ini...
Arkan menopang dagunya dan menatap lantai marmer dibawah kakinya dengan tatapan sedikit murung, " 'Disaat kasih sayang menujukan jalan yang salah, maka keteguhan akan membawamu kepuncak'..." gumamnya pelan ditengah keheningan.
Sesaat kemudian sebuah senyuman miris pun tersungging diwajahnya, " Haah... pada akhirnya aku tahu, itu hanyalah kata-kata tipuan. Tujuan kami diuji seperti ini adalah untuk mengetahui sifat asli kami." batinnya.
Arkan mengetahui itu setelah mengingat dan mempertimbangkan semua yang ia ketahui. Quennevia adalah sosok yang telah banyak mengalami kesengsaraan dan pengkhianatan, mengetahui sifat asli manusia adalah hal yang sulit. Kita tidak pernah bisa menebak atau mengetahui isi hati maupun keinginan seseorang dengan benar.
Semua yang telah mereka lakukan, dan perasaan yang mereka rasakan mungkin telah dimanifestasikan kepada Quennevia dalam bentuk ingatan selama ini. Semacam cadangan energi dari ingatan yang telah terakumulasi untuk menjaga kestabilan jiwanya.
Arkan yakin dengan itu, dimulai dari Yuki, kemudian Meliyana, dan Oscar...
" Itu jadi masuk akal bagiku. Kasih sayang, keberanian, kepercayaan... dan tujuanku disini sekarang, untuk mengetahui kebenaran. Aku tidak tahu apa hubungan masa laluku dengan Quennevia, tapi aku harus bersyukur karena bisa diberi kesempatan merasakan kehangatan keluarga lagi... " ucap Arkan, saat kemudian dia kembali menyadari sesuatu. "....Tunggu-- bersyukur??"
Arkan menutup mulutnya dan merasa geli kepada dirinya sendiri, " Ahaha... Begitu, jadi kau ingin menguji ketulusanku? Astaga, kenapa caranya sangat merepotkan seperti ini." bodohnya dia tidak menyadari hal itu.
Yah, Arkan benar-benar percaya dengan apa yang ia rasakan sekarang, dan kepercayaan itulah yang membuatnya tetap ingat kalau dia tidak pernah sendirian, ada teman-teman yang menunggunya untuk kembali. Jadi ia tidak akan tergoda oleh gejolak perasaan yang ia rasakan ditempat ini... Dia punya tempat yang bisa ia panggil rumah.
Arkan mungkin menyesali masa lalunya, tapi... dia tidak pernah menyesali seharipun dalam hidupnya. Karena takdir itulah yang membuatnya bisa bertemu dengan teman-temannya...
Hari-hari baik yang ia lalui memberinya kebahagiaan, dan untuk hari-hari buruk yang terjadi kepadanya, memberinya pengalaman. Dia ada dijalan menuju kedewasaan.
Arkan menghela nafas kembali sejenak, dan tersenyum dengan cerah. " Haah... Baiklah, mari selesaikan ini dan segera kembali untuk menyelesaikan masalah didunia nyata." ucapnya.
***
Malam yang panjang segera berganti ketika fajar mulai menyingsing, beberapa orang dikediaman telah bangun bahkan sebelum sinar matahari menyinari dunia untuk membersiapkan makanan dan membersihkan kediamanan.
Salah satunya adalah Rian, pelayan kepercayaan Leana. Ia berjalan dengan tegap dilorong yang cukup sepi dipagi hari, sampai kemudian ia tiba didepan sebuah pintu yang cukup besar. Rian pun membuka pintu itu sedikit dan mengintip ke dalam nya...
...Itu adalah dapur. Tidak ada siapapun disana ketika kepala pelayan tengah melakukan inspeksi mendadak diaula, ia pun masuk ke dalam sana sambil melihat ke sekeliling arah.
" Benar-benar tidak ada siapapun disini. " batin Rian saat kemudian perhatiannya tertuju kepada sebuah nampan berisi teh herbal diatas meja.
Rian pun mendekati nampan diatas meja itu dan mengeluarkan sesuatu dari balik pakaiannya. Itu adalah racun yang diberikan oleh Leana kepadanya.
Rian menatapnya dengan gugup untuk sesaat, sampai kemudian ia membuka penutup botol itu dan menuangkan setengah cairan yang ada didalamnya ke dalam teko.
" ...Baiklah. Aku tidak tahu kenapa kepala pelayan tiba-tiba mengumpulkan para pelayan, tapi ini memudahkan pekerajaanku. Sekarang semuanya selesai."
Rian pun segera mengembalikan semuanya seperti semula dan menyembunyikan botol itu lagi. Saat kemudian ia tiba-tiba dikejutkan oleh suara sesuatu dan segera menoleh dengan sangat terkejut.
Tak berapa lama, beberapa pelayan dan koki kembali ke dapur. Mereka terdengar mengeluh tentang inspeksi tiba-tiba itu dan kemudian kembali melakukan pekerjaan mereka tanpa curiga dengan apapun.
" ...Saya akan membawakan teh ini kepada tuan besar." ucap salah satu diantara mereka kemudian.
Dan seorang lagi menyahutinya, " Berhati-hatilah saat membawanya."
" Baik."
Pelayan itu kemudian membawa nampan itu pergi dari dapur dan pergi ke tempat dimana Lewis berada.