
Ketika mengetahui hal itu Quennevia tidak bisa berpikir apa-apa lagi, sekali tercengang dia malah mendengar hal yang sangat ia benci seperti ini. Disaat yang sama teman-teman nya malah bingung dengan nama orang lain yang disebutkan oleh Quennevia itu, sementara Lorenzo hanya tersenyum miring mendengar nya.
" Siapa sebenarnya itu??. " batin teman-teman nya.
" Rasanya namanya tidak asing, apa Quennevia pernah mengatakan nya ya??. " batin Ethan yang juga sama bingung nya.
Sementara itu Quennevia, " Argghh... kenapa jiwa yang datang menyusul ku ke mari malah si Guren sialan ini?!!. " jerit batinnya tidak terima dengan kenyataan ini.
Padahal ia sudah sangat berharap jika yang datang itu Kirito, atau kalau pun tidak bisa salah satu dari anak-anak nakalnya itu. Kenapa malah orang yang ia benci dan selalu ingin ia hindari.
" Jadi apa kau sudah mengingat ku, sayang??. " tanya Lorenzo pula.
" Sayang, sayang, pala lu peyang!!. Pokoknya sekarang ataupun sebelumnya, hingga di masa depan sekali pun aku akan membunuh mu, sialan!!. Lebih baik sekarang cepat kau serahkan mutiara pemisah jiwa yang kau ambil!!. " ucap Quennevia dengan berteriak marah-marah.
" Maksud mu ini??. " Lorenzo memainkan mutiara pemisah jiwa itu di tangannya.
Kepala Akademi yang melihat nya pun sangat terkejut, " Kau jangan bermain-main dengan benda itu, segera kembalikan sebelum hal buruk terjadi!. " ucap nya dengan tegas kepada Lorenzo.
Namun Lorenzo hanya terkekeh, " Haha.. Justru hal buruk itu sudah mulai terjadi, lagipula aku membutuhkan ini untuk memisahkan jiwa leluhur kami dengan Quennevia. Barulah bisa menjadi kan Quennevia sebagai penerus. " ucapnya.
" Laluhur kalian?? Penerus?? Itu artinya kau.... " ucap Meliyana menggantung.
" Tuan muda dari klan Retia bukan??. " ucap Ethan dingin.
Semua orang tertegun mendengar itu, apalagi Quennevia yang langsung melotot kearah Ethan setelah mendengar itu. Sebuah fakta yang belum mereka ketahui, dan amat sangat mengejutkan, jadi selama ini musuh mereka bersembunyi di dekat mereka.
Sementara itu Lorenzo, ia hanya memperlebar seringai diwajahnya, tidak perlu lagi ia sembunyikan hal itu karena tujuan nya untuk mendapatkan mutiara pemisah jiwa itu sudah terwujud. Ia melirik sebentar orang-orang yang tadi membuat kerusuhan, seperti nya kedua orang itu masih sibuk dengan anak buah Haika yang dikirim kesana.
Meskipun ia juga yakin jika sebagian besarnya itu ada di tempat lain, untuk membereskan kekacauan yang dibuat oleh klannya yang lain agar bisa mengalihkan perhatian mereka.
" Intuisi Pangeran Mahkota Foldes menang sangat tajam, ya. Namun sayang sekali sangat terlambat untuk menyadari nya. " ucap Lorenzo masih dengan seringai nya itu.
" Padahal kau juga, tipe orang yang selalu bermain-main. " sahut Ethan tersenyum miring.
Diam-diam ia pun melemparkan sesuatu kearah Lorenzo, yang udah pasti langsung ditepis oleh pedang si Lorenzo yang ada ditangannya. Namun saat benda yang dilemparkan oleh Ethan itu terbelah akibat tangkisan itu, muncul sebuah asap yang menutupi nya.
Lorenzo yang ada di tengah-tengah asap itu menutupi hidungnya agar tidak menghirup nya, jujur saja ia tidak menduga kalau hal itu akan terjadi. Disaat yang sama Yue muncul satu belakang Lorenzo, untuk menyergap nya.
Hanya tinggal sedikit lagi, sampai ia benar-benar bisa menaklukkan Lorenzo meskipun dengan bantuan sederhana dari Ethan. Yue malah mendapatkan serangan dari seseorang hingga membuatnya terpelanting.
" Yue!. " teriak Quennevia melihat itu.
Sementara Yue langsung kembali bangun, dan bergerak kearah Quennevia dan Ethan saat serangan yang lainnya pun ikut datang.
" Grrrrr... " geramnya dengan sangat marah.
Dan disaat itu, muncul 10 orang dengan aura yang sangat kuat di belakang Lorenzo, tentu saja mereka adalah si 10 kepala keluarga anggota klan Retia. Melihat hal itu, teman-teman nya yang lain dan juga kepala Akademi pun juga ikut berdiri disekitar Quennevia dan Ethan, dengan posisi bersiap.
Meskipun mereka bisa merasakan jarak diantara kekuatan mereka, itu tidak menghentikan keinginan mereka untuk melindungi teman mereka.
" Whaa... Rubah yang sangat lucu. " ucap salah satu dari 10 orang itu, ketua ke 9 Riraya.
" Siapa... anak kecil itu??. " ucap Arkan bertanya-tanya.
" Tidak sopan, umur ku ini 3× lebih tua dari mu tahu! Hmph.." sahut Riraya dengan kesal, membuat Arkan yang mendengar nya pun tersentak kaget.
" Kasihan. " ucap Kina kepada Riraya yang diejek sebagai anak kecil itu.
" Benar, benar. " ucap saudara kembar nya Aina menimpali.
" Pfftt.. "
Disamping itu Sica dan Reeth menahan diri agar tidak tertawa di belakang nya, membuat Riraya semakin kesal karena nya. Bukan hanya mereka sih, namun dipihak Quennevia dkk pun ada yang tengah mencoba untuk tidak tertawa karena mendengar ucapan kedua orang itu kepada Riraya.
Sementara itu Quennevia dan Ethan hanya menatap mereka semua datar, namun Quennevia pun menyunggingkan sebuah senyuman sinis arah Lorenzo, ketika sesuatu muncul di pikiran nya.
" Kau masih saja selalu membawa banyak orang untuk melakukan sesuatu, Guren. Apakah anak mama tidak bisa melakukan semuanya sendiri??. " ucap nya dengan ekspresi sinis diwajahnya.
" Kau!!.. " bentak Roy, namun ditahan oleh Lorenzo.
" Hoho... bocah ini jadi sombong ya, karena sekarang kau jadi lebih tua dari diriku. Sebaiknya jangan kau lupakan pelajaran apa yang kau dapat saat melawan kakak ini dulu, atau mungkin sekarang kakak ini harus mematahkan kedua kakimu sebagai balasan. " ucap Quennevia lagi.
" Jangan kurang ajar!. " bentak Caius sembari melemparkan serangan kepada Quennevia.
Quennevia hanya diam di tempat nya sambil tersenyum, serangan dari Caius itu sama sekali tidak mengenainya dan malah berbelok kearah lain. Saat angin yang tiba-tiba muncul dan suara seseorang pula terdengar disana.
" Kalau begitu kami akan lihat.. siapa yang berani menyentuh Quennevia kami. " ucap orang itu, dengan sepasang sayap kecoklatan yang membentang di punggung nya.
Sang elang yang menguasai langit, Azel mendarat tepat dibelakang Quennevia. Dan disamping Quennevia pula, muncul air dari tanah dibawahnya yang berubah menjadi seorang wanita cantik, Aqua.
" Siapapun yang berani menyentuhnya, berarti cari mati dengan kami. " ucap Aqua dingin.
" Bukankah sekarang lebih adil?? Teman-teman mu itu, melawan teman-teman ku dan kita selesai kan apa yang belum selesai tadi. " ucap Quennevia pula mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
" Kali ini apa yang kau tertawakan??. " tanya Quennevia dingin.
" Pfft... hahaha... caramu memprovokasi orang lain tidak pernah berubah ya, namun sayangnya itu tidak akan pernah berhasil padaku. Aku yang paling tahu tentang dirimu didunia ini, dan karena itu juga perasaan ku padamu tidak pernah berubah, aku masih tetap menyukai mu. " ucap Lorenzo dengan seringai nya.
" Tsk. Aku malah semakin tidak menyukai mu. " ucap Quennevia. Dia juga percaya akan hal itu, memang hanya dia yang tahu tentang dirinya di dunia itu dan sekarang dia malah mengikuti nya kedunia sekarang.
Gluduk.. Gluduk... Cetar...
Tiba-tiba saja awan mendung di atas Akademi itu, di iringi dengan petir yang menyambar di atas sana. Semua orang terfokus kepada langit yang tiba-tiba gelap itu, saat dari balik awan-awan itu muncul seorang wanita dengan aura yang bahkan lebih kuat lagi dari 10 orang disana.
(👆 anggap aja kek gitu)
10 ketua itu langsung berlutut di depan wanita itu, sementara Lorenzo semakin melebarkan senyuman nya. Disaat yang sama Quennevia dkk bahkan Aqua dan juga Azel merasakan firasat buruk dari wanita itu, apalagi Aqua dan Azel sangat mengenal wanita yang datang dari balik awan itu. Seriana, pemimpin klan Retia saat ini.
" Hormat kami, pemimpin Klan. " ucap mereka sambil berlutut.
" Ibu. " panggil Lorenzo pula, dan ia pun memberikan mutiara pemisah jiwa itu kepada Seriana.
" Kerja bagus Lorenzo, kini kita hanya perlu hal yang lebih penting. " ucap Seriana yang melirik Quennevia, membuat Quennevia tersentak karena nya. " Aku tidak menduga kalau anak kecil itu kini berubah menjadi gadis yang bisa memikat putraku. " gumamnya pula.
Sementara itu dalam batin Quennevia, " Pedang itu... Itu pedang yang dulu ditunjukkan ibu. " perhatian nya lebih terfokus ke pedang yang ada di pinggang Seriana.
" Hmph... Akhirnya kau menunjukkan dirimu juga, Seriana!. " ucap Aqua dengan senyum sinis kepada pemimpin klan Retia itu.
Keduanya terjebak dendam satu sama lain sejak 12 tahun yang lalu, ketika klan Retia menerobos masuk ke hutan York. Itu adalah saat dimana Misika mendapatkan luka serius hingga harus memisahkan tubuh dan jiwanya untuk menyembuhkan diri, dan disaat itu lah dia mengambil pedang yang paling dibanggakan oleh para pemimpin hutan. Meskipun siapapun tahu tidak ada yang bisa menarik pedang itu dari sarungnya.
Dan itulah yang disadari oleh Quennevia, pedang matahari dan bulan itu bertengger di pinggang Seriana dengan indahnya. Entah apa namun Quennevia merasa mendengar sebuah suara memanggilnya ketika melihat pedang itu.
" Kau masih tidak berubah ya, Aqua. Haruskah kubilang aku tidak akan berhenti mengejar apa yang aku inginkan. " ucap Seriana.
" Kalau kau sudah selesai maka pergilah sana, kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan bukan. Tapi jangan harap kau bisa membawa Quennevia juga bersamamu. " ucap Azel menatap nya tajam.
" Hmph... kau tahu pasti apa yang aku inginkan, tapi menang Quennevia juga termasuk. Gadis dengan kekuatan yang berhubungan dengan empat dunia, kekuatan yang bisa mengguncang seluruh alam semesta. Dewa adalah penguasa alam semesta itulah yang kalian bilang, dan dia adalah perwujudan dari dewa itu sendiri. " sahut Seriana.
Ia mengucapkan itu sambil menunjuk Quennevia, dan membuat yang lainnya diam tak bicara mendengar nya.
" ...Meskipun begitu, bukan hakmu untuk memiliki nya. Dia harus memiliki hidup yang bebas untuk memilih apa yang ia ingin. " ucap Ethan pula ikut dalam pembicaraan.
Namun saat mereka sibuk dengan pembicaraan itu, Quennevia tiba-tiba saja menggunakan teleportasi. Dan langsung muncul di depan Seriana yang ada di depan mereka semua dan manatapnya nyalang, tentu saja hal itu membuat mereka benar-benar sangat tekejut.
Seriana yang menyedari nya juga hanya menatap Quennevia yang berjongkok di depannya itu dingin, saat kemudian Quennevia pun berusaha menikam nya dan sebuah belati ditangannya. Namun dengan cepat pula, Seriana memukulnya menjauh dari tempat Quennevia hingga terlempar ke arah samping.
" Quennevia!. " teriak mereka.
Sementara Seriana menatap pedang yang sudah hilang dari pinggangnya, " Hoo... Kau bisa menipuku dengan cara seperti itu ya, jadi kau bisa mengenali pedang milik mu itu. " ucapnya kemudian melirik Quennevia.
Quennevia yang masih terduduk ditempat nya, balas menatap Seriana dengan tajam sambil menggenggam pedang yang ia rebut itu. Bahkan seolah tidak merasakan sakit dari pukulan Seriana itu, padahal darah pun sampai mengalir di sudut bibir nya.
Tak...
Quennevia pun memegang pedang itu, bersiap akan menariknya.
" Pedang ini milikku, jadi bukan hak mu... untuk memiliki nya!. " ucap Quennevia menatap Seriana dengan penuh kebencian.
Dan ia pun menarik pedang itu dari sarungnya, seketika sebuah kekuatan yang besar mengalir ke dalam tubuhnya, kekuatan yang sudah tertahan di pedang tersebut selama ribuan tahun. Membuat Quennevia menunjukkan wujud nya sebagai penguasa hutan.
" Itu.. Itu.. Kebangkitan terakhir Quennevia. " ucap Azel.
(👆anggap aja jadi ke gitu.)
Quennevia memegang pedang itu dengan erat, kemudian ia pun mengayunkan nya kepada Seriana dan Lorenzo yang ada di sebelah nya. Namun serangan itu langsung ditahan oleh 10 ketua yang ada di sana, serangan dari pedang itu begitu dahsyat hingga harus membuat mereka semua menahannya bersamaan.
Tetapi ada yang tidak mereka perhatian, ketika serangan itu ditahan dan debu asap menghalangi pandangan mereka. Quennevia langsung menteleportasi kan dirinya dan juga teman-teman nya termasuk Aqua dan juga Azel pergi dari sana.
" Mereka kabur. " ucap Ben, ketua ke 3.
" Biarkan saja, untuk sekarang kita kembali. " ucap Seriana.
" Bagaimana dengan pedangnya ibu?? " tanya Lorenzo.
" Toh, pedang itu tidak berguna bagiku. Tidak ada yang bisa menggunakan nya kecuali pemilik nya, juga tidak ada yang bisa menghancurkan nya. Ribuan tahun yang lalu, pedang itu dibuat dari kekuatan dewa dunia atas dan raja dunia bawah. Seperti yang kau lihat, seperti kedua dewa itu sengaja membuat pedang itu khusus untuk Quennevia yang akan lahir di masa depan. " jelas Seriana panjang lebar.
" Itu artinya pedang itu hanya seonggok besi biasa bagi orang lain, dan tidak akan berguna. " sahut Lorenzo pula.
" Benar. " jawab Seriana, " Kumpulkan semua anggota klan yang masih tersisa, kita kembali! " ucapnya pula kepada para kepala keluarga itu.
" Baik. " jawab mereka dengan patuh sambil membungkuk kepada Seriana, lalu setelah itu barulah mereka semua pergi dari sana tanpa jejak sedikit pun.