
[Season 2]
Malam itu, dikamar Sakura....
" Apa tidak apa membiarkan kakak pergi sendirian?? Kupikir kalian bilang kalau ini adalah masa terlemahnya." Sakura tidak bisa berhenti menatap pintu yang baru saja dilewati Quennevia dengan sangat khawatir.
" Hmm??" sementara itu, Niu yang mendengarnya menatapnya saat kemudian dia berpikir. " ...Iya. Tapi dunia ini sangat berbeda dengan dunia kami, jika Ethan bilang tidak apa, maka aku yakin itu benar-benar baik-baik saja." ucapnya.
" .... Baiklah."
Meski begitu, tetap saja dia khawatir. Masalahnya meski tidak ada yang bisa mengancam nyawa disini, seseorang baru saja menunjukan ketertarikannya dengan sangat jelas kepada Quennevia. Sakura khawatir kalau dia mungkin akan mengganggunya.
Itu karena sekali dia terterik, gangguannya benar-benar sangat menyebalkan.
Dan juga, meski Sakura tidak bisa menebak apa isi hati Ethan karena dia sangat lihat menyembunyikan perasaannya, tapi melalui reaksi yang Sakura lihat dari teman-teman yang Ethan bawa. Mereka terus mewaspadai jika sesuatu benar-benar membuat Ethan tergerak untuk melakukan sesuatu.
Karena Sakura yakin kalau itu adalah sesuatu yang buruk.
" ....Perasaan posesif kepada pasangan ya." perasaan itu mungkin telah berkembang cukup besar selama apa yang mereka alami.
Dan untuk menyingkirkan seseorang dalam situasi ini, bagi Ethan itu sangatlah mudah tanpa jejak dan bukti. Dan meski Sakura tidak terlalu peduli kepada keluarga nya...
" Yah, kuharap anak bodoh itu tidak cari mati sendiri."
Dia tetap tidak ingin melihat akhir mereka dengan menyedihkan hanya karena membuat Ethan terganggu.
****
Namun, sementara Sakura memikirkan hal itu. Keduanya memang sudah bertemu saat ini...
Quennevia yang sedang berjalan-jalan menyusuri tempat itu, berpapasan dengan Liam yang juga seperti nya baru datang dari luar.
" Ah, kau yang bersama Sakura..." Liam kelihatannya cukup terkejut bertemu dengan Quennevia saat itu.
Tapi Quennevia tidak punya ekspresi berarti dan hanya menatap nya, lalu ia pun menganggukkan kepalanya sebagai sapaan kepadanya dan hendak melanjutkan langkahnya. Ia hendak melewatinya, saat Liam menghalanginya.
Hal itu membuat nya harus kembali menghentikan langkahnya, Quennevia pun menatapnya dengan sebelah alisnya yang terangkat.
Liam pun kemudian berkata, " Em.. Kebetulan sekali kita bertemu, ada sesuatu yang ingin kukatakan. Bisakah aku meminta waktumu sebentar??" ucapnya.
Quennevia tetap ada dalam ketenangannya, dan Liam kembali bicara. " Kau bisa menggunakan bahasa isyarat, aku bisa memahamimu. Atau..."
Kata-kata Liam berhenti sementara, ketika ia melihat Quennevia mengangkat sesuatu yang sedari tadi ia genggam ditangannya. Tepatnya sebuah buku kecil dan juga pulen. Dan ia mulai menulis sesuatu...
"...Yah, kau bisa menggunakan itu."
Tak lama, Quennevia pun menunjukan apa yang ia tulis kepada Liam...
Melihat persetujuan itu membuat Liam tersenyum cerah, karena Quennevia tidak menunjukan ketidaknyamanan atau pun permusuhan jadi dia merasa itu akan baik-baik saja.
" Aku ingin tahu, apa kau dan teman-temanmu itu akan berada lama disini?" Yah, itu pertanyaan biasa.
Quennevia pun kembali menulis jawaban nya diatas kertas,
" Apa maksudnya itu..?"
" Oh, apa itu sebuah barang?"
Pertanyaannya cukup biasa, sepertinya anak ini hanya berusaha untuk mengulur waktu untuk menahannya disana, Quennevia sepertinya bisa menebak apa maksudnya. Dia penasaran dengan sesuatu yang bukan urusannya. Dia juga bertingkah tidak seperti dirinya...
" Bisakah aku juga ikut membantumu?" dan dia juga menawarkan sesuatu yang tidak perlu.
Meski begitu Quennevia mengikuti alur dan berpura-pura tidak tahu tentang itu.
" Apa?"
" Itu.. Yah..." Liam mengusap tengkuknya dengan ekspresi ragu.
Quennevia bisa melihatnya, anak laki-laki dihadapannya ini sekarang mulai gugup. Dia mungkin sedang mempertimbangkan kata-kata apa yang harus ia katakan dalam situasi saat itu, sesuatu yang tidak akan menjadi alasan yang aneh dan bisa diterapkan. Atau, dia mungkin akan memilih pilihan kedua...
" Sebenarnya... Aku tertarik padamu." dia mengakui perasaannya.
Seperti yang Quennevia duga.
" ...Ya, kurasa begitu."
Quennevia mendengus mendengar itu. Tidak bisa ia percaya sekarang dia harus berhadapan dengan laki-laki seperti ini. Dia bahkan tidak tahu tentangnya dan baru mengenalnya beberapa jam yang lalu, dan beginilah dia sekarang.
Quennevia kembali menulis jawaban, ia tidak perlu melakukan hal ini lagi.
Kata-kata pertama dari jawaban Quennevia langsung menarik perhatian Liam, sementara Quennevia mengembangkan senyuman ketika ia menunjukan halaman lain dari buku yang dipegangnya...
<...Tapi aku punya seseorang yang kusukai.> dan itulah kejujuran yang dia beritahukan padanya.
Liam langsung terdiam melihat jawaban itu. Quennevia menduga mungkin pikirannya kacau sekarang. Dilihat dari bagaimana rahangnya yang sedikit mengeras dan tangannya yang mengepal, dia mungkin merasakan sebuah penghinaan dari penolakannya. Dia adalah tipe orang yang selama ini tidak pernah ditolak, dan tidak bisa menerima penolakan.
Itu juga pengaruh dari perlakuan kedua orang tuanya yang sangat memanjakannya, berbeda dengan saudara tirinya, Sakura.
Anak ini terlalu sombong.
" Siapa orang itu..?" bahkan sekarang, ekspresi dan caranya bicara langsung berubah kepada Quennevia.
Tapi Quennevia masih menanggapinya dengan sikap biasa, dia hanya melemparkan senyuman padanya.
" Jadi dia.." sementara itu, diam-diam Liam memusatkan kebenciannya kepada Ethan yang di maksud oleh Quennevia. Kebencian tak berdasar. " Dia tidak terlihat spesial sama sekali.." ucapnya kemudian.
<...Apa?>
" Dia terlihat biasa-biasa saja, aku bisa jadi lebih baik darinya. Ayahku seorang anggota dewan, ibuku juga punya bisnis restoran yang cukup terkenal. Bukankan akan lebih menguntungkan untukmu bersamaku dari pada dia?"
Ekspresi Quennevia berubah kosong mendengar itu, yah, itu terdengar menjengkelkan. Liam terlalu mengandalkan reputasi orang tuanya, dia adalah tipe orang yang jika sudah jatuh sulit untuk naik lagi. Bukan orang yang mau berusaha sendiri.
" Huh?." Liam mengangkat sebelah alisnya dengan bingung melihat jawaban yang diberikan oleh Quennevia. "Memangnya siapa..?" dan tentu saja dia penasaran.
< Dia seorang pangeran.>
Dan ia langsung tersentak kaget dengan fakta itu. " Apa?! Pa-pangeran kau bilang.."
Itu bukanlah kebohongan, Ethan memang pewaris takhta. Satu hal yang pasti, Liam tidak akan pernah tahu. Kemanapun dia mencari dia tidak akan bisa menemukannya. Dia juga tidak sanggup berkata-kata lagi, jadi Quennevia akan menganggap percakapan membosankan ini selesai.
dia menunjukan kata-kata itu padanya.
" Hah? Apa--.." namun saat Liam terlambat mereapon, ketika ia menatap mata hijau Quennevia yang bersinar dibawah sinar bulan, dia terpaku.
Dan ketika ia kembali tersadar...
" Eh? Kemana dia..??" Quennevia sudah tidak ada disana.
Liam menoleh kesekitarnya, namun disana hanya ada dirinya sendiri dan keheningan malam. Seolah Quennevia lenyap begitu saja, dia tidak melihat jejaknya.
***
Sementara ditempat lain, Ethan tengah duduk diam diatas tempat tidurnya sambil melihat sebuah buku. Itu adalah buku bersampul begonia yang ia temukan dipondok saat itu, dia sengaja menyimpan itu karena baginya itu sangat berharga. Ethan melihat setiap halamannya satu persatu, itu bukanlah buku biasa, melainkan sebuah album.
Benar, album berisi foto-foto nya bersama dengan Quennevia, Sakura dan kelompoknya yang lain saat disini. Mereka menyimpan semua kenangan itu dalam buku ini.
Ketika mereka pertama kali membentuk kelompok, saat misi pertama mereka selesai dengan sukses, saat ulang tahun, berlibur, perayaan tahuh baru, dan sebagainya. Semuanya ada disana. Jujur saja Ethan merindukan saat-saat itu, ketika mereka bersama dan langkap tanpa kekurangan seorang pun.
Klek...
Perhatian Ethan teralihkan ketika mendengar itu, seseorang baru saja memutar kunci pintu dari kamarnya. Padahal kunci itu ada didalam, karena itu dia hanya punya beberapa orang yang ada dalam pikirannya bisa melakukan itu.
Krieett..
Pintu pun perlahan terdorong dan terbuka, sementara Ethan sedikit terkejut melihat siapa yang datang menemuinya tangah malam ini.
" Quennevia..?" Benar, dia ada disana. " Kau masih bangun." Ethan pun menutup buku yang ada ditangan nya dan menyimpan itu.
Dan Quennevia sendiri kembali menutup pintu itu dan menguncinya seperti sedia kala, dan ia pun berjalan mendekati Ethan ditempat nya.
" Ada apa..??" Ethan terlihat bingung karena raut wajah Quennevia yang terlihat muram, berbeda dengan sebelum nya.
Ia pun meraih lengan Quennevia yang ada dihadapan nya dan menciumnya, tapi Quennevia hanya diam saja. Itu semakin membingungkan.
Lalu perhatian nya pun tertuju kepada buku yang dipegang oleh Quennevia.
" Apa ini??" tanyanya lagi. Ia pun mengambilnya dari tangan Quennevia, Quennevia sendiri tidak melarangnya melihat itu.
Dan apa yang ia dapatkan disana adalah sesuatu yang tidak terduga...
Isinya biasa saja sih, tapi Ethan bisa menebak dengan siapa ia bicara sebelum nya. Terutama, dari kata-kata 'Aku punya seseorang yang kusukai'.
" Ah, bajingan kecil itu mencari kesempatan saat aku lengah.." tiba-tiba Ethan jadi kesal dengan itu.
Saat ini, kesadaran Quennevia hanya 2/5 dari sepenuhnya, itu berkat kesadaran Sirius yang masih berbekas. Tapi, jika saja dia tidak punya kesadaran itu, Quennevia hanya akan diam saja dan membiarkan Liam melakukan apapun yang dia mau kepadanya.
Bahkan jika itu adalah sesuatu yang tidak bisa mereka tarik kembali.
Lamunan Ethan kemudian buyar, ketika tangan Quennevia meraih wajahnya dan ia pun mencium dahinya. Ethan bisa mengerti apa maksud ya, meski ia tidak bisa bicara langsung ataupun dalam pikiran demi menghemat pengeluaran energi dan mempertahankan perwujudannya.
Quennevia berkata...
'Tidak apa, kau tidak perlu khawatir'. ...Kepadanya.
Ethan tidak bisa melakukan apapun dengan itu. Iyah, Quennevia benar. Karena mereka akan segera pergi setelah mendapatkan apa yang mereka mau.
Ia pun kemudian mengulurkan tangannya dan memeluk Quennevia yang berdiri dihadapannya, sementara Quennevia hanya mengelus kepalanya.
Tidak ada yang akan mengganggu mereka sekarang...
" ...Ayo tidur, Quennevia."
Malam terasa dingin dan lebih panjang dari biasanya, para petualang ini memanfaatkannya untuk memulihkan stamina mereka yang terkuras dalam perjalanan mereka sebelum nya. Mereka harus melakukan nya sekarang selagi biasa, karena saat matahari terbit keesokan harinya...
Mereka akan mulai menjelajahi dunia yang baru mereka datangi ini. Ke tempat yang tidak pernah tersentuh.
****
--- Esok harinya, jam 05:00 pagi...
Ethan dan yang lainnya telah berkumpul bersama dihalaman depan, matahari belum sepenuhnya terbit namun mereka sepakat memutuskan untuk segera mencari petunjuk yang dibutuhkan untuk mencari benda yang mereka butuhkan.
Mereka berkumpul, dan didepan mereka sekarang... ada tiga motor gede lain yang serupa dengan milik Sakura. Membuat mereka terdiam bingung dari mana asalnya...
" Siapa yang menyimpan motor ini disini??" Arkan lah orang pertama yang menanyakan hal itu.
Karena ia yakin semalam motor-motor ini tidak ada disini.
Sakura yang mendengar nya pun kemudian menimpali, " Aku yang menyuruh orang untuk membawakannya kemari. Kalian butuh kendaraan untuk menjelajahi kota dalam sehari, kan?" ucapnya.
" Itu memang benar.." Niu tidak bisa membantah hal itu.
" Dengan ini kalian bisa melaju dengan cepat dijalanan, tapi tentu saja berhati-hatilah agar tidak ditilang."
" Bagaimana dengan Ethan?" Yuki kemudian bertanya tentang itu.
Mereka mendapatkan instruksi sebelum nya, mereka telah menentukan siapa yang akan pergi dengan siapa. Diantaranya Yuki sendiri akan pergi bersama Meliyana, dan Oscar akan pergi bersama Niu. Arkan dan Sakura masing-masing akan pergi sendiri. Sementara itu Ethan dan Quennevia...
" Kak Ethan dan Kak Quennevia akan pergi menggunakan mobil." Sakura pun menjawabnya, " Mobil ini bisa menjamin keselamatan kak Quennevia dengan lebih baik. Dia juga termasuk ke dalam kendaraan berkecepatan tinggi, jadi kak Ethan tidak akan tertinggal. Dia kuat, tahan peluru dan tahan ledakan. Tentu saja... Itu asalkan ledakan itu tidak membuatnya terbalik." jelas nya pula.
Akan jadi masalah jika mobil itu terbalik, sulit mengembalikan posisinya seperti semula, meski... sepertinya Sakura sadar dia tidak perlu mengkhawatirkan itu. Ethan bisa saja mengangkat sebuah truk hanya dengan satu tangan dalam situasi nya sekarang.
Oscar dan yang lainnya juga mengerti dengan hal itu. Mereka semua juga sudah mendengar penjelasan dan cara kerja kendaraan itu dari Ethan dan Sakura semalam, tapi mereka benar-benar tidak menyangka kalau akan langsung mencoba pemahaman itu tanpa latihan sama sekali.
" Aku khawatir apa aku bisa mengendalikannya." bahkan Oscar ragu dengan itu.
" Jangan khawatir, aku yakin kalian akan baik-baik saja." tapi Ethan memberikan mereka semangat dengan sebuah senyuman aneh, membuat mereka malah merasakan firasat buruk.
Meski begitu, jika dipikirkan lagi harusnya memang tidak ada masalah. Bahkan jika mereka jatuh dari motor itu... Mereka sudah terbiasa jatuh menghantam tanah atau apapun itu. Bisa dibilang mereka sudah lumayan kebal.
" Baiklah, kalian sudah tahu tempat yang akan kalian tuju. Semua itu adalah tempat yang pernah didatangi oleh Quennevia, jadi carilah apapun yang menurut kalian aneh atau ada hubungannya dengan target kita." ucap Ethan pula kepada mereka, yang mana langsung dibalas anggukan dari masing-masing mereka.
" Lalu, kalian masing-masing... ambil juga benda ini." lanjutnya.
Sakura mengangkat sebuah koper ditangannya dan membukanya untuk Ethan, isinya adalah sebuah senjata. Lebih spesifiknya adalah pistol dan persediaan peluru.
" Eemm... Kenapa kita harus membawa itu?" tanya Meliyana yang bingung dengan itu.
" Kota 'kan sekarang tidak aman, jaga-jaga saja jika kalian menghadapi orang yang tidak bisa kalian lawan dengan bela diri. Kalian bisa menggunakan ini sebagai alternative untuk tidak menggunakan kekuatan kalian." sahut Ethan.
Ia pun mengambil salah satunya dan juga peluru yang ada dalam koper itu, " Lihatlah, aku akan menunjukan bagaimana cara kerja benda ini."
Sesuai yang Ethan katakan, dia menjelaskan cara kerja dan menunjukan bagaimana cara mengisi ulang pistol itu. Dia bahkan menggunakan mobil nya sendiri untuk sasaran mendemonstrasikan cara kerja nya, sekaligus membuktikan ketahanan mobil yang ia beli itu.
Setelah semua persiapan dan kesiapan selesai, mereka langsung menaiki kendaraan masing-masing dan bersiap untuk pergi. Ethan juga sama, dia naik ke dalam mobil dimana Quennevia sudah menunggu sejak tadi. Dan ia pun langsung menjalankan mobil itu, memimpin kepergian mereka dari sana.
Mulai sekarang... pencarian mereka akan dimulai.