Quennevia

Quennevia
Dicegat



[Season 2]


Yuki dan Meliyana pun ikut membantu Marina mencari foto yang mereka inginkan itu. Barang yang ada disana tidak terlalu banyak, jadi itu tidak akan terlalu sulit untuk dicari. Dan seperti yang diduga... Beberapa saat kemudian, foto itu ditemukan diantara halaman buku yang tersimpan disana.


" Ah, aku menemukannya." Marina lah yang pertama menemukannya.


" Benarkah??" Yuki yang mendengar nya pun segera berbalik kearahnya dan mendekatinya.


Marina pun menganggukkan kepalanya menanggapi itu, " Iya, tidak foto lain disini. Dan juga... foto ini memiliki kode, kupikir ini benda yang kalian cari." ucapnya yang kemudian memberikan foto itu kepada Yuki.


Dan benar saja, dibelakangnya memang ada sebuah kode yang tertulis.


[UM, +90°, -30°/9pm, 04/N/P.]


Itu mungkin menunjukan sebuah tempat, atau kata-kata yang disamarkan agar tidak diketahui orang lain secara sembarangan. Masalahnya sekarang... Yuki tidak bisa membaca itu, dia bukan ahli dalam hal ini.


" Kita lihat apakah Niu atau Ethan tahu soal ini..." pikirkan demikian.


Saat kemudian ia membalik foto itu, dan yang ia lihat adalah foto seorang gadis yang tersenyum cerah bersama seorang laki-laki disampingnya. Bergandengan tangan dengan wajah yang dipenuhi dengan cinta. Melihat itu membuatnya merasa aneh.


" Ini Quennevia dan Ethan saat disini, kan..??"


Kurasa sebutan 'ular' yang tidak tertulis difoto itu bisa dijelaskan dari mereka berdua yang ada didalamnya. Quennevia dan Ethan... atau, Kirito dan Nevia sebelum nya menduduki posisi puncak diorganisasi. Kirito yang lihai memanipulasi bukti, pikiran seseorang dan juga rencana, dipanggil dengan sebutan 'King Cobra'.


Sementara itu Nevia yang menduduki posisi pertama, orang yang menjajal semua rintangan dan tak terkalahkan, dijuluki 'Ular yang melahap segalanya'.


Itu julukan yang unik, karena merekalah yang memilih dan menyebarkannya sendiri. Meski begitu, Yuki sekarang bertanya-tanya kenapa foto seperti ini disimpan oleh ayah angkat Nevia disini...


" Um... Apa kami boleh mengambil ini? Kalau tidak, aku bisa menyalinnya saja." tanya Yuki pada Marina kemudian.


Marina yang mendengar nya pun kemudian menjawab, " Ah, tidak apa-apa. Kalian bisa membawanya..." ucapnya yang terhenti sejenak, saat kemudian ia menunduk terlihat muram dan kembali berkata. "...Entah kenapa aku merasa kalau foto itu lebih baik berada ditangan orang lain daripada kami."


Yuki yang mendengar nya berkata seperti itu terdiam dan menatapnya, Marina terlihat memiliki sebuah penyesalan yang ia simpan. Yuki pun kemudian melirik Meliyana ditempat lain, ia masih sibuk menyentuh dinding dan benda-benda lain yang ada disana untuk memastikan. Sekaligus memasang segel diam-diam untuk memurnikan aura yang ada disana. Disamping itu, sedari awal memang ada yang membuatnya terganggu...


Karena itu, ia pun menghela nafas sejenak dan bertanya... "..Apakah kau membenci Nevia?" itulah pertanyaan yang ia lontarkan.


" Apa..?" Marina yang mendengar itu darinya pun berubah sangat terkejut dan menatapnya.


Tapi ekspresi Yuki masih sama seperti biasanya, " Apa kau membencinya? Jika kau bisa bertemu dengannya setidaknya sekali lagi sebelum 'insiden' itu.. apa yang akan kau katakan padanya??" ucap nya lagi.


Hening...


Suasana disana langsung berubah segera setelah pertanyaan itu muncul darinya, Marina masih diam ditempatnya dengan wajah yang kembali tertunduk, membuat Yuki tidak bisa melihat ekspresi nya dengan jelas. Tapi ia bisa melihat, kedua tangannya yang saling bertaut terlihat gemetar.


Yuki rasa itu sulit untuk diungkapkannya...


Yah, dia bisa memahami hal itu.


" Sebenarnya..."


Saat kemudian ia mendengar Marina berkata..


" ...Kami.. maksudku aku dan kakakku tidak membencinya. Meski begitu, aku juga tidak berani berkata kalau kami sudah menyayanginya dengan benar. Saat kecil, kami cukup sering bersama, tapi setelah dia dibawa ke organisasi kami jadi jarang bertemu dan jarang berkomunikasi. Setelah nya, kami hanya mendengar tentangnya dari media dan surat darinya. Dan suatu hari... kami tiba-tiba melihat berita kalau dia ditetapkan sebagai buronan."


Marina mengatakan semua yang ia pikirkan disana, sementara itu Yuki hanya diam untuk membiarkannya bicara dan mendengarkan, Meliyana yang mendengar nya pun juga mulai berhenti dan berbalik menatap mereka.


Ketika kata-katanya terhenti sejenak, Marina berusaha menarik nafas untuk menenangkan dirinya, tapi karena itu ekspresi juga terlihat tersakiti seolah menahan rasa sakit yang luar biasa. Air mata pun jatuh dari matanya...


" ....Kami.. tidak bisa melakukan apapun untuknya. Setelah kematiannya, kami terus merasa bersedih karena kehilangan dan menyesali semua yang terjadi. Harusnya kami lebih peka, jika saja kami sadar kalau ada yang salah dengan tindakan ayah, kami rasa kami bisa membuktikan kalau dia tidak bersalah. Karena itu mungkin saja.. mungkin saja dia akan baik-baik saja sekarang." Marina benar-benar tulus.


Ini bukanlah pertama kalinya Yuki melihat seseorang seperti ini, sebelumnya juga sudah beberapa kali. Dia yang dulu tidak tahu harus melakukan apa saat melihat seseorang seperti ini, dia yang dilarang merasakan kesedihan agar tidak menangis. Membuatnya benar-benar lupa apa itu kesedihan..


Tapi sekarang tidak lagi.


Karena itu, ia bisa dengan berani mengulurkan tangannya kepada Marina, Yuki mengusap air mata yang jatuh diatas pipinya itu. Karena hal itu, Marina pun kembali menatapnya dan ia langsung terpana.


Yuki tersenyum dengan sangat lembut kepadanya...


" Jangan khawatir." ucap Yuki pula, " ...Aku cukup mengenal seperti apa Nevia. Dia orang yang akan mencintai apa yang pantas dicintai, dan akan membenci suatu yang pantas dibenci. Dia tidak akan membiarkan ketidakadilan. Aku juga yakin dia merasakannya... Ketulusan kalian yang tiada akhir ini. Aku yakin dia bahagia karena kalian tetap mengingatnya." lanjutnya.


Marina tersentuh mendengar itu, bagaimana pun selama ini dia hidup dalam kebingungan dan tidak tahu harus seperti apa untuk mengatasi perasaan bersalahnya. Tapi setelah mendengar ucapan Yuki, dia merasa kalau sebagai bebannya merasa terangkat, setidaknya dia tahu kalau itu adalah kebenaran.


" ...Terima kasih."


****


Kembali ke Ethan dan Quennevia, mereka baru saja keluar dari gedung pemerintahan. Tidak seperti yang mereka duga, semua berkas tentang Nevia disana telah dihapus. Bahkan soal hubungan dan keterkaitan dengan orang-orang di sekitarnya. Seolah dengan sengaja agar tidak ada yang bisa mengetahui apapun lagi tentangnya.


Yah itu wajar, mengingat siapa dia...


" Kita temui yang lain dulu, mereka mungkin berhasil menemukan sesuatu." ucap Ethan, yang dibalas anggukan kepala oleh Quennevia.


Mereka masuk kembali ke dalam mobil yang sebelum nya mereka bawa, saat kemudian Ethan mendapatkan pesan yang dikirimkan oleh Sakura.


Ethan pun membuka pesan itu dan yang ia dapatkan...


[]


" Hmm.." Ethan memikirkan itu, siapa orang itu.


Karena Sakura yang mengatakan nya, dia yakin kalau dia juga orang yang pernah ia temui. Dan juga... Tidak ada salahnya, meminta bantuan besar dalam hal ini, meskipun mereka bisa mengatasinya sendiri.


" Baiklah, mari kita beritahu yang lain soal ini juga." gumam Ethan kemudian.


Tapi baru juga dia berkata seperti itu, teman-temannya sudah menghubungi nya duluan melalui panggilan grup. Sepertinya yang memulai adalah Arkan, dan yang dihubungi adalah dia, Niu dan juga Meliyana.


" Ada apa, Arkan?" tanya Ethan disaat yang sama dengan ia memarkirkan mobilnya saat ini


suara Arkan terdengar ragu dari sambungan telepon itu.


Mendengar apa yang dia katakan, membuat dahi Ethan berkerut merasa penasaran. Apakah Arkan sedang berada dalam bahaya..?


" Apa yang sudah kau lakukan??"


Sementara saat itu, Arkan yang sedang duduk diatas motornya sambil menelepon Ethan. Ia menatap sekitarnya dan berkata, " ....Aku baru saja memukul orang yang kau katakan, dan sekarang anak buahnya mengepungku saat akan kembali." ucapnya.


Dan... seperti yang ia katakan.


Dia benar-benar dikerumuni orang-orang dengan wajah sangar, bahkan beberapa diantara mereka membawa senjata dari balok kayu sampai ke sebilah pedang. Arkan penasaran dengan itu...


" Apa yang harus ku lakukan? Melawan mereka?" tanyanya kepada Ethan.


<....> namun Ethan tidak segera menjawabnya.


Saat itu, kemudian Meliyana yang juga terhubung pun menyela...


" Maaf, tapi... bukan hanya kau saja yang dicegat ditempat ini." ucap Meliyana ketika Yuki menghentikan motornya karena sekelompok orang yang sepertinya preman atau geng berkumpul menghadang jalan mereka.


suara Niu terdengar menyahuti.


Meski secara garis besar, masing-masing dari mereka bisa mengalahkan mereka dengan mudah. Tapi saat ini, mereka semua menunggu keputusan dari Ethan yang masih belum menjawab mereka.


Sementara itu, orang-orang dihadapan Meliyana dan Yuki mulai meneriaki mereka seolah mereka adalah penjahatnya disini...


" Hei! Turun dan serahkan diri kalian!! Jika tidak akibatnya akan sangat buruk!." ucap salah satu dari mereka.


Namun Yuki dan Meliyana hanya menatap dingin, saat kemudian Yuki pun melepaskan helm yang ia pakai dan menyahuti mereka.


" Kalian pikir kalian siapa berani menghalangi kami?." ucapnya benar-benar sangat jengkel dengan kelakuan mereka. Yuki bisa melihat nya, beberapa diantara mereka adalah orang-orang yang kemarin sempat mereka hajar juga karena mengganggu.


Rupanya mereka masih mengikuti mereka.


" Hah?! Sombong sekali kau. Kau pikir kota ini milikmu apa, dasar kelinci buruk." sahut orang itu lagi.


Semangat itu Yuki dan Meliyana tersentak dan makin kesal mendengar kata-katanya...


Itu... adalah kata yang sangat sensitif.


" Apa dia baru saja menggunakan kata 'kelinci' untuk mengejek??"


Alasannya...


" Iya, Yuki. Bunuh dia sekarang. Beraninya dia menghina Quennevia kita."


....Quennevia juga adalah kelinci.


Tentu saja kata itu akan jadi sangat berharga bagi mereka, meskipun itu hanyalah nama dari seekor hewan. Tapi untuk saat ini... bentuk itu sama saja nyawa bagi Quennevia mereka yang berharga.


Mereka tidak bisa membiarkannya bicara menggunakan kata itu seenaknya.



Saat kemudian suara itu terdengar dari ponsel yang dipegang Meliyana, membuat keduanya kembali tersentak. Dan membuat Yuki tidak jadi turun dari motor yang ia tumpangi.


" Ethan..?" Yuki menanggapi itu dan sedikit menoleh kebelakang.


Disaat yang sama, Ethan kembali berkata.


Sementara Ethan sendiri, ia tengah melihat pelacak yang terpasang di masing-masing kendaraan mereka melalui sebuah leptop yang ada didalam mobil. Membuatnya bisa melihat dimana-mana saja posisi teman-temannya, dan ia sedang berjalan kearah salah satunya saat ini.


" ...Teman-teman, dengar. Kalian tidak perlu menahan diri." ucapnya.


Sementara itu teman-teman ditempat lain mendengarkan nya dengan seksama..


<...Aku tahu aku bilang kepada kalian agar menahan diri untuk tidak menggunakan kekuatan kalian, tapi bukan berarti kalian tidak bisa melakukan apapun yang kalian mau...>


Ethan mengatakan ini karena ia tahu teman-teman mya sangat pengertian, tapi terkadang terlalu terpaku akan perkataan nya...


Ia menghormati teman-teman nya, sungguh. Karena itu...


<...Kalian bisa menentukan apapun. Saat kalian terlibat bahaya, jangan ragu. Keselamatan kalian adalah yang utama. Jadi... lakukan apapun yang kalian mau, dan kembalilah dengan selamat.>


...Dia tidak ingin menghalangi jalan mereka.


Arkan yang mendengar itu jadi yang pertama merespon ketika teman-teman nya yang lain masih diam...


Ia tersenyum dan berkata, " Hmph. Dasar... Memangnya karena apa kita jadi seperti ini??" ucapnya.


Disaat yang sama ketika salah satu dari orang-orang yang mengepungnya menyentuh pundaknya...


" Woy, kita perlu bicara." ucapnya sok hebat.


Arkan hanya sedikit menoleh mendengar itu, saat ia kemudian mengayunkan tangan kanannya dan memukul pria itu dengan keras. Satu pukulan itu berhasil membuat lawannya yang memiliki badan besar terhempas dan jatuh mencium aspal dan tak sadarkan diri.


Brukk..


" Wuaa..."


Sementara yang lainnya terkejut melihat tindakannya, Arkan hanya berkata.


" Maaf, ya. Aku sedang buru-buru, jadi...." Arkan kemudian menjauhkan ponsel ditangan kirinya dari telinga dan menutup panggilan terlebih dahulu, ia pun kemudian menatap orang-orang itu lagi. "...Sejak kalian memulai, bagaimana jika kita akhiri ini dengan cepat?" ucapnya pula dengan seringai diwajahnya.


Sementara itu dalam perjalanan yang ditempuh Oscar dan Niu...


" Ya ampun, apa kalian dengar itu?" tanya Niu kepada teman-teman nya yang masih terhubung dalam panggilan. " Seseorang baru saja keluar dengan begitu bersemangat." ucapnya pula.


Saat kemudian Meliyana pun menyahuti nya,


Ethan juga menyetujui hal itu.


" Niu." suara Oscar mengalihkan Niu, ia pun menatap orang yang sedang mengendarai motor yang mereka tumpangi ini. "...Kita pergi ke tempat Arkan." lanjutnya kemudian.


Niu tidak mengatakan apapun lagi, ia hanya tersenyum. Sudah ia duga Oscar akan mengatakan itu, bagaimana pun Oscar dan Arkan serta Ethan memang sangat dekat.


" Yah, jika itu yang kau inginkan, aku akan mengikuti mu kemanapun kau pergi." ucap Niu kemudian membuat Oscar juga tersenyum mendengar jawabannya. " Sudah dengar? Tunanganku yang manis ingin pergi menemui temannya yang kesulitan, aku akan menutup telepon nya sekarang." ucapnya pula kepada yang lainnya.


Yang mana langsung disambut terakan kesal dari Meliyana,


Niu hanya tertawa dan menutup telepon nya. Disaat yang sama Meliyana juga melakukan hal yang sama, dia menatap ponsel ditangannya kesal karena Niu memamerkan kemesraan dengan Oscar. Dia cemburu...


" Hingg... kuharap Kai juga ada disini." batinnya memikirkan itu.


" Meliyana, berikan helm mu padaku." sampai kemudian Yuki tiba-tiba mengatakan itu.


" Apa??"


Belum juga Meliyana mendapatkan jawaban ataupun menjawab, Yuki merampas helm miliknya lebih dulu. Ia pun kemudian turun dari atas motor, dan langsung melemparkan helmnya dan miliknya sendiri kearah orang-orang itu. Dua orang jatuh dipihak mereka...


" Uakk!"


" Sialan..!!"


Membuat yang lainnya terlihat kesal karena apa yang ia lakukan. Sementara itu, Meliyana terperangah melihat itu.


" Yuki..." ucap Meliyana menatapnya horor, dia sangat terkejut karena dia tidak mengatakan apapun sebelum melakukan serangan.


Namun, Yuki seperti biasanya, hanya memasang ekspresi datar diwajahnya. " Kau tidak ingin menbantuku??" dan dia berkata demikian.


" Hajar mereka!!"


" Tangkap dua wanita sialan itu!!!"


Orang-orang itu mulai berlarian kearah mereka terlihat sangat marah, bagaimana pun Yuki benar-benar melakukan profokasi langsung. Jadi tentu saja mereka tidak akan membiarkannya. Dan karena sifat mereka, semuanya langsung bermain serang secara keroyokan.


" Haaa..." Meliyana tidak punya pilihan selain ikut berkelahi jika situasi nya sudah seperti ini.