
[Season 2]
["Kau bisa tidur, Ethan. Tidak akan ada yang mengganggu atau mencarimu disini, aku akan pastikan kau aman."]
Itu suara terakhir yang ia dengar sebelum kesadarannya lenyap sepenuhnya...
Byurr...
Ketika itu, Ethan merasakan seperti kesadaran jatuh ke dalam lautan. Itu dingin, jurang yang sangat gelap dan hening. Sangat dalam, ia tidak bisa menggerakan tubuhnya sedikitpun, ia bahkan tidak bisa membuka kedua matanya hanya untuk mengintip. Kepalanya sangat berat, dan pikirannya perlahan kosong, tidak ada satupun yang ingat.
Tapi dalam kegelapan itu, Ethan perlahan merasakan tangan seseorang yang sangat lembut dan hangat... membelai wajahnya. Dan waktu berubah serasa berhenti.
Mereka berdiri dengan cara yang berlawanan.
[...Ethan, anakku. Dengarkan baik-baik suara yang memanggilmu..]
Ia mengenali suara itu, suara yang ia rindukan, suara yang telah lama hilang. Itu suara dari wanita yang telah melahirkan nya, dan membesarkannya didunia ini.
{Ethan..! Berjuanglah...}
Dan seperti yang ia katakan, ia bisa mendengarnya dengan jelas.
[Tempatmu bukanlah disini, kembalilah kepada cahaya. Pulanglah kerumah, Ethan...]
{Jangan menyerah! Bangun!}
[...Ada seseorang yang menunggumu.]
Blusss...
Suara itu menghilang seperti hancur bersama gelembung, sebagai gantinya... perlahan ia bisa membuka matanya. Ada seseorang didepan sana..
Bayangan kabur dari seorang wanita.. berambut emas, berbicara padanya..
{"...Ethan.." }
Lalu, ketika ia membuka kedua matanya lebih jelas, ada lebih banyak orang disana...
{" Ethan, kemari!." }
Dan ia bisa melihat, wanita itu tersenyum dengan indah dibawah sinar matahari bersama orang-orang yang sangat berharga dalam hidup mereka. Menunggunya untuk datang.... Teman-temannya.
Senyuman pun kemudian terangkat dibibirnya, untuk beberapa saat yang lalu ia melupakannya. Bagaimana ia bisa berani....
" Kalian semua orang-orang menyebalkan.."
...Melupakan janjinya kepada mereka.
"...Kalian bahkan tidak memberiku waktu istirahat sebentar saja."
Ethan mengingat kembali untuk apa dia ada disana...
****
-- Ruang tanpa batas...
Eclipse menatap Ethan yang tak bergerak sedikit pun dihadapannya saat ini, tidak ada tanda-tanda pergerakan apapun. Ia pun kemudian berbalik dan melangkahkan kakinya pergi dari sana, tujuannya sudah tercapai.
["Selamat tidur. Sekarang... tinggal kembali dan mengambil kelinci itu darinya."] satu hal selesai, dan yang lain pun harus dia urus.
Tapi kemudian Euclide menghentikan langkahnya dan tersentak, ia menoleh kearah Ethan yang masih terkapar dengan sangat terkejut. Kekuatan nya mulai kembali menyeruap dengan lebih agresif dan memenuhi tempat itu...
["...Apa yang terjadi?!!"]
Swoosshh...
Energi itu mengamuk layaknya lautan ditengah badai, dan perlahan...
Kreekk...
Menghancurkan ruangan itu, dimulai dari yang ada didekat Ethan sendiri.
Kraak.. Kratak...
Eclipse tidak bisa mempercayai hal itu, ["Apa ini bahkan masuk akal?! Kau sudah kalah..!"] itu karena dia sudah memastikan pusat energi Ethan telah berhenti bergerak untuk sementara.
Kreekk...
Disaat yang sama, Ethan perlahan mulai bangun..
" ...Masih belum.. aku belum kalah..." ruang disekitar mereka mulai runtuh. Ethan pun kemudian mengangkat kepalanya menatap Eclipse disana, dan perlahan tersenyum. "...Aku tidak boleh kalah disini." ucapnya.
PRAANNGG!!
Ruangan itu benar-benar hancur, dan kesadaran dikembalikan ketubuh asli...
Didunia nyata, Arkan, Oscar, Niu, Yuki dan Meliyana masih melakukan semua upaya yang mereka bisa lakukan untuk menjaga Ethan tidak jatuh. Tekanan dari tangga itu juga mulai mempengaruhi mereka, dan kaki mereka mulai terasa sangat berat. Rasanya... seperti memikul sebuah batu raksasa hanya dengan tubuh mereka sendiri.
" Urrkk.."
" Tahanlah.."
..Tapi mereka tetap bertahan.
Sampai kemudian, Arkan merasakan tubuh Ethan mulai bergerak...
" Huh..??" ia terkejut dengan punggungnya yang mulai ringan, dan menoleh melihat apa yang terjadi. Teman-temannya yang lain juga sama.
Ethan disana... telah kembali berdiri dan berpegangan kembali kepada tombak itu.
" Ethan...?" Niu memanggilnya dengan ekspresi bingung, seolah memastikan apakah dia benar-benar Ethan, teman yang mereka kenal.
Dan Ethan yang mendengar namanya dipanggil pun perlahan menoleh dan menatap mereka, " Kalian benar... bukan waktunya aku untuk tidur kan..??" ucapnya sambil tersenyum ringan.
Teman-temannya yang melihat itu benar-benar sangat bahagia dan bersyukur, dia adalah teman yang mereka kenal.
" Ethan!"
" Syukurlah, kau kembali. Huwa~..."
" Kau membuat kami benar-benar sangat khawatir."
Mereka bahkan tidak bisa menahan kegembiraan itu. Bukan hanya mereka, Felice, Euclide dan Yue yang ada dibawah sana juga, mereka bersyukur karena Ethan bisa kembali sadar.
Sayangnya, Ethan harus menghentikan suasana haru itu untuk saat ini. " Aku juga senang melihat kalian lagi, tapi ini bukan saatnya aku bersantai.." ia pun kembali menoleh kedepan sana, ke jalan yang masih membentang dihadapannya. "...Masih ada 130 anak tangga yang harus kulewati." ucapnya dengan sangat serius.
Teman-temannya langsung terdiam mendengar itu, tanpa harus berdiskusi atau bertanya lagi mereka tahu apa yang harus dilakukan. Mereka berlima tersenyum.
Mereka tersenyum dan mempercayainya...
" Jadi apa yang kau tunggu??" Oscar melemparkan pertanyaan itu kepadanya. "..Kau harus pergi sekarang kan?" lanjutnya pula. Ia mewakili apa yang ingin dikatakan teman-temannya juga.
Ethan yang mendengar itu menatap mereka sejenak, dan kemudian kembali tersenyum. " ...Iya, tunggu aku." jawabnya sambil menganggukan kepalanya.
" Kami selalu disini, Ethan. Selalu disini." Meliyana pun menanggapinya dengan lembut, mereka akan selalu ada untuk membantunya.
Ethan juga percaya hal itu.
Ia pun menarik nafasnya sejenak untuk memfokuskan diri, dan ia menatap puncak gerbang istana dengan tajam. Tidak ada keraguan atau ketakutan, Ethan mulai melangkahkan kakinya...
Satu langkah...
Tekanan kembali menghentamnya. Ethan menguatkan dirinya dengan berpikir kalau dia tidak sendirian, teman-temannya ada dibelakangnya.
Dua langkah...
Ethan tidak ingin mengecewakan ayahnya yang telah membantunya.
Tiga langkah...
Ethan tidak bisa mengingkari janjinya kepada semua orang, termasuk kepada Euclide dan Hades. Terutama Misika, tidak ingin mengecewakan seorang ibu...
Empat langkah...
Ethan sudah bersumpah untuk menghadapi semuanya dengan pasti dikehiduapan kali ini dihadapan wanita yang ia cintai.
Lima langkah...
Ia terus mengingat tujuannya datang kesana. Bukan hanya untuk menjadi kuat, bukan untuk memamerkan diri.... Tapi untuk melindungi orang-orang yang ia sayangi.
Langkah berikutnya, Ethan membiarkan ingatan-ingatan manis yang ia miliki menguatkan dirinya. Sementara dilangkah lain, ia membiarkan ingatan buruk memberinya lebih banyak alasan untuk terus melangkah maju dan menjadi lebih baik.
Ia mengingat semua pengorbanan yang telah dilakukan, semua perasaan yang ia rasakan. Rasa senang, rasa sedih, amarah, keputusasaan, ketidak berdayaan, dan... kesombongan. Ethan menyukai sebuah kata, 'kerja keras'.
Karena yang bekerja keras akan mendapatkan kesuksesan, dan kesuksesan bukanlah sebuah kebetulan. Karena itulah ia bekerja lebih keras, demi mendapatkan hal besar yang ia inginkan.
Perlahan ingatan lama kembali, seperti potongan film yang dulu hilang akhirnya terkumpulkan lengkap. Pelukan yang telah hilang, senyuman yang dia rindukan, saat-saat dimana ia merasa semua tempat dimanapun mereka berada terasa seperti surga. Ethan ingin mendapatkan semua itu kembali, semua yang telah lama hilang darinya.
" ....Aku merindukan kalian."
Ekspresi nya berubah sendu, penuh dengan kerinduan. Dan air mata perlahan turun dipipinya...
Ketika air mata itu jatuh diatas tangga, Ethan.. sudah sampai ditangga ke-900...
" Dia melakukan nya! Dia benar-benar sampai disana!." Meliyana langsung memeluk Yuki yang ada disamping nya dengan kegirangan karena hal itu.
" Iya, kau benar." dan Yuki sendiri menanggapi itu dengan senyuman yang hangat.
Semua orang memiliki ekspresi cerah diwajah mereka. Hanya 100 langkah lagi, dan ia akhirnya akan sampai...
Bwuusshh...!
Namun selayaknya dengan tempat yang sulit digapai, 100 langkah terakhir juga bukan hal yang mudah.
" Khh..!"
Tekanan udara berubah, dan angin kencang berhembus dari atas sana, seolah berusaha menerbangkan Ethan pergi dari tempatnya. Ethan harus berpegangan kuat kepada tombak ditangannya seperti sebelumnya.
Ia memandang keatas sana, dan Eclipse muncul di anak tangga terakhir. Membawa aura dingin yang lebih kuat dari sebelumnya...
Degh!
"..!!"
Violetine menunduk, memeluk dirinya sendiri dari rasa dingin yang ia rasakan karena kedatangannya. Melihat Violetine yang langsung gemetar seperti itu hanya dengan melihat Eclipse, sudah jelas kalau mereka berada ditingkatan yang sangat berbeda. Itulah alasan Violetine berada dilantai bawah.
Felice bahkan sampai harus membentangkan pedangnya dihadapan Violetine untuk melindungi diri mereka sendiri. Kekuatan Eclipse bisa membuat Violetine yang hanya potongan kecil kesadaran kehilangan esensinya.
Kemunculan nya tidak diperkirakan, kekuatan yang keluar darinya menarik cahaya ditempat itu dan menghalangi matahari untuk bersinar. Benar... Selayaknya gerhana ketika terjadi.
Euclide menyipitkan kedua matanya diantara gemuruh kekuatan yang Eclipse keluarkan, dia akhirnya meyakini satu hal. [..Keberadaan Eclipse kini setara dengan Ethan sendiri. Kalau begitu, kursi didunia atas akan bertambah satu karena dewa gerhana telah sepenuhnya bangkit.]
Kelahiran dewa baru...
Eclipse telah sepenuhnya menjadi eksistensi yang berbeda dengan Ethan, tapi mereka terikat sebagai saudara. Kemunculan dewa baru itu pasti telah dirasakan seluruh makhluk yang ada didunia atas, dan mereka sekarang diliputi oleh kecemasan.
Bahkan hal itu sampai ke dua dunia yang lain....
-- Dunia Tengah, Benua Suci..
Gluduk... Gluduk...
Jedarr...!!
Langit memberikan pertanda baru kepada mereka yang ada didunia tengah, gelombang energi yang bergejolak dan perputaran alam semesta yang mulai berubah.
Pertanda akan sebuah kelahiran yang baru...
Semua orang menatap kearah langit, semua kuil dilanda kebingungan, dan para Valkyrie merasakan kegelisahan. Ditengah kehaningan hanya deru angin dan petir yang terdengar...
Sementara dibagian dunia yang lain, ketika siang hari begitu terik, manusia justru dibuat terkejut... dengan bulan yang tiba-tiba bergerak dan menutupi matahari ketika itu bukan waktunya untuk terjadi.
Dan Yigrette, menatap dalam kekosongan....
".... Variabel lain dari takdir telah dimulai."
--- Dunia Bawah, Istana Hades.
Sang Raja Dunia Bawah menatap langit didunianya dalam diam, langit di Dunia Bawah biasanya memang gelap. Tapi ditengah kegelapan itu sekarang, ada sebuah fenomena yang tidak biasa terjadi..
Berbeda dengan Dunia Tengah yang memiliki dua pertanda, ketika siang dan malam terjadi ditempat itu. Didunia bawah, cincin api muncul dilangit. Sebuah pola yang mirip... ketika gerhana matahari terjadi di Dunia Tengah. Semua yang ada disana juga bisa melihat hal itu.
Hades bisa membaca pertanda itu dengan jelas...
[.... Dia akhirnya, benar-benar menciptakan tempatnya sendiri diantara para dewa.] Hades bisa membayangkan seberapa heboh dunia atas saat ini, alasan nya juga sederhana. [Baik atau buruk, dewa baru yang lahir akan menentukan menjadi teman atau musuh. Kita akan lihat apa pilihan anak itu sebentar lagi.]