
[Season 2]
Disebuah gua tak jauh dari tempat pemasangan penghalang sebelumnya, Haika ada disana bersama dengan Misika dan Kagura tentu saja. Itu hanya gua biasa, meski begitu didalamnya ada perabotan yang bisa digunakan disana.
Ada meja dan kursi dari kayu, sebuah lemari sederhana, dan perapian yang diatasnya terdapat gerabah besar yang digunakan untuk memasak air.
" Duduklah. Ibu akan buatkan teh untuk kalian." ucap Misika, ia pun mendekati lemari sederhana disana.
" Baik." dan Haika pun menjawab demikian.
Ia dan Kagura duduk dikursi yang ada disana, sementara itu Haika mengedarkan pandangannya melihat tempat itu dengan lebih jelas. Gua ini benar-benar tempat beristirahat yang nyaman.
Ruangnya tidak terlalu sempit, dan tidak gelap karena beberapa kristal sihir khusus yang digunakan sebagai penerangan tergantung di beberapa bagian tempat itu. Kalihatannya ini bukanlah tempat yang baru-baru ini dibuat, kalau begitu... itu artinya seseorang, atau.. Misika membuat tempat ini sudah cukup lama.
Dia cukup penasaran, ibunya menggunakannya untuk apa...
Lamunan Haika buyar ketika Misika menaruh nampan diatas meja. Dan menuangkan teh dari teko ke dalam gelas.
" Jadi.. apa yang membuatmu datang sekarang, Haika? Aku yakin kau tidak datang hanya untuk berkunjung disaat seperti ini." tanya Misika, ia pun cangkir berisi teh itu kepada Haika.
" Terima kasih, ibu." Haika pun menerima itu dengan baik, lalu ia berkata.." ...Iya. Ibu benar, ini soal Quennevia. Ketidakhadirannya saat ini semakin memperburuk kekacauan dibenua. Para pemimpin dinegara lain terus mempertanyakan dimana dan apa yang dia lakukan ketika benua ada dimasa krisis. Karena itu, kepala Akademi mengirimku kemari untuk sedikit mengelabui mereka, dan membuat mereka berpikir Quennevia ada benar-benar disini. Dan sedang mencari solusi." jelasnya soal rasa penasaran Misika.
Misika yang mendengar itu pun menundukan wajahnya dengan ekspresi murung, dia memang telah menduga hal ini akan terjadi. " ...Pada akhirnya... apa kita tidak bisa merahasiakan kondisi Quennevia lebih lama lagi..?"
Tapi tentu saja, jika mereka membeberkan kondisi Quennevia sekarang, itu hanya akan semakin membuat orang-orang jadi panik. Itu bisa saja dimanfaatkan musuh untuk memecahbelah mereka disitusi yang sama sekali tidak menguntungkan mereka ini. Dan itu akan semakin membahayakan...
" Ini masih terlalu awal untuk merasa semua akan berakhir, ibu." ucapan Haika membuyarkan lamunan Misika, dan ketika ia menatapnya, Misika bisa melihat senyuman yang penuh dengan kepercayaan diwajah Haika. " ...Aku yakin mereka pasti akan berhasil." lanjutnya kemudian.
Misika merasa terhibur oleh perasaan Haika yang kuat, dia sangat mempercayai Ethan dan teman-temannya. Melihat itu membuatnya ikut tersenyum dan menganggukan kepalanya.
" Iya..." Benar, Misika harusnya tidak terpengaruh oleh hal seperti ini. Dia harus yakin putrinya akan kembali.
" Aku juga! Akan berjuang!." teriak Kagura pula yang sedari tadi hanya diam memperhatikan percakapan mereka.
Membuat Misika dan Haika saling pandang satu sama lain, dan akhirnya tertawa karena semangatnya.
" Ahahaha..."
" Hahaha... Itu benar! Kagura kita pasti akan menjadi bantuan yang sangat besar."
...Mereka tidak punya waktu untuk bersedih atau bingung. Mereka harus terus maju menghadapi semuanya.
****
Benar, mereka semua harus maju untuk menghadapi bencana yang akan datang. Namun sayangnya, disisi lain, langkah Ethan harus terhenti ditangga ke 864 setelah tekanan yang mulai membebani nya muncul.
" Hah... Hah... Hah..." nafasnya tersengal dengan keringat yang terus bercucuran dari tubuhnya.
Ethan merasa seperti ditimpa oleh sesuatu yang amat sangat berat, sangat sulit bahkan hanya untuk tetap berdiri disana. Tubuh manusia nya hampir mancapai batas nya, tapi bahkan Ethan tidak diberi pilihan untuk beristirahat sejenak.
Semuanya telah dimulai sejak ia menaiki setiap anak tangga, setiap 40 anak tangga ia lewati, gravitasinya dikalikan 5 kali lipat. Ditangga ke 120, ia mendapatkan serangan mental pertama. Ditangga ke 160, efek penurunan kekuatan mulai terjadi. Ditangga 190, Ethan hampir tidak bisa bernafas karena tempat itu terhubung dengan ruang hampa. Tangga ke 240, ia mendapatkan serangan pisau angin yang membuat nya mendapatkan cukup banyak luka. Dan semua serangan lainnya terus berlanjut.
Darahnya jatuh disetiap anak tangga setiap ia melangkahkan kakinya, tapi Ethan bahkan tidak menoleh kebalakang. Itu terjadi seolah... Jika ia menoleh, maka ia akan kembali turun. Karena itu Ethan hanya memiliki pilihan untuk maju.. terus melangkah. Hanya ada satu jalan yang bisa ia ambil.
Lalu, setelah beberapa saat langkahnya terhenti dianak tangga itu, Ethan pun kemudian mengangkat kepalanya yang tertunduk... Ia melihat kearas sana.
Dia masih punya 136 langkah lagi yang harus ia lewati. Setelah memastikan hal itu, Ethan kembali menundukan wajahnya, dan ia mulai mengangkat kaki kanannya. Sedikit lebih dekat, semakin dekat, dan akhirnya ia mengambil 1 langkah lainnya. Dan naik keatas..
" 865... tinggal.. 135 anak tangga..." ucap Ethan disana.
Ia punya tekad yang kuat untuk tidak menyerah...
Sementara jauh dibelakangnya, teman-temannya sedang melihat perjuangannya ditempat mereka dengan seksama.
" Ahh... Ethan pasti kesulitan. Aku ingin membantunya.." gumam Meliyana pada dirinya sendiri ketika ia melihat kerja keras Ethan.
Bukan hanya dia, teman-teman Ethan... mereka semua, mereka memiliki ekspresi yang serupa diwajah mereka. Mereka ingin membantu, mereka ingin mendorongnya, mereka ingin memberikan jalan yang mudah. Tapi.... sayangnya mereka tidak bisa melakukan itu.
Yang bisa mereka lakukan, hanyalah melihat... dan berharap dia akan baik-baik saja melewati hal ini.
Saat kemudian perhatian semua orang teralihkan kepada Oscar yang bertanya, " Anu... Tuan Euclide, bolehkah aku mengajukan sebuah pertanyaan?"
" Itu soal tempat ini... Apa sejak dulu, Dunia atas adalah cermin alam seperti ini?" dan itulah yang dia tanyakan.
Yah, itu mungkin... tidak sesuai dengan situasi saat ini, tapi dilihat bagaimana pun dia terlihat penasaran. Meski... Teman-temannya yang lain justru penasaran menapa dia ingin tahu soal itu.
Tapi jika dipikirkan, memang wajar seseorang ingin tahu soal tempat yang pertama kali mereka kunjungi. Yang mungkin... mereka tidak akan pernah memiliki kesempatan lagi untuk melakukannya.
Apalagi yang menjawabnya.. adalah pemilik dari dunia itu. [Yah, dulu tempat ini tidak seperti ini. Mungkin kau bisa membayangkannya, lapangan hijau, pegunungan asri dan pemandangan alam yang mungkin bisa kau lihat juga didunia tengah. Tempat ini tidak berbeda dengan disana pada awalnya.] ucap Euclide menimpali.
" Apa ada sesuatu yang membuatnya berubah??" tanya Niu yang juga ikut penasaran tentang hal itu.
[Hmm...] Euclide tidak terburu-buru menjawab itu, dia justru terlihat seperti memikirkan itu terlebih dahulu. Lalu ia pun kemudian mengalihkan kembali perhatian nya kepada Ethan diatas sana, yang telah berhasil mengambil 2 langkah lain sementara mereka bicara. [...Jika kalian bertanya alasannya... kurasa itu karena tempat ini kehilangan 2 pilar besar dan beberapa pilar kecil sekaligus, terutama 3 diantaranya yang paling penting. Karena itu... tempat ini jadi seperti danau garam, kan?] lanjutnya kembali menatap mereka dan tersenyum.
Oscar pun kembali menimpali itu, " Jadi, apa istana ini juga tidak seperti ini pada awalnya?." ucapnya.
" Bukankah tempat ini memiliki terlalu banyak anak tangga? Kurasa. Kurasa selain kekosongan karena ditinggal pemiliknya, struktur bangunan nya juga berubah, bukankah begitu?" lanjut Niu pula.
[...Mhm.] Euclide mengganggukan kepala nya membenarkan hal itu. [Tempat ini melakukan segalanya.. untuk menjaga tahta milik dewa matahari. Jadi tentu saja tidak aneh jika struktur bangunan nya berubah, atau ada penambahan pada sisi keamanannya. Itu adalah keamanan otomatis.] jawabnya.
" Hoohh..." Arkan terkesan dengan penjelasan singkat yang mudah dimengerti itu.
Bruussshhh....
Saat kemudian ia mendengar suara keras itu, dan ketika ia menolah, itu adalah sesuatu yang mengejutkan...
Dan hal itu juga membuat Yue ikut terkejut, hingga buru-buru melingkarkan ekornya diarah mereka sebagai penghalang...
" Huh..?!."
Wuusshhh...
" Ack!."
" Kyak..! Anginnya kencang sekali..!"
...Tapi bahkan dengan penghalang ekor Yue, mereka masih tetap merasakan dampak dari angin mencang itu.
Itu tidak berlangsung begitu lama, tapi tetap saja sangat tidak terduga. Apalagi... itu adalah dampak dari pertarungan dua orang lain yang ada disana.
Violetine dan Felice, mereka masih saling melemparkan serangan satu sama lain sejak Ethan mulai naik ke atas...
" Akk! Mereka masih bertarung juga?? Bukankah ini waktunya untuk berhenti? " Arkan tidak percaya bahwa mereka akan seimbang sampai seperti itu dan mempertahankan pertarungan mereka.
Yue sependapat dengan Arkan kali ini, " Ya... Mereka bertarung terlalu berlebihan. Kita harus menghentikan mereka."
" Percuma jika kalian berpikir bisa menghentikan mereka hanya dengan berkata 'berhenti'. Mereka berdua itu orang yang keras kepala. " ucap Yuki menengahi mereka. " Kaisar terdahulu hanya ingin melindungi Ethan, dan Violetine berusaha untuk menghentikannya. Kecuali kau bisa mengalahkan Violetine, Kaisar terdahulu juga akan berhenti." lanjutnya.
" Jadi kenapa? Kita kan hanya perlu menyerang Violetine bersama." usul Meliyana kemudian.
" Bodoh! Kau tidak bisa melakukan itu!." sambar Niu ketika ia mendengar usulan itu.
Tapi Meliyana yang polos tidak tahu apa maksudnya, " ..Kenapa?" jadi ia mengajukan pertanyaan itu.
Niu menghela nafas sejenak, dan lalu ia pun mulai menjelaskan. " Violetine itu seorang kesatria, kan? Dan Tuan Felice juga kesatria yang mendapatkan gelar raja."
" Jadi?"
" Jika dua orang kesatria saling berhadapan satu sama lain, apa itu?"
Meliyana menaruh ibu jari dan jari telunjuknya didagunya terlihat memikirkan hal itu, dia benar-benar serius. Saat kemudian dia mengingatnya..
" Ah! Duel kesatria." ucapnya menjawab pertanyaan Niu.
Dan Niu juga menganggukan kepalanya membenarkan hal itu, " Benar. Karena itu kau tidak bisa ikut campur dalam duel kesatria. Jika kau melakukan nya, itu bisa dianggap tidak bersopan, dan bisa juga dianggap menghina kesatria yang sedang melakukan duel itu." ucapnya lebih detail.
" Oh, begitu. Aku mengerti."
" Jadi pilihannya sekarang... adalah mereka sepakat menghentikannya, atau salah satu diantara mereka tumbang." ucap Yuki yang kemudian mengalihkan perhatian nya kepada Violetine dan Felice yang bertarung tak jauh dari mereka.
Karena itu, yang lainnya pun juga ikut menatap kearah ia melihat. Kepada dua orang kesatria yang sedang bertarung itu...