
Suasana di sana benar-benar sangat menegangkan, dengan keheningan yang membuat orang-orang tidak nyaman di sana. Belum lagi Quennevia yang menatap mereka dengan tajam, dan suara dingin yang ia ucapkan membuat mereka merinding.
Orang-orang itu tidak bisa percaya ada orang yang memiliki aura seperti itu di tempat ini, info yang mereka terima sebelumnya tidak mengatakan tentang kehadiran nya.
" Ku tanya sekali lagi. Siapa kalian, apa yang kalian inginkan?? " suara dingin Quennevia benar-benar membuat mereka merinding.
" Huh, untuk apa kau tahu??. " tanya bos mereka pula.
Quennevia pun menunjuk orang yang bicara itu, lebih tepatnya apa yang ia pegang. " Rantai itu.... Itu kau dapatkan dari klan Retia bukan?? Dari para bede*ah itu. " ucapnya.
" Ka.. Kalau iya kenapa?? " tanya bos itu lagi.
" Aku mengingat nya sekarang, dimalam yang gelap itu.. Saat hujan badai di malam itu, mereka datang kemari dan menyerang kami... Mereka menyerang ibuku!. " ucap Quennevia sambil memegang Kepala nya.
Orang-orang itu nampak tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Quennevia, apalagi melihatnya tambah marah seperti itu membuat mereka tambah tertekan. Sedangkan Misika dan Azel yang mendengar itu mengerti, nampaknya Quennevia mendapatkan kembali ingatannya setelah berada di kolam itu selama 4 tahun.
" Di... Dia itu benar-benar sangat mengerikan. " batin bos itu.
" Membosankan. " gumam Quennevia tiba-tiba.
" Hah??. " ucap semua orang pula.
" Kalian semua membosankan, tidak ada yang memiliki kekuatan besar diantara kalian. " ucap Quennevia kekanak-kanakan.
Iya, sikap kekanakan nya muncul lagi, membuat mereka tidak percaya Quennevia yang dingin tadi jadi seperti itu, suasana mencekam diantara mereka tadi juga sirna begitu saja. Entah apa yang dipikirkan Quennevia tapi mereka tidak bisa percaya dengan perubahan yang singkat itu.
Sesaat sebelumnya ia sangat menyeramkan dan nampak sangat berbahaya, tapi sesaat kemudian ia berubah dari singa yang garang menjadi kucing kecil yang imut dan lucu.
" Ibu, aku lapar. " ucap Quennevia kepada Misika pula dengan wajah yang terlihat lucu, " Oh, ibu sudah kembali ke tubuh ibu, selamat. Sekarang bisa aku makan. " ucapnya pula sambil memeluk nya dengan manja.
Misika merasa geli melihat tingkah putrinya itu, selama 4 tahun tidak bertemu dan hal pertama yang ia pikirkan setelah bangun adalah perutnya yang terasa lapar. " Hahaha... Baiklah, tapi kita harus membereskan mereka dulu. " sahut Misika pula sambil menunjuk orang-orang yang masih terdiam itu.
Quennevia pun melirik mereka, kemudian mendecih pelan. " Cih, paman Azel kan bisa mengutus mereka sendiri. " gumamnya.
" Jadi kau tidak mau membantu paman mu ini. " ucap Azel pula dengan wajah memelas.
" Paman kan dari tadi hanya main-main saja, kalau paman serius mereka sudah dari tadi mati kan?. " ucap Quennevia pula.
Orang-orang itu benar-benar teracuhkan oleh obrolan mereka, rasanya seperti mereka tidak pernah ada di sana sama sekali. Dan itu membuat mereka kesal, terutama si bos itu.
" Kalian... Dari tadi mengabaikan ku, ya. Hah!!. " ucapnya dengan sangat marah.
Ia pun menyerang Quennevia yang tengah berdebat dengan Azel itu dengan rantai yang ia pegang, dan ujung rantai itu berubah menjadi sebuah pisau. Tapi karena serangan itu bisa dirasakan oleh mereka, jadi akhirnya bisa dihindari.
Namun senjata nya itu mengenai kalung milik Quennevia, dan saat orang itu menariknya lagi kalung itu ikut terbawa oleh senjata itu.
" Kalung ku!. " ucap Quennevia.
" Oho... Kalung yang sangat cantik, seperti nya ini terbuat dari batu delima sihir yang sangat langka." ucap bos itu pula sambil melihat kalung yang ada di senjata nya itu.
" Kembalikan!. " teriak Quennevia dengan marah.
" Kau menginginkan nya kembali, kalau begitu kembali dan ambillah. " ucap si bos itu mengambil kalung dari senjatanya itu.
Jika dilihat itu bukan hal yang besar, tapi Azel sangat terkejut orang itu berani mengambil kalung itu. Ia pernah melihat Quennevia sangat marah besar karena kalung itu, dan sekarang orang itu malah memprovokasi nya.
" Yue, kita mundur. " ucapnya sambil menarik Yue, " Misika, ikut aku. " ucapnya pula juga sambil menarik Misika.
" Ehh?? " ucap kedua nya bingung, apalagi saat Azel menarik mereka naik ke atas pohon para peri.
Sementara di bawah saja, suasana di sekitar Quennevia memang terlihat sangat tidak menyenangkan, dia benar-benar sangat marah. Apalagi para orang bodoh di sebrang saja yang tertawa tanpa menyadari bahaya yang mengincar mereka disana.
" Ha.. Ha.. Ha.. Kubunuh kau. " ucap Quennevia pula dengan aura membunuh yang sangat besar.
Quennevia menggunkan kekuatan nya dan mengendalikan akar-akar yang ada dibawah tanah, akar-akar itu keluar dari dalam tanah dengan banyak. Karena saking terkejutnya orang-orang itu belum sempat mempersiapkan diri, tapi Quennevia langsung menyerang mereka dengan akar-akar itu.
Tidak ada yang bisa selamat dari amarah Quennevia, bahkan orang yang mencoba lari pun dikejar dan dihabisi di tempat. Akar-akar itu pun mengambil kalung itu kembali dan mengembalikan nya kepada Quennevia.
Sedangkan di atas sana, Yue dan Azel menatap apa yang dilakukan oleh Quennevia itu dengan sangat gugup, mereka menganggap apa yang dilakukan Quennevia itu yang mengerikan. Melihat itu membuat mereka jadi tidak berani berpikir untuk menjahili Quennevia di kemudian hari.
" Aku tidak akan membuat master marah lagi. " bahkan Yue juga sama.
Disisi lain Quennevia pun baru ingat kalau disana masih ada mereka, ia pun berbalik menatap mereka di atas. Tapi ia bingung sendiri kenapa Azel dan Yue terlihat ketakutan seperti itu, padahal ibunya masih biasa-biasa saja di sana.
******
- Beberapa hari kemudian, setelah Quennevia terbangun.
Hari ini Quennevia akan pergi untuk masuk ke Akademi sesuai keinginan nya, dia sudah bersiap-siap untuk pergi dari sana, dan yang lainnya juga sudah berkumpul si sana untuk mengantar kepergian nya.
" Huee... Apa kau benar-benar harus pergi, kenapa kau tidak disini saja??. " ucap Zeze sambil menangis dan memeluknya.
" Bibi Zeze, setelah selesai Akademi aku akan kembali kemari. Aku juga bisa berkunjung saat aku libur. " hibur Quennevia kepada nya.
" Tapi... Tapi... Tapi... " ucap Zeze pula dengan tidak jelas, tapi kemudian tidak ia lanjutkan karena malah menangis lagi.
Iya, Zeze benar-benar sangat menempel kepada nya, beda lagi dengan Aqua yang protektif, jadi hal seperti ini saja mereka sangat melarangnya. Hanya saja perbedaan nya Aqua itu tipe-tipe orang yang keinginan dan ucapannya berbeda.
" Sudahlah, kau jangan terlalu mengenangnya seperti itu. Misika sendiri tidak seperti itu kok. " ucap Wais merasa risih melihat itu.
" Iyah, kau benar. " sahut Aqua setuju, meski dalam hati ia berteriak tidak setuju.
" Apa? Bukannya kau juga sama saja?. " dan Everon yang sangat tahu itu pun mulai memancing emosinya.
" Kau ingin ku pukul, ya?!. " Aqua yang mendengar itu pun langsung berteriak dengan emosi.
" Haah... Kalian benar-benar tidak bisa akur, ya. " gumam Azel yang sudah sangat bosan melihat mereka bertengkar.
Setiap kali mereka bertemu mereka selalu saja berdebat, atau mungkin Everon memang selalu mencari perdebatan dengan orang manapun.
" Queen kecil, jaga dirimu di sana ya. " ucap Mice kepada Quennevia, ia pun mengelus kepalanya dengan lembut.
" Iya, paman. Kalian juga jaga diri baik-baik, saat aku kembali aku akan menantang kalian semua untuk berduel. " sahut Quennevia dengan penuh semangat.
" Haha... Kalau itu aku tidak akan kalah. " jawab Mice dengan percaya diri.
Quennevia mendengus kesal karena itu, ia tidak pernah diberi kesempatan menang oleh Mice jika berduel dengan nya. Berbeda dengan Azel, Aqua dan yang lainnya, kecuali Everon juga sih.
" Putriku, jika terjadi sesuatu kembalilah kemari ya. Biar kami yang membantumu. " ucap Misika sambil memeluk putrinya.
" Baik ibu. " jawab Quennevia sambil membalas pelukan ibunya, lalu kemudian ia melepaskan pelukan itu. " Lalu, apa kau yakin tidak mau ikut dengan ku Xi??. " tanya Quennevia pula.
" Tidak, tapi jika kau membutuhkan ku kau tahu harus apa bukan??. " sahut Xi, Quennevia hanya mengangguk paham dengan itu.
Saat kemudian Everon menyela, " Kau juga harus ingat, matamu itu belum bisa sembuh sepenuhnya karena teknik itu. Jadi sebaiknya jangan mencari masalah apapun, kau mengerti??. " ucap nya sambil memperingati Quennevia dengan aura menyeramkan seperti itu.
" A.. Aku mengerti. " sahut Quennevia kikuk.
Iya, mau bagaimana lagi. Karena sebauh kecelakaan dua hari yang lalu, ia harus menggunakan salah satu teknik yang ia dapatkan dari Zeze (karena memaksanya), hingga harus mengorbankan penglihatan nya utk sementara.
Karena itu juga mereka jadi agak khawatir kepada nya sih, apalagi Everon yang marah-marah saat tahu ia mempelajari dan menggunakan teknik itu. Zeze pun juga jadi kena imbasnya.
Setelah selesai berpamitan, ia pun segera berangkat dengan menunggangi Yue. " Kalau begitu semuanya, aku berangkat. " ucap Quennevia sambil melambaikan tangannya, kemudian pergi bersama dengan Yue.
" Hati-hati di sana, Queen kecil!. " teriak Zeze ikut melambaikan tangannya bersama dengan yang lainnya.
" Jika ada waktu kembalilah kemari. " teriak Misika pula.
" Baik. " balas Quennevia sambil berteriak juga.
Quennevia benar-benar pergi sekarang, dia akan bertemu dengan teman-teman bodohnya lagi. Semantara Misika dan yang lainnya memperhatikan Quennevia hingga ia tidak terlihat oleh mata mereka lagi.
" Dia tumbuh terlalu cepat. " ucap Mice.
" Iya, aku ingin dia jadi anak kecil selamanya, apa aku terlalu egois??. " sahut Zeze.
" Tidak juga, aku juga menginginkan hal itu. " jawab Freea.