Quennevia

Quennevia
Bicaralah Kejujuran



Di hutan tak jauh dari Akademi, di tempat itu terdapat sebuah danau kecil yang diairi oleh air terjun yang jernih, dengan pemandangan hutan di sekitar nya yang membuat tempat itu jadi semakin indah. Tempat terpencil dimana tidak ada siapapun di sana.



Dan kesana lah Ethan membawa Quennevia pergi dari Akademi, sesuai dengan perkataan Yue. Ia berusaha menekan jiwa Seretia yang mulai memberontak lagi itu, dan untungnya hal itu berjalan dengan cukup lancar karena Quennevia yang sebenarnya juga sebenarnya memaksakan kesadaran nya saat itu.


Mereka menghela nafas lega karena hal itu berhasil, setidaknya nya untuk saat ini dia tidak akan menggangu Quennevia untuk sementara waktu. Disisi lain Quennevia saat ini sedang mengapung kan dirinya diatas air, sambil menatap langit dan pepohonan yang ada di atas kepala nya.


Itu membuatnya teringat saat berlatih dengan Aqua dulu, dia juga melakukan hal itu.. berlatih sambil bermain air, dua hal yang paling menyenangkan setelah berlatih dan terbang ke berbagai tempat bersama Azel. Disaat yang sama pula, Ethan hanya duduk di tepi danau itu sambil memperhatikan nya, dengan Yue yang meringkuk di samping nya pula, dia sudah bekerja keras membantunya saat ini.


Quennevia mengangkat satu tangannya untuk menghalangi cahaya matahari yang menusuk mata nya, ada banyak hal yang saat ini sedang berkecamuk di benaknya saat ini. Dari mulai keingintahuan nya akan identitas Beatrice, masa depannya, masa lalu, dan apa yang harus ia lakukan dengan Seretia dan klan Retia itu.


" Hei Ethan, bukankah menurutmu itu agak aneh??. " tanya Quennevia pula dengan tiba-tiba.


" Apanya??. " tanya balik Ethan yang kelihatan nya bingung dengan pertanyaan Quennevia.


" Setelah kita kehilangan benda pemisah antara aku dan Seretia, dan konflik yang dimulai oleh klan Retia. Tiba-tiba saja muncul seorang wanita yang harusnya sudah mati sejak kau berusia 8 tahun. "


Mendengar ucapan Quennevia itu membuat Ethan sedikit tersentak, jelas sekali dia tahu siapa yang saat ini sedang dibicarakan oleh Quennevia. Dan ia juga bertanya-tanya bagaimana dia bisa tahu hal itu.


" I-Iyah, kau benar. Dari mana kau tahu??. " ucap Ethan.


" Ning... Dia yang memberitahuku semuanya. " jawab Quennevia.


" Begitukan... " sahut Ethan sambil menundukkan kepala nya.


" Apa kau senang bertemu dengan nya lagi??. " tanya Quennevia lagi.


" Em?? Soal itu... "


Ethan sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan itu, entah dia senang atau malah merasa kalau itu menang aneh seperti perkataan Quennevia. Ia tidak bisa memastikan satu diantaranya, dan ia juga tidak mau jika nantinya jawaban yang ia pilih itu malah membuat Quennevia terluka.


Quennevia yang tidak kunjung mendengar jawaban dari Ethan itu akhir bangun, masih dengan dirinya yang masih ada di dalam danau itu. Ia menatap Ethan yang kelihatan ragu itu dengan lekat, tapi perasaan ragu yang Ethan rasakan itu seperti sebuah mata pisau yang membuat Quennevia merasa kalau apa yang ia katakan itu benar.


Jika saja Beatrice memang orang yang sangat berharga bagi Ethan lebih dari pada dirinya, jika saja menurut Ethan Beatrice itu lebih baik darinya, mungkin sebaiknya ia melepaskan nya lebih dulu sebelum jatuh terlalu dalam. Quennevia pun berjalan keluar dari danau itu dan berdiri tepat di depan Ethan.


" Siapa dia bagimu?? Seberapa dekat hubungan kalian?? Apakah kau menganggap nya seperti adik mu?? Hanya teman?? Ataukah..... " ucap Quennevia menggantung.


Ia terus memperhatikan reaksi Ethan yang sedari tadi hanya menundukkan kepalanya itu dengan wajah datar. Sampai kemudian Ethan pun menjawab..


" Seorang teman... mungkin. " jawab Ethan dengan ragu-ragu.


" Kenapa kau ragu-ragu?? Apakah kau tidak ingin aku terluka, apakah itu artinya hubungan kalian lebih dari itu?? Kalau begitu jika aku melepaskan mu sekarang, apakah kau akan pergi untuk kembali padanya??. " ucap Quennevia pula dengan alis yang berkerut sedih.


" Hah??... "


Tatapan yang sama dengan gadis kecil yang ia temui dulu, seperti saat masa dimana Quennevia sama sekali tidak mengharapkan sedikit pun kasih sayang atau apapun dari orang lain, hanya seseorang yang berhati dingin dan menganggap segala hal di dunia ini itu seperti tidak ada artinya sama sekali.


Semantara itu Yue yang masih ada di sana, hanya memperhatikan apa yang terjadi diantara kedua orang itu. Lalu ia pun memutuskan untuk kembali lebih dulu dari mereka, daripada nantinya ia melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.


" Ke.. Kenapa kau bertanya seperti itu??. " tanya Ethan.


" Karena mungkin kau tidak ingin melihat ku lagi karena dia sudah kembali, masih belum terlambat bagiku untuk melepaskan mu selamanya. Kemudian kembali ke tempat dimana seharusnya aku berada. Lagipula tidak pernah ada yang benar-benar mencintai ku dengan tulus didunia ini sama sekali. " jawab Quennevia sambil tersenyum getir.


Ethan pun bangun dari duduknya, " Tolong jangan katakan hal-hal seperti itu, aku sangat mencintaimu, tidak mungkin aku membiarkan mu pergi. Lagipula... hubungan ku dengan Beatrice itu hanya sebatas teman masa kecil, aku hanya ingin dia lebih terbiasa dengan Akademi. Karena itu... maaf jika apa yang ku lakukan malah membuatmu merasa tidak nyaman. " jelas nya, sudah ia duga Quennevia salah paham apalagi dengan semua rumor yang beredar di Akademi.


" Kalau begitu kenapa kau mengacuhkan ku?? Bukankah akan lebih bagus jika kau membuatku dengan Beatrice lebih akrab juga, kenapa kau harus lakukan sendiri. Apakah kau tahu betapa menyakitkan nya mendengar semua rumor itu, setiap hari... setiap waktu aku selalu dihantui rasa takut kehilangan mu. Kau yang sudah membawaku ke dalam dunia mu yang penuh warna itu, membuatku merasakan banyak hal juga perasaan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya. Kau yang memberitahu ku bagaimana rasanya dicintai dan mencintai oleh seseorang, tapi pada akhirnya kau juga yang mendorong ku menjauh dari dirimu. " ucap Quennevia yang kini mulai menangis.


Ethan sangat terkejut melihat nya, rasanya sangat sesak saat melihat orang yang dicintai olehnya menangis seperti itu, apa lagi Quennevia yang tidak pernah menangis terang-terangan seperti itu. Juga kata-kata yang terdengar sangat menyakitkan itu, seperti menikam hatinya.


Ia tidak sadar jika selama ini Quennevia selalu menjadi kan nya sebagai prioritas, segala hal yang tidak bisa ia lakukan sendiri Quennevia selalu ada membantunya. Bahkan jika Quennevia sangat sibuk sendiri pun, dia selalu langsung datang saat mendengar Ethan mendapat kesulitan atau bahkan terluka sekali pun.


" Ada apa?? Kenapa kau tidak menjawab nya?? Jangan bilang kalau semua rumor itu benar, lalu aku ini apa bagimu??. " ucap Quennevia pula.


Ethan pun mengulurkan tangannya dan mengusap air mata di pipi nya itu dengan lembut, " Kau.. Satu-satunya orang yang kucintai, satu-satunya wanita yang ingin ku tempatkan disisi ku selamanya. " Ia pun kemudian menarik Quennevia ke dekapan nya dan memeluk nya dengan sangat erat. " Jangan menangis, aku tidak akan pernah meninggalkan mu. Maaf karena aku sudah membuatmu merasa seperti itu. " ucapnya dengan lembut pula.


Quennevia yang mendengar nya tidak bisa berhenti menangis, entah karena sedih atau karena terharu dengan ucapan Ethan.


Pokoknya yang penting ia sudah merasa lega sekarang, meski sebenarnya dia masih gelisah sekaligus penasaran dengan identitas Beatrice yang bisa tiba-tiba muncul seperti itu, padahal Ning bilang kalau dia sudah mati.


Dia akan terus mencari tahu sampai menemukan jawaban nya, tidak akan ia biarkan seseorang yang berbahaya tinggal disisi Ethan. Meskipun ia sebenarnya penasaran dari mana perasaan was-wasnya akan keberadaan Beatrice itu, seolah ada seseorang yang bilang kalau dia itu orang yang berbahaya dan harus disingkirkan.


***********


Disisi lain, seseorang yang ada di Akademi. Seseorang itu datang ke tempat yang cukup sepi dan jarang dikunjungi oleh orang, orang itu menoleh kesana kemari untuk memastikan keadaan. Kemudian di tempat itu ia bersandar di sudut dinding, ia terlihat sedang bicara dengan seseorang.


" Dia ada diluar, hanya bersama dengan Ethan. Sementara pelihara nya sudah kembali lebih dulu untuk menemui para tetua. Sepertinya jiwa 'wanita pembawa bencana' mencoba untuk mengambil alih Quennevia. " ucap seseorang itu sambil melipat kedua tangannya.


" Kau yakin dia hanya pergi berdua??. " tanya suara yang entah muncul dari mana itu.


" Tentu saja mereka hanya pergi berdua, namun tidak mungkin tidak dijaga diam-diam. Kau tahu kan klan Aira itu selalu mengawasi nya dari kejauhan. " jawab seseorang itu.


" Haha... tentu saja, hal itu tidak perlu dipertanyakan lagi. Mengingat pemimpin klan mereka saat ini adalah kakak angkat gadis itu. " ucap suara misterius itu.


" Baiklah, hanya itu yang ingin aku katakan. Jangan sampai ada yang melihat ku datang ke mari dan bicara sendirian, apalagi sampai membuat orang-orang curiga kepada ku. " ucap seseorang itu lagi.


" Benar sekali. Teruslah membuat mereka semakin percaya kepada mu, dengan begitu akan lebih mudah juga memanfaatkan mereka. Hahahaha.... " ucap suara misterius itu yang kemudian hilang entah ke mana.


Seseorang itu pun ikut tersenyum mendengar hal tersebut, kemudian ia juga ikut pergi dari sana. Seperti yang ia katakan.. sebelum ada orang yang melihat nya disana dan membuat mereka curiga, jika tidak.. bisa-bisa gagal sudah rencana mereka selama ini.