
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Quennevia langsung keluar dari sana, meninggalkan orang-orang yang ada di sana tanpa berkata apapun lagi. Tapi ternyata bukan hanya dia saja yang keluar dari sana, tapi Meliyana dan Kai juga berlari keluar untuk mengejar nya.
Pertemuan itu juga ikut berakhir saat itu juga, karena takut Quennevia tidak bisa memaafkan kejadian itu, uskup agung meminta raja Arhad dan Count Friska untuk minta maaf padanya, sekaligus sang uskup sendiri yang datang juga.
Permintaan maaf itu disambut dengan baik oleh Quennevia, meskipun raja Arhad seperti nya tidak terlalu tulus dengan nya, dan sebenarnya Quennevia pun tidak peduli dengan hal itu. Setelah itu Quennevia lebih memilih pergi lagi berjalan-jalan di tempat itu bersama dengan Kai, dan Meliyana yang selalu menempel padanya.
" Nah, karena masalah sudah selesai, kedepannya tolong berpikir sebelum bertindak yang mulia. " ucap uskup agung kepada Arhad.
" Tentu saja. " sahut Arhad.
Uskup agung pun akhirnya pergi dari sana, bagi Raja Arhad meski dia diam saja sebenarnya dia sangat kesal karena harus minta maaf kepada Quennevia, baginya Quennevia hanya anak kecil yang sombong.
" Sial, gara-gara anak kecil itu. Bukan hanya tidak mendapat keuntungan, tapi juga harus kehilangan muka di depan semua orang. " batin Arhad dengan sangat kesal.
" Yang mulia, selanjutnya bagaimana??. " tanya Count Friska.
" Huh, untuk sekarang kita diam dulu. Jika ada kesempatan kita langsung balas perbuatan anak kecil itu. " sahut Arhad.
" Baik, yang mulia. " ucap Count Friska pula.
Mereka pun kembali ke tempat nya di sana, besok adalah hari terakhir pertemuan itu. Setelah itu dia tidak perlu lagi menahan kekesalan saat melihat Quennevia.
****
Sedangkan Quennevia sendiri, dia hanya berkeliling di depan tempat nya tinggal, tidak ada tempat yang bisa ia kunjungi di sana. Jika ingin keluar juga pasti akan sangat sulit, karena Meliyana akan sangat sulit di kelabui.
" Putri Quennevia, apa kau merasa lebih baik sekarang??. " tanya Meliyana.
" Iya, aku baik-baik saja. Dan jangan terlalu formal dengan ku, putri. Panggil saja Quennevia. " sahut Quennevia.
" Baiklah, kalau begitu kau juga panggil aku Meliyana, atau Meli. " ucap Meliyana pula.
" Baiklah. " jawab Quennevia.
Meliyana selalu saja menarik-menariknya untuk melihat bunga-bunga yang ada di sana, mereka mengobrol banyak hal. Quennevia pun secara tidak sadar dia jadi ikut terhanyut dalam obrolan itu, kadang Meliyana juga suka menggoda kai membuatnya jadi gelagapan.
Meliyana itu orang yang sangat ceria, dia pandai bergaul dengan banyak orang, baik dan juga cantik. Dia tipe orang yang sangat didambakan oleh para pria, sedangkan Quennevia sudah pasti malah di takuti.
Saat mereka melihat-lihat bunga itu, tiba-tiba ada seekor kuda yang mendekati mereka, dan juga orang yang menunggangi nya.
" Sepertinya suasana hati mu sudah lebih baik, Tuan putri. " ucap orang itu sambil menekankan kata Tuan putri, dia adalah Ethan. Iya, dialah orang yang menunggangi kuda itu.
" Iya, sebelum kau datang, Pangeran. " sahut Quennevia acuh sambil menekankan kata pangeran seperti Ethan.
" Anu... Kai, apa mereka saling kenal?? " bisik Meliyana.
" Entahlah, saya tidak pernah melihat nya. " bisik balik Kai.
Melihat mereka cukup akrab, membuat Meliyana dan Kai bingung dengan itu. Apa mereka saling kenal?? pikir mereka.
" Jangan seperti itu, dong. Masa kau marah hanya karena aku tidak bilang kalau aku ini Pangeran Kekaisaran Foldes, lagipula kau juga tidak mengatakan siapa dirimu. " ucap Ethan.
" Terserah. " sahut Quennevia, sambil mengangkat kedua tangannya, ia tidak peduli dengan itu.
" Lalu kenapa kau acuh padaku??. " tanya Ethan pula.
" Acuh bagaimana?? Aku memang seperti ini, kok. " jawab Quennevia.
Iya, memang sudah sifat Quennevia seperti itu sih, acuh tak acuh kepada orang lain. Tidak peduli pada pandangan yang akan di arahkan kepada nya nantinya, mendengar itu membuat Ethan mengulum sebuah senyuman.
" Ngomong-ngomong aku mau ke kota, kau mau ikut?? " tanya Ethan.
" Mau!. " jawab Quennevia cepat, dia sudah tidak tahan dengan kebosanan di tempat itu.
" Hehe.. Kalau begitu ayo. " ajak Ethan pula.
Ia mengulurkan tangannya kepada Quennevia, dan langsung disambut oleh nya. Quennevia pun langsung melompat naik ke kuda yang ia tunggangi itu.
" Rambutnya... sangat harum. " batin Ethan, karena Quennevia duduk di depannya, dan jarak mereka tidak terlalu jauh, Ethan jadi bisa mencium aroma rambut Quennevia.
" Tidak masalah, kau ikut bersama kami. Sekalian bawa dia, aku dia mau dia menangis saat aku kembali nantinya. " ucap Quennevia, sambil menunjuk Meliyana yang matanya berkaca-kaca, sepertinya dia memang ingin ikut.
Dan saat mendengar Quennevia mengatakan itu, ia langsung berbinar. Sedangkan Ethan merasa sedikit kecewa, padahal ia ingin pergi berdua saja dengan Quennevia. Kai pun juga tidak bisa membuatnya tetap di sana, Quennevia pasti tetap akan pergi bagaimana pun caranya. Jadi dia hanya mengikuti perkataan nya saja.
" Baiklah. " sahut Kai, sepertinya setelah ini dia harus bersiap-siap mendapatkan ceramahan dari Lecht nantinya.
" Bagus, kalau kau tidak bertemu dengan kami tunggu saja di pusat kota saat sore hari, kita bertemu di sana. " ucap Quennevia.
" Jadi kita pargi??. " tanya Ethan.
" Ayo. " sahut Quennevia dengan semangat.
Mereka pun akhirnya pergi dari sana menuju kota, meninggalkan tempat yang menurut Quennevia membosankan itu. Kai dan Meliyana hanya melihat mereka pergi dari sana, padahal Quennevia belum minta izin kepada Lecht.
" Kalau pengeran Lecht tahu, mati aku. " batin Kai.
" Kai, Kai. Ayo kita juga pergi, aku akan mengganti pakaian ku dulu. Kau jgn tinggalkan aku ya. " ucap Meliyana yang sangat kegirangan itu.
" Baiklah, Baiklah, Putri. Tapi sebaiknya anda minta izin kepada yang mulia raja Ludwing terlebih dahulu. Saya tidak mau sampai di tuduh menculik anda. " sahut Kai.
" Tenang saja, bukan masalah. " ucap Meliyana yang langsung pergi dari sana sambil tergesa-gesa.
" Haah... Waktunya menghadapi masalah tersulit. " gumam Kai.
Ia pun juga pergi dari sana, Kai hendak bicara kepada Lecht terlebih dahulu sebelum membawa Meliyana pergi dari sana. Dia harus waspada jika saja kepalanya melayang nantinya.
****
Sedangkan di sebuah tempat tak terlalu jauh dari kota, Ethan dan Quennevia berhenti disana untuk sekedar mengganti pakaian mereka.
" Tuan putri, apa kau sudah selesai??. " tanya Ethan.
" Jangan panggil aku tuan putri, tidak bisakah kau bersabar. Awas saja jika kau mengintip!. " sahut Quennevia.
" Tenang saja, aku itu bukan pria bren*sek seperti itu. "
" Huh. "
Tidak lama kemudian Quennevia pun keluar dari semak-semak di belakang Ethan, ia sudah selesai mengganti pakaian nya.
" Hooh, sudah selesai??. " tanya Ethan.
" Apa matamu itu cuma hiasan, jangan membuatku kesal. " sahut Quennevia pula.
Ethan terkekeh mendengar nya, " Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi lagi. " ucapnya.
Mereka berdua pun kembali melanjutkan perjalanan mereka ke kota. Saat sampai di sana, tempat itu benar-benar ramai, tidak kalah ramai dengan kota Kekaisaran. Tadinya Quennevia pikir tempat pertemuan nya akan ada di tengah kota, tapi malah berasa cukup jauh dari kota.
Karena itulah ia tidak diizinkan untuk pergi dari tempat itu apapun alasannya, karena itu ia kabur saat ini. Dari pada ia mati bosan di sana lebih baik kena marah Lecht saat kembali, pikir nya.
Di kota itu, mereka jadi pusat perhatian di sana, meski mereka sudah mengganti pakaian pun, orang-orang bisa langsung tahu siapa mereka saat melihat wajah mereka.
" Hei, bukannya itu pengeran mahkota Kekaisaran Foldes?? "
" Maksudmu pengeran Ethan Sanchez Sheillaveteos?? "
" Yang bersamanya itu.... Putri Quennevia, kan. Putri Kekaisaran Chrysos. "
" Ya ampun, apa mereka punya hubungan ya.. "
" Mereka serasi sekali, yang satu tampan dan yang satunya sangat centik. "
Kurang lebih seperti itulah bisik-bisik orang-orang di jalan yg mereka lewati, Ethan bisa mendengar itu semua dan ia yakin Quennevia juga. Tapi gadis itu tetap diam dan melihat lurus ke depan, sama sekali tidak mempedulikan nya.
" Aku penasaran kenapa dia bisa setenang ini. " batin Ethan saat ia melihat Quennevia yang selalu berwajah datar itu.