
[Season 2]
Sesaat setelah mereka meninggalkan dunia yang mereka kunjungi sebelumnya, Oscar dan yang lainnya pergi dibawa oleh Eclipse ke tempat yang dijanjikan. Tempat dimana Quennevia akan dibangkitkan.
Dalam perjalanan menuju ke sana, mereka hampir tidak bisa melihat apapun yang mereka lewati. Mereka bisa menilai kalau mereka bergerak lebih cepat dari cahaya berkat kekuatan Eclipse, tapi tentu saja itu bukan berarti tidak ada efek samping atau bahayanya.
Eclipse memberitahu mereka sebelumnya, karena bergerak dengan kecepatan super tinggi dan melihat setiap bentuk keberadaan seperti kilatan cahaya, mereka mungkin akan sedikit pusing. Tapi yang berbahaya adalah, jika mereka sampai melepaskan tangan masing-masing dan terlempar keluar, mereka bisa saja mati ditempat yang tak dikenal.
" Kita hampir sampai, bertahanlah." ucap Eclipse kepada mereka ditengah itu.
Tidak ada yang bisa menjawab itu, karena mereka sendiri sudah sibuk bertahan sendiri.
Hingga tak lama kemudian, seperti yang Eclipse katakan, mereka sudah sampai. Ia berhenti disebuah tempat, karena itu Oscar dan yang lainnya bisa sedikit merasa lebih lega karenanya.
" Haah... Aku sangat khawatir dengan perjalanan ini." gumam Oscar kala itu, sampai kemudian reaksi Meliyana mengalihkan perhatian nya.
" Woaahh..." Meliyana menatap ke atas dan kagum dengan apa yang ia lihat disana.
Dan ketika itu, Oscar pun juga jadi menyadarinya. Mereka ada ditempat dimana bintang-bintang yang tak terhitung jumlah nya, planet dan semua benda angkasa berada. Melihat dengan jelas bagaimana galaksi berputar disekitar mereka, membuat mereka semua terpana dan kagum.
" Indahnya~." Niu tak punya kata lain yang bisa ia pikirkan selain hal itu.
Sementara itu Sakura terlihat terkejut dengan yang terjadi sekarang, " Kita diluar angkasa? Bagaimana kita bernafas disini??" dia dibuat bingung dengan logika yang ia pelajari selama hidupnya.
" Tempat yang kita tuju ada tepat didepan sana, ayo jalan. Yang lainnya juga sudah menunggu disana." ajak Ethan kepada mereka sambil menggandeng tangan Quennevia.
Mereka yang mendengar nya hanya diam dan mengikuti nya.
Seperti yang ia katakan, mereka benar-benar berjalan disana. Seolah mereka berpijak pada tanah yang biasa mereka pijak, hanya saja tempat itu sangat berbeda, dan juga... setiap langkah yang mereka ambil selalu memunculkan riak hingga rasanya seperti berjalan diatas air.
Mereka berjalan melewati ruang hampa itu dengan cara yang biasa, seolah tak ada hal yang istimewa disana. Namun perlahan, mereka mulai melihat sesuatu...
" Hmm..? Ethan, apa itu?" tanya Meliyana ketika melihat sesuatu seperti untaian benang yang mengambang diruang kosong itu.
Ethan yang berjalan didepannya pun sedikit menengok ke belakang dengan sebuah senyuman diwajahnya, " Coba tebak." ucapnya dengan misterius.
" Oh, disana ada juga. Lihatlah, semakin banyak." sahut Niu pula.
Mereka mengikuti setiap untaian itu yang perlahan semakin bertambah banyak dan banyak, setelah itu, bukan hanya untaian itu saja yang mereka lihat. Melainkan sebuah kain besar yang membentang seperti tirai diantara bintang-bintang, seolah menutupi ruang itu.
Saat kemudian mereka mulai bisa melihat dari mana asal semua itu...
" I-Itu..!." Sakura tak melanjutkan kata-katanya saking terkejut nya.
Sesuatu yang mereka lihat disana adalah bayangan seorang perempuan yang sedang tertidur dengan lelap disana. Dia terlihat sangat cantik, dengan gaun putih polos tanpa lengan yang membentang menutupi tubuhnya, pita putih yang juga terikat dilehernya menjuntai diantara rambutnya yang berwarna emas berkilauan dan panjang. Benar, itu adalah Quennevia. Dan saat ini mereka berjalan menghampirinya, bisa dibilang ada diatas tubuhnya, sementara Quennevia ada didalam air.
Dan wujudnya saat ini, berkali-kali lipat lebih besar dari yang bisa mereka bayangkan. Jika Quennevia ingin menggenggam sebuah planet, sepertinya ia cukup melakukan itu hanya dengan satu tangannya saja.
" Di-Dia sangat besar... Apa itu?" tanya Yuki yang hampir tidak bisa mempercayai apa yang ia lihat dihadapannya sekarang.
" Itu Celestial Body milik Dewi Tengah." jawab Eclipse menimpalinya, " Tempat ini adalah lautan bintang, ruang kosong yang tak terbatas. Tempat dimana para dewa pertama lahir dan mengistirahatkan dirinya." lanjutnya dengan lebih jelas kemudian.
" Kalian tahu..?? Dewa punya 3 wujud. Celestial body, Spirit body, dan Incarnation body. Spirit body/tubuh roh adalah Quennevia yang bersama kita selama ini. Dan sebenarnya bisa saja kita membangunkan Quennevia tanpa tubuh kosong sebagai wadah, kita hanya harus mengembalikan jiwanya ke 'Celestial body'-nya. Tapi, jika seperti itu... Quennevia tidak akan bisa turun kedunia, karena dampak susulan yang mungkin terjadi ketika dewa turun dalam wujud dewa ke dunia manusia." jelas Ethan pula.
" Begitu rupanya. Maka itu sama saja dengan Dewi Tengah kembali, tapi 'Quennevia' teman kita tidak." sahut Oscar sambil menundukan wajahnya.
Dan itu diangguki oleh Ethan, " Aku tidak peduli yang mana yang kembali, tapi... jika aku memikirkan nya dari sudut pandang dan perasaan Quennevia, kebangkitan salah satu darinya tidak membuat nya senang, maka keduanya harus bangkit pada saat yang sama." ucapnya.
Teman-teman nya mengerti itu, karena Quennevia sudah mengembangkan perasaan baru, bahkan jika dia bisa mengawasi mereka setiap saat, dia tatap tidak bisa menghabiskan waktunya dengan mereka. Karena itu.... Dia mungkin akan merasa kesepian lagi. Itulah yang tidak bisa mereka biarkan.
Ketika mereka semakin mendekati tempat tujuan mereka, Oscar dan yang lainnya bisa melihat siapa 'yang lain' yang dimaksudkan oleh Ethan. Dan mereka sangat senang bertemu dengan mereka lagi.
" Nyonya Misika!." panggil Niu disaat yang sama Misika pun melambaikan tangannya kepada mereka.
" Tuan Yigrette." sementara Arkan dan Meliyana terkejut melihat Yigrette yang sebelumnya mereka rasa jahil jadi terlihat agak letih dengan sesuatu.
Sementara itu, Oscar melihat dua sosok kembar yang bertolak belakang seperti Ethan dan Eclipse disana, " Tuan Euclide. Lalu, mungkinkah.. Tuan Hades!." dan ia juga terkejut dengan kemunculan Dewa Dunia Bawah yang baru pertama kali mereka lihat bahkan saat mereka datang ke dunianya.
Tapi...
" Hei, kakak! Apakah perbaikan dunia sudah selesai dilakukan dengan sempurna??" Ethan menghancurkan keterkejutan itu dengan pertanyaan bodoh yang mengungkit kesalahannya sendiri.
Sampai-sampai teman-teman nya pun juga menatap Ethan dengan ekspresi bodoh.
Sementara itu, Hades sendiri. [Bocah ini..! Sepertinya dia benar-benar minta dihajar.] dia jengkel melihat Ethan masih bisa tersenyum dengan menyebalkan seperti itu, ketimbang meminta maaf karena apa yang dia lakukan.
Sementara Misika dan Euclide hanya terkekeh melihat sikap mereka, Yigrette hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
[Maksudmu.... 'Kesalahan kecil' yang kau maksud itu memotong ketiga dunia menjadi dua bagian??]
" Uhm..."
Ethan bisa melihat aura buruk yang dikeluarkan Hades sambil memelototinya, kelihatannya ia menggodanya terlalu berlebihan. Sementara teman-teman yang lain justru berpura-pura tidak melihat apapun dan tetap menutup mulut mereka rapat-rapat, Eclipse juga termasuk ke dalamnya.
Sekarang ia benar-benar merasa kalau situasi tegang ini benar-benar tidak menyenangkan.
" Haah... Kenapa tidak ada satupun yang mengerti leluconku??" keluhnya sambil menghela nafas dengan ekspresi bosan.
[Apa katamu..!]
[Hahaha.... Baiklah, hentikan kalian berdua.] karena itu Euclide pun akhirnya menengahi mereka, sebelum saudaranya benar-benar memukul Ethan karena candaannya. [Padahal biasanya kau yang lebih tenang saudaraku, kenapa sekarang kau sangat sensitif??] tapi bahkan Euclide yang tahu alasannya bertanya demikian kepadanya.
[Kau juga jangan mulai, deh. Kau dan Ethan itu mirip.]
[Benarkah..?]
[Itu benar!.]
[Oke, Oke. Kita langsung saja ke tujuan awal kita semua berkumpul disini, bukankah begitu, Penguasa Hutan?] baru setelah melihat Hades semakin marah dia benar-benar mengalihkan percakapan disana.
" Saya juga pikir begitu." yang tentu disetujui oleh Misika.
" Jika itu katamu." Ethan juga tak lepas dari itu.
Ethan pun kemudian menjentikan jarinya, saat lingkaran sihir yang cukup besar muncul diantara mereka. 6 barang yang mereka dapatkan selama perjalanan itu juga muncul mengelilingi lingkaran sihir tersebut, semuanya dalam posisi yang bagus untuk memulai ritual.
Dan tak lupa juga, sebuah peti muncul ditengah-tengah lingkaran sihir tersebut. Peti dimana tubuh kosong milik putri Elf terbaring dan siap untuk menjadi wadah Quennevia.
Kemudian, Ethan pun mengambil benda terakhir yang ia simpan secara terpisah dari yang lainnya, itu adalah botol berisi air mata Kharainza yang ia dapatkan beberapa waktu yang lalu. Ia sengaja memisahkannya karena cara kerjanya.
Ia pun melirik Quennevia disampingnya, ia terlihat menatap dirinya sendiri dengan ekspresi gelisah dan tak mau melepaskan tangannya yang mencengkram kuat mantel yang ia kenakan. Ethan bisa tahu kenapa... Quennevia juga merasakannya.
" Quennevia.."
Dia sedikit terperanjat karena panggilan itu, dan lalu mendongakkan kepalanya menatap kearahnya. Ethan tersenyum kepadanya. Ia pun membungkukkan tubuhnya dan berlutut didepan Quennevia, Ethan membuka tutup botol itu dan memberikan nya kepada Quennevia.
" Minumlah ini, Quennevia."
Tapi, Quennevia masih belum yakin dengan itu...
" Jangan khawatir. Kali ini,... Aku pasti akan benar-benar melindungimu."
Quennevia masih terdiam menatapnya setelah mendengar itu, ia bisa merasakan ketulusan itu, lalu ia pun mengalihkan perhatian nya kepada teman-teman nya yang lain. Tak ada yang mengatakan apapun kepada nya, tapi.. dari tatapan hangat dan senyuman yang mereka berikan, Quennevia bisa merasakan kalau mereka juga sama seperti itu. Jadi... Ia pun tersenyum.
Ia pun mengambil botol itu dari tangan Ethan dan meminumnya. Sesaat kemudian, Quennevia terlihat menjulurkan lidahnya dengan ekspresi berkerut. Mungkin karena rasa dari air mata itu aneh dilidahnya, bisa jadi karena rasanya asin. Quennevia jadi membuat ekspresi wajah lucu hingga Ethan terkekeh melihatnya.
Perhatian mereka teralihkan ketika melihat seseorang mendekati, Euclide mengulurkan tangannya kepada Quennevia disana.
[Sangat bagus. Sekarang...Haruskah kita pergi??] tanyanya kepada Quennevia.
Quennevia yang diberikan pertanyaan pun hanya menganggukkan kepalanya dan menerima uluran tangan itu, dan Euclide membawanya ke sisi lain.
Ethan pun kembali berdiri dengan tegak, ketika Yigrette bicara padanya.
" Apa wanita itu akan bangun? Dia sangat tenang selama ini." ucapnya.
" Tidak. Dia sudah bangun sejak lama." sahut Ethan menimpalinya.
" Sejak lama??"
" Violettine juga merasakan keberadaannya. Dia mengawasi kita dalam diam selama ini."
[Wanita itu tidak boleh kembali apapun yang terjadi. Dia tidak bisa tinggal, tapi juga tidak bisa dilepaskan.] ucap Hades menengahi percakapan keduanya.
Yigrette juga mengangguk setuju dengan itu, " Kalau begitu, satu-satunya cara mengatasi masalah itu adalah..." ucapnya menggantung kata-katanya.
" ...Melenyapkannya." dan Ethan lah yang melanjutkan itu.
Mereka bertiga memiliki ekspresi wajah yang sangat serius tentang apa yang sedang mereka bicarakan saat ini, sementara itu dibelakang mereka. Teman-teman Ethan dibuat bingung dengan situasi itu sekarang...
" Sebenarnya... Apa yang mereka bicarakan sih??"