
[Season 2]
Ditempat yang dituju oleh Ethan dan yang lainnya, tidak ada yang spesial disana. Kecuali reruntuhan Kastil tua yang bahkan sudah tidak berbentuk lagi.
" Tempat ini seperti hancur akibat sesuatu. Apakah dulu terjadi perang?? " tanya Oscar.
" Tidak, aku yakin tidak ada perang disekitar sini. Dulu tempat ini adalah Kastil milik Raja Bulan. " sahut Yuki.
" Kau bilang Raja bulan?? " ucap Meliyana menimpali, kelihatan nya dia tertarik dengan itu.
" Apa kau pernah dengar tentang kerajaan kembar, Mel?? " tanya Ethan yang kemudian diangguki oleh Meliyana, tentu saja siapa yang tidak tahu legenda tentang kerajaan kembar. " Tempat ini adalah salah satu dari kerajaan kembar itu. " ucap nya pula.
" Kalau begitu... kerajaan yang satunya.. " ucap Niu menggantung, dan ia pun melirik Yuki.
" Tentu saja kerajaan bintang kami. " Yuki membenarkan pikiran itu.
Legenda mengatakan, ada dua kerajaan yang sailng berdampingan satu sama lain. Kedua kerajaan itu didirikan oleh sepasang kakak beradik kembar. Yang satu dipimpin oleh sang adik, yaitu kerajaan Bintang. Keluarga kerajaan bintang memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh orang lain, setiap anggota keluarga kerajaan bisa meramal melalui bintang, mendengar nyanyian bintang dan menggunakan kekuatan besar yang berasal dari cahaya bintang.
Kemudian yang yang satunya lagi, dipimpin oleh sang kakak, yaitu kerajaan Bulan. Keunikan dari keluarga kerajaan Bulan adalah mereka disebuat penguasa Jewel. Mata mereka berkilau layaknya cahaya bulan, kemudian darah dan air mata mereka bisa berubah menjadi permata. Karena itu keluarga kerajaan Bulan lebih sering mendapatkan penculikan karena keunikan mereka itu.
Sampai pada akhirnya, keturunan terakhir kerajaan Bulan menyerahkan kekuasaan yang dimiliki nya kepada keturunan kerajaan Bintang. Dan dia pun membunuh dirinya sendiri dengan membakar tubuhnya.
" Itu cerita yang tragis sekali. Pada akhirnya kemampuannya malah menjadi malapetaka bagi dirinya sendiri. " guman Arkan dengan ekspresi wajah yang suram.
" Tapi Yuki... Saat kau menangis waktu itu, air matamu juga... " ucap Meliyana yang merasa penasaran.
Yuki yang mendengarnya pun menanggapi hal itu, " Hm? Air mataku jadi permata?? Kau benar, karena itu mendiang ibuku selalu melarangku meneteskan air mata, bahkan saat menangis. " sahutnya.
" Kau yakin kau bukan keturunan kerajaan Bulan?? " tanya Niu berusaha memastikan hal tersebut.
" Bukan. Kelahiran dan pertumbuhanku dibawah pengawasan ayah dan kakak ku, tidak mungkin itu salah. Tapi mungkin... karena kami masih memiliki hubungan darah dengan mereka, maka ada kemungkinan tak terbatas untuk hal itu juga. "
Yah itu spekulasi yang masuk akal, pantas saja Yuki lebih sering bersikap dingin dari pada jujur dengan perasaan nya. Jika sampai kebenaran itu terungkap ke telinga orang-orang, maka dia bisa mendapatkan masalah jika tertangkap. Tidak peduli sekuat apapun dia saat ini.
Langkah Ethan dan yang lainnya terhenti ketika sampai ditempat yang dulunya adalah ruang takhta ditempat itu. Masih dengan singgasana dan beberapa pilar yang membuatnya kelihatan lebih nyata.
" Tidak ada yang aneh disini, apakah benar bubuk kristal bintang itu ada disini?? " ucap Oscar bertanya-tanya.
" Kalau itu.. Itu apa?? " tanya Meliyana kemudian.
Ia menunjuk sesuatu yang ada diatas singgasana itu. Arkan pun mendekatinya sambil terus menatap singgasana itu, dan ia pun berhenti tepat disamping Meliyana. Hingga akhirnya dia bisa tahu apa yang ditunjuk Meliyana sebenarnya.
" Hah?? Bukan nya itu cuma lukisan kaca ya. " sahut Arkan sambil memiringkan kepalanya.
Namun Meliyana menyanghal yang itu, " Bukan, bukan. Yang ada dibawahnya. " ucap nya pula lebih jelas.
" Sebuah patung? " sahut Yuki.
" Apa yang salah dengan patung itu?? " Niu penasaran dengan maksudnya bertanya tentang dekorasi yang sudah tua itu.
Dan Meliyana yang mendengar pertanyaan nya pun menganggukan kepalanya dengan gelisah, " Ada yang salah dengan patung itu. Matanya... Seperti mengamati kita. Entah kenapa tapi itu menakutkan. " ucap Meliyana dengan raut wajah yang kelihatan takut.
Semuanya hanya saling pendang dengan itu, mereka tidak melihat sudut pandang yang dilihat Meliyana. Karena itu mereka semua bingung.
" Apa kau melihat sesuatu yang aneh?? " bisik Oscar kepada Ethan yang berada didekatnya saat ini.
" Tidak, tapi... seperti nya apa yang dikatakan Meliyana ada benarnya. Patung itu sedang mengamati kita semua. " jawab Ethan yang sama sekali tidak mengalihkan perhatian nya dari patung itu.
Patung yang dilihat Meliyana itu terlihat seperti patung seorang malaikat, dia memiliki pedang ditangan kanan nya dan sebuah perisai ditangan kirinya. Tidak ada yang aneh dengan patung itu. Sampai kemudian mereka tiba-tiba dikejutkan dengan patung itu yang bergerak.
" Huh.?!!"
" Meliyana, awas bahaya!! " teriak Niu yang berlari kearahnya, hendak menyelamatkan nya.
" Hah?! " Sedangkan Meliyana yang terkejut tidak sempat menghindar.
Ketika patung itu melayangkan pedang nya kearah Meliyana, hanya sedikit lagi Meliyana mungkin akan terluka parah karena tidak sempat mengaktifkan pelindung. Tapi Ethan berhasil menahan serangan itu dengan kedua tangan nya tepat waktu.
" Wahh... Itu hampir saja.. " ucap Ethan yang entah kenapa malah jadi gugup sekarang. " Apa kau baik-baik saja, Meliyana?? " tanya nya pula sambil melirik Meliyana yang jatuh terduduk dibelakang nya.
" I-Iya, kurasa begitu. " jawab Meliyana yang masih terkejut.
Kemudian, Niu dan Yuki pun datang dari belakang dan balas menyerang patung itu sampai membuatnya terdorong menabrak pilar dibalakangnya.
" Apa-apaan patung itu?? Apa sebenarnya patung itu?? " ucap Niu bertanya-tanya.
" Itu patung Valkyrie. " ucap Meliyana pula menimpali, membuat yang lainnya pun menoleh kearahnya. Meliyana bangkit berdiri dibantu Oscar. " Mereka adalah prajurit yang menjaga kuil Dewi Dunia Tengah. Dikerajaan kami, patung Valkyrie biasa nya hanya ada dikuil suci untuk menjaga artefak suci, tapi... kenapa patung itu bisa ada disini?? " lanjutnya.
" Kalau begitu, bisakah kita anggap kalau benda yang kita cari ada ditempat ini?? " sahut Arkan memberi kesimpulan.
" Bisa saja. Itu karena... " ucap Ethan menggantung, saat patung itu juga berjalan kembali mendekati mereka. " ... Patung seperti ini tidak akan berhenti sampai misinya selesai. " lanjutnya.
Pertarungan dengan patung itu pun tak terelakan, diluar dugaan patung itu cukup keras dan bergerak sangat lincah. Bahkan meskipun telah dihancurkan berkali-kali juga, dia akan kembali ke bentuk semula.
" Merepotkan ya, jika terus seperti ini kita yang akan kalah. " ucap Oscar setelah menilai situasi saat ini.
" Apa tidak ada cara untuk menghantikan nya selamanya?? " tanya Arkan kepada yang lainnya.
" Ada. Kita harus menghancurkan inti sihirnya. " jawab Meliyana dengan cepat.
" Ya, tapi yang mana?? " tanya Arkan lagi yang kelihatan nya sangat frustasi.
" Lebih baik kita cari cara menghindari nya saja-... " ucap Ethan yang terhenti karena terkejut, saat Quennevia tiba-tiba keluar dari dimensi ruang dan melompat kearah patung itu. " Quennevia!! " teriak Ethan pula memanggil nya.
Mendengar Ethan berteriak dengan panik seperti itu membuat yang lainnya ikut terkejut. Sedangkan Quennevia, dia terus melompat mendekati patung itu, dan ketika patung itu menyerang nya, dia mengambil sebuah lompatan besar dan mendarat diwajah patung itu.
Ia terlihat mengambil sesuatu dari mata patung tersebut dan kemudian menjauh darinya, tepat saat patung itu juga kembali diam ditempat nya dan tidak bergerak lagi.
" Wow... " ucap Arkan yang terkesan melihat itu.
Kemudian dia dan yang lainnya pun langsung berlari mendekati Quennevia yang ada tak jauh didekat patung itu.
" Quennevia, kau baik-baik saja?? " tanya Ethan dengan sangat khawatir. Sedangkan Quennevia sendiri, kalihatan nya sedangkan memakan sesuatu.
" Apa dia sedang makan batu?? " Arkan bertanya-tanya bingung.
Mendengar itu Yuki pun langsung memukul kepalanya, " Itu bukan batu, itu inti sihir. " jelas nya kepada Arkan.
" Seperti nya itu yang dia ambil dari patung itu, tapi kenapa dia memakannya?? " tanya Oscar yang juga penasaran.
" Dia sedang mempertahankan tubuhnya. Kalian ingat?? Tubuh sementara nya ini dipertahankan dari kekuatannya, dan itu butuh energi yang sangat besar. Karena itu dia sedang berusaha menambah kekuatan nya. " jawab Ethan atas rasa penasaran yang dirasakan oleh teman-temannya.
" Oh, begitu rupanya. " sahut Niu, ia pun kemudian mengangkat Quennevia dan memeluknya. " Tapi, ngomong-ngomong kita harus bagaimana sekarang?? " tanya nya pula.
" Entahlah, kita belum mencari lebih dalam. Haruskah kita teruskan hari ini?? Ini sudah senja. " Yuki mengangkat kepalanya menatap langit yang mulai berubah jingga saat ini.
" Aku sih terserah saja. " ucap Ethan menimpali.
Disisi lain, ketika mereka sedang bicara, mereka tidak kenyadari hal yang terjadi dibawah kaki mereka...