Quennevia

Quennevia
Jantung iblis



" I.. Ini.. " ucap Quennevia yang tidak percaya.


Dia tidak sanggup berkata-kata lagi melihat apa yang ada di depannya. Disana sebuah jantung besar yang diikat dengan rantai, ada tepat di depannya. Dan jantung itu masih berdetak, layaknya jantung seperti biasanya.


" Jangan terkejut seperti itu, jantung itu adalah jantung mu. " ucap sang naga.


" Haa?? Apa maksud mu?? Kenapa jantung ku ada di sini??. " tanya Quennevia, dia bingung dengan apa yang dimaksud oleh naga itu sekarang.


" Jantung iblis itu milikmu. Rantai yang mengikat jantung itu adalah segel untuk menekan kekuatan nya. " jelas sang naga dengan singkat.


" Jantung iblis... apa?! Kau pikir aku itu iblis apa?!. " ucap Quennevia yang langsung menoleh kearah Everon, sang naga.


Dia masih bingung dengan penjelasan itu, dia kan manusia mana mungkin memiliki jantung iblis. Dan lagi kenapa dia memiliki nya.


" Kau memang manusia, tapi jantung mu itu pemberian dari iblis yang dibantu ibumu. " ucap Everon kemudian.


" Dibantu ibuku??. " ulang Quennevia masih sulit untuk percaya dengan itu.


" Benar, dulu sebelum ibumu menyegel ku di dalam tubuhmu. Kau tiba-tiba terkena sebuah racun aneh, itu membuat jantungmu semakin melambat dan jika dibiarkan kau akan mati. Suatu hari, ibumu pergi untuk mencari bahan obat. Tapi dia malah kembali dgn membawa seseorang yang ternyata adalah iblis. " Everon menjelaskan kejadian itu kepadanya.


Naga itu menjelaskan semuanya tentang jantung itu, dan asal muasalnya kepada Quennevia.


" Iblis itu terluka sangat parah, dan ibumu yang sudah menolongnya. Sekian lama iblis itu tidak kunjungan membaik karena lukanya dan racun yang ada di tubuh nya juga, dan kau pun terus tertidur karena segel yang dipasang ibumu untuk mempertahankan kehidupan mu. Iblis itu bilang kalau kau tidak akan punya harapan untuk hidup, ibumu sangat sedih mendengar nya. Tapi demi berterima kasih kepada nya yang berusaha menolongnya, iblis itu menyerahkan jantungnya untuk menyelamatkan mu. Hingga akhirnya kau memiliki jantung itu. "


Quennevia merenungi semua penjelasan dari naga yang baru ia temui itu, tidak ada yang tidak masuk akal didunia ini. Disini iblis dan manusia hidup berdampingan, dan semua kemungkinan bisa saja terjadi. Tapi ada satu hal yang mengganggunya...


" Jika memang begitu, kenapa tidak ada yang mengetahuinya?? Dan bagaimana kau tahu? " tanya Quennevia, dia masih perlu memastikan nya.


" Saat kau terkena racun itu, ibumu membawa mu ke tempatnya. Tentu saja tempat itu hanya dia yang bisa datang ke sana, lalu... sudah kubilang kalau aku ini adalah spirit guardian, kan? " jawab sang naga, dia bisa lihat kalau Quennevia masih ragu dengan nya. " Dengan jantung itu, otomatis kau juga memiliki setengah kekuatan iblis yang sudah menolongmu itu. " lanjut sang naga.


" Padahal Quennevia memiliki kekuatan seperti ini, kenapa kau tidak membantunya sama sekali??. " ucap Quennevia kepada naga itu, sambil terus melihat kearah jantung itu.


" Kenapa bicara mu seperti kau orang lain saja??. " tanya balik Naga itu, dia merasa aneh karena Quennevia bicara seolah-olah dia bukan Quennevia.


Quennevia pun kembali berbalik kepada naga itu, ia memperhatikan nya kemudian tersenyum. Naga itu semakin tidak mengerti dengan Quennevia yang malah tersenyum mendengar pertanyaan.


" Karena aku memang bukan Quennevia. " jawab Quennevia yg membuat naga itu sedikit terkejut. " Quennevia yang asli mungkin sudah mati di hutan itu, aku hanya jiwa yang kebetulan mati diwaktu yang sama dengan nya. Dan akhirnya aku malah masuk ke dalam tubuhnya. " jelas Quennevia.


Everon terdiam sesaat dan hanya menatapnya," Begitu, ya. Pantas saja kau sangat berbeda dengan bocah itu. Bahkan tanpa melakukan trik apapun, aura membunuhmu itu sudah sangat besar bisa kurasakan. " sahut sang naga, akhirnya dia tahu letak perbedaan nya, meski begitu dia tidak terlalu merasa terganggu dengan itu seolah sudah menebaknya. " Sepertinya pelayan mu itu terus memanggilmu, sebaiknya kau segera kembali. " lanjutnya kemudian di tengah percakapan ini.


Quennevia masih memandangi naga itu saat dia mulai menghilang, naga itu belum mengatakan semua yang ia tahu. Katika kesadaran nya mulai kembali ke tubuhnya, kemudian ia pun kembali tersenyum.


" Itu karena... Aku memang seorang pembunuh. "


Itulah ucapan terakhir yang memang bukan terakhir selamanya, sebelum dia benar-benar kembali sadar. Dan saat ia membuka matanya, Murphy memang berada di samping nya, sedang berusaha membangunkan nya.


" Nona, akhirnya anda bangun juga. Tuan besar meminta anda menemuinya. " ucap Murphy sambil tersenyum hangat seperti biasanya.


Quennevia pun bangun dan sedikit meregangkan tubuhnya, hari ini dia punya banyak informasi baru soal tubuh Quennevia. Dan itu akan sangat membantunya, apalagi kekuatan iblisnya itu, dia harus bisa mengendalikan nya, begutulah pikirannya.


" Ayah ada di mna?? " tanya Quennevia kemudian.


" Beliau ada di aula leluhur. " jawab Murphy.


Quennevia pun segera bangkit dan pergi ke aula leluhur, tempat itu digunakan untuk berdoa kepada para leluhur dan orang-orang yang sudah tiada. Quennevia jadi penasaran kenapa ayahnya itu memintanya menemuinya disana.


Saat ia sampai di sana, ternyata tidak hanya ada ayahnya saja. Tapi Haika juga ada di sana, tersenyum kepada nya.


" Ayah, Quennevia sudah datang. Apa ada sesuatu yang ingin ayah sampaikan??. " tanya Quennevia kepada ayahnya ketika sampai disana.


Hal itu membuat perhatian Hudson teralihkan padanya, " Quennevia, putriku. Kemarilah. " ucap Hudson, dan Quennevia pun berjalan mendekati nya. " Putriku, apa kau mengenali orang yang ada di lukisan itu??. " tanyanya.



Quennevia pun melihat lukisan yang dimaksud oleh ayahnya, disana berdiri seorang wanita cantik berambut emas. Seketika ada sebuah ingatan-ingatan manis tentang orang yang ada di lukisan itu dalam benak nya.


" Ibu.. " ucap Quennevia, dia beralih menatap Hudson yang mengangguk kepada nya.


Dia pun kembali menatap wanita yang ada di lukisan itu, yang tidak lain adalah ibunya. Ibunya terlihat sangat senang, dengan senyuman yang sangat cerah seperti itu.


" Itu ibumu saat dia masih muda, dia benar-benar perempuan yang sangat menawan, kan?. " ucap Hudson kemudian.


Hudson menggenggam tangan putrinya dengan erat, sambil menatapnya dengan hangat pula. Quennevia pun juga ikut memandang ayahnya itu.


" Tentu, ayah. Quennevia ingin melindungi ayah, kak Haika dan juga semua orang. " jawab Quennevia, tapi tentu dalam hati dia bilang tidak mau melindungi orang-orang yang sudah menyiksanya.


" Itu bagus. " sahut Hudson sambil menganggukan kepada nya. " Haika, tolong jaga adikmu, ya. Meski kau bukan putra kandungku, kau tetap adalah putraku. " ucapnya pula.


" Itu sudah pasti, ayahanda. Haika sangat berterima kasih kepada ayahanda dan juga ibunda karena sudah menerima Haika. Haika pasti akan melindungi adik dengan segenap jiwa. " jawab Haika dengan pasti.


Quennevia senang karena banyak orang yang memperhatikan nya, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan kebenaran lain, yang kalau ternyata masih ada duri di dalam keluarga itu.


" Aku harus segera menyingkirkan semua duri. " batin Quennevia memikirkan itu.


****


Setelah semua yang perlu mereka bicarakan selesai, Quennevia pun kembali diantar Haika. Itu karena Murphy dia suruh kembali duluan, jadi Haika bersikeras untuk mengantarkan nya.


" Kakak, tidak perlu mengantar ku, loh. " ucapnya


" Tidak, tidak. Tidak akan baik jika kau berkeliaran sendirian. " jawab Haika, dia benar-benar sangat keras kepala.


" Haah.. Aku kan juga mau pergi setelah ini, kenapa malah dihalangi??. " batin Quennevia.


Dia hanya bisa pasrah karena itu, sepertinya dia harus tunggu sampai di kediaman nya dulu baru bisa pergi dengan aman. Tapi diperjalanan dia malah berganti karena mendengar bisik-bisik pekerja yang kebetulan ada di sana.


" Hai, apa itu benar??. " tanya pekerja laki-laki 1.


" Iya, katanya sih begitu. Aku mendengar nyonya selir pertama mengatakan nya, dia bilang akan membunuh putri ketiga. " jawab pelayan, Linda.


" Kau jangan bercanda, mana mungkin selir pertama berani. Jika ketahuan menurutmu apa yang akan putri ketiga sendiri lakukan kepada nya??. " ucap pekerja laki-laki 1.


" Aku mendengar nya sendiri, kau tahu kan aku itu selalu melayani kedua selir itu. " Pelayan bernama Linda itu bersikukuh.


"Ho~.. Aku juga ingin dengar, apa yang akan dilakukan bibi selir tersayang ku itu. " ucap Quennevia sambil tersenyum sinis, yang tiba-tiba dia sudah ada di belakang mereka bersama dengan Haika.


Dua orang itu sangat terkejut dengan kedatangan keduanya yang tidak mereka dengar suaranya.


" Pu.. Putri ketiga. Anda tidak boleh ada di sini." ucap pekerja laki-laki itu.


" Yue.... gigit. " ucap Quennevia sambil menunjuknya.


Yue yang mendengar nya pun langsung keluar dari ruang spirit dan menggigit leher pekerja itu hingga mati, kemudian baru melepas kan nya, sedangkan pelayan bernama Linda itu gemetar ketakutan.


" Itu.. Itu... putri, anda... roh rubah itu... " ucapnya tergegap karena takut.


" Sssttt.... Jangan bicara kepada siapapun, kau mengerti??. " Quennevia mengelus kepala pelayan itu, sambil meletakan jari telunjuknya di depan bibirnya dan tersenyum dengan mengerikan.


Pelayan itu sangat ketakutan hingga berlutut dan menundukkan kepala nya di bawah kaki Quennevia sambil memohon kepada nya.


" Pu....Putri, tolong maafkan saya. Saya akan lakukan apapun yang anda katakan. " ucapnya.


Quennevia hanya tersenyum melihat itu, " Kau dekat dengan para selir kan, kalau begitu... Jika mereka melakukan apapun, langsung laporan kepada ku. Mengerti kan??. " ucap nya sambil memiringkan kepala nya.


" Ba.. Baik, saya mengerti. Terima kasih atas kesempatan nya, putri. " Linda kembali menundukkan kepala nya di bawah kaki Quennevia.


" Dan, oh. Jangan bilang juga soal pria itu, kau bilang saja tidak tahu. Karena... pekerja itu akan hilang tanpa sisa. " Quennevia menjentikkan jarinya, dan pria itu langsung terbakar oleh api dan hangus jadi abu.


" Ba.. Baik, saya mengerti putri. "


Yue kembali ke ruang spirit, Quennevia dan Haika pun juga kembali berjalan pergi dari sana. Haika merasa kalau orang yang ada di samping nya itu seperti orang lain, tapi dia senang karena dia sudah berubah.


" Kau sangat hebat, mungkin kau tidak akan terlalu mengendalikan kakakmu ini, ya. " ucap Haika.


Quennevia yang mendengar nya diam sesaat, saat kemudian ia menghela nafas dan tersenyum. " Jangan seperti itu, kakak juga sangat penting bagiku. Quennevia hanya tidak ingin kakak jadi terlibat masalah dengan para selir itu. " sahut nya.


" Anak baik, kau selalu saja mempedulikan orang lain. Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri?? "


" Kan, ada kakak dan para prajurit. "


Quennevia tersenyum dengan ceria Kepada nya.


Haika pun hanya bisa menghela nafas mendengar nya, dia pun mengelus kepala Quennevia dengan lembut. Yang sama sekali tidak ditolak oleh Quennevia.