
Dikamar asrama lain, tempat Jino berada. Dia baru saja kembali setelah mengantarkan Ethan sebelumnya, ditempat itu sudah berkumpul Teman-teman nya yang juga tinggal di kamar itu.
" Yo, ini dia pemenang hari ini. Tapi kenapa kau malah mengundurkan diri??. " ucap salah satu temannya, Sayles.
* Sayles itu orang yang menyukai kucing.
" Aku hanya tidak ingin menang begitu saja, kau tahukan aku dilarang menggunakan perisai itu. " sahut Jino.
" He... Memangnya sekuat itu ya serangan nya, sampai kau harus menggunakan perisai itu secara terpaksa. " ucap yang satu lagi, Arden.
* Arden.
" Coba saja kau lawan dia saat menggunakan kekuatan itu. " jawab Kian yang juga sekamar dengan Jino.
" Benar, benar. Dia bahkan masih bisa membuat tanganku terluka meski sudah menggunakan perisai itu. " sahut Jino sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali.
Saat tangah asik-asiknya mengobrol, tiba-tiba saja lilin yang menerangi kamar mereka mati, dan jendela kamar mereka itu tiba-tiba saja terbuka dengan agak keras. Mereka berempat langsung mengalihkan perhatian kearah jendela tersebut ketika mendengar nya..
Greekk.....
Dan dari luar sana... Sosok seorang gadis berambut emas, tengah melayang masuk ke dalam sana sambil menatap mereka dengan tajam. Hal itu membuat mereka waspada, karena bahkan Kian yang kekuatan nya ada di peringkat satu pun juga merasa tertekan. Bahkan jika mereka tahu kalau dia adalah salah satu murid di sekolah ini pun, dari tampang nya saat ini dia tidak datang untuk kunjungan biasa.
" Senior, jika kau menyerahkan perisai itu aku tidak akan menyakiti mu. " ucap sosok gadis itu, yang adalah Quennevia.
" Hah?? Kau menginginkan perisaiku, untuk apa??. " tanya Jino yg bingung.
" Kau harusnya tidak menggunakan perisai itu, Senior. Kau seharusnya tidak melukai nya. " ucap Quennevia menatap mereka dingin.
" Oh, kau sedang membicarakan Ethan. Kalau tidak salah kau gadis yang sedang digosipkan bersama dengan nya, bukan??. " sahut Arden.
Iya, gosip itu menyebar dengan sangat cepat, secepat air mengalir di sungai. Apalagi jika itu gosip buruk, menyebarnya bagaikan angin yang sangat kencang.
Quennevia tidak menjawab nya, " Kuberi waktu 3 detik. " ucap Quennevia pula.
" Satu... " dan dia mulai menghitung.
" Tunggu sebenar, kita bisa membicarakan nya. " ucap Arden.
" Dua.... " tapi Quennevia tidak menghiraukan nya.
" Hei, kau tidak bisa seenaknya. " ucap Kian pula ikut bicara.
" Satu... "
Setelah Quennevia selesai menghitung hanya dalam sekejap mata, ia sudah berada di depan Jino sambil melayangkan tangannya dan menusuk dada Jino. Bukan untuk membunuhnya, tapi Quennevia menggunakan kekuatan nya untuk menarik perisai yang tersimpan di dalam tubuh Jino.
Pergerakan Quennevia yang sangat cepat itu, bahkan tidak bisa diikuti oleh mereka yang ada di sana. Hingga yang mereka tahu adalah Quennevia sudah mendapat apa yang ia inginkan, sementara Jino berlutut kesakitan akibat penarikan paksa, itu juga membuatnya terluka meski tidak parah.
" Jino, hei kau baik-baik saja. " tanya Sayles sambil membantunya berdiri.
" Ukhh... Aku baik-baik saja. " jawab Jino sembari memegangi dadanya.
" Hanya perisai seperti ini, bagaimana bisa memantulkan kekuatan 'iblis darah' sampai seperti itu. Apa dia masih belum sepenuhnya membangkitkan kekuatan nya, atau... dia menyegelnya sendiri?? " gumam Quennevia, ia pun menghancurkan perisai itu dengan mudahnya, hanya dengan satu tangan.
Sementara mereka yang ada di sana menatap tidak percaya, perisai yang sangat kuat seperti itu, yang bahkan bisa menahan serangan Ethan yang sekuat itu, dihancurkan hanya dengan satu gerakan tangan saja. Setelah menghancurkan perisai itu, Quennevia mengambil sesuatu dari gelang penyimpanan nya, dan melemparkan nya kearah Kain yang otomatis ditangkap olehnya.
" Itu tanda permintaan maaf ku karena sudah melukai senior Jino, obat itu bisa menyembuhkan nya. Tapi jangan harap aku akan mengganti rugi untuk perisai itu, jika saja kakek Lun tidak melarang ku untuk membunuh, kau sudah kuhabisi. Lainkali lebih berhati-hatilah, senior. " ucap Quennevia berbalik membelakangi mereka.
Wuusshhhh.....
Tiba-tiba ada angin di tempat itu, dan Quennevia pun langsung menghilang begitu saja tanpa jejak sedikit pun. Mereka berempat bahkan belum mengeluarkan sepatah kata pun kepadanya hanya bisa terdiam, tapi Quennevia sudah menghilang saja.
" Em... Jadi baiklah, dia sudah pergi. Sebaiknya kau makan obat yang ia berikan itu, Jino. " ucap Sayles.
" I.. Iya. " sahut Jino yang masih tidak percaya.
" Dia junior yang mengerikan, apa benar dia itu level 66." tanya Arden.
" Entahlah, tapi seperti nya dia lebih kuat dari pada itu. " jawab Kian.
" Oya, ngomong-ngomong kalian usia berapa saat level 66-68??." tanya Sayles pula. (Mengangkat topik sensitif)
All "😓😓😓" Soalnya saat ini, Kian umur 25 level 71, Arden umur 23 level 69, Jino umur 25 Level 70, dan Sayles umur 24 level 68.
" Mereka semua monster, padahal hanya lebih muda 5-7 tahun saja tapi sudah akan menyamai kita. " batin mereka.
******
" Woh... dia sadar. " ucap Ryohan.
" Kau baik-baik saja??. " tanya Arkan.
" Ha... aku tidak akan baik-baik saja jika wajah kalian sedekat ini. " sahut Ethan.
Mereka pun langsung sedikit menjauh dari nya, untuk memberikan nya sedikit ruang. Ethan pun juga mencoba untuk bangun dari tidur nya.
" Ouch.... " Ethan merasakan sakit ditubuhnya.
" Hei, kau jangan banyak bergerak dulu. " ucap Oscar sambil membantunya untuk duduk.
" Apa sih kalian ini, aku jadi merasa seperti pasien luka parah. " ucap Ethan dengan santainya.
" Kau memang luka parah!!. " teriak mereka bertiga kesal.
Ethan hanya tertawa melihat mereka kesal, apalagi saat teman-temannya itu menceramahi nya, namun seperti nya dia melupakan sesuatu. Kemudian saat ia melihat keluar jendela hari sudah benar-benar malam, dan ia baru saja mengingat janji yang ia ucapkan.
" Sial, aku lupa itu. " ucapnya beranjak dari kasurnya, sambil menahan rasa sakit ia mengambil baju nya dan berjalan hendak keluar.
" Eh, Eh. Kemana kau akan pergi dengan kondisi seperti itu??. " tanya Arkan sambil menghalangi jalannya.
" Minggir lah, Arkan. Aku harus menepati janji ku. " sahut Ethan.
" Memangnya siapa yang mau kau temui, berjalan saja kau sulit jangan sok-sokan pergi mempedulikan orang lain. " ucap Ryohan pula.
" Kalian tdk mengerti, jika aku tdk pergi mencarinya, Quennevia bisa membenciku seumur hidup nya. Salah-salah dia malah akan membunuhku saat ini juga!. " ucap Ethan pula.
Dan akhirnya ia benar-benar keluar dari sana meninggalkan mereka yang masih bingung dengan nya, apalagi Ryohan dan Arkan yang tidak mengenal siapa yang ia maksud, tapi mereka juga mendengar gosipnya sih. Sedangkan Oscar jadi mengerti kenapa dia jadi begitu, disaat yang sama ia jadi teringat Quennevia yang sangat kejam dulu.
" Oh, jadi dia membuat janji kepada Quennevia, pantas saja. " ucap Oscar.
" Eh, kau mengenal nya??. " tanya Arkan.
" Tentu saja, dia itu Putri dari adik Kaisar Kekaisaran Chrysos, juga teman kami. " jawab Oscar.
" Benarkah?? Kok kita tidak pernah melihat nya bertanding di arena, bukankah dia juga murid baru??. " tanya Arkan pula.
" Entahlah, aku juga tidak tahu. Setiap kali akan bertanding dia selalu dipanggil oleh kepala Akademi, pertandingan nya pun dialihkan ke tempat yang berbeda dengan kita. " sahut Oscar.
Iya, menang seperti itu sih, Oscar juga bertanya-tanya kenapa kepala Akademi memisahkan pertandingan untuk Quennevia. Meskipun ia tidak perlu meragukan kekuatannya saat ini, sudah pasti dia jadi lebih kuat lagi daripada 5 tahun lalu.
" Iya, apapun itu.. sekarang kita harus menyusul Ethan dulu, mana mungkin Putri Quennevia itu masih menunggunya sampai malam seperti ini. " ucap Ryohan.
" Ah, kau benar, aku akan menutup jendela nya dulu. " sahut Arkan sambil berjalan kearah jendela yang masih terbuka.
Namun baru saja ia ingin menutupnya, tiba-tiba saja ada sebuah tangan yang menghentikan nya. Sampai membuat Arkan meloncat kaget karena hal itu, Oscar dan Ryohan pun jadi menatap nya karena itu.
" Ada apa??. " tanya Ryohan.
" I.. Itu.. diluar ada seseorang. " sahut Arkan.
Lalu dari jendela itu muncul lah Quennevia yang tadi dibicarakan oleh mereka itu, Quennevia sebenarnya baru saja kembali ke sana setelah menemui Jino sebelumnya.
" Quennevia!. " ucap Oscar dengan terkejut.
" Dia...!. " ucap Ryohan dan Arkan pula serempak sambil menolah kearah Oscar.
Sementara Quennevia masuk ke dalam sana, " Oscar, Ethan... tidak ada di sini??. " tanya Quennevia dengan wajah agak sedih.
" Dia baru saja pergi, dia bilang dia akan menemui mu. Kau tidak melihat nya??" jawab Oscar.
Quennevia menggelengkan kepalanya mendengar itu, dia menang tidak melihat nya saat datang ke sana. Dia pikir Ethan masih berbaring tak sadarkan diri.
" Menemuiku??... Mungkin kah.... " ucap Quennevia menggantung dengan raut terkejut.
" Eh, tunggu Quennevia. " panggil Oscar pula.
Quennevia pergi dengan buru-buru dari sana untuk mencari Ethan, bahkan sampai tidak menghiraukan panggilan dari Oscar. Sedangkan Oscar hanya menghela nafas melihat nya pergi begitu saja, mau dia ataupun Ethan sama-sama keras kepala.
...******...
* Arkan.
* Ryohan.