
Karena Quennevia bisa tahu dimana Erdian akan mengarang, bahkan setelah ia menggunakan teknik nya membuat orang-orang jadi terkagum-kagum. Sedangkan Erdian hanya menatap Quennevia dengan tajam, sambil memikirkan bagaimana ia bisa melakukan nya.
Tapi Quennevia sendiri, hanya tersenyum dengan seringai diwajahnya, sebuah seringai dingin yang membuat nya terlihat seperti bukan lawan yang bisa dikalahkan oleh Erdian. Erdian jadi mulai berpikir, apakah Quennevia benar anak kecil yang dulu selalu menghindari nya karena ketakutan itu atau bukan.
" Bagaimana kau melakukan nya??. " tanya Erdian memastikan kegagalannya itu.
" Apanya??. " tanya Quennevia pula.
" Bagaimana bisa kau mengetahui dimana aku akan menyerang, padahal aku sudah menggunakan teknik siluman ku??. "
Quennevia terkekeh mendengar itu, entah kenapa tapi itu membuat Erdian kesal, seolah... gadis kecil seperti nya benar-benar sedang meremehkan nya.
" Sudah kubilang sebelumnya, sebaiknya kau pastikan orang yang kau lawan itu bisa merasakan nafsu membunuhmu atau tidak. Kau tahu aku ini sensitif dengan nafsu membunuh sekecil apapun, aku akan jadi waspada. Tapi kau... kau malah menyerang ku dengan nafsu membunuh yang sangat besar seperti itu. " jelas Quennevia dengan santainya, dan seperti nya Erdian mulai mengerti sekarang.
" Itu adalah kelemahan teknik ini, mau kutunjukkan caranya?? Oh, bagaimana tadi ya soal menggunakan teknik mu itu, apa.... seperti ini. " ucap Quennevia pula, dan perlahan-lahan menghilang saat ia juga menggunakan teknik yang sama seperti Erdian.
Dan itu membuat nya semakin tekejut lagi, begitu pula dengan orang-orang. Quennevia benar-benar tidak bisa dideteksi bahkan oleh Erdian yang adalah Assassin tingkat tinggi, tidak ada yg tahu dimana dia saat ini. Teknik itu sangat sempurna ia pakai, seolah teknik ini khusus dibuat untuk dimilikinya seorang.
" Ba... Bagaimana bisa?? Bahkan untuk Assassin berbakat sekali pun, tidak mungkin menggunakan nya hanya dengan sekali lihat saja. " ucap Selir pertama yang benar-benar sangat syok.
Iya, lagipula teknik itu hanya diajarkan di klan Assasin, tidak mungkin seseorang bisa menguasai nya hanya dari sekali lihat saja.
" Wahahaha.... Ini benar-benar sangat mudah, kupikir akan sulit. " suara Quennevia yang terdengar entah dari mana.
" Kau.. bagaimana bisa kau melakukan nya??. " tanya Erdian pula, dia sama tidak percaya nya dengan Anna dan beberapa orang-orang yang melihat kejadian itu.
Sementara itu, " Apa kau mengerti sekarang?? Jika kau ingin membunuh seseorang tanpa ketahuan, kau harus.... " ucap Quennevia lagi menggantung.
Jlebb....
Saat sabit nya menusuk bahu kanan Erdian, ia pun kemudian mulai memunculkan dirinya sendiri.
" Kau harus menghilangkan seluruh emosi mu terlebih dahulu. " lanjut Quennevia tanpa menunjukan ekspresi apapun sama seperti yang ia katakan, ia pun menarik sabit itu keatas, dan otomatis bahu Erdian pun jadi robek.
" Akhhhh!!. " teriak Erdian saat merasakan bahunya robek itu.
Quennevia memutar sabit di tangannya itu dengan lihai, untuk menghilang kan darah Erdian dari sabit itu. Sambil matanya menatap Erdian dengan dingin, bahkan wajahnya sekarang lebih dingin dari yang biasanya terlihat.
" Apa kau sudah mengerti sekarang, kakek??. " tanya Quennevia pula.
" Kau... anak kurang ajar!. " ucap Erdian pula sambil memegangi bahunya yang robek itu.
" Haa.... Hahahaha... lucu sekali. Hahah... aku hanya mengikuti permainan mu dan sekarang aku di anggap kurang ajar, hah?? Hahaha... " ucap Quennevia sambil tertawa mendengar itu.
Tawanya itu membawa rasa ngeri bagi orang-orang yang mendengar nya, tapi disaat yang bersama mereka juga merasa kesal dengan Erdian yang tidak tahu malu itu.
" Hahaha.... Haah... " saat kemudian Quennevia berhenti dan ia terlihat menundukan kepalanya dengan ekspresi gelap, dan ketika ia mengangkat wajahnya kembali ia kembali tak berekspresi. " Aku bosan, ayo akhiri ini. " ucapnya pula.
Ia mulai mempersiapkan diri dan melepaskan nafsu membunuh nya lebih besar lagi, hingga membuat orang-orang yang ada di sana benar-benar merinding seperti kedinginan, kali ini bukan hanya Erdian yang bisa merasakan nya. Erdian pun mulai waspada meski hanya dengan satu tangan yang tersisa.
Quennevia memegang sabit nya lebih erat lagi, ia mulai berlari kearah Erdian dengan sangat cepat, lalu kemudian mengayunkan sabit itu dan.....
******
Situasi setelah pengadilan dan keributan itu, para selir dan Adele tetap di berikan hukuman dipukul dan akhirnya di penjara dengan Quennevia yang bertanggung jawab soal apa yang akan di lakukan kepada mereka kedepan nya. Sementara pengikut mereka yang lainnya dicambuk dan diasingkan ke pinggiran Kekaisaran tanpa apapun kecuali diri mereka sendiri.
Adapun Erdian, ia sudah mati di tangan Quennevia, dan anggota klan Assasin yang lainnya harus mengucapkan sumpah untuk setia kepada Kekaisaran, atas taruhan yang sebelum nya dimenangkan oleh Quennevia.
* Di penjara.
- Sel selir pertama dan Adele.
" Huuhuhuu... Ayah.. " tangis selir pertama yang harus menyaksikan kematian tragis ayahnya itu.
Ia sama sekali tidak bisa menerima nya, bagaimana bisa ayahnya mati seperti itu di tangan anak kecil yang sangat ia benci itu.
" Ibu, jangan menangis lagi. Aku mohon.. " ucap Adele yang berusaha menenangkan nya sambil memeluk ibunya.
" Hiks.. Hiks.. tapi kakek mu, Adel.. Kakek mu.. Hiks.. " sahut selir pertama.
Ia terus teringat dengan saat-saat kematian Erdian sebelum nya.....
***
Saat Quennevia memegang erat senjata ditangannya, ia pun menerjang kearah Erdian dengan sangat cepat. Erdian sendiri mencoba untuk menghalangi nya dan menyerangnya dari depan, namun tiba-tiba saja Quennevia menghilang dari pandangan nya.
Tidak ada tanda-tanda kalau dia menggunkan teknik siluman, makanya Erdian tidak tahu apa yang sudah Quennevia lakukan untuk menghilangkan dirinya.
" Dimana kau anak kecil?!.. " ucap Erdian.
" Disini. " jawab Quennevia pula yang tiba-tiba ada di belakang nya.
Erdian pun buru-buru berbalik dan menyerang Quennevia, tapi serangan Quennevia terlalu cepat hingga sesaat kemudian yang dilihat oleh orang-orang disana adalah...
Sraattt.... Duk.. Duk...
Kepala Erdian yang sudah terpotong dari tubuh nya itu, menggelinding kearah anaknya sendiri, Anna.
Anna sendiri tidak bisa Terima melihat kematian ayahnya itu, begitu pula dengan para anggota klan pembunuh yang melihat nya.
" Ke-ketua klan... "
" ### Ha.. Tidak... Ayah... Ayah!!. "
***
Adele tahu ibunya pasti sangat terpukul melihat itu, ia juga sangat sedih melihat nya. Apalagi Quennevia yang membunuhnya masih bisa tersenyum senang melihat mereka menderita.
* Di sel selir kedua.
Pranggg.....
" Ibu, jangan seperti ini. Ini obat untuk luka ibu. " ucap Arissa kepada selir kedua.
" Jangan berlaga baik lagi didepan ibu, jika bukan karena dirimu ibu tidak akan ada disini!!. " bentak selir kedua.
Arissa tidak tahu lagi harus apa sekarang, bahkan obat yang ia bawa untuk ibunya pun dibuang begitu saja. Ia tidak ingin dibenci olehnya, tapi dia juga tidak ingin Quennevia sampai membuangnya, dia ingin bersama dengan Quennevia lebih lama.
" Ibu, aku mohon. Biarkan aku mengobati ibu. " ucap Arissa pula sambil memohon.
" Jangan sentuh aku, dasar anak kurang ajar!!. " pekik selir kedua pula.
Plakk.....
Ia menampar Arissa dan mendorong nya menjauh dari dekatnya.
" Kyaa... "
" Arissa!. "
Tadinya ia hanya ingin melihat keadaan ibunya saja, sekalian mengantar Arissa menemui ibunya, tapi siapa sangka kalau selir kedua sangat tidak ingin bertemu dengan nya.
" Ibu.... " panggil Arissa pula dengan sangat sedih.
" Pergi dari sini, mulai sekarang aku bukan ibumu lagi!!. " bentak selir kedua.
Arissa sangat tekejut mendengar nya, apa ibunya pikir kalau ia bisa dengan mudahnya dibuang seperti itu. Padahal sebelum nya ibunya itu selalu saja memanfaatkan nya untuk keuntungan nya.
" Baiklah! Kalau begitu aku juga tidak akan menganggap mu sebagai ibuku lagi, mulai sekarang dan seterusnya aku tidak akan peduli dengan apa yang terjadi padamu lagi!!. " pekik Arissa.
Ia pun mengajak Jason pergi dari sana, meninggalkan orang yang sebelumnya ia sebut ibu dengan penuh kasih sayang itu, dan juga orang yang telah membuangnya begitu saja setelah selesai dimanfaatkan.
Sepeninggal nya Arissa dan Jason, selir kedua hanya diam sambil merutuki Quennevia yang sudah membuat nya seperti ini. Hingga tidak lama kemudian ia pun mendapat kunjungan lain, dari orang yang sama sekali tidak ia sangka.
" Halo bibi, bagaimana keadaan mu saat ini??. " tanya Quennevia kepada selir kedua sambil tersenyum sinis.
" Kau?!! Dasar anak sialan, untuk apa kau datang kemari?!!. " tanya selir kedua dengan sangat emosi, tapi entah kenapa ia tidak bisa bergerak sedikit pun.
Quennevia tidak menjawab pertanyaan nya itu, namun ia membuka pintu selnya perlahan-lahan dan masuk menghampiri nya.
" Aku datang kesini untuk melakukan apa yang harus aku lakukan. " ucap Quennevia dengan tenang, " Kau disana.... Bell??. " tanya Quennevia pula entah kepada siapa.
Selir kedua pun juga tidak mengerti kepada siapa Quennevia bicara, sampai saat sebuah makhluk kecil keluar dari persembunyian nya dan menghampiri Quennevia. Makhluk itu adalah peri kecil yang Quennevia dapat dari pelelangan, namanya adalah Bell.
Quennevia menugaskan nya untuk diam-diam mengamati selir pertama dan selir kedua, dan tentu saja dengan Adele pula karena mereka bertiga selalu bersama.
" Nona, manusia bernama Arissa itu marah padanya, aku yakin dia sudah tidak peduli kepada ibunya lagi karena sudah mencampakkan nya. " ucap Bell kepada Quennevia, yang mana bahasa nya hanya bisa dimengerti olehnya.
" Hooh... Jadi selir kedua sudah membuang Arissa, dan Arissa sendiri sudah tidak peduli lagi kepada ibunya. " sahut Quennevia.
" Benar. " jawab Bell sambil menganggukan kepalanya.
" Hohoho... Kalau begitu aku tidak perlu sungkan. "
Quennevia pun menarik sebuah tusuk rambut yang ia kenakan, benda itu cukup tajam untuk digunakan sebagai senjata. Lalu Quennevia pun mengangkat kepala selir kedua dengan menarik rambut nya dengan keras.
" Akh... kau.. kau.. apa yang ingin kau lakukan?!. " tanya selir kedua sambil menahan sakit karena rambut nya ditarik.
" Arissa sudah tidak peduli, dan aku ingin kau membayar setiap perbuatan mu. Aku tidak ingin kau meminum racun seperti yang kau berikan padaku, jadi aku akan membunuh mu dengan sedikit spesial. " sahut Quennevia sambil menyeringai dengan menyeramkan.
" Kau.... " ucap selir kedua menggantung.
Jlebb...
Belum sempat selir kedua menyelesaikan ucapannya, Quennevia lebih dulu membunuhnya, ia menusuk leher selir kedua itu dengan tusuk rambut yang ada ditangannya itu.
Setelah selir kedua benar-benar mati, barulah ia berlalu pergi dari sana dan mendatangi sel selir pertama yang agak jauh dari tempat selir kedua.
Klangg.....
Ia pun membuka pintu sel itu dan langsung masuk ke dalam sana.
" Hai bibir, dan juga kakak kedua. Apa kabar kalian sekarang??. " tanya Quennevia dengan terlihat ceria meski dengan darah ditangan dan pakaiannya.
" Kau... pembunuh!! Untuk apa kau datang kesini?!!. " bentak selir petama dengan sangat amat emosi.
" Aataga~... kenapa kalian berdua mengatakan hal yang sama saat melihat ku disini??. " tanya Quennevia pula memiringkan kepalanya dengan berpura-pura polos.
" Dasar tidak tahu malu, pembunuh seperti mu masih saja berpura-pura polos seperti itu!!. " ucap Adele pula dengan tatapan tidak suka.
Ia benar-benar tidak suka melihat Quennevia ada di depannya saat ini, apalagi ia yang sudah membuat ibunya jadi bersedih seperti itu.
" Siapa yang.... pembunuh disini??. " tanya Quennevia pula berubah dingin, membuat Adele dan selir pertama tersentak.
" Haruskah ku ingatkan kalau kalian berusaha membunuh ibuku, kalian bahkan membunuh ayahku. Dan sudah puluhan kali kalian hampir membunuh ku. " ucap Quennevia dengan tatapan yang tajam kepada mereka.
" Kurasa kalian berhutang nyawa pada ayahku dan diriku, termasuk penjelasan kepada ibuku. " lanjutnya.
" A... Apa maksud mu??. " tanya selir pertama pula.
Quennevia tidak menjawab nya, dia hanya menyeringai dengan dingin dan menatap mereka sinis. Lalu tiba-tiba suatu lingkaran sihir dari bawah kaki nya, dan membuat selir pertama dan Adele terkejut.
Lebih terkejut nya lagi saat mereka melihat kehadiran Misika disana. Lingkaran sihir itu Misika yang ajarkan sebelum nya, itu membuat seseorang bisa melihat bentuk rohnya yang harusnya tidak bisa dilihat siapapun.
" Ka.. Kau... kau.. " ucap selir pertama dengan takut sekaligus tidak percaya, sementara Adele hanya diam sambil gemeteran.
" Sudah lama ya, Anna. " ucap Misika pula dengan dingin.
" Kau... Masih hidup??. " akhirnya selir pertama pun melontarkan pertanyaan nya.
" Hahaha.... tentu saja aku masih hidup, aku hanya perlu kembali ke tubuh ku yang sudah ku amankan. " sahut Misika.
Selir pertama masih nampak tidak percaya dengan apa yang ia lihat, ia yakin kalau ia sudah melihat tubuh Misika dibakar atas permintaan dari Hudson.
" Ba... bagaimana mungkin. " ucap nya dengan sangat tidak percaya.
" Tentu itu mungkin, bagi ibuku hal seperti itu adalah hal yang mudah. Dengan begitu kami bisa berkumpul lagi sebagai keluarga, tapi..... " ucap Quennevia menggantung, yang tadinya ia menjelaskan dengan agak bahagia pun kembali jadi dingin.
" Tapi karena dirimu ayahku tiada, aku ingin kalian membalas kematiannya. Nyawa dibalas dengan nyawa. " lanjut Quennevia dengan dingin.
Quennevia pun mengikat selir pertama dan Adele agar mereka tidak bisa melawan, dan ia mengeluarkan sebuah botol dari gelang penyimpanan nya.
" Kau... Apa yang akan kau lakukan?? Dan botol itu.... " ucap selir pertama pula gemeter, ia mengenali botol itu.
" Oh ini. " sahut Quennevia, sambil melirik botol itu dan tersenyum. " Kebetulan aku ada di sana saat kau membuang semua barang-barang yang berkaitan dengan racun mu, jadi aku mengambil beberapa yang berguna. " ucap Quennevia dengan ceria.
" Dan aku akan meminumkan nya kepada kalian. Dimulai dari mu dulu... kakak. " lanjutnya.
Quennevia pun mulai mendekati Adele lebih dekat lagi, lebih dekat lagi hingga ia sampai di depannya.
" Tidak... aku tidak mau!!. " tolak Adele tapi Quennevia tetap meminumkan racun itu kemulut Adele, hingga Adele pun terjatuh sambil mengerang kesakitan.
" Khook!!... Ukh!.. "
" Adele!! Adele!!. " panggil selir pertama panik saat melihat putrinya sekarat.
" Selanjutnya, giliran mu bibi. " ucap Quennevia pula beralih kepada selir pertama.
Ia pun meminumkan nya kepada selir pertama, meski ia juga melawan saat akan disuapi racun itu. Quennevia masih tetap ada di saja cukup lama, menikmati saat-saat terakhir mereka dengan seringai yang terlihat sangat puas. Hingga mereka pun akhirnya benar-benar mati di sana.
" Hahaha... Sudah selesai ibu, mereka sudah menerima balasan nya. " ucap Quennevia, sambil berbaik kepada Misika.
" Sebenarnya ibu tidak berharap seperti ini, tapi.... Terima kasih sayang. " sahut Misika, sambil memeluk putrinya itu.
" Setelah ini.... tidak akan adalah lagi selir yang mengganggu orang-orang ku. " gumam Quennevia, dengan tenang sambil menikmati pelukan ibunya yang hangat. Meski begitu... tanpa ia sadari air mata pun mengalir dari matanya.