
Disamping itu, Quennevia dan Lilac tengah pergi ke ruangan khusus bagi para senior di menara sebelah selatan. Itu adalah menara dimana para senior melakukan penelitian terhadap berbagai hal, juga tempat yang sangat ketat persaingan nya.
Senior Lilac dan juga Quennevia terlihat sangat akrab satu sama lain, padahal pertemuan mereka hanya sekitar dua kali saat pertandingan dan juga sesudah nya. Namun keduanya nampak seperti orang yang sudah berteman lebih lama dari itu.
Quennevia tidak canggung lagi bicara kepada Lilac dan Lilac pun juga sangat nyaman bersama Quennevia, bahkan hingga tidak ragu untuk menunjukkan ekspresi nya di depan Quennevia.
Namun karena terlalu sibuk mengobrol, tanpa sengaja bahu Quennevia bertubrukan dengan bahu seseorang.
Buk....
" Ahh.... Ya ampun, maafkan aku senior. " ucap Quennevia sambil membungkukkan dirinya.
Namun orang itu hanya melirik nya kemudian langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun kepada Quennevia.
" Apa-apaan sih orang itu. " gumam Quennevia dengan pelan.
" Namanya adalah Lorenzo, dia pria yang tidak banyak bicara dan selalu sendirian. Di kelas kami dia di kanal sebagai laki-laki sombong, dia juga orang yang tidak punya belas kasihan kepada lawannya. " ucap Lilac menjelaskan.
" Tidak punya belas kasihan?? Maksudnya apa, kak?? " tanya Quennevia pula. (Lilac sendiri yang ingin di panggil kakak)
" Pernah suatu hari, ada seorang yang bodoh menantang nya, singa yang sedang tidur itu. Dan Lorenzo sama sekali tidak berhenti melawannya bahkan saat lawan sudah menyerah, hampir saja orang yang menantang nya itu kehilangan nyawanya jika saja kepala Akademi tidak menghentikan Lorenzo. " jelas Lilac.
Quennevia mengerti sekarang dengan apa yang Lilac katakan, orang seperti itu memang benar-benar sangat berbahaya. Dia tipikal orang yang mudah membunuh seseorang hanya karena dia tidak suka, bahkan jika itu keluarga nya sendiri.
" Sudahlah, tidak perlu pedulikan dia. Ayo kita pergi ke ruangan ku. " ajak Lilac, Quennevia hanya tersenyum dan mengangguk kepada Lilac.
Kemudian mereka pun kembali pergi ke ruangan Lilac yang tidak jauh lagi dari tempat mereka berada sekarang.
*********
Keesokan paginya, keseharian biasanya kembali di mulai, semua orang belajar seperti keseharian biasanya. Tidak terlalu spesial juga semuanya biasa-biasa saja.
" Hmm.... Pelajaran nya masih ini-ini saja, aku bosan. " batin Quennevia.
Ia mengalihkan perhatian nya ke arah jendela, yang ia lihat di sana seorang pria dengan rambut hitam di sebrang bangunan sana. Pria itu adalah Lorenzo, Quennevia merasa kalau dia benar-benar dingin kepada semua orang, sampai-sampai tidak mungkin dia punya teman di Akademi ini.
* Lorenzo
Quennevia sedikit terkejut saat mata mereka saling bertemu, karena terlalu memikirkan nya ia tidak sadar kalau Lorenzo juga melihat ke arahnya. Namun itu hanya sebentar, karena pria itu kembali mengacuhkan nya dan pergi dari sana.
" Aku benar-benar tidak mengerti manusia seperti nya, atau mungkin dulu aku juga begitu ya??. " batin Quennevia pula sambil memikirkan itu.
Iya, kalau dipikir-pikir saat pertama kali datang ke dunia ini sebagai Quennevia, dia juga berniat dingin seperti itu, namun karena dia sudah terbiasa berpura-pura di kehidupan nya sebelum nya dia jadi tidak mau bersikap dingin, dan sekarang dia malah ceria seperti anak kecil.
Dan ngomong-ngomong karena memikirkan hal itu ia jadi rindu dunianya sendiri, dunia dimana ia tumbuh sebelumnya.
" Dunia ku ya, aku hampir melupakan itu setelah lima tahun lebih di sini. " gumam Quennevia dengan sendu, " Bagaimana.... kabar mereka sekarang, ya??. " tanya batinnya pula.
Quennevia hanyut dalam pikiran nya, bahkan hingga ia tidak sadar kalau guru yang saat ini tengah mengajar memanggilnya.
" Quennevia. " panggil Claus untuk kesekian kalinya.
Membuat Quennevia tersadar dari lamunan nya, " Ah, iya. " sahut Quennevia.
" So.. Soal itu.... aku cuma sedikit melamun. Maafkan aku. " jawab Quennevia sambil membuang perhatian nya, uh... dia benar-benar malu karena itu.
Sedangkan Claus hanya menghela nafas sambil tersenyum, melihat Quennevia malu itu adalah hal yang jarang dilihat.
" Hal itu tidak masalah, tapi jika tetua Kara menunggu lebih lama lagi, beliau mungkin akan marah, loh. " ucap Claus.
" Ah, baik. " ucap Quennevia pula.
Ia langsung membereskan buku-bukunya dan pergi dari sana, beberapa murid terlihat iri melihat nya. Bisa pergi dari kelas lebih awal, mungkin mereka berpikir kalau Quennevia hanya main-main saja bersama para tetua itu, padahal pembelajaran Quennevia 5 kali lipat lebih sulit dari mereka.
" Hee... dia benar-benar sibuk akhir-akhir ini. " ucap Ryohan sambil menyangga kepalanya di atas meja.
" Iya, pagi hari dia selalu berlatih sebentar. Lalu kemudian masuk kelas, kemudian siangnya pergi ke tempat para tetua dan sorenya dia pergi membantu senior Lilac. Benar-benar perempuan yang sibuk. " ucap Yuki panjang lebar.
" Aku juga penasaran kenapa dia sibuk seperti itu, kita jadi kekurangan waktu bersama. " ucap Ethan dengan ceria di belakang sana.
" Kau tidak sadar dirimu sendiri juga seperti itu, loh. " ucap Arkan pula dengan wajah datar.
" Begitu kah??. " sahut Ethan pula dengan senyum lebar nya.
Seperti nya dia benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya sendiri untuk tersenyum di setiap keadaan, dia jadi malah terlihat seperti orang aneh. Apalagi jika bicaranya tidak sesuai dengan ekspresi wajahnya itu.
" Mm... Aku juga jadi tidak punya waktu untuk bermain dengan Quennevia. " gumam Meliyana dengan murung.
" Kau terlalu menempel padanya. " ucap Niu menimpalinya.
" Eh, apakah dia merasa tidak nyaman karena itu??. " tanya Meliyana kemudian dengan raut gelisah.
" Bukan begitu, tapi dia cemburu padamu. " bisik Oscar sambil tersenyum jahil.
Namun malah membuat Meliyana memiringkan kepalanya bingung, itu lah yang membuat Oscar ingin tertawa melihat nya. Ekspresi bingung Meliyana itu benar-benar terlihat lucu, dia yakin kalau Meliyana sendiri tidak menyadari nya.
" Tunggu! Tujuh orang yang ada di depan sana, kenapa kalian bisik-bisik begitu??. " tanya Claus yang membuat mereka terkejut.
Apalagi tatapan tajamnya itu berbeda sekali jika saat menatap Quennevia, dia jadi begitu tegas kepada mereka. Membuat ketujuhnya jadi berkeringat dingin.
" Kami hanya.... Hanya.... " ucap Arkan mencoba mencari alasan.
" 'Hanya' Apa??. " tanya Claus yang mulai menyipitkan matanya seperti sedang bersiap memberikan hukuman..
" Hanya.... " Itu membuat Arkan menelan ludah karena takut, dan ia pun melirik Ethan yang duduk disamping nya.
Ethan yang mendapatkan kode itu menaikan sebelah alisnya, lalu " Hanya memikirkan cara menyelesaikan tugas praktek yang waktu itu dibicarakan anda, pak. " dalih Ethan setelah melihat Arkan melirik nya.
Tapi itu malah membuat teman-teman nya yang lain yang juga ada dikelas yang sama langsung serentak mengalihkan perhatian dengan terkejut kearahnya, sementara Ethan hanya memiringkan kepalanya dengan bingung, tapi masih saja tersenyum.
" Ah, sialan dia masih belum tahu. " batin teman-teman nya dengan wajah yang kurang menyenangkan.
Padahal Claus hampir saja melupakan itu, ini dia jadi ingat kembali dengan hal itu. " Hoho.... Terima kasih, Ethan. Kau sudah mengingatkan ku soal itu, nah kalau begitu sekarang kita pergi ke lapangan saja. " ucap Claus yang membuat semua siswa menganga.
" Eh??.. " dan Ethan pun akhirnya jadi mengerti dengan itu, setelah mendapat tatapan tajam dari seluruh siswa di kelas. " Haha... seperti nya aku dalam masalah sekarang. " batin nya pula.