
Saat pintu itu terbuka, ternyata orang yang tidak disangka-sangka ada di sana, Arissa. Ia berdiri di depan pintu itu dengan wajah yang hampir menangis.
" Ada apa, Arissa?? Apa ada seseorang yang mengganggumu??. " tanya Quennevia bingung melihat itu.
Arissa sama sekali tidak menjawab nya, yang ada ia malah benar-benar menangis di sana, Arissa pun langsung berlari masuk ke dalam sana. Quennevia yang terkejut melihat Arissa yang berlari kearahnya sambil menangis itu bahkan tidak bisa mengatakan apapun sampai ia memeluknya.
" Tung... Arissa!. " ucap Quennevia yang belum sempat mengatakan apa yang ingin ia katakan.
" Nona!. " teriak Murphy dan Linda pula, yang lainnya juga ikut terkejut dan...
BRUKK.....
Quennevia jatuh terbaring di sana, dengan Arissa yang masih memeluknya sambil menangis, ia tidak habis pikir kenapa Arissa bisa seperti itu.
" Huaa... Kakak, maafkan aku. Tolong jangan benci aku.. hiks.. hiks... " ucap Arissa sambil menangis.
" Arissa?!. " ucap Quennevia yang bingung.
" Kakak, aku mohon jangan membenci ku. Aku akan mengatakan semuanya, semua yang kakak ingin ketahui selama ini. " ucap Arissa lagi.
Mendengar itu membuat Quennevia terdiam, sepertinya ia benar-benar berhasil mengambil hati Arissa untuk berada di pihak nya. Dengan begitu semua rencana nya sempurna sudah, bahkan ia tidak perlu meminta Arissa untuk mengatakan nya, karena dia mengatakan semua nya sendiri.
Sebuah senyuman licik pun tersembunyi dengan baik di wajah nya, tidak sia-sia ia memanjakan Arissa lebih dari ibunya sendiri selama ini.
" Kalau begitu bangun dan ceritakan semua yang ingin kau katakan, karena...... Lantainya dingin. " ucap Quennevia dengan serius pula.
" Ah, maaf... " sahut Arissa dengan wajah yang terlihat merasa bersalah.
Mereka pun bangun dari lantai, dan Arissa pun mulai menceritakan semuanya tentang para selir dan rencana mereka. Ia bahkan membenarkan masalah kematian ibu Quennevia waktu itu.
Mereka semua mendengar kan nya dengan seksama, Paman Sven dan Haika sangat marah mendengar semua itu. Sedangkan Jason yang tidak tahu apa-apa sangat terkejut juga, berbeda dengan Quennevia yang masih tetap tenang meski mendengar itu semua.
Disisi Murphy mencatat semua pengakuan dari Arissa itu sesuai perkataan Quennevia, setelah semuanya selesai Quennevia benar-benar mendapat banyak info penting tentang tindak kejahatan mereka dan keuntungan yang sangat besar untuk rencana nya membalas mereka.
Ia pun menyuruh mereka semua kembali ke kegiatan mereka masing-masing, agar tidak menimbulkan kecurigaan karena mereka ada di sana secara bersamaan, terutama untuk Jason dan Arissa.
" Woww, aku tidak menyangka akan ada banyak sekali masalah yang ada di sini. " ucap Ethan, dia satu-satunya orang yang masih setia ada di dalam ruangan itu.
" Kau pikir hidup bersama dengan orang serakah itu bisa terhindar dari masalah apa?. " tanya Quennevia pula.
" Hehe... Ya, tidak mungkin. Tapi tak kusangka adik tiri mu itu akan mengakui semuanya, kupikir dia itu berpihak kepada para selir itu. "
" Hmph, aku mendekati dan memanjakan nya selama setengah tahun ini, aku juga tidak menyangka dia akan dekat dengan ku sampai berani membeberkan kejahatan ibunya sendiri. Jadi ku nilai mereka semua benar-benar tidak mengecewakan ku. "
Quennevia benar-benar sangat puas dengan drama yang ia mainkan selama ini, mungkin sebentar lagi dia akan mengakhiri nya. Tapi tetap saja itu membuatnya sangat senang, bahkan seringai di wajahnya sudah bisa menjelaskan semuanya.
" Nampaknya aku tidak perlu bersusah payah lebih dari ini. " gumam Quennevia dengan seringai nya itu.
" Lalu apa yang akan kau lakukan?? " tanya Ethan yang membuyarkan lamunan nya.
" Tentu saja, membuat mereka merasakan akibat karena sudah berurusan dengan ku. " sahut Quennevia.
" Serius?? Bisa-bisa adik mu yang terlihat seperti puppy kecil itu marah padamu. "
" Haah?? Puppy?? Menurutku dia lebih terlihat seperti kucing liar yang kehujanan. "
Ethan tertawa terbahak-bahak mendengar nya, jika adik nya itu (Arissa) masih di sini apa tanggapan nya ya. Kata-kata yang diucapkan Quennevia sangat tajam untuk ukuran kata-kata kakak kepada adiknya.
" Lagipula dia tidak akan membenciku, sekali seseorang seperti Arissa terjerat dalam drama ku dia akan terus menjadi peran seperti itu selamanya. Iyah, meskipun dia membenciku pun aku tidak peduli. " ucap Quennevia pula.
" Iya, mungkin orang itu akan terus jatuh cinta padaku hingga menjadi gila, kau pikir laki-laki mana yang tidak menginginkan seorang wanita cantik yang memiliki kekuatan besar, apalagi dia keluarga Kekaisaran. " jawab Quennevia, melihat keluar jendela di sana.
" Kau benar. " ucap Ethan, sambil tersenyum misterius.
Quennevia berpikir dengan serius saat ini, andai ia punya tujuan lain, tapi yang ada dia hanya ingin membalas kematian Quennevia yang asli, lalu membalas kematian ayah dan ibunya juga. Setelah itu ia ingin jadi kuat untuk bisa masuk ke akademi bintang utara, lalu ia tidak tahu lagi akan melakukan apa, tapi dia merasa melupakan satu hal penting.
" Tapi kurasa.... aku sama sekali tidak tertarik dengan hal yang berbau percintaan itu. " ucap Quennevia pula.
" Kenapa begitu?? Apa karena kekuatan mu belum bangkit sepenuhnya, karena itu kau tidak percaya diri jika dekat dengan laki-laki?? Bukankah samakin kau kuat maka laki-laki yang akan mendekatimu pun akan semakin banyak?? " tanya Ethan yg penasaran.
" Bodoh, aku tidak peduli dengan orang yang hanya menginginkan kekuatan ku saja, aku tidak terlalu khawatir soal kekuatan itu, lagi pula hal itu akan segara terjadi. Tapi sejauh ini tidak ada orang yang bisa membuat ku tertarik. Mungkin aku hanya perlu menunggu di masa depan saja, lagipula hanya perlu sedikit waktu untuk kebangkitan..... " ucap Quennevia menggantung.
Saat itu juga langsung mengingat apa yang ia lupakan, semua informasi sebelumnya kembai bermunculan di kepala nya. Dia tidak percaya dia bisa melupakan hal sepenting itu.
Sedangkan Ethan malah bingung kenapa Quennevia tiba-tiba berhenti seperti itu, apalagi kata-kata nya belum ia selesaikan.
" Aku tidak percaya aku bisa melupakan hal sepenting ini. " gumam Quennevia.
" Hei, ada apa??. " tanya Ethan pula.
" Aku akan pergi, kau mau ikut??. " tanya balik Quennevia sambil melirik Ethan dengan senyum cerah.
" Kemana?? " tanya Ethan pula dengan wajah yang sedikit merona.
Quennevia semakin melebarkan senyuman nya, tempat yang akan membuatnya menemukan apa yang ia cari. " Pelelangan. " jawab Quennevia.
*****
Sedangkan di sebuah taman, agak jauh dari taman yang biasa di kunjungi oleh orang-orang. Haika termenung seorang diri di sana, setelah mendengar semua membenarkan yang ada ia benar-benar merasa sangat tidak berguna.
Ia tidak percaya tidak ada yang menyadari hal seperti itu di kediaman yang banyak orang seperti itu, apalagi saat ia mendengar alasan kematian ibu angkatnya itu. Dia adalah penyelamat nya, orang yang membuatnya keluar dari kegelapan.
Ia tidak bisa melakukan apapun karena berpikir ia meninggal karena sakit yang ia derita, padahal itu semua adalah ulah para selir itu. Ia yang pertama menemukan nya sudah tiada, dengan Quennevia yang menangis di sampingnya, dan ia bahkan tidak bisa melakukan apapun. Apalagi melupakan pemandangan memilukan itu..
" I... ibu... " ucapnya di hari itu, dengan wajah tidak percaya.
" Mama... mama!.. kenapa tidak bangun?! Mama sudah janji akan main dengan Nevia, mama!. " teriak Quennevia dengan air mata yang terus mengalir, sambil terus menguncang tubuh ibunya yang sama sekali tidak bergerak di hari itu.
Semua ingatan pahit itu terus berputar di kepalanya, ia kehilangan orang yang begitu berharga saat itu, dan sejak itu Quennevia pun juga sering sakit karena terus teringat mending ibunya. Bahkan juga harus mendapatkan siksaan dari orang-orang yang sudah membunuh ibunya.
" Tidak.. Sekarang semua nya berbeda, tidak akan ada lagi yang bisa meindas Quennevia ku. Aku yang akan melindungi adikku, tidak akan ada satu orang pun yang akan kubiarkan hidup setelah menyakiti nya. " gumam Haika.
Wushhhhh.....
Haika susah bertekad untuk melindungi nya selamanya, dia tidak akan membiarkan sesuatu terjadi kepada Quennevia. Satu-satunya hal yang berharga setelah ibu angkatnya itu, ia ingin Quennevia yang berani dan ceria seperti sekarang terus bertahan selama nya.
Srakk... Srakk....
Saat suara semak-semak di belakang nya terdengar, dan keluarlah seseorang dari sana.
" Tuan muda. " ucap orang misterius itu sambil berlutut di belakang nya.
" Kau harus memastikan keselamatan Quennevia sampai ia jadi lebih kuat lagi, atau saat ia sudah masuk ke jantung hutan York, seharusnya hal itu tidak akan lama lagi. Pastikan dia tidak mengetahui keberadaan mu. " ucap Haika kepada orang itu.
" Baik, tuan muda. " sahut orang itu kemudian menghilang dari sana.