
Setelah mereka makan malam bersama, para pria memilih untuk pergi ke ruang tamu dan berbincang-bincang di sana. Beda halnya dengan Meliyana dan Yuki memilih untuk pergi ke kamar mereka masing-masing, iya kecuali Lilac yang katanya mau berlatih malam-malam begini.
Sementara itu Quennevia, dia memilih untuk berjalan-jalan saja di teman yang sudah lama tidak ia kunjungi itu. Taman itu terawat dengan baik, seperti nya Arissa yang melakukan nya, lagi pula dia yang selalu ada di taman itu dan juga banyak bunga yang selalu ia bicarakan dengan nya dulu.
" Ini jadi membuatku ingat masa lalu. " batin Quennevia menatap sendu.
Banyak kenangan yang ada di rumah itu, meski sebagian besar adalah kenangan buruk, tapi tidak sedikit juga kenangan baik yang ada disana. Dan saat ia memikirkan kembali semua itu, ia jadi teringat akan ayah tercinta nya. Jujur saja meski pertemuan mereka terasa sangat singkat, Quennevia sangat menyayangi nya... dan ia juga merindukan nya.
" Hm..??"
Perhatian nya tiba-tiba teralihkan ketika mendengar suara Jino dan Ethan di belakang nya, ia pun menoleh dan melihat Jino yang tengah memapah Ethan. Membuatnya jadi bertanya-tanya.
Sementara itu...
" Sudah kubilang, kau terlalu banyak minum. " ucap Jino terkesan menggerutu kepada Ethan yang ia papah.
" Hahaha... Senior, lain kali aku tidak akan kalah tanding dengan mu lagi. " ucap Ethan pula yang entah kenapa tiba-tiba membahas hal itu.
Jino hanya menghela nafas mendengar nya, " Iya, Iya. Tapi kau tidak akan bisa mengalahkan ku jika kau mabuk seperti ini. " sahut nya pula, kemudian ia pun juga menyadari kehadiran Quennevia di taman itu. " Ah... Quennevia, apa yang kau lakukan di sana?? " tanyanya.
" Em... Aku hanya berjalan-jalan, ngomong-ngomong.. apa kak Haika memaksa kalian minum??. " tanya balik Quennevia penasaran.
" Eh.. Iya, seperti itulah. " jawab Jino pula agak tidak enak.
Dan jika Jino memikirkan nya lagi, saat ini ruang tamu mungkin juga berantakan karena yang lainnya, tentu saja kecuali Kian yang mungkin baik-baik saja karena dia orang yang paling kuat minum diantara mereka.
Sedangkan Quennevia malah pusing dengan kelakuan kakaknya, mengapa dia malah melakukan hal itu kepada teman-teman nya ketika mereka baru saja sampai dan pasti dalam kondisi lelah.
" Dia itu ya.... Kebiasaan buruk nya tidak pernah hilang, meski sudah jadi kepala keluarga. " gumam Quennevia agak kesal.
Jino bisa melihat itu meski tidak mendengarnya, jadi ia berpikir untuk cepat membereskan masalah ini duluan. " Oh, kalau begitu aku pergi dulu ya. Aku harus mengantarkan orang merepotkan ini terlebih dahulu, dia ini yang paling...... " ucap Jino yang terpotong.
" Ah, Quennevia. Kau masih saja terlihat cantik seperti biasa. " ucap Ethan yang memotong ucapan Jino, dengan suara yang tidak jelas.
" Kau ini... Jangan membuat senior Jino kesulitan, dasar bodoh. " ucap Quennevia pula yang malah kesal mendengar nya, sebaliknya dengan Jino yang hanya tersenyum kikuk di sana.
Dan Ethan benar-benar tidak sadar dengan apa yang ia ucapkan, " Haha... kau masih saja begitu padaku, padahal sebelum nya benar-benar manis. " ucap nya pula.
Membuat Quennevia tersentak, " A.. Apa yang kau bicarakan, sebaiknya cepat rendam kepala mu itu di dalam air dingin. " ia jadi merona malu, apalagi di sana masih ada Jino.
" Hehe... aku tidak becanda, loh. Saat pertama kali melihat mu itu aku merasa sangat akrab, saat itu aku sangat ingin membawa mu pergi bersamaku. Rasanya tidak mau berpisah dengan mu, aku ingin untuk bisa melihat mu setiap kali aku membuka mataku. " ucap Ethan panjang lebar, saat kemudian ia langsung tertunduk dan tak bicara lagi.
Jino yang ada di sana pun sampai tidak bisa berkata-kata lagi dan terdiam kaku, dia baru saja mendengar sesuatu yang mungkin tidak harus dia dengar disana.
" Ap.. Apa dia baru saja mengungkapkan perasaan nya??. " batin Jino yang terperangah karena mendengarkan hal itu.
Jino pun beralih dari menatap Ethan yang ia papah, kearah Quennevia di sebrang sana. Yang ia lihat hanya Quennevia yang diam saja ditempat nya, dengan wajah yang merah seperti tomat.
" Qu... Quennevia... " panggil Jino dengan gugup.
Syutt...
" Ah?!. " ucapnya pula terkejut karena Quennevia tiba-tiba saja menghilang dari sana.
Jino jadi bingung sendiri harus melakukan apa, dan Ethan yang sedari tadi meracau itu tiba-tiba tidak lagi bicara apa-apa, ternyata dia sudah tertidur segera setelah mengatakan hal itu. Jino yang merasa pusing dengan itu pun memilih untuk mengantarkan Ethan ke kamarnya saja dari pada terus berdiri di sana seperti orang bodoh.
Sementara itu Quennevia yang ada di atas genting, ia duduk di sana sambil menutupi wajahnya sendiri karena sangat malu dengan apa yang ia dengar dari Ethan. Pikiran nya benar-benar kacau saat ini, dia tidak bisa memikirkan hal lain dan perkataan Ethan terus terngiang-ngiang di kepala nya.
" Master, apa aku harus memukul kepalanya??. " tanya Yue yang ada di ruang spirit nya.
" Tidak, Tidak. Tidak perlu melakukan nya, kau kembali tidur saja Yue. " sahut Quennevia.
" Aku mengerti, tapi jika master ingin memukulnya tolong panggil aku. " ucap Yue pula.
Quennevia hanya menghela nafas mendengar nya, itu malah akan membuat nya terlihat tidak senang mendengar itu. Iya.. dia menang senang sih, tapi yang memalukan nya itu, dia mengatakan nya di depan Jino.
" Uhh... " Quennevia jadi pusing sendiri karena itu, dia jadi tidak mau terlihat di depan Jino lagi setidaknya untuk sementara waktu, tapi dia tidak bisa.
" Ahahaha... jadi, kau menyukainya ya. " ucap seseorang yang tiba-tiba terdengar oleh Quennevia.
Quennevia terperanjat kaget mendengar itu dan ia pun langsung bangkit berdiri sambil melihat kesana kemari untuk mencari asal suara itu, namun tidak ada siapa-siapa dan hanya ada dirinya sendiri yang ada di sana.
Saat kemudian suara itu kembali terdengar olehnya...
" Kau tidak akan bisa menemukan ku di mana pun, karena aku ada di dalam tubuhmu. " ucap suara itu pula yang kali ini Quennevia yakini berasal dari dalam kepalanya sendiri.
" Siapa kau?!. " tanya Quennevia tidak senang dengan hal itu.
" Huhuhu... Bukankah para orang tua itu sudah memberi tahu mu siapa diriku, aku yakin kalau kau juga sejak awal tahu siapa diriku. "
Mendengar itu menbuat Quennevia teringat alasan nya ia ada di Akademi selain untuk berkumpul lagi dengan teman-temannya, alasan mengapa ia terus-terusan saja diincar oleh klan Retia.
" Jangan bilang... wanita pembawa bencana?!!. " batin Quennevia dengan sangat terkejut.
" Ahaha... Kau sudah tahu, aku... selalu mengawasi mu. Sejak dulu.. Aku menyukai mu bagaimana jika kau jadi penerus ku saja, kau bisa jadi anak ku. " ucap suara itu pula, nampaknya dia bisa mendengar apa yang Quennevia katakan meski dalam hati nya.
" Ja.. Jangan bercanda!! Siapa yang ingin jadi penerus wanita jahat seperti mu!!. " tolak Quennevia agak panik, sekarang ia malah mulai bisa mendengar suara wanita itu yang sebelum nya tidak ia pikirkan keberadaan nya.
" Hmm... Aku menyukai mu, lihat saja kau pasti akan datang kepada ku nantinya. "
" Siapa yang mau melakukan hal itu, jangan bicara hal konyol dengan ku!!. "
" Kau menyukai nya bukan, orang bernama Ethan itu. "
Quennevia tersentak mendengar nya, wanita itu benar-benar mengawasi nya, itu artinya wanita itu sudah terbangun selama ini tapi sekarang dia menunjukkan keberadaan nya. Dan itu artinya dia juga sudah mengetahui semua hal yang berharga bagi Quennevia.
" Kau... ingin memiliki nya bukan, kau tidak ingin wanita lain yang mendapatkan pria itu. Akui saja keinginan mu itu.... Quennevia kecil ku. " ucap wanita itu lagi.
Quennevia merasa seolah wanita itu ada tepat di belakang nya, merangkul pundaknya dan membisikan hal itu langsung ke telinga nya. Quennevia benar-benar merasa merinding sekarang, jadi selama ini wanita itu benar-benar ada di tubuh nya, berbagi tubuh dan ingatan bersama.
" Jika kau mau mendapatkan nya, aku bisa membantu mu. Akan kubuat dia jadi milikmu, hanya milikmu seorang, bagaimana??... Hihihi... " ucap wanita itu pula.
" Tidak!! Aku tidak akan pernah meminta bantuan pada mu, sampai kapan pun tidak akan pernah!!. " teriak Quennevia sambil menutup kedua telinga nya.
" Huhu... Masih terlalu dini untuk menentukan, perjalanan mu masih sangat panjang.... Quennevia. "
Suara itu pun perlahan hilang hingga tidak terdengar lagi oleh Quennevia, wanita itu sudah berhenti bicara dengan nya. Tapi Quennevia masih tidak bisa melupakan apa yang wanita itu ucapkan, pikiran nya semakin kalut dengan rasa takut saat ini, bagaimana jika wanita itu menggunakan dirinya untuk membangkitkan nya.
Yang lebih buruk bagaimana jika wanita itu menggunakan dirinya untuk melukai teman-teman dan keluarga, ataupun orang-orang yang berharga bagi nya.
Quennevia benar-benar tidak bisa mengerti dengan takdir nya yang begitu rumit saat ini, ia pun mengangkat kepalanya menatap langit malam itu. Jika dia bisa memilih, dia ingin kembali saja ke dunianya yang dulu, bersama dengan orang-orang yang ia sayang di sana kembali.
" Kirito, jika sudah seperti ini.... apa yang harus kulakukan??. " gumam Quennevia sambil menatap langit itu dengan ekspresi sedih.