
Besok paginya, semua orang tengah berkumpul di ruang makan untuk sarapan, semuanya baik-baik saja tidak ada masalah apapun. Mungkin kecuali para laki-laki yang sedikit bingung entah karena apa setelah Haika mengajak mereka minum semalam, dan anehnya sekarang Haika lah yang tidak ada di sana.
Dan satu lagi yang menarik perhatian mereka di sana, adalah Quennevia dan Ethan yang terlihat canggung satu sama lain. Nampaknya Quennevia teringat kembali dengan kejadian kemarin begitu pula dengan Ethan, apalagi sebelumnya Jino yang sempat memberitahukan hal itu kepada Ethan.
Hal tersebut membuat mereka (-Jino) terheran-heran melihat nya, karena tidak biasanya mereka seperti itu.
" Mm... Quennevia, Ethan. Apa yang terjadi kepada kalian??. " tanya Arkan akhirnya orang yang pertama kali bertanya.
" Ti... tidak apa-apa, bukan sesuatu yang besar kok. " sahut Quennevia sambil mencoba menutupi wajahnya yang merah merona itu.
" Kau yakin, kalian sangat aneh sedari tadi. " ucap Kian yang juga ikut tertarik melihat nya.
Saat kemudian Ethan menanggapinya dengan tawa canggung. " Haha.. jangan terlalu memikirkan nya Senior, lagipula bukan hal yang menarik kok. Oh, ngomong-ngomong kita akan pergi ke mana setelah ini??. " ucap nya pula mulai mengalihkan pembicaraan.
" Benar juga, kita belum menentukan tujuan perjalanan kita. " sahut Lilac membuat suasananya jadi berubah.
" Mungkin sebaiknya kita tunggu Niu dan Oscar dulu, setelah itu baru membicarakan nya, bukankah itu ide bagus??. Lagipula mereka yang paling tahu tempat-tempat bagus di sekitar sini. " usul Quennevia kemudian.
" Oh, hmm... kau benar, mereka sudah pasti lebih hapal tempatnya. " ucap Meliyana menimpali, yang juga diangguki semua orang.
Akhirnya mereka putuskan untuk menunggu Niu dan Oscar, dengan begitu jalan-jalan saat liburan mereka akan dimulai. Namun perhatian mereka pun teralihkan kepada Quennevia yang bangkit dari duduknya.
" Aku mungkin akan terlambat, aku harus menemui kak Haika karena sudah janji mau membawanya ke suatu tempat terlebih dahulu. Aku akan segera menyusul, jadi nikmati jalan-jalan nya, ya. " ucap Quennevia sambil melambaikan tengannya, ia pun melenggang pergi dari sana.
Sementara itu yang lainnya masih menatap tempat Quennevia keluar tadi, mereka masih merasa ada yang aneh dengan nya. Tidak seperti biasanya dia terlihat seperti tengah menutup-nutupi sesuatu.
" Dia terlihat aneh. " gumam Ryohan.
" Bukan hanya dia tapi Ethan juga sama. " sahut Arden pula yang duduk di samping nya.
" Hei, Jino. Kau tahu sesuatu, bukankah kau yang mengantarkan Ethan kembali semalam. " bisik Sayles pula kepada Jino.
Jino hanya meliriknya lalu kemudian beralih kepada Ethan yang seperti nya sedang melamun sekarang, " Kurasa itu bukan hal yang seharusnya ku bicarakan. " jawab nya pula.
" Hah... Kau tidak asik. " ucap Arden yang agak kecewa mendengar itu.
" Ayolah senior, katakan saja. " desak Meliyana pula ikut penasaran.
Tapi perhatian mereka teralihkan kepada Yuki saat mendengar nya mendengus karena bisik-bisik mereka itu, dia memang wanita yang dinginnya sama seperti Lilac itulah yang mereka pikirkan.
" Ada apa??. " tanya Ryohan kepada Yuki.
" Tidak ada apa-apa, hanya saja kalian seperti wanita bangsawan tua yang sangat menyukai gosip. " ucap Yuki sambil tersenyum sinis kepada mereka.
Sementara itu mereka yang mendengar nya merasa terpukul, " Ibu... Ibu gosip?!!. " batin mereka.
" Oi, apa maksud mu itu??. " tanya Arden yang merasa agak tersinggung mendengar ucapannya.
" Hmph... Senior, kau terlalu mendesak senior Jino karena ingin tahu apa yang terjadi kepada Ethan dan Quennevia, secara tidak langsung kalian jadi terlihat seperti orang yang suka bergosip. " jelas Yuki panjang lebar.
" Hei, ini namanya solidaritas. Kami khawatir karena mereka berdua bertingkah aneh sejak tadi. " ucap Arkan sambil menatap Yuki dengan kesal.
" Jangan khawatir, mereka pasti baik-baik saja. " ucap Lilac pula terkesan membela Yuki.
" Aku juga yakin akan hal itu. " sahut Kian menimpali yang juga diangguki oleh Jino.
Dan itu membuat Arkan semakin menatap Yuki dengan kesal, karena dia mendapatkan dua dukungan dari tiga orang lainnya yang ada di sana, sementara Yuki sendiri hanya mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum yang terlihat menyebalkan bagi Arkan.
Disamping itu Ethan yang baru saja tersadar dari lamunan nya hanya bisa bertanya-tanya dalam hatinya saat melihat mereka, sepertinya dia melewatkan banyak hal karena melamun.
*************
Di sisi lain, Haika tengah berjalan seorang diri menuju ke arah belakang taman, entah mau pergi ke mana bahkan sampai dia tidak ikut sarapan dengan yang lainnya. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara derap langkah orang lain dibelakang nya yang tengah berlari.
" Kena kau, mau kemana??. " tanya orang itu dengan ceria sambil memeluk Haika, dia adalah Quennevia....Iya, Quennevia.
" Aku mau jalan-jalan di teman. Kanapa, mau ikut??. " tanya balik Haika.
" Ogah, dari pada jalan-jalan di taman mending ikut aku yuk. "
" Kemana??. "
" Rahasia, dong. "
Haika jadi bingung, tidak biasanya Quennevia yang mengajaknya pergi duluan, mungkin orang memang bisa berubah siring waktu ya. Lagian itu sudah lima tahun berlalu, jadi sudah pasti banyak yang berubah.
" Baiklah, ayo pergi kalau begitu. " ucap Haika yang akhirnya menyetujui hal itu.
Namun ia malah melihat Quennevia merentangkan tangannya kearahnya, dan menatapnya dengan ekspresi memohon. " Gendong aku. " ucapnya pula.
Haika jadi terkekeh melihat Quennevia yang manja seperti itu, rasanya dia seperti bukan adiknya setelah apa yang dulu terjadi. Tapi dia lebih suka Quennevia yang seperti ini, Haika pun hanya mengiyakan nya saja dan ia langsung menggendong Quennevia di punggungnya, membuat Quennevia tertawa girang karena kemauan nya dipenuhi oleh Haika.
" Sekarang... kita mau ke mana??. " tanya Haika kemudian.
" Masuk saja ke dalam portal di sana. " sahut Quennevia sambil menunjuk ke depan nya.
" Ha.. Sejak kapan itu ada di sana?? Apa kau yang membuka nya??. "
Quennevia hanya mengangguk mendengar pertanyaan itu, dan Haika pun langsung membawanya masuk ke dalam sana. Ketika mereka melewati gerbang portal itu, hal pertama yang dilihat oleh Haika adalah sebuah padang rumput yang cukup luas, lalu hutan-hutan dan juga hanya hewan yang ia yakini adalah hewan spirit.
Haika terkagum-kagum melihat tempat itu, ia tidak tahu dirinya ada di mana tadi tempat itu benar-benar indah.
" Hei, adik. Kita ada di mana??. " tanya Haika setelah ia sadar dengan keindahan tempat itu.
" Sebelum itu, kakak. Bisakah kau mundur ke belakang dua langkah saat hitungan ketiga??. " tanya balik Quennevia sambil memeluk lehernya.
" Huh??. "
" Pokoknya lakukan saja, ya. "
" Hm... Oke. "
Quennevia pun mulai menghitung, " 1.... 2 .... 3." saat itu ia mendengar suara dari semak-semak di samping mereka, dan muncullah seseorang dari sana. Haika pun langsung mengikuti keinginan Quennevia tadi dan mundur dua langkah ke belakang.
" Queen kecil!. " teriak orang itu sambil melompat keluar dari semak-semak itu.
Brukk....
" Uhh... "
Dan seseorang itu langsung jatuh karena tidak berhasil memeluk Quennevia yang mundur bersama Haika. Haika yang melihat nya sangat terkejut dengan apa yang terjadi, semenata Quennevia hanya menatap orang yang berbaring di tanah itu datar.
" Ah, Halo bibi Zeze." sapa Quennevia yang masih ada di gendongan Haika, iya orang itu adalah Zeze si Pegasus malam.
Zeze pun mengangkat kepalanya dan menatap Quennevia dengan ekspresi tersakiti, " Jahat sekali, padahal aku kan ingin memelukmu. " gerutunya yang terdengar seperti anak kecil itu.
Saat suara seseorang lainnya juga terdengar dari arah Zeze datang tadi, " Zeze, Zeze, kau tidak apa-apa??. " tanya orang itu yang adalah Freea, dan dia jadi yang pertama menyadari kalau Quennevia membawa seseorang. " Oh, kau membawa tamu. Siapa dia Queen kecil??. " tanyanya pula.
" Dia kakak ku, Haika. Apa ibu ada di rumah??. " tanya balik Quennevia pula.
" Hah?!. " tapi mereka tiba-tiba dikejutkan dengan Zeze yang tiba-tiba berdiri, " Sejak kapan kau punya kakak?!. " ucapnya sedikit berteriak.
" Lah, kau tidak tahu?? Quennevia itu punya dua kakak laki-laki saat ini dan satu adik perempuan. " ucap Freea sambil berjalan kearah mereka.
Tapi Zeze malah menganga karena tidak tahu akan hal itu, atau dia yang tidak mendengarkan saat dulu Everon menceritakan hal itu. Benar-benar tidak bisa dipercaya...