
[Season 2]
Beberapa saat telah berlalu sejak Violetine menghilang, namun semua orang masih ditempat mereka. Mengenangnya.
Meskipun itu adalah pertemuan pertama mereka dan itu cukup singkat dibandingkan dengan hari-hari yang pernah mereka lewati, mereka menghormati keberanian dan juga kepercayaan Violetine yang pernah ada disana.
Tapi tentu saja, mereka tidak bisa terus seperti itu untuk waktu yang lama. Waktu nya untuk melanjutkan perjalanan mereka...
" Terima kasih untuk bantuan kalian disini. Kami akan segera melanjutkan ketempat selanjutnya." ucap Ethan mewakili teman-temannya kepada Euclide dan Felice.
Tapi Euclide menggelengkan kepalanya menanggapi hal itu, [Tidak. Kurasa aku tidak pantas mendapatkan ucapan itu, karena aku tidak melakukan apapun.] ucapnya.
Meski begitu, ekspresi nya terlihat kosong seolah menantikan sesuatu. Hal itu sampai membuat Ethan tersenyum canggung.
" Ayolah, kak. Apa kau ingin aku bersujud dan meminta maaf untuk yang sebelumnya? Mana kutahu kalau akan sampai seperti itu."
[Soal itu... mari kita bicarakan dengan Hades dilain waktu.]
Ethan tahu itu. Dia memang sedang mengungkitnya.
Sementara itu, dibelakangnya, teman-temannya berusaha menahan tawa mereka karena masalah itu. Kali ini hanya Ethan yang akan dapat masalah, dan Ethan sepertinya bisa menebak apa isi pikiran mereka.
" Hahaha... Sepertinya aku melihat hal menarik yang akan terjadi ya, Ethan~.." ucap Niu dengan nada menggodanya.
Sedangkan Ethan malas dengan hal itu, " Apa ya..??"
Niu terkekeh. " Ayolah~.. Kau dapat masalah~.."
" Dapat masalah~. Ethan dapat masalah~.." bahkan Meliyana dan Arkan jadi ikut-ikutan meledeknya seperti itu.
Ethan jadi kesal, tapi dia tidak mau menanggapi mereka. Meskipun ketiga orang itu terus berada disekitar nya dan mengarakan itu, hingga Niu juga menusuk-nusuk pipinya dengan jarinya.
Berbeda dengan mereka, Oscar dan Yuki hanya diam menatap kelakuan mereka dibelakang sana. Bersama dengan Yue dan juga Zico.
Euclide yang melihat kedekatan mereka pun hanya tersenyum dan sedikit menghela nafas, ia merasa tidak ada hal lain yang bisa membuat Ethan merasa baik-baik saja saat ini selain mereka.
[Berhati-hatilah dijalan...] ucap nya kemudian, membuat perhatian mereka kembali tertuju padanya. [... Dan segeralah kembali. Kita akan bertemu lagi ditempat semuanya dimulai.] lanjut Euclide.
Ethan dan teman-temannya terdiam sesaat setelah mendengar itu, baru kemudian mereka mengangguk dan tersenyum menanggapi hal itu.
" Iya. Kami pasti kembali." sahut Ethan.
" Anda jangan khawatir, kami akan memastikan Dewi Tengah-... Tidak. Kami akan pastikan Quennevia kembali." ucap Oscar pula dengan pasti.
Euclide mempercayai mereka tentang hal itu.
Saat kemudian perhatian Ethan teralihkan kepada Felice yang berjalan mendekati nya. " Semoga perjalananmu selamat sampai tujuan, dan kalian juga harus pulang dengan selamat. Kau harus menepati janjimu, sampai bantuan terakhir nya dan keinginannya terpenuhi." ucapnya pada putra satu-satunya.
Ethan yang mendengar nya pun tersenyum, dan segera memeluk ayahnya dengan erat, membuat Felice sedikit terkejut. Tapi Felice juga senang dengan itu, ia pun membalasnya dan mengelus kepala Ethan dengan lembut.
" ...Mau seperti apapun, aku akan selalu menjadi putramu. Aku pasti kembali.. untuk menjaga apa yang ayah tinggalkan untukku." Ethan menimpali kata-kata Felice seperti itu.
Felice juga percaya padanya, " Iya. Kau pasti bisa melakukan nya."
Itu akan jadi perpisahan sementara mereka disana...
Saat kemudian, Zico melebarkan sayapnya diudara. Perisapan telah selesai dan mereka akan segera pergi, semua orang telah naik diatas punggung Zico ketika ia membuka portal dimensi diatas sana. Mereka akan segera melakukan perpindahan ruang dan waktu.
Dan lalu, Euclide tiba-tiba teringat dengan sesuatu...
[Ah! Ethan, kau bertemu dengannya, kan? Apa yang dia katakan padamu saat itu??] Dia bertanya demikian sebelum Ethan dan yang lainnya pergi.
Ethan pun menoleh kearahnya mendengar itu, ia terlihat memikirkannya sejenak. Disaat yang sama, Zico mengepakan sayapnya dan hendak terbang kearah portal, baru kemudian mengatakan apa itu. " Dia bilang Aku tidak salah... memilih takdirmu." teriak Ethan dengan senyuman lebar diwajahnya.
Dan mereka pun segera menghilang ditelan portal itu, Ethan dan yang lainnya telah memasuki jalur transmisi antar dimensi menggunakan kekuatan Naga Void. Sementara itu, Euclide hanya tersenyum ditempat nya sambil memperhatikan portal yang mulai mengecil disana.
****
Saat itu, dipegunungan tak jauh dari kota. Portal ruang terbuka di sebuah gua yang ada disana. Ethan dan yang lainnya berjalan keluar dari dalam sana, kini kembali mereka berenam. Yue dan Zico telah kembali ke tempat mereka di dimensi ruang Zico. Dan mulai dari sana, adalah tugas Ethan dan teman-temannya kembali.
" Fuahh... Kita sampai juga. Aku sempat takut kalau kita akan terjebak dicelah ruang selamanya." ucap Oscar sembari menyisiri rambutnya.
Yang mana hal itu langsung disahut Niu dengan sebal, " Hei, jangan mengatakan sesuatu yang mengerikan begitu."
" Hehe.. Maaf."
Oscar hanya tertawa kikuk menanggapi hal itu.
Tak lama kemudian, mereka keluar dari hutan dan tiba disebuah tebing yang menghadap langsung kearah kota.
" Wah..." Meliyana terlihat terpesona dengan pemandangan moderen yang sangat berbeda dengan tempat asal mereka.
Bukan hanya dia, tapi yang lainnya pun juga sama. Mereka terpana melihat banyaknya gedung-gedung tinggi yang menjulang kelangit, serta jalanan yang padat merayap dipenuhi dengan alat transportasi yang belum pernah mereka lihat. Dipertengahan musim gugur, banyak daun yang telah berubah warna dan mulai berjatuhan ke tanah. Memberikan semakin banyak warna disekitar, dan udara perlahan menjadi dingin.
Itu sangat menakjubkan.
Meski mungkin, tidak semuanya merasa seperti itu...
Meliyana menyadari itu ketika ia menolah kesampingnya, dan mendapati ekspresi sedih diwajah Ethan.
Karena itu, Meliyana pun menyentuh bahu Ethan dan bertanya. " Ethan, kau baik-baik saja?." tanyanya.
Ethan sedikit tersentak karena itu, dan ia pun menoleh. Saat itulah dia menyadari kalau semua perhatian teman-temannya tertuju padanya. ".....Iya, aku baik-baik saja. Jangan khawatir. " ia pun berkata seperti itu sambil tersenyum.
Tapi teman-temannya hanya diam tanpa ekspresi, karena mereka tahu dia berbohong. Meski begitu, Ethan tidak terlalu memperhatikan itu.
" Zico, berapa waktu berlalu ditempat ini??" tanya Ethan kemudian.
Zico yang dipanggil pun perlahan mengeluarkan kepalanya diudara, dan menjawab...
Kyuu.... Kruungg...
" 6 tahun setelah kejadian.."
Kyuu~
Dari yang Ethan tangkap melalui perkataan Zico, dia awalnya berusaha tiba ke saat Quennevia datang kemari sebelum nya. Dia mungkin berusaha mengubah kejadian itu setidaknya, jika berhasil itu memang bagus. Tapi karena tekanan dan gelombang energi negative yang tiba-tiba melonjak sampai mempengaruhi saluran transmisi, dia memutuskan untuk mengganti tujuan ke jalan yang aman.
Karena itu, saat ini mereka tiba satu tahun sejak Quennevia terakhir datang, dan itu memakan waktu sedikit lebih lama didalam saluran ruang daripada seharusnya. Lalu, berarti ini sudah 6 tahun setelah Nevia mati didunia ini.
" Tidak apa-apa, Zico. Karena kita punya jalan keluarnya." Ethan berkata demikian dan mengusap kepala Zico yang ekspresi terlihat murung, membuat Zico jadi senang dan kembali. Kemudian Ethan pun berbalik kearah teman-temannya. " Baiklah, sebelum kita masuk ke kota, kurasa kita harus ganti kostum dulu." ucapnya pula.
Arkan yang mendengar itu langsung memiringkan kepalanya bingung, " Kenapa?" dia penasaran apa yang salah dengan pakaian mereka sekarang.
" Karena jika kita berpakaian ala negeri dongeng seperti ini, orang-orang akan berpikir kita cosplayer dan kita akan menarik banyak perhatian." jawab Ethan.
Ia menjentikan jarinya, dan seketika itu pakaian yang mereka kenakan masing-masing berubah. Arkan mengenakan sebuah pakaian rajut berwarna coklat, dengan jaket dan celana jeans. Sementara itu, Oscar memiliki penampilan yang kasual, dengan kaus abu-abu yang dipadukan dengan jas dan celana hitam.
Meliyana dan Niu terlihat manis dengan gaun pendek yang memberikan kesan feminim dengan warna lembut, stocking dan jaket berbulu tebal agar terhindar dari udara dingin. Dan Yuki mengenakan kaus dengan leher panjang serta cardigan berwarna merah, jeans dan sepatu boots hitam dengan hak tinggi.
Sedangkan Ethan sendiri mengenakan kemeja berwarna biru pastel, celana hitam dan mentel hitam panjang. Terlihat lebih simple dari yang lain, setidaknya itu membuatnya nyaman dan hangat.
Mengingat itu, Ethan baru sadar. " Em? Apa kalian mau mantel saja?" tanyanya kepada teman-temannya, yang mana langsung dibalas gelengan kepala dari mereka.
" Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." ucap Oscar menyahuti perkataannya, "....Tapi aku ingin syal." meski begitu dia juga menginginkan sesuatu.
Arkan mengangguk menanggapi itu, " Ya, aku suka dengan gayaku sekarang. Aku ingin sarung tangan." dan dia juga sama.
Ethan hanya tersenyum menanggapi itu dan membalas. "...Baiklah kalau begitu."
Yah, dia hanya mengubah pakaian ke sesuatu yang mungkin cocok untuk mereka, dia tidak berpikir kalau mereka menginginkan hal lain. Jadi dia menghargainya jika mereka mengatakan hal itu.
Dan setelah semuanya terselesaikan, termasuk soal penampilan dan hal lainnya. Mereka pun sepakat untuk berangkat sekarang, sebelum matahari mulai terbenam ditempat itu.