Quennevia

Quennevia
Hari penentuan



Di siang hari, keputusan hari ini adalah memulai sidang tentang kematian Hudson, semuanya sudah disiapkan dengan sangat baik sampai saat ini sesuai rencana. Quennevia hanya perlu mempersiapkan dirinya untuk hal itu, sambil disisiri oleh Murphy di depan cermin.


" Murphy, apa semua yang ku katakan padamu sudah selesai??. " tanya Quennevia.


" Sudah Nona, saya bahkan sudah memberikan catatan pengakuan dari Nona Arissa kepada tuan Shin. " ucap Murphy dengan ceria.


" Begitu... " sahut Quennevia pula.


Dan Murphy merasa agak aneh dengan itu, " Nona apa ada sesuatu yang mengganggu anda??. " tanya Murphy pula.


" Ahaha... tidak, tidak ada sama sekali. " jawab Quennevia sambil tersenyum kikuk.


Sebenarnya sih memang ada yang sedang mengganggunya, yaitu adalah... ibunya yang terus saja melayang kesana kemari sambil mencoba bicara dengan Murphy, padahal dia sendiri yang bilang kalau tidak ada yang bisa melihat nya lagi.


" Halo... Murphy, apa kau mendengar ku, halo.. " ucapan-ucapan Misika.


" Ibu, tolong berhenti melayang-layang seperti itu, lagipula dia tidak akan bisa melihat mu_- " ucap batin Quennevia.


" Nah, selesai. " ucap Murphy pula, yang membuyarkan lamunan Quennevia.


Murphy memang benar-benar bisa diandalkan, hanya butuh waktu sebentar ia sudah selesai mendandani nya dengan sangat rapih. Murphy pun membereskan beberapa barang sebelumnya, sambil menunggu Quennevia yang masih duduk di depan cermin itu.


" Kyaa... Putriku memang sangat cantik. " ucap Misika dengan kegirangan.


" Ibu, lebih baik ibu kembali ke dalam kalung saja. Sekalian untuk memulihkan kekuatan jiwa ibu. " bisik Quennevia dengan sangat pelan.


" Heee... Kenapa?? Kau jahat sekali pada ibu. " ucap Misika pula, namun pada akhirnya tetap masuk ke dalam kalung itu tanpa banyak protes.


Quennevia menghela nafas lega, setidaknya ibunya lebih pengertian dari pada Xi atau Everon, iya dia memang yang terbaik pokoknya. Ia tidak sabar untuk membangkitkan nya kembali, setelah itu ia akan bisa bersama dengan nya.


Tapi saat ini dia harus menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu, untuk kematian ayahnya orang yang sudah membunuhnya harus mendapatkan hukuman yang pantas.


" Murphy, semuanya sudah siap. Ayo pergi. " ajak Quennevia.


" Baik, nona. " sahut Murphy.


*****


Dikediaman selir pertama, ia tangan mengemasi beberapa barangnya untuk segera pergi dari saja bersama dengan putrinya Adele. Hari ini adalah hari penentuan nasib nya, dan ia tidak ingin sampai berakhir dipenjara atau dihukum mati.


Ia sudah mengirimkan pesan kepada ayahnya terlebih dahulu, ayahnya bilang kalau dia akan membantu selir kedua dan Adele untuk pergi tanpa jejak, dengan begitu mereka bisa hidup bebas.


" Aku harus pergi, aku harus pergi. Adele apa kau sudah siap??. " ucap selir pertama.


" Sudah ibu. " sahut Adele.


" Kalau begitu ayo pergi. " ajak selir pertama pula.


Ia pun berjalan hendak pergi dari sana, tapi baru juga ia membuka pintu, disana sudah ada prajurit yang ingin menjemput nya. Ia berpura-pura tidak tahu dan menyembunyikan semua yang ia bawa, untuk berdalih di depan para prajurit itu.


" Anda mau ke mana, nyonya??. " tanya Ace dingin.


" A.. Aku ingin menemui putri kedua tentu saja. " dalih Selir pertama.


" Kalau begitu ayo ikut kami, putri sudah menunggu di pengadilan Kekaisaran. " ucap Riyan pula.


" Apa?? Kenapa di pengadilan?? A.. Aku sama sekali tidak ada hubungannya sama skali. " ucap selir pertama pula dengan gugup.


Tapi Ace dan Riyan sana sekali tidak menanggapi nya, ia jadi semakin gelisah karena tidak bisa mengecoh mereka bedua sama sekali.


" Kalian minggir lah dulu, aku akan pergi menemui putri kedua. " ucap selir pertama lagi.


Namun Ace dan Riyan masih sama sekali tidak mempedulikan nya, mereka pun hanya saling melemparkan pandangan satu sama lain.


" Kalau begitu, ayo ikut kami. " ucap Riyan, ia pun memerintahkan pasukan yang ada di belakang nya untuk menangkap keduanya.


" Apa?! Hai, lepaskan kami! Kalian kurang ajar!. " ucap selir pertama sambil mencoba. untuk memberontak.


" Lepaskan aku, lepaskan aku!. " ucap Adele pula.


" Kalian diharapkan untuk tetap diam. " ucap Ace dingin.


Mereka pun membawa keduanya pergi sesuai dengan perintah Quennevia, dalam perjalanan ke tempat pengadilan mereka juga berpapasan dengan selir kedua, yang juga di seret paksa dari tempatnya oleh paman Sven.


" Sven, lepaskan aku! Aku sama sekali tidak terlibat apapun dengan semua ini! lepaskan!. " ucap selir kedua.


" Nyonya Ellise, anda tidak perlu lagi mengelak, semuanya sudah jelas sekarang. " ucap paman Sven.


" Sialan, ini salah mu Anna! Aku harusnya tidak mempercayai mu!. " batin selir kedua sambil menatap selir pertama itu dengan tajam.


Paman Sven pun juga bergabung dengan Ace dan Riyan membawa ketiga dalang kejahatan itu untuk diadili. Ketiga nya sama sekali tidak bisa melakukan apapun lagi, mereka tidak punya kesempatan untuk lari dari situasi itu sama sekali.


Perhatian mereka pun teralihkan kepada Quennevia disebrang sana, yang sedang tersenyum sambil menatap rendah mereka. Tapi ada hal lain yang membuat mereka terkejut, mereka merasa seperti melihat Misika dibelakang Quennevia sedang menatap mereka dingin.


" Apa sekarang mataku juga mulai menipuku??. " batin selir pertama dengan sangat bingung dan takut, ia pun menoleh kearah selir kedua. " Tidak, nampaknya Ellise juga melihat nya. " batinnya pula saat melihat selir kedua yang juga sama ketakutan nya.


******


Di tempat persidangan.


Tidak seperti yang di bayangkan oleh Quennevia, kaisar sampai mengadakan nya diluar ruangan. Dengan begitu semua yang hadir juga bukan hanya orang-orang yang bersangkutan atau petinggi yang lain, bahkan rakyat pun juga bisa melihat nya dengan jelas.


Entah apa yang beliau pikirkan namun itu akan jadi cukup menyenangkan bagi Quennevia, perhatian nya teralihkan kepada Lecht yang memanggilnya dari tempatnya. Quennevia pun langsung menghampiri nya yang sedang bersama dengan kaisar.


" Quennevia menghadap paman kaisar dan juga kakak Lecht. " ucap Quennevia dengan sopan.


" Anak baik, kemarilah. " sahut kaisar.


Quennevia pun lebih mendekat lagi dan duduk di samping kaisar bersama dengan Lecht juga yang ada di sana, harusnya permaisuri yang duduk di samping kaisar, tapi sang permaisuri telah tiada sesaat setelah kelahiran pangeran Lecht. Dan karena itu sejak kecil Lecht diasuh oleh Misika, ibu Quennevia. Otomatis Quennevia juga sering bertemu dengannya dulu, karena itu juga Misika adalah seorang yang berharga baginya.


Quennevia sempat melihat kearah Ethan pula, yang ada di samping tempatnya berada, pria itu masih saja hanya tersenyum dengan sangat aneh. Tapi karena ia sudah terbiasa ia jadi tidak terlalu mempermasalahkan nya, perhatian nya kemudian teralihkan kepada Kaisar yang bicara padanya.


" Anak baik, aku sudah mendengar semuanya dari Shin, pasti sangat sulit bagimu untuk tinggal di tempat seperti itu. " ucap sang kaisar dengan raut penuh penyesalan, ia mengusap kepala Quennevia dengan sayang.


" Itu tidak masalah, paman. Berkat itu juga Quennevia bisa lebih dewasa dalam mengambil keputusan. " sahut Quennevia.


" Iya, itu sangat bagus. Tapi tetap saja, berani sekali dia memperlakukan keluarga kaisar seperti itu. Apalagi sampai membunuh ayahmu, aku tidak akan pernah memaafkan mereka. " ucap kaisar pula dengan mata yang penuh amarah.


" Paman Kaisar, Quennevia yakin paman sudah mendengar permintaan Quennevia. Saya harap paman tidak mengeksekusi mereka, setidaknya tidak saat ini. " ucap Quennevia pula.


" Quennevia, apa kau yakin dengan hal itu. Mereka sudah sangat keterlaluan, mereka harusnya mendapat balasan atas apa yang sudah mereka lakukan. " ucap Lecht pula angkat suara, ia bingung kenapa Quennevia tidak ingin mereka di hukum mati, bahkan kaisar pun sama bingung nya.


Apalagi sampai menunda nya seperti itu, bagaimana jika mereka malah berusaha kabur nantinya. Mengingat siapa orang yang ada di belakang Anna dan Adele.


" Kakak, selama mereka dihukum meski itu bukan hukuman mati, itu sudah sangat adil. Sebagai gantinya kurung saja mereka seumur hidup mereka. " jawab Quennevia mencoba meyakinkan keduanya.


Iya, itulah yang diucapkan Quennevia, tapi sebenarnya ia memikirkan hukuman lain saat mereka dipenjara nantinya. Dia bisa lebih bersenang-senang lagi dengan nya, seringai licik pun juga tersembunyi di balik wajah cantiknya itu.


Tidak lama kemudian, persidangan itu pun akhirnya dimulai. Para selir dan juga Adele beserta beberapa komplotan nya yang ada di kediaman Hudson, semuanya dikumpul kan di sana. Berlutut di tengah-tengah agar dapat dilihat semua orang, rakyat yang datang juga tidak sedikit, orang-orang menatap mereka dengan sangat marah.


Dan akhirnya Shin pun membacakan semua kejahatan yang sudah mereka lakukan.