
Quennevia pov..
Braakk...
Setelah aku mengatakan kata-kata itu kepada Ethan, aku langsung pergi ke menara tempat kamarku berada dan mengunci diri di sana. Tubuhku merosot sambil bersandar di belakang pintu itu, air mata terus mengalir tak bisa ku hentikan.
Aku pernah tak bisa memikirkan hal lain lagi yang bisa semenyakitkan ini, padahal kupikir aku bisa merasakan setidaknya kebahagiaan kecil yang tidak bisa kudapat di dunia ku sebelum nya. Kupikir semuanya akan berbeda... namun semuanya sama saja.
" Hiks.. Hiks.. Kenapa??.. Hiks.. Kenapa harus aku?? Hiks... " tangisku.
Seluruh dunia ku serasa hancur berantakan, mengapa rasanya bisa sesakit ini. Hatiku rasanya seperti diremas-remas, membuat dadaku jadi terasa sesak. Hal ini lebih menyakitkan dari pada yang aku duga sebelumnya. Jika saja aku tahu akan sesakit ini... aku tidak akan membuka hatiku untuk siapapun.
Andai saja waktu bisa kuulang, andai saja hal itu mungkin ku lakukan. Aku ingin kembali ke masa-masa dimana aku belum jatuh cinta kepadanya, jika dengan begitu aku bisa menghindari rasa sakit ini, jika saja... jika itu memang mungkin...
Aku bahkan tidak tahu sejak kapan aku jatuh cinta padanya, sejak kapan dia jadi begitu berharga bagiku, sejak kapan dia jadi segalanya dalam hidupku. Entah sejak kapan juga.. ketika bertatapan dengan matanya itu, jantungku tiba-tiba berdetak dengan kencang.
Melewati semua waktu yang menyenangkan dan menyedihkan bersama, namun baginya mungkin hanya sebuah permainan, hanya sebuah lelucon kecil. Tapi aku malah terbuai dengan semua kehangatan nya yang kuanggap nyata itu.
Padahal aku hanya seseorang yang kebetulan lewat di hidupnya, dan secara tidak sengaja berteman dengan nya. Pada akhirnya aku hanya akan terlewatkan seperti sebagaimana mestinya, aku tidak akan pernah masuk ke dalam hatinya. Bodoh karena aku mengharapkan sesuatu yang disebut cinta, tidak ada siapapun yang mencintai ku didunia ini, di dunia manapun.
Betapa bodohnya aku menganggap semua hal ini adalah kenyataan, kini semuanya sudah berakhir. Aku Bagaikan benda yang dibuang, dan dia pun akan segera melupakan ku seutuhnya. Tetapi kenapa... kenapa semua kenangan itu, malah dengan keras kepala tetap tinggal di hatiku.
" Hiks.. hiks.. hiks.. Ibu.. Ibu.. aku kesepian.. tolong aku.. Hiks... "
" Master... "
Saat kudengar suara yang memanggil ku penuh kekhawatiran itu, aku pun mendongakkan kepalaku. Yang kulihat di depan ku saat ini..
Yue dengan wajah yang penuh kelembutan berada tepat di depan ku.
Tidak ada lagi yang bisa kupikirkan, tidak ada lagi yang bisa kumengerti. Aku yang dipenuhi kebingungan itu pun lantas memeluk Yue yang tepat berada di depanku dengan erat, ku tumpahkan segala sesak dihatiku pada nya, semua yang kurasakan saat ini.
" Huaa... Yue, kenapa.. kenapa rasanya sangat menyakitkan?! Kenapa harus aku yang merasakan ini?!. "
" Master.. "
Aku merasakan sesuatu yang basah dan hangat mengenai punggungku ketika Yue memelukku, aku tahu... dia menangis, dia menangis untuk ku. Namun aku sama sekali tidak tahu harus melakukan apa, saat ini pun aku tidak bisa menghentikan tangisku sendiri. Aku sama sekali tidak bisa berpikir apa-apa lagi.
" Tidak apa-apa, aku ada di sini. " ucap Yue pula sembari menenangkan ku.
Hari pun berubah malam dengan udara yang dingin, di iringi oleh hujan yang masih turun membuat suasana semakin buruk. Aku pun juga tak kunjung berhenti menangis, aku hanya berbaring di kasur ku sambil menutupi diriku dengan selimut. Dengan Yue yang juga terus menemani ku di sana, duduk tepat di sebelah ku.
" Master.. Aku tidak akan membiarkan saja orang yang membuatmu jadi seperti ini. "
*********
Author pov..
Sementara itu diluar sana, dibawah menara. Ethan hanya menatap menara itu dengan tatapan kosong dibawah guyuran hujan, hatinya seperti ditusuk oleh pisau mengingat apa yang Quennevia katakan tadi. Padahal bukan itu yang ia inginkan, padahal ia berharap jika saja Quennevia bisa mendengarkan penjelasan nya lebih dulu.
Ia tidak punya keberanian untuk naik ke atas sana saat ini, dia tidak mau melihat penolakan Quennevia kepada nya lagi. Namun mengingat ketidak beranian nya itu semakin membuat Ethan terpuruk, dia merasa benar-benar tidak berguna.
" Kenapa... Semuanya jadi seperti ini?!. " batinnya.
Ia merutuki dirinya sendiri yang begitu bodohnya membiarkan semua ini terjadi, harusnya dia tahu akan terjadi hal seperti itu jika dirinya tidak menganggap semua yang terjadi dengan lebih serius.
" Aku ini... benar-benar tidak berguna. " gumam Ethan sambil tersenyum getir.
Ia pun berbalik dari sana untuk pergi, mungkin besok ia akan memberanikan diri untuk datang ke sana dan menjelaskan nya kepada Quennevia. Setidaknya ia berharap jika Quennevia mau mendengar kan nya nantinya.
Tapi langkah Ethan terhenti ketika melihat seseorang berdiri di depannya, penglihatan Ethan buram karena terlalu lama ada di bawah hujan seperti itu. Namun dari wujudnya ia bisa langsung tahu jika itu adalah Yue.
" Kenapa kau malah bertanya keadaan Master saat ini?? Sudah pasti dia sangat hancur, hancur karena dirimu!!. " bentak Yue dengan emosi yang menggebu-gebu.
Ethan pun tersentak, ia tahu kalau Quennevia akan hancur, namun mendengar nya langsung seperti itu semakin membuat hatinya perih. Air matanya pun ikut mengalir bersamaan dengan air hujan yang membasahi dirinya itu.
" Jika bukan karena mu... Tidak, jika bukan karena perempuan itu yang tidak segera kau singkirkan, Master juga tidak akan seperti ini. " ucap Yue pula yang ikut menangis mengingat sosok Quennevia sebelumnya.
" Kau tahu... Master begitu mencintai mu, bahkan dia rela memberikan segala nya kepada mu jika perlu. Dia bahkan selalu siap mempertaruhkan nyawanya hanya untuk menyelamatkan mu. Tetapi kenapa?!! Kenapa kau malah menghancurkan nya seperti itu, apa yang bisa kau lakukan untuk menebus kesalahan mu kepada nya itu?!!. " ucap Yue pula.
Sementara itu Ethan hanya terdiam, kemudian ia pun berkata.. " Aku memang bodoh, bodoh, bodoh!! Dan bodohnya aku malah menyakiti orang seberharga Quennevia, jika saja.. jika saja aku diberi kesempatan aku pasti akan menjelaskan semuanya kepada. Tapi sekarang.... " ucap Ethan yang menahan kata-kata nya.
" Karena salah mu... Master jadi seperti ini, karena salah Beatrice.. khh.. Semuanya adalah salah kalian!!!. " teriak Yue dengan mata yang memancar penuh kebencian.
Dia punya kenangan yang buruk saat kehilangan majikan nya dulu, dan sekarang... saat dia sangat menyukai Quennevia, dia juga malah harus melihat nya sehancur itu, tentu saja membuatnya sangat marah!!.
Yue mengumpulkan kekuatan penuh nya dalam tubuhnya, ia bersiap untuk menyerang Ethan.
" Jika kau tidak bisa menebus dosamu itu, maka entahlah dari dunia ini!!. " teriak Yue pula dan ia pun melancarkan serangan nya itu kepada Ethan.
******
Disisi lain, asrama perempuan. Lebih tepatnya di kamar Niu, Meliyana dan Yuki. Sejak tadi mereka merasa gelisah akan sesuatu, dan seolah merasakan gelombang kebencian yang sangat besar.
" Sebenarnya... pertanda apa ini ya??. " ucap Niu bertanya-tanya.
" Padahal aku sangat berharap bukan hal buruk. " ucap Meliyana pula menimpali.
" Kurasa kita harus-.... " ucap Yuki yang terpotong.
Ddrrrr....
Saat mereka merasakan getaran yang cukup besar di sekitar sana, bahkan semua barang di asrama pun ikut bergetar hingga membuat para murid lain panik.
" A-apa ini?? Gempa??. " ucap Meliyana pula.
" Bukan. Aku merasakan kekuatan yang sangat besar tak jauh dari menara Quennevia. " ucap Yuki.
Sementara itu Niu, " Ayo kita lihat. " dia pergi lebih dulu dari mereka.
Yuki dan Meliyana pun saling pandang dan menganggukan kepala mereka satu sama lain, mereka pun pergi menyusul Niu keluar dari sana. Banyak murid yang ikut bingung dengan apa yang terjadi, tapi mereka tidak ingin para murid itu keluar, dan kebetulan sekali Kai lewat di sana.
" Kai!. " panggil Meliyana yang masih berlari kearahnya.
" Putri Meliyana, Putri Yuki. Sebenarnya apa yang terjadi, seperti nya ada seseorang yang sedang bertarung. Dan tadi Niu juga lewat dengan tergesa-gesa. " ucap Kai dengan raut wajah yang sangat bingung.
" Kita bahas nanti saja, ya. Tolong jaga para murid agar tidak ada yang keluar satupun. " ucap Meliyana sambil berlari pergi dari sana.
Bukan hanya mereka yang ikut merasakan hal itu, namun para murid diasrama laki-laki, guru dan para tetua juga. Semua disuruh tetap di raungan masing-masing, dan yang pergi melihat kesana hanya Arkan dkk, dan para tetua saja. Sama seperti yamg dilakukan oleh Meliyana dkk tadi.
" Kalian juga kesini??. " tanya Oscar saat mereka berpapasan di jalan menuju sana.
" Iyah, kami agak khawatir dengan situasi saat ini. " jawab Yuki.
" Tetua, apakah ada penyerangan??. " tanya Arkan pula kepada para tetua.
" Seperti nya tidak, tidak ada tanda-tanda musuh yang masuk ke Akademi. " jawab Tetua Rouen.
" Tunggu, lihat!. " ucap Niu pula yang membuat semua orang tertuju kepada apa yang dimaksud olehnya. Dan tentu saja apa yang mereka lihat itu benar-benar mengejutkan sekaligus membingungkan.