Quennevia

Quennevia
Kagura



-- 2 bulan setelah penyerangan itu.


Semua aktifitas sudah kembai seperti biasanya, dan untungnya tidak ada bangunan yang rusak di Akademi, sehingga tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh para murid. Dan mereka kembali ke sana dengan perasaan yang lega karena tidak ada kerusakan sama sekali.


Ada pun Quennevia, ia meminta Azel dan Aqua untuk membantunya sebelum pergi dari Akademi itu, mereka sama sekali tidak bisa menolak permintaan Quennevia, jadi keduanya tinggal di sana untuk beberapa waktu sampai permintaan Quennevia terpenuhi.


Sejak kejadian itu Quennevia tidak seceria biasanya, namun ia masih lembut kepada teman-teman nya. Jadi mereka tidak mempermasalahkan hal itu, asalkan Quennevia baik-baik saja.


Kini Quennevia dan teman-temannya memiliki status baru di sekolah itu, mereka sudah jadi senior baru di Akademi dalam waktu yang singkat, sementara itu Lilac dan juga Kian dkk diluluskan lebih awal dari pada murid sebaya nya.


Alasan nya, karena mereka memiliki pemahaman dan juga kekuatan yang lebih tinggi dari teman-teman seusia nya. Para murid baru juga mulai berdatangan di Akademi, situasinya sama halnya dengan waktu Quennevia dan teman-temannya nya datang ke Akademi ini dulu.


Tap.. Tap.. Tap.. Tap..


Suara sepatu milik seorang gadis yang tidak lain tidak bukan adalah Quennevia.. bergema di lorong sepi di sana, ia tengah berjalan menuju teman obat milik Akademi. Dia lebih memilih kesana sebelum pergi ke arena tempat dimana para murid baru tengah mengadu kekuatan nya bersama para senior nya, sama halnya dengan Quennevia dulu.


Ceklek....


Ketika Quennevia membuka pintu kaca di teman itu, matanya sudah disuguhkan dengan berbagai tanaman obat yang ditanam di sana. Kemudian ia pun terus berjalan menyusuri teman itu menuju ke pusat tempat itu, dan perhatian nya sudah tertuju kepada Aqua dan juga Reil yang ada di sana.


" Bibi Aqua, Pak Reil. Apa yang sedang kalian lakukan??. " tanya Quennevia kepada kedua nya.


Mereka berdua yang tengah sibuk meneliti pun langsung menoleh kearahnya, " Quennevia, kapan kau datang??. " tanya balik Reil.


" Baru saja, apa kalian masih sibuk meneliti tanaman-tanaman di sini??. " sahut Quennevia.


" Iya, kau tahu sendiri. Tenang racun dan juga obatnya, jika kita bisa mempelajari nya kita juga bisa bersiap jika saja ada yang mengunakan nya. " jawab Aqua.


" Apa kau kemari untuk bertemu dengan nya??. " tanya Reil yang dibalas anggukan oleh Quennevia, " Dia ada di sisi lain tempat ini, itulah adalah taman bunga milik tetua Kara. Kau bisa kesana untuk melihat nya. " ucap Reil pula.


" Baiklah, Terima kasih. " ucap Quennevia yang kemudian langsung pergi dari sana.


Tempat yang dimaksud oleh Reil itu masih terhubung dengan tempat nya sekarang, jadi hanya perlu berjalan tak jauh dari saja ia pun sudah sampai. Dan ketika ia membuka pintu kaca lain nya di sana, perhatian nya langsung terarah kepada seorang gadis kecil yang tengah memperhatikan bunga bunga dan seekor burung di sana.



" Kagura.. " panggil Quennevia dengan lembut kepada gadis itu.


Gadis bernama Kagura yang mendengar nya pun langsung menoleh kearahnya, senyuman yang lebar pun langsung mengembang di wajahnya ketika melihat Quennevia.


" Kakak~" panggilnya dengan girang, Kagura pun langsung bangkit dari duduknya dan berlari menghampiri Quennevia yang ada disana. " Hahaha... Apa kakak datang mengunjungi ku??. " tanyanya pula.


" Tentu saja, lagipula hanya kau yang ada di sini. " sahut Quennevia sambil mengelus kepala Kagura.


Iya, dia seperti yang kalian pikirkan. Jiwa Kagura yang ada di dalam bola yang diberikan oleh Lorenzo waktu itu, Quennevia memindahkan nya ketubuh lain hingga akhirnya Kagura kecilnya bisa hidup kembali. Sebenarnya bukan dia yang lakukan, tapi Azel dan Aqua, itulah permintaan Quennevia dua bulan yang lalu.


Meskipun Quennevia juga bertanya-tanya bagaimana caranya Lorenzo bisa membawa jiwa Kagura dan memasukkan nya ke dalam bola itu, tapi itu bukan hal yang terlalu penting untuk nya. Saat ini Kagura jadi agak mirip dengan nya, karena saat penyatuan tubuh dan jiwa Kagura, Quennevia mengunakan darahnya untuk menyatukan jiwa dan tubuh Kagura.


Kagura juga tidak bisa mengingat apapun dari kehidupan sebelum nya, tapi itu lebih baik dari pada mengingatkannya kepada kenangan pahitnya. Selama dua bulan itu pula Kagura tinggal di dalam rumah kaca itu, dan tidak ada seorang pun yang mengetahui nya kecuali para guru dan tetua.


Dan tubuh Kagura juga sudah beradaptasi dengan jiwanya, sehingga bisa tumbuh dengan cepat menyesuaikan umur jiwa Kagura saat ini, yaitu 14 tahun. Itu artinya dua tahun setelah Quennevia tiada, Kagura juga tiada dan ada kemungkinan itu bersamaan dengan Lorenzo, atau mungkin pula... mereka berdua mati saat melakukan pertarungan. Mengingat Lorenzo punya dendam dengan Kirito, sementara Kagura selalu ada di sisi Kirito.


" Kakak. " panggil Kagura yang membuyarkan lamunan Quennevia.


" Hm??.. " sahut Quennevia sambil memiringkan kepalanya.


" Kakak, aku bosan di sini. " rengek nya dengan manja.


Quennevia terkekeh mendengar nya, ia tahu hal itu. Apalagi dia yang terus bersembunyi di sana dan tidak pernah ke mana-mana, sudah pasti akan sangat bosan karena sendirian terus.


" Kalau begitu apakah Kagura ingin ikut kakak ke arena??. " tanya Quennevia pula.


" Iya. " jawab Kagura dengan cepat.


" Ayo. " ajak Quennevia yang berjalan lebih dulu, barulah Kagura pun mengikuti nya dibelakang.


*******


Beberapa saat kemudian...


Brukk...


" Pemenangnya... Ethan, dari anggota murid senior. " ucap wasit yang ada di sana.


" Woohhh.... "


Seluruh arena dibuat bergetar karena sorak-sorai itu, apalagi saat melihat Ethan hanya mengalahkan murid baru itu dalam hitungan ke sepuluh tarikan nafas. Dan setelah itu ia pun kembali ke kursi penonton bersama teman-teman.


" Woww.. Senior Ethan sangat hebat. "


" Ya ampun, sudah tampan kuat pula. "


" Astaga, apakah dia benar-benar manusia??. "


" Hebat sekali!. "


Kira-kira seperti itulah ucapan-ucapan orang-orang disana, namun Ethan sama sekali tidak menghiraukan nya.


" Yo... Kau semakin hebat saja, kawan. " ucap Arkan.


" Haah... padahal aku tidak ingin bertarung. " sahut Ethan sambil duduk di tempat nya.


" Hahaha... jangan seperti itu, kau tidak dengar ya para penonton menyoraki mu dengan penuh semangat. " ucap Meliyana.


" Iya, pertarungan yang cukup bagus. " ucap Niu pula menimpali. Keduanya selalu saja sepemikiran akan hal seperti ini.


" Tidak, itu sama sekali tidak bisa disebut pertarungan. " ucap Quennevia yang tiba-tiba muncul di sana, tepat berdiri di samping Yuki yang biasa saja melihat nya.


Sementara itu teman-teman nya terkejut karena Quennevia yang tiba-tiba muncul itu, mereka tidak mendengar dan merasakan kedatangannya.


" Quennevia..., jangan muncul seperti itu dong. Kau mengejutkan kami. " ucap Oscar.


Quennevia hanya meliriknya sekilas kemudian kembali ke arena, semetara itu teman-teman nya mulai menyadari keberadaan seorang gadis kecil yang mengintip mereka dari samping Quennevia.


" Umm... Quennevia, gadis itu siapa??. " tanya Ryohan, sedangkan Kagura yang mendengar nya langsung bersembunyi dibalik Quennevia karena malu.


" Adikku. " jawab Quennevia singkat.


Sementara yang lainnya terperangah, disisi lain Yuki masih biasa-biasa saja meskipun ia juga terkejut. Karena melihat mereka se-terkejut itu mendengar nya ia pun menghela nafas panjang, kemudian menjelaskan alasan keberadaan Kagura dan juga siapa dia (Kecuali fakta bahwa dirinya dan juga Kagura pernah hidup di dunia lain dan pernah mengalami yang namanya mati)


" ... Begitu. " ucapnya setelah penjelasan panjang itu.


" Ouh, seperti itu. " ucap mereka pula serempak.


" Hai Kagura, ayo berkenalan dengan kami. " sapa Niu dengan ramah.


Namun Kagura masih ragu dan malu kepada meraka, sampai Quennevia yang menyentuh kepalanya membuatnya mendongak dan menatapnya.


Quennevia pun tersenyum, " Tidak apa-apa, pergilah. " ucap nya dengan lembut.


Kagura yang melihat nya pun memberanikan dirinya dan mengangguk kepada Quennevia, kemudian ia pun berjalan kedepan teman-teman nya untuk memperkenalkannya diri.


" Ha.. Halo, namaku Kagura. Aku adiknya kak Quennevia, senang bertemu dengan kalian. " sapa Kagura dengan malu-malu.


" Ahh... Astaga, dia benar-benar sangat lucu. " ucap Arkan yang merasa gemas.


" Hoho... Hai Kagura, namaku Meliyana. Dan ini Niu, lalu Oscar, Ethan, Arkan dan juga Ryohan. Jangan lupakan juga Yuki si gunung es kami. " ucap Meliyana dengan sedikit bercanda.


" Siapa yang kau sebut gunung Es??. " tanya Yuki dengan tatapan tajam.


" Hehe... Bercanda. " sahut Meliyana sambil mengangkat kedua jarinya membentuk huruf V.


Yuki hanya mendengus kesal karena nya sementara yang lain tertawa, Kagura pun juga jadi ikut tertawa karena tingkah mereka yang sangat menyenangkan itu.