
[Season 2]
Itu sebuah dunia yang benar-benar berbeda, semua hal yang ada ditempat itu adalah sesuatu yang tidak pernah mereka lihat didunia tengah. Dan sepanjang jalan, mereka disuguhkan dengan bunga-bunga lily laba-laba merah yang seolah menyambut mereka.
Ethan dan yang lainnya telah mengenakan jubah transparan, dan membuat keberadaan mereka tidak terlihat disana. Meski begitu, beberapa kali... Mereka harus dibuat gugup oleh beberapa makhluk yang ada disana, yang bisa mencium hawa kehidupan mereka.
Salah satunya, ketika mereka berjalan menuruni tangga tempat gerbang itu berada. Mereka harus dihadapkan dengan sesosok anjing besar dengan tiga kepala yang berjaga ditempat itu. Yang mana dia langsung bangun dan menggeram kearah mereka meski tidak bisa melihat mereka.
Untunglah tidak ada yang terluka, dan tidak ada pertarungan. Mereka bisa melaluinya dengan selamat. Meski begitu, tetap saja itu menegangkan...
" Ethan... Apa kau benar-benar tahu dimana benda yang kita cari disini??" suara Arkan terdengar disana.
" Ah, soal itu-..." kata-kata Ethan terhenti ketika ia menolehkan kepalanya ke belakang sana, dia benar-benar sangat terkejut ketika melihat ekspresi teman-temannya.
Itu bukan ketakutan, bukan pula rasa sakit karena tekanan, namun... Mereka lelah.
Mereka terlihat seperti Zombie berjalan jika diperhatikan dengan seksama.
" I-Itu... kalian baik-baik saja?" dia agak prihatin dengan kondisi mereka saat ini, mereka terlihat seperti akan segera pingsan.
Dipikir-pikir mereka memang telah berjalan jauh, dan dibebarapa saat mereka harus dibuat merasakan ketegangan yang ekstrim. Mereka bahkan tidak punya waktu beristirahat yang benar.
Saat kemudian, Niu yang mendengar itu pun berkata. " Cukup.. Katakan dimana tempat nya.." ucapnya dengan terengah-engah.
Mereka bisa bernafas dengan baik disini berkat pil, meski begitu udara disini tetap lebih berat bagi mereka. Jadi wajar saja mereka seperti itu, Ethan tidak terlalu memperhitungkan kemungkinan ini.
" Benda itu sebenarnya ada..." Ethan pun kemudian menggangung kata-katanya dengan ekspresi ragu-rahu dan sedikit memikirkan itu.
" Sebenarnya..."
Sementara itu, teman-temannya telah menunggu-nunggu hal itu. Mereka bahkan sedikit mencondongkan tubuh mereka kearah nya...
Karena ekspresi Ethan benar-benar serius, itu membuat mereka berpikir kalau itu tempat berbahaya. Namun...
"..... Sebenarnya aku juga tidak tahu." namun itulah yang kemudian ia katakan.
Mendengar apa yang dikatakan Ethan itu membuat mereka terperangah, padahal sedari tadi mereka berjalan mengikuti Ethan entah ke mana. Itu karena mereka pikir dia tahu, tapi rupanya...
" Jadi kita akan pergi ke mana, Ethan? Kita sudah berjalan tanpa tujuan sejak tadi, kami pikir kau tahu. Jika seperti ini, kenapa kita tidak mencarinya dihamparan bunga yang luas itu, hah?!" ucap Arkan kemudian sambil mengeluh kesal.
Tapi Ethan yang ada didepan sana, justru menatapnya dengan ekspresi lelah. " Jika seperti itu, kapan kita selesainya? Apa kalian lupa kalau waktu disini berjalan lebih cepat?"
Yuki yang mendengar itu pun cukup setuju, " Masuk akal juga.."
Ethan menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan, " Benar. Lagipula.. Mana mungkin bunga berharga seperti itu dibiarkan begitu saja ditempat seperti ini. Tentu saja harus ada perlakuan khusus.." ucapnya yang kemudian kembali berjalan.
" Jadi kita akan ke mana??" Meliyana pun angkat bicara, yang mana jawaban itu juga ditunggu-tunggu oleh yang lainnya.
Ethan yang sudah agak jauh dari mereka kembali menghentikan langkahnya dan berbalik kembali, saat kemudian teman-temannya merasa gugup karena menyadari senyuman aneh diwajahnya.
Iya, Ethan tersenyum. Namun ada yang aneh dengan senyuman itu, berbeda dengan senyuman Ethan yang bisanya terlihat lembut atau main-main. Senyuman nya kali ini terlihat dingin.
Ethan pun membuka mulutnya dan menjawab, " Kita akan pergi ke tempat itu..."
" Tempat itu...??"
" ...Istana Hades."
(Btw, author nya mau ngingetin. Namanya ini cuma dipakai supaya bernama aja, jadi gak ada hubungannya sama mitology yang ada atau cerita-ceritanya. Jadi tolong jangan terlalu dipikirkan)
***
Tak berapa lama dari saat ketika mereka mendengar rencana Ethan, sekarang mereka berada tepat didepan sebuah bangunan yang begitu besar. Istana yang menjulang tinggi dalam kegelapan ini terlihat cukup menyeramkan, namun disaat yang sama juga terlihat megah dan mewah.
Oscar dan yang lainnya masih merasa tidak percaya kalau mereka saat ini... sedang berdiri dihadapan istana dari pemilik dunia bawah. Perasaan gugup seketika menyelimuti mereka, disaat yang sama rasa takut pun perlahan menggerogoti hingga rasanya mereka tidak bisa bergerak sedikitpun. Bahkan hanya untuk menatap dengan berani...
" Jangan khawatir..."
Saat suara hangat itu kemudian memasuki telinga mereka, semua orang yang sebelumnya dilanda kecemasan pun langsung mengangkat kepala mereka yang tertunduk menatap kearah Ethan yang ada dihadapan mereka.
" ...Tidak akan ada.. Yang berani menyentuh kalian selama aku ada disini." ucapnya pula menenangkan teman-temannya nya.
Itu kata-kata yang sederhana, dan jujur saja tidak terlalu berarti bagi orang normal karena mereka akan berhadapan dengan dewa yang menciptakan dunia dimana mereka berada saat ini.
" Aku akan memanggil mereka." ucap Ethan kemudian menyadarkan mereka dari lamunan.
Disaat yang sama, Oscar menarik nafasnya sejenak, dan kemudian kembali menghembuskan nya dengan pelan. Ia pun menjawab... " ...Silahkan."
Ethan yang mendengar jawaban itu darinya pun menganggukan kepalanya dan mengulurkan tangan kearah sebuah lonceng disisi anak tangga didepan mereka. Dan ia pun membunyikan lonceng itu...
Teng...
[Siapa itu..?]
Tidak sampai sepersekian detik dari lonceng itu dibunyikan, sebuah suara langsung muncul menyahuti disana. Suaranya terdengar serak dan rendah, diikuti dengan sensasi dingin yang menyelimuti.
Disana mereka melihatnya, dibarisan ke sepuluh anak tangga diatas mereka. Sesosok yang terlihat seperti manusia, dengan mengenakan jubah hitam dan kerudung yang senada, semua bagian darinya adalah warna hitam seolah menegaskan tempat ini. Berdiri diam dalam keheningan.
Dan dengan aura yang membuat mereka semua langsung bergidik ngeri.
***
- Pegunungan hitam, kastil klan Retia.
Lorenzo terdiam menatap langit kelabu disalah satu jendela yang ada disana. Ini sudah lama... Lama sekali sejak konflik terakhir terjadi dengan pihak yang ada 'disisi lain'. Ia masih memikirkan masa itu..
Ketika Quennevia membantai orang-orang didunia lamanya.
" Pfftt..."
Itu membuatnya merasa ingin tertawa, pemandangan yang aneh.
Orang-orang selalu bilang jika pembunuhan adalah dosa, dan mereka yang berdosa akan dihakimi. Didunia ini, Putri Empat dunia adalah hakim dewa yang menghakimi orang-orang berdosa. Tapi jika dia lah yang menjadi pembunuh, kenapa dewa tidak menghukumnya?
Apakah reinkainasi tanpa akhir itu adalah hukuman yang dia dapatkan karena hal itu? Tidak... Rasanya terlalu berlebihan hanya untuk itu.
" Bagaimana pun itu ini menarik untuk diungkap..."
Lorenzo benar-benar penasaran dengan apa yang ada dibelakang sana.
" Kakak."
Saat kemudian suara itu muncul disana.
Lorenzo pun membalikan tubuhnya ke belakang sana, menatap seseorang yang baru saja masuk ke dalam sana. Orang yang lahir menjadi adiknya didunia ini, dan orang yang telah menipu dewa demi dirinya.
" Ada apa, Ryohan? Apa ada yang kau inginkan?" Ia pun kemudian bertanya kepadanya.
Ryohan yang mendengar itu pun hanya tersenyum dan sedikit menghela nafas, kemudian ia pun berkata. " Apa? Tidak. Aku hanya ingin melihat wajah kakakku. Akhir-akhir ini kau terlihat sangat bahagia, kak. Apa kau yakin tidak ingin mencegat Ethan dan teman-teman nya mendapatkan tubuh suci baru untuk Quennevia??" pada akhirnya dia tetap bertanya.
" Hm... Apa yang salah dengan itu?"
" Maaf?"
Ryohan agak bingung sekarang. Tentang alasan kakaknya begitu tenang dengan hal itu, padahal jika dia bergerak dan merebut sekarang dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.
" Apa kakak lupa? Quennevia, tubuh suci, kekuatan dewa. Putri Empat Dunia akan kembali jika kita membiarkannya. Kupikir kau menginginkannya?"
" Quennevia terlalu berbahaya..." Apa yang dikatakan Lorenzo memang benar, tapi kelihatan nya dia punya rencana lain. "... Aku tidak mau mengambil resiko, meski jika dia lahir dengan tubuh yang baru dan tidak punya ingatan, dia akan mendapatkan nya kembali seiring waktu. Sekalipun sisi jahatnya keluar, dia tetap akan memusuhi kita." lanjutnya pula.
" ...Jadi apa yang akan kakak lakukan??"
Mendengar pertanyaan itu dari adiknya, Lorenzo pun menarik senyuman dingin diwajahnya, dan ia pun menjawabnya. " Aku tidak membutuhkan Quennevia... Tapi aku hanya membutuhkan ego Nevia." itulah jawaban yang ia berikan.
" Ah..."
Itu benar, Ryohan melupakan hal itu...
Semakin banyak Quennevia bereinkainasi, semakin banyak alter ego yang tercipta dalam dirinya. Sirius dan Nevia hanyalah salah satu dari sekian banyaknya saja, dan asalkan kakaknya, Lorenzo bisa mendapatkan ego itu, dia bisa membuat orang lain menjadi orang yang dia inginkan dengan menempelkan ego tersebut dan membunuh ego lama dari tubuh nya.
Ditambah, ego yang telah keluar dari Quennevia tidak akan terhubung lagi dengan nya, dia tidak akan mendapatkan ingatan yang sama dengan ingatan yang dimiliki Quennevia. Dia benar-benar akan menjadi pribadi yang baru sepenuhnya.
" Jadi.. Bukankah ada baiknya.."