
[Season 2]
" Jawabannya adalah apa yang Quennevia lihat sejak tadi." ucap Ethan menanggapi Keingintahuan mereka, sembari menatap Quennevia yang terus menatap ke atas didepan sana.
Mereka masih agak bingung dengan itu, apa yang Quennevia lihat disana padahal langit-langit dipenuhi dengan awan yang bahkan mencoba menutupi bulan purnama yang terang. Sampai kemudian, Sakura menjawabnya...
" ...Bintang."
" Huh??" Semuanya menatap Sakura segera setelah ia mengatakan itu.
Tidak ada bintang yang terlihat diatas sana, jika benar ia menatap bintang, bagaimana bisa ia tahu posisi mana tepatnya bintang itu berada. Namun....
" Setelah dipikir-pikir, istilah 'bintang' memang sering kita temukan dalam perjalanan kita." ucap Oscar tiba-tiba.
Dan Yuki juga menganggukkan kepalanya setuju dengan itu, " Benar."
Bintang yang merujuk ke setiap hal. Bubuk bintang, berlian yang adalah bintang. Lukisan kuno yang mereka temukan dengan ukiran bintang, ramalan tentang bintang didunia bawah. Dan... Cerita yang berisikan dewi bintang didalamnya.
Jika seperti itu...
" Apakah petunjuknya ada pada bintang yang dilihat Quennevia? Bintang mana itu?" tanya Oscar kemudian.
" Nevia sudah menuliskan semuanya dibanda-benda yang kita temukan." ucap Ethan menimpali, ia pun kemudian membalik dan menunjukkan kode itu kepada mereka. " 'UM' dalam kode ini, kurasa maksudnya adalah Ursa Mayor atau mungkin Ursa Minor. " ucapnya sambil menunjuk kata itu.
Membuat mereka yang mendengar nya sadar dengan apa maksud nya...
" Nama dari kedua rasi bintang ini hampir sama yang juga berarti 'Beruang Besar' dan 'Beruang Kecil', ini terhubung dengan cerita dalam buku itu. Beruang besar yang menjaga anak perempuan itu seperti anaknya sendiri, maka kita bisa pakai istilah beruang kecil untuk anak perempuan dalam cerita itu." ucapnya pula.
" Kalau begitu... +90°, -30°, adalah garis lintang bintang tersebut, sementara 9pm adalah jam paling baik untuk melihatnya, dan angka 04 artinya bulan April. Benar, kan?" sahut Sakura pula meneruskan nya. Yang juga diangguki oleh Ethan
" Bagaimana dengan N dan P yang tersisa??" tanya Arkan kemudian.
Dia tidak mengerti masalah bintang-bintang atau sebagai nya. Apalagi apa yang mereka bicarakan sekarang, tapi ia mulai bisa mencerna informasi itu dengan lebih baik setelah mereka mengurai setiap kode dan teka-teki dalam petunjuk yang ditinggalkan ini.
" Itu mudah, rasi bintang itu akan tetap berada di arah utara, tepatnya di atas kutub utara sepanjang tahun. Jadi 'N' adalah North yang artinya utara, kan? Sedangkan 'P', itu adalah bintang paling terang di rasi Ursa Minor, Polaris. Julukan Polaris adalah bintang utara atau bintang kutub, bintang yang kira-kira sejajar dengan sumbu rotasi objek astronomi. Dan pola pada foto dan jurnal yang kalian temukan adalah gambaran rasi bintang itu. " Jelas Ethan dengan lebih detail kepada mereka, dan itu membuat semuanya jadi mengerti.
Kalau begitu, sekarang semuanya jelas. Tujuan mereka selanjutnya.
Semuanya sudah memikirkan itu ketika mendengar penjelasan dari Ethan soal kode yang mereka dapat itu, dan kelihatan nya.. semuanya sangat antusias dengan itu.
" Kalau begitu, tujuan kita selanjutnya adalah...!" ucap Meliyana yang kegirangan menggantung ketika ia menatap Ethan dengan penuh semangat.
Ethan yang melihat nya hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, " Iya... Kita akan ke kutub utara." ucapnya.
****
Wuusshhh... Splaasshh...
" Wuhuu! Tempat ini dingin dan ombak nya cukup ganas saat ini!" teriak Arkan sembari memeluk dirinya sendiri, ketika ia ada diatas kapal besar, terombang-ambing melintasi samudra.
Saat ini mereka mulai memasuki wilayah Arktik, dan udara ditempat itu benar-benar sangat dingin. Mereka ada ditengah badai salju kecil ketika sampai disana, untunglah bukan badai besar, meski bagitu mereka tetap merasakan dampaknya.
" Bbrrr..." dan Arkan adalah salah satu dari orang yang sangat sebal dengan hal itu.
Dia naik ke atas deck untuk mencari udara segar, dan begitu membuka pintu ia malah mendapatkan udara dingin yang menusuk sampai ke tulang.
" Kurasa tidak masalah untuk menggunakan kekuatan hanya untuk menghangatkan diri.." batinnya kala itu, dan iya, ia melakukan nya.
Saat kemudian ia melihat sesuatu..
" Hm..?? Ehh!!!." dan ia benar-benar terkejut melihat nya. Ia melihat Yuki yang bersandar pada pagar pembatas kapal dengan tidak berdaya. " Yu-Yuki!! Apa kau baik-baik saja??" tanya Arkan yang langsung buru-buru menghampiri nya.
Arkan sangat khawatir melihat nya seperti itu, ia berusaha membangunkan nya saat kemudian Yuki pun menoleh kearah, dan wajahnya benar-benar sangat pucat.
" Apa yang terjadi padamu?!!" Arkan lebih terkejut lagi melihat hal itu.
Yuki benar-benar kelihatan tidak baik, ia mengkerutkan dahinya terlihat menahan sesuatu. Dan ia pun kemudian berkata, " Aku... Sebelumnya tidak terlalu merasakannya.. karena perjalanan ini lebih tenang.. tapi setelah gelombang datang.. aku baru ingat, kalau... Umph! Aku mabuk laut..!" ucapnya yang kemudian menutup mulut nya menggunakan tangan.
Ia kembali berbalik, dan mulai memuntahkan isi perutnya ke laut. " Uweek..!"
Sementara Arkan yang melihat itu hanya menghindar sedikit dan memasang ekspresi jijik diwajahnya.
Itu situasi yang tidak tertolong.
Mari kita lihat ke sisi lain kapal, Niu, Oscar dan Meliyana ada disana bersama dengan Sakura dan Lucy. Melihat bagaimana kapal ini berjalan dengan mulus, meski beberapa kali menabrak pecahan es yang terapung-apung dilaut.
" Keren... Kapal ini benar-benar kuat." ucap Meliyana sambil menopang kedua dagunya dan melihat lambung kapal dari atas sana.
Niu yang berdiri disampingnya pun menyahuti nya, " Kau benar. Jika ditempat kita, lambung kapal yang menabrak es sebesar itu pasti akan langsung berlubang." ucapnya.
" Kapal ini menang dirancang untuk beroperasi dengan aman diperairan sedingin es. Dia bisa memecah lapisan es di permukaan air dan menyediakan jalur pelayaran yang aman bagi kapal atau perahu lainnya juga." ucap Sakura pula menjelaskannya.
" Begitu rupanya." dan itu membuat Niu sangat kagum.
Ya, seperti itulah perasaan nya. Melihat semua teknologi dan perkembangan yang sangat maju didunia ini membuat nya merasa sedikit aneh, meski begitu Niu tidak bisa membandingkan nya dengan dunianya sendiri. Itu karena keduanya beroperasi dengan cara yang berbeda.
Dunia ini lebih aman karena tidak ada monster atau sebagainya seperti yang ada didunia nya, meski begitu... ada begitu banyak pantangan dan kekangan dalam hidup di masyarakat nya, membuat Niu merasa benar-benar terkurung. Niu yakin teman-teman nya juga merasakan itu, dibalik segala kemudahan yang ada disana, mereka dijerat untuk memiliki kehidupan yang sama dengan semua orang agar bisa diterima oleh masyarakat.
Mereka tidak bisa merasa sebebas ditempat asli mereka.
Karena hal itu, ia jadi terpikirkan semuanya...
" ....Sudah lama kami pergi, kuharap disana baik-baik saja. Aku merindukan duniaku."
Karena itu... Mereka juga akan berjuang disini. Untuk mendapatkan benda terakhir yang mereka butuhkan.
Sementara itu didalam kapal, lebih spesifiknya didalam salah satu kamar yang ada disana. Quennevia yang masih mempertahankan wujud manusia nya sekarang tertidur lelap, berusaha untuk mengumpulkan kembali tenaganya yang terkuras.
Itu bagus, karena Ethan dan yang lainnya juga belum tahu dengan pasti dimana tempat ular itu bersembunyi. Jadi Quennevia juga tidak boleh menyia-nyiakan waktu untuk menambah tenaganya.
" Apa aku benar-benar yakin kalau apa yang kau cari ada disini?" suara seseorang terdengar disana, itu adalah Yukio.
Benar-benar, Quennevia tidak sendiri. Ada Yukio yang duduk diatas kursi disisi lain kamar itu, menatap kembali buku, jurnal dan kode di foto yang ditemukan oleh Oscar dan yang lain. Dan diseberang nya, ada Makima yang bersandar ke dinding dengan kedua tangan terlipat didepan dadanya.
Ethan sendiri juga ada disana, ia berjalan membawa selimut ditangannya dan menyelimuti Quennevia dengan itu. " Iya, tidak ada petunjuk lain yang ditinggalkan. Karena itu 'dia' pastilah ada disini, hanya saja... aku tidak yakin tepatnya." ucap Ethan menimpali nya.
" Tapi... Bagaimana kalian akan mencarinya?." tanya Mamika kemudian, " Tentu saja, aku tidak meragukan ucapan kalian saat kalian bilang bisa mendeteksinya dari aura yang ia keluarkan, karena aku pernah melihat sesuatu yang lebih mencengangkan. Tapi... jika dia ada di kutub, bukankah artinya dia mungkin ada didalam es??" lanjutnya kemudian.
" Bisa juga dia ada didalam laut." sahut Yukio pula.
Ethan yang mendengar itu hanya menganggukkan kepalanya singkat dan tersenyum, " Jika dia ada didalam es, maka kita hanya perlu menghancurkan esnya. Dan jika dia ada dilaut, kita akan belah lautnya." ucapnya menanggapi itu.
Sementara Mamika dan Yukio menatapnya dengan ekspresi tercengang yang mengatakan kalau dia gila.
" Itu... sepertinya agak dipaksakan, ya." Mamika benar-benar tidak habis pikir dengan hal itu.
Tapi menang ya... melihat Ethan yang begitu terburu-buru, maka artinya mereka tidak punya banyak waktu lagi. Dalam perjalanan ke kutub utara ini, mereka telah menghabiskan waktu selama 3 hari diatas laut, dan hanya dalam beberapa jam lagi mereka akan tiba. Itu semua tidak lepas dari bantuan Ethan dan teman-teman nya yang menyediakan pelayaran cepat.
Mendorong kapal menggunakan arus air dan angin yang mereka buat, itu berhasil memangkas waktu perjalanan mereka.
Bagaimana manapun, Mamika merasa kalau mereka akan melihat sesuatu yang sangat luar biasa yang akan terjadi didunia beberapa saat lagi. Itu akan menjadi hal yang tidak terlupakan baginya.
Tap..Tap..Tap..
Disaat yang sama, derap langkah seseorang terdengar diluar sana, ia berlari dengannya begitu terburu-buru. Dan ketika ia sampai depan pintu dimana Ethan dan yang lain berada...
Brakk..!
Ia langsung membuka pintu itu dengan cukup keras, membuka semua mata yang ada didalam tertuju kepadanya.
" Tuan Ethan..!!" ucap seseorang yang datang memanggilnya.
Sekarang di hadapan mereka berdiri seorang anak kecil, dengan rambut ungu yang cukup gelap, begitu pula matanya. Dan ia memiliki ekspresi yang hampir menangis diwajahnya.
Ethan yang melihat itu sedikit terkejut, dan ia pun kemudian bertanya. " Ada masalah apa... Zico?"
Ya, dia adalah Zico, si naga kehampaan kecil.
Selama beberapa waktu dia yang terus berdiam di sub-ruangnya, mengumpulkan kekuatan dan mendapatkan pengetahuan-pengetahuan yang hanya bisa dimiliki oleh bangsa naga. Dan beberapa hari yang lalu, ia mendapatkan kembali potongan batu kehampaan milik ibunya yang dibawa Sakura, dan ia memakannya.
Sekarang ia sudah bisa mengubah wujudnya ke dalam bentuk manusia, juga berbicara dengan benar.
Tapi sekarang... Apa yang membuat naga yang lahir perkasa ini terlihat akan menangis??
Semua orang bingung melihat itu...
" Zico..??"
" Hing~.. Tuan Ethan! Kau harus menghentikan Yue membully-ku." ucap Zico kemudian.
" Huh??" Tapi Ethan tidak mengerti dengan maksudnya membully. " Apa yang dia lakukan padamu?"
" Dia.. Dia tidak mengizinkanku untuk makan!!--.."
Duakk..
" Wakk! Sakit!!."
Saat kemudian Zico mendapatkan pukulan keras dikepalanya dari orang yang datang setelahnya, itu Yue. Dan dia memiliki raut tidak senang diwajahnya.
" Heh! Apa yang kau lakukan, dasar rubah tua!." teriak Zico kemudian kepada Yue di belakangnya sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.
" Memukulmu." dan hanya itulah tanggapan yang diberikan Yue kepadanya. Masih dengan tangan yang mengepal dan ekspresi kesal.
" Keterlaluan!!."
" Tunggu." saat kemudian Ethan menyela diantara mereka, dia agak pusing memikirkan apa yang terjadi sekarang. " Apa kalian bertengkar hanya karena makanan??" tanyanya pula kepada mereka.
Zico pun langsung membenarkan nya dan menunjuk Yue, " Iya, dia tidak membiarkanku makan." ucapnya.
Dan Yue yang mendengarnya pun menanggapi, " Yang benar saja, kau sudah makan dua keranjang ikan dan kau masih ingin makan?? Kau tidak memikirkan orang lain yang ada disini, ya??" ucapnya.
" Memangnya kenapa?! Toh, aku juga yang menangkap ikannya." Zico juga tidak mau kalah dengan nya.
" Kau bahkan juga memakan seekor cumi-cumi raksasa disini! Kau tidak ingat?!."
" Itu bukan raksasa! Aku bahkan pernah lihat yang lebih besar!."
" Jika kau kubiarkan, seluruh isi lautan ini akan habis kau makan!."
" Aku tidak serakus itu, dasar rubah!."
Keduanya malah bertengkar disini, tidak ada yang mau mengalah satu sama lain. Sementara itu yang lainnya yang ada disana, mereka teracuhkan dan hanya bisa memasang ekspresi datar diwajah mereka.
Tidak ada satupun yang berniat untuk melerai mereka. Tidak ada.