
Disisi lain, pertarungan Everon dan dua kepala keluarga dari klan Retia Arma dan juga Roy. Pertarungan nya sedikit berat sebelah kearah Roy dah Arma, namun keduanya tidak menyerah begitu saja dan terus melawan Everon.
Duakk....
" Ukhh... !!. " (Arma)
Duarr...
" Ayolah kalian, apakah hanya itu saja kekuatan kalian??. " ucap Everon.
" Seperti yang dibayangkan dari spirit guardian, sang raja naga api. Kekuatan mu itu benar-benar luar biasa. " ucap Roy menimpali.
" Iyah... Siapa yang sangka akan ada kesempatan kita melawan nya bukan. " sahut Arma.
" Haha... Aku sendiri terkejut, meski hanya beberapa luka kecil saja. Tapi kalian cukup hebat. " ucap Everon pula.
Ia memuji kedua orang itu, akan tetapi setelah nya ia pun langsung menyerang mereka kembali. Kedua orang itu sudah bersiap-siap dengan serangan Everon yang akan datang itu, akan tetapi Everon dan kedua orang itu tiba-tiba teralih oleh sinar yang berasal dari tempat Quennevia bertarung.
Mereka pun juga jadi ikut terkena sinar yang menyilaukan itu, sesaat kemudian mereka tiba-tiba saja berada di sebuah tempat yang sangat asing bagi mereka.
" A-apa ini?? Dimana kita??. " ucap ucap Arma yang kebingungan.
" Langit dan tempat lainnya berwarna putih, tidak ada tanda kehidupan apapun sejauh yang kulihat. Akan tetapi ada sebuah tempat yang sangat besar disisi ku, kemudian Quennevia ada di sana juga. Ini sudah pasti, dunia mimpi yang dibuat Zeze. " batin Everon, sambil dirinya memandangi tempat besar yang dirinya maksud itu.
Sementara itu di dalam tempat besar yang dibilang oleh Everon sebelum nya, Quennevia yang memang ada di dalam sana benar-benar dibuat terkejut sekaligus bingung kenapa dia bisa ada di sana lagi.
" Aku tahu.. Tempat ini.. Ini adalah.. " ucap Quennevia sambil memperhatikan sekeliling nya.
Sebuah layar yang besar dan beberapa komputer yang mengelilingi nya, sistem keamanan yang ada di tempat itu. Disain, bentuk dan susunan yang ada di tempat itu, sangat jelas seperti yang ada diingatan Quennevia yang berasal dari Nevia. Tempat itu adalah ruang kendali markas dimana dirinya memilih mati sebagai Nevia.
Quennevia tidak bisa berkata-kata lagi melihat semua itu, bahkan Oscar dkk begitu pula dengan Mice, Misika dan yang lainnya ikut terdiam ketika melihat hal itu disana. Perhatian Quennevia teralihkan ketika mendengar suara langkah kaki yang berasal dari pintu masuk ke dalam ruangan itu.
Quennevia memperhatikan pintu masuk itu dengan perasaan yang berdebar, akan tetapi ada juga perasaan takut yang mengelilingi nya. Dan saat seseorang yang sedang berjalan kesini itu memperlihatkan dirinya, jantung Quennevia serasa berhenti untuk sesaat.
(*👆anggap aja kaya gitu.)
Bahkan Beatrice yang melihat nya pun sampai tidak bisa berkata-kata lagi melihat orang itu. Seorang pria yang sangat Quennevia kenal, ia membuka matanya dan mengangkat wajahnya menatap Quennevia yang ada di depan nya.
" Tidak.. Tidak mungkin, kau.. Kau..! " ucap Quennevia dengan raut wajah yang tidak bisa percaya.
Sementara disamping itu, " Apakah dia mengenalnya?? " tanya Arkan kepada Meliyana yang ada di sisinya, yang hanya dibalas gelengan kepala dari Meliyana.
" Itu adalah... " ucap Misika pula yang ikut tidak bisa percaya dengan penglihatan nya.
" Memang benar, jika ingin menghentikan Quennevia. Dia harus bisa membuat nya tenang dulu, dan inilah cara terbaik yang ia pikirkan ya. " ucap Ygritte. Yang membuat tanda tanya besar kepada Mice, Zeze, Kagura dan juga Xi yang tidak tahu siapa itu.
Sementara itu di sisi lainnya, pria yang ada di depan Quennevia itu pun tersenyum. " Hai, lama tidak bertemu ya.. Nevia. " ucap pria itu.
Quennevia tidak menerima sapaan pria itu begitu saja, ia malah mengeluarkan kembali pedang matahari dan bulah miliknya, serta menggenggamnya erat di tangannya yang saat ini sedang gemetar. Pasalnya orang yang ada di depannya itu, orang yang sangat dicintai oleh Nevia... Kirito.
" Ini tidak adil! Ini tidak adil sekali! Dasar pengecut! Bagaimana bisa kalian melakukan ini? Bagaimana bisa kalian melakukan sesuatu yang sangat pengecut seperti ini?!. " ucap Quennevia pula yang merasa terjahati, ia tahu kalau ini adalah perbuatan Zeze.
" Nevia. " panggil Kirito lagi.
Quennevia tersentak mendengar nya, apalagi ketika Kirito yang ia lihat itu mengambil langkah untuk lebih dekat dengan nya. Quennevia pun langsung mengarahkan pedang di tangannya kepada Kirito, tapi ekspresi nya itu membuat mereka yang melihat nya tahu jika Quennevia sangat sedih dan marah sekaligus tidak percaya disaat yang sama.
" Hentikan..! Hentikan..! Jangan panggil nama nya.. Dengan suara itu! Kumohon!. " ucap Quennevia
Kirito yang melihat nya pun berhenti, " Ah, maaf. Aku tahu ini membingungkan, tapi aku akan sangat jika kau mau mendengarkan ku saat ini. Aku sangat senang... " sahut nya sambil memegangi bagian belakang lehernya dan tersenyum agak canggung.
" Tidak..! Bu-Bukan seperti itu, Kau... Tidak! Kau bukanlah Kirito! Nevia berhenti lah mempengaruhi perasaan ku, oleh itu bukanlah dia! Karena Kirito sudah.. Dia sudah.. Tidak ada lagi. " ucap Quennevia pula dgn sangat sedih.
Disaat yang sama, " Kirito??. " gumam yang lainnya yang belum tahu, ini pertama kalinya mereka melihat langsung seperti apa Kirito yang sangat dicintai oleh Nevia itu.
Dan mereka yang melihat dan mendengarkan Quennevia bicara kepada dirinya sendiri pun langsung tahu, kalau perasaan dari Nevia yang melihat wujud Kirito itu. Berusaha mengembalikan kesadaran nya untuk bertanya sekaligus bertemu dengannya.
Kirito terdiam sesaat, kemudian ia pun berkata, " Kau benar, aku memang sudah tiada. Lalu kenapa aku masih bisa berdiri disini sekarang? Aku juga tidak tahu. Kurasa... Ini seperti keajaiban bagiku. Kalau kau mengira aku bukan Kirito yang kau kenal... Kalau kau marah karena aku hanyalah ilusi untuk menipumu, maka aku tidak peduli apa yang akan kau lakukan padaku. " ucapnya kepada Quennevia.
Alis Quennevia berkedut, tangannya gemetar, sekeras sapapun ia ingin melakukan apa yang dikatakan oleh Kirito didepannya itu dia tidak bisa. Quennevia tidak punya keberanian melakukan nya, karena... orang yang ada di depannya itu, entah itu ilusi atau pun bukan. Dia adalah orang yang sangat Nevia cintai, dan perasaan itu mengalir dalam dirinya.
Kalau sudah begini Quennevia berpikir lebih baik jika ia mengatakan apa yang selalu ingin di katakan oleh Nevia sebelum kesadaran nya itu menghilang.
" Tidak mungkin aku melakukan itu!. " ucap Quennevia, ia pun menurunkan pedang yang ia arahkan kepada Kirito itu dan menghilang kan nya.
" Sejak lama.. Sudah sejak lama Nevia ingin bertemu dengan mu lagi! Tapi saat aku tahu tentang mu.. Kau sudah tidak ada. Kau pasti sudah mengalami banyak hal yang menyakitkan, kemudian akhirnya aku tahu kenapa kau meninggal. Aku menyesal tidak bisa melakukan apapun untuk mu, karena itulah aku melakukan apa yang aku bisa untukmu! Karena itulah aku melakukan semua ini, sekaligus membalas rasa penyesalan ku kepada Nevia. Dengan membunuh semua orang yang dianggapnya sebagai musuh. " ucap Quennevia dengan sedih dan agak berteriak, kemudian ia pun mundur sampai menabrak sesuatu dibelakang nya.
" Bahkan kalau kau hanyalah ilusi atau palsu.. Aku tidak bisa melakukan itu padamu. " ucap nya pula lirih, kini dengan air mata yang jatuh dari matanya.
" Nevia.. Kau marah seperti ini untuk diriku? " tanya Kirito.
" Itu sudah pasti. Semua ini hanya untuk dirimu. " sahut Quennevia.
Kirito terdiam sesaat mendengar hal itu, apalagi dengan Quennevia yang menangis seperti itu, dia merasa sangat ingin langsung berlari kearah nya dan memeluk nya. Disaat yang sama teman-temannya dan juga yang lainnya memperhatikan mereka dengan tatapan sedih juga, tanya akan ada yang menyangka jika tidak melihat hal ini secara langsung.
Nevia benar-benar sangat mencintai Kirito, hingga Quennevia yang merasakan perasaan itu juga rela melakukan hal ekstrim seperti membalaskan dendam Nevia kepada orang yang sudah membunuh Kirito, layaknya itu dendamnya sendiri (Ya, kan Quennevia itu masih Nevia sendiri). Meskipun itu bukan lah sesuatu yang ingin Kirito untuk Quennevia lakukan sama sekali.
" Um... Aku harus memberitahu mu sesuatu, Nevia. Aku juga tahu kalau aku bisa bertemu dengan mu lagi, sebelum aku benar-benar mati waktu itu.. Aku bertemu dengan seseorang yang agak mirip dengan mu, dia adalah... kakek mu. Dia bilang kalau kau masih hidup di dunia lain, karena itulah aku menanyakan keadaan mu kepada nya. Karena setelah kau pergi dihari itu aku benar-benar dipenuhi rasa bersalah. Aku sangat khawatir kau mendapatkan banyak masalah di tempat kau hidup sekarang, dan akhirnya dia pun membawa ku kesini. " jelas Kirito, setelah sebelumnya ia sama sekali tidak bisa mengatakan apapun dari yang ingin ia jelaskan.
" Aku sempat melupakan tujuan ku kemari, tapi sekarang aku ingat. Aku sudah melakukan hal yang mengerikan padamu, karena itu aku datang kesini menyusulmu untuk meminta maaf padamu, itulah perasaan ku. " ucapnya pula sambil menatap Quennevia.
" Minta maaf?? " sahut Quennevia bingung.
" Apa kau ingat dengan festival lentera waktu itu?? Kubilang kalau aku punya banyak keinginan bukan, kubilang aku senang dengan semua keberhasilan mu bukan. Jika aku mengatakan nya, itu berarti aku berbohong.. Pada diriku sendiri. " ucap Kirito.
Quennevia tersentak lagi mendengar nya, padahal itu adalah salah satu ingatan yang bagus yang ia kenang tentang Kirito. Ia tidak mengerti apa maksud nya dengan berbohong, apakah kenangan itu hanyalah sebuah kebohongan??
" Kau yang selalu bisa mengatasi apapun sendiri membuatku iri, padahal sudah berjanji kepada diriku sendiri untuk melindungi mu, aku ingin kau bergantung padaku. Karena itulah aku tidak bisa menerima nya, aku tidak ingin menerima hal itu. Pada hari itu.. Pikiran ku dipenuhi dengan kutukan dari pada keinginan, karena itu pada akhirnya aku membuatmu menanggung beban dari kutukan ku sendiri. " jelas Kirito lagi dengan mata yang penuh dengan tatapan merasa bersalah.
" Pada awalnya aku senang ketika memikirkan tentang hal itu, tapi itu salahku.. Hingga kau menderita seperti ini. " ucapnya pula sambil tersenyum kecut.
Bagi seseorang mungkin akan memalukan jika seorang pria menangis, tapi jika bisa... Ethan benar-benar ingin menangis sampai meraung-raung saat ini. Namun sayangnya air matanya sama sekali tidak ingin keluar itu menunjukkan kesedihan nya, hanya ekspresi sedih saja yang ada di wajahnya.
Disisi lain teman-temannya semakin mengerti dengan cerita Kirito dan Nevia di masa lalu, sama seperti Quennevia dan Ethan sekarang, keduanya terjebak akan rasa bersalah masing-masing. Juga rasa sakit karena kehilangan, namun keduanya benar-benar saling mencintai. Mereka sangat sedih mendengar nya, bahkan Niu dan Meliyana pun sudah sedari tadi menangis karena perasaan itu.