Quennevia

Quennevia
Wilayah Elf



[Season 2]


Ethan dan teman-teman nya menyewa kereta baru untuk pergi ke wilayah Elf, tentu saja karena mereka harus masuk ke dalam hutan yang sulit dijangkau, mereka hanya bisa memakai kereta untuk setengah perjalanan. Dan dilanjutkan dengan berjalan kaki sampai ke tempat tujuan.


Membutuhkan waktu sekitar 1 setengah bulan hanya untuk sampai ke perbatasan wilayah Elf, dan dilanjutkan perjalanan selama satu minggu untuk sampai ke desa mereka. Itu waktu yang sangat lama.


" Hah..Hah.. Sejauh apa kita harus berjalan lagi..." ucap Arkan yang kedengaran mengeluh.


Namun sama sekali tidak ada yang menyahuti perkataan nya, dia selalu terlalu banyak mengeluh. Karena itu teman-teman nya pun jadi terbiasa mendengar dan mengacuhkan keluhannya.


" Arkan, pikirkan saja sesuatu yang menyenangkan dan kau tidak akan sadar kalau kau sudah sampai di tempat tujuanmu. " ucap Meliyana kemudian.


" Ya, baiklah. " sahut Arkan mendengar itu.


Sementara Ethan yang melihat hal itu dari depan sana hanya tersenyum, teman-teman selalu punya hal untuk dibagi. Dan meskipun keluhan Arkan terkadang menyebalkan, tapi itu selalu mencairkan suasana.


Saat kemudian perhatian nya teralihkan kepada Mirion, " Yang mulia, kita akan segera sampai wilayah Elf. " ucapnya pada Ethan.


" Baiklah, kuharap tidak akan ada yang menyerang kami disana. " sahut Ethan menimpali.


" Aku tidak bisa menjamin hal itu. " jawab Mirion pula.


" Hei, hei, aku ingin tahu. Tempat tinggal Elf itu seperti apa??" ucap Niu yang menyela pembicaraan mereka, dia kelihatan sangat antusias dengan hal itu.


Dan kelihatan nya, Mirion juga tidak keberatan menjawab hal itu. " Oh, rumah kami rata-rata ada diatas pohon. " jawabnya.


" Maksudmu menggantung??" sahut Niu pula.


" Tidak, menempel. Rumah kami menyatu dengan pohon itu, tapi bukan berarti tidak ada yang tinggal dibawah. Pohon-pohon di wilayah Elf, rata-rata memiliki ketinggian dan besar yang jauh diatas rata-rata pohon pada umumnya, jadi kami hanya memaksimalkan fungsinya. " jelas Mirion.


" Ouh, begitu. Jadi sebagai makhluk yang hidup dekat dengan alam, kalian menggunakan hasil alam dengan semaksimal mungkin untuk membangun peradaban kalian. " ucap Niu yang kelihatan serius sekali memikirkan hal itu.


" Kira-kira begitu. " Mirion menjawabnya.


Ada banyak hal yang bisa dipelajari dari para Elf, dan Niu sangat bersemangat karena nya. Masih ada banyak pertanyaan juga yang ada di dalam kepalanya saat ini.


Berbanding terbalik dengan seseorang yang ikut dengan mereka saat ini, Mira, dia justru terlihat murung sepanjang perjalanan. Dia bahkan tidak mengatakan apa-apa ditengah Ethan dan teman-teman yang bersenang-senang dengan perjalanan mereka kali ini.


Sampai ia menghentikan langkahnya sebelum mereka sampai di wilayah para Elf, dan ia menarik perhatian Mirion. Ia ikut berhenti dan menoleh kearah nya.


" Mira, ada apa? " tanyanya kepada satu-satunya adik perempuan nya itu.


Karena hal itu, Ethan dan yang lain pun juga ikut berhenti. Baik Ethan dan Niu yang berjalan didepan bersama Mirion, atau mereka yang ada dibelakang.


Mira hanya menundukan kepalanya dengan ekspresi sedih, dia mungkin mengkhawatirkan sesuatu. " Kurasa... Aku akan menunggu disini saja. " dan itulah ucapan yang keluar dari mulutnya.


" Tunggu, itu terlalu berbahaya. Bagaimana jika ada bintang buas atau orang jahat datang kemari. " ucap Oscar kepada Mira.


" Tidak apa-apa, aku bisa menghadapi mereka. " namun Mira sama sekali tidak takut dengan hal itu.


Mungkin tidak, Mira sama sekali tidak mirip dengan Elf meski punya darah Elf. Dia lebih mirip dengan manusia biasa. Meski begitu, penjahat tidak memandang siapa yang dijadikan target oleh mereka. Dan binatang buas bisa muncul kapan saja.


Oscar dan yang lainnya bingung kenapa dia lebih tinggal ditempat yang bisa jadi bahaya untuknya dari pada ikut ke desa Elf. Sedangkan Ethan memilih diam, dan disisi lain, Mirion yang tahu apa yang ia khawatirkan hanya mengerutkan keningnya dengan ekspresi sedih.


" Mira, ayah merindukanmu. Apa kau tidak mau bertemu dengannya??" ucap Mirion berusaha membujuk Mira.


" Tapi... Jika aku kembali ke wilayah Elf, mereka akan marah. Ayah dan kakak juga akan terkena masalah, dan aku tidak mau menghambat pangeran mendapatkan benda yang ia cari. " ucapnya lirih, air matanya pun juga perlahan jatuh dari matanya.


Itu terdengar seperti anak kecil ini telah melewati masa-masa yang begitu sulit diusianya yang masih begitu muda.


" Yah, itu tidak baik. " Arkan berdiri tepat kebelakang Mira, dan ia memukulnya...


Bugh...


..Sampai pingsan.


" Gaahhh!! Kenapa kau kasar sekali pada anak kecil?! " teriak Niu dan Meliyana melihat itu, padahal Mirion yang melihat nya diam saja.


Sedangkan Arkan yang menahannya agar tidak jatuh hanya menaikan sebelah alisnya bingung, " Hah? Jika terus seperti ini kita tidak akan pernah sampai, anak yang memiliki trauma di tempat yang ia anggap rumah akan segan bahkan jika hanya lewat. Dia tidak akan bisa dibujuk dengan mudah seperti bayi dengan permen. " ucapnya yang kemudian menggendong Mira yang pingsan ditangannya dan berjalan lebih dulu dari mereka.


Menyusul Mirion yang telah kembali berjalan bersama Ethan... Sementara Yang lain masih terdiam di tempat mereka setelah mendengar kata-kata Arkan itu.


" Aku lupa kalau Arkan juga merasa seperti itu kepada keluarga nya. " ucap Meliyana yang menunduk sedih.


" Aku juga. " sahut Niu pula.


Kemudian Oscar dan Yuki pun menyentuh bahu keduanya, " Sudah, Arkan juga tidak bermaksud mengungkit hal itu. Asalkan dia baik-baik saja, itu juga akan baik untuk kita. " ucap Oscar kepada mereka.


" Tidak perlu memikirkan hal yang rumit seperti perasaan seseorang, kalian tidak sepintar itu. " sedangkan Yuki justru terdengar seperti sedang mengejek mereka, kemudian pergi lebih dulu.


Oscar yang mendengar nya hanya tersenyum kikuk karena merasa itu tidak cocok dikatakan disaat seperti ini, disisi lainnya pula... Niu dan Meliyana yang mendengar itu darinya merasa sedikit tersinggung. Tapi hanya diam menutup mulut mereka dengan wajah datar.


Mau marah juga tidak bisa karena apa yang Yuki katakan tidak sepenuhnya salah, tapi mereka tetap tidak suka.


Pada akhirnya mereka kemudian ikut berjalan mengikuti yang lain yang mulai jauh.


Sementara didepan sana, Ethan agak penasaran dengan apa yang terjadi kepada Mira. " Apa yang terjadi antara Mira dan para Elf lain??" tanyanya dengan hati-hati kepada Mirion.


Yang dia tahu, hanyalah Mira yang keluar dari wilayah Elf dan memutuskan untuk tidak pernah kembali lagi. Kemudian dia diterima diistana, dan karena bakatnya dalam berpedang dia dilatih untuk menjadi ketua pasukan masa depan istana.


Sedangkan Mirion terlihat menundukan wajahnya, dilihat dari ekspresi nya seperti nya itu bukanlah sesuatu yang baik.


" Saya yakin anda tahu, Mira lahir dari ibu seorang manusia. Dulu.. ketika ibunya datang ke wilayah Elf sebagai budak yang kabur dari majikannya, para Elf lah yang menyelamatkan nyawanya. Dan saat itulah dia bertemu dengan ayahku. Keduanya pun mulai jatuh cinta, dan Mira lahir tak lama dari itu. Namun tak berselang lama dari kelahiran Mira, wilayah Elf diserang oleh sekelomok bandit yang menginginkan air suci pohon kehidupan yang katanya bisa memberikan keabadian. Ibu Mira terbunuh saat itu, dan Mira yang masih bayi pun dibawa pergi oleh para bandit itu karena mereka tidak bisa mendapatkan air suci itu. " Mirion menceritakan masa lalu yang cukup menyedihkan dari masa lalu mereka.


" Lalu, kenapa Mira jadi tidak diperbolehkan ke wilayah Elf lagi??" tanya Yuki yang juga penasaran dengan hal itu.


" Butuh waktu 5 tahun bagi ku untuk menemukan Mira kembali, namun saat ia telah kami dapatkan kembali, keberadaannya ditolak oleh para Elf lain. Mereka menganggap penyerangan itu sebagai salah ibunya, dan dia dianggap pangkhianat, secara alami Mira pun juga dicap sebagai anak pengkhianat dan diusir dari wilayah Elf. Karena itu aku meminta Tuan Ning yang kukenal untuk menjaga Mira. " jawab Mirion.


" Itu konyol!!" ucap Arkan yang terdengar kesal setelah mendengarkan cerita itu dalam diam.


" Memangnya dari mana mereka tahu kalau itu ulah ibunya?! Jika pun benar, mengapa Mira yang tidak tahu apapun justru disalahkan dalam hal itu! Para Elf yang melakukan hal itu kepada anak kecil yang sama sekali tidak bersalah benar-benar tidak punya otak!!" Arkan kelihatan nya benar-benar sangat marah karena nya.


Mengingatkan nya pada masa lalu yang kelam, katika ia dibuang bahkan coba dibunuh oleh ibunya sendiri. Arkan paling benci ketidakadilan yang seperti itu, Mirion sendiri terlihat terkejut setelah mendengar hal itu dari Arkan, karena dia sama sekali tidak salah.


Sedangkan, teman-teman yang mendengar itu hanya tersenyum bangga, seperti itulah tipikal Arkan.


Disisi lain, diatas pohon lebih tepatnya, mereka tidak menyadari ada orang lain yang mengawasi pergerakan mereka diam-diam. Kemudian menghilang tanpa suara...