
Setelah kepergian Lorenzo itu, Quennevia masih termenung ditempatkan nya dengan Yue yang kini ada di pangkuan nya. Ia sempat bangun beberapa saat yang lalu, tapi kembali tidur ketika Quennevia menempatkan nya di pangkuan nya. Ia juga masih memikirkan siapa sosok yang ia temui waktu tak sadarkan diri, apakah dia orang yang ia kenal?? kenapa akrab sekali??
Ditambah ia juga masih memikirkan semua yang Lorenzo katakan, Quennevia merasa aneh dengan kata-kata nya itu, kenapa ia merasa kalau orang itu berbahaya?? Dia juga merasa kalau Lorenzo sangat mengenalnya, padahal pertama kalinya mereka bertemu itu saat ia tidak sengaja menabraknya. Dan lagi kenapa dia merasa kalau Lorenzo menginginkan nya??.
Semua pemikiran itu terus berkecamuk di dalam kepala nya, seolah ada sebuah isyarat yang terselip di antara kata-kata nya.
" Haah... Seperti nya aku tidak akan bisa mengetahui nya sendiri. " gumam Quennevia.
Brakk...
Namun tiba-tiba saja ia dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka dengan cukup keras, bahkan Yue yang sebelumnya tidur lagi di pangkuan nya langsung terperanjat karena nya, ia pun langsung menoleh kearah nya. Yang ia lihat di sana adalah Ethan, dengan wajah yang terlihat sangat cemas sekaligus tenang.
" Quennevia.. " ucapnya lirih dan ia pun berjalan kearah Quennevia.
" Et... Ethan.. " ucap Quennevia pula yang masih terkejut.
Srukk....
Masih belum sempat ia menghilangkan keterkejutan nya, Ethan tiba-tiba saja memeluknya dengan sangat erat. Quennevia tidak tahu harus apa di saat seperti itu, dan jantung nya berdebar sangat kencang. Ia merasa seperti habis lari maraton hanya karena pelukan itu.
" Um... Ethan.. " panggil Quennevia pula, ia merasa agak sesak saat ini.
Namun Ethan malah semakin memeluknya dengan erat, " Syukurlah.. Syukurlah kau baik-baik saja. " gumam Ethan yang menenggelamkan wajahnya di tengkuk Quennevia.
Quennevia semakin bingung harus seperti apa, jadi ia menerima saja pelukan itu dan membalas nya. Quennevia merasakan kalau ada sesuatu yang membuat Ethan seperti ketakutan, tetapi ia tidak tahu apa itu, atau kah itu karena dirinya??.
Tapi Quennevia senang karena dia memperhatikan nya, itu membuatnya merasa sangat spesial. Oh, ngomong-ngomong soal spesial, harusnya tiga hari yang lalu adalah hari yang spesial baginya, yang mana itu adalah hari ulang tahunnya yang ke 17. Tetapi karena itu sudah berlalu jadi ya biarkan saja lah.
" Ekhem.. "
Mereka terus berpelukan sampai suara seseorang yang mengejutkan Quennevia kembali, ia pun buru-buru mendorong tubuh Ethan agar sedikit manjauh darinya. Sambil memalingkan wajahnya yang sudah memerah itu, bahkan tidak peduli dengan Ethan yang jadi bingung.
Sementara itu di depan pintu sana, ada teman-teman nya yang hanya senyum-senyum sendiri di ambang pintu. Bahkan Kian dan yang lain, Kai dan juga Lilac pun ada di sana, betapa malunya Quennevia mengetahui itu semua.
" Oh, ya ampun, ya ampun. Kenapa kalian tidak lanjutkan, itu tadi sangat romantis, loh. " ucap Meliyana menggoda mereka.
" Karena kalian mengganggunya. " jawab Ethan dengan wajah datar.
" Hahaha... sudah ku bilang kau harusnya tidak bersuara Ryohan. " ucap Arden sambil tertawa.
" Senior, kau jangan membuat mereka lebih malu dari ini. " ucap Ryohan pula menimpali.
" Ayolah, apa menurutmu mereka itu tidak UwU. " sahut Jino, bahkan sampai ia juga ikut bicara seperti itu.
Quennevia tambah malu karena mereka melihat hal itu, bahkan mungkin sudah sejak lama. Bagaimana ia bisa menghadapi semua godaan mereka nantinya.
" Kumohon jangan di ungkit lagi. " ucap Quennevia sambil menutupi wajahnya dengan kedua tengan nya.
" Hahahah... Tapi benar kan kalian sangat romantis. " ucap Arkan.
" Iya, jika saja tadi aku melukis kalian berdua terlebih dahulu. " ucap Sayles pula.
" Pasti hebat sekali. " ucap Arden menimpali.
Tetapi mereka malah dihadiahi pedang yang hampir mengenai leher ketiganya, yang mana pedang itu berasal dari Lilac. (*Seperti nya dia jadi punya jiwa sister complex kepada Quennevia*). Bahkan tatapan nya kepada mereka juga seperti ingin membunuh ketiganya.
" Quennevia bilang jangan ungkit lagi. " ucap Lilac kepada mereka bertiga dingin+tatapan tajam.
" Ka.. Kami mengerti. " jawab Arkan, Arden dan Sayles pula bersamaan dengan raut wajah takut.
Setelah Lilac kembali menyimpan pedang nya, barulah mereka bisa menghela nafas lega karena nya.
" Nona, bagaimana keadaan anda??. " tanya Kai pula mewakili semuanya.
" Aku baik-baik saja, jangan terlalu khawatir begitu. " jawab Quennevia.
" Tidak khawatir bagaimana?!!. Kau dijebak sampai tidak sadarkan diri selama 10 hari, bagaimana bisa kami tidak khawatir?!!. " teriak teriak mereka semua serempak kepada Quennevia hingga membuat yang diteriaki itu terkejut.
Padahal tadi mereka bicara baik-baik kenapa sekarang mereka malah berteriak padanya??.
" Ahahaha... " sementara itu Quennevia hanya bisa tertawa canggung mendengar nya.
" Kalian semua pelan kan sedikit suara kalian. " ucap Yue yang sedari tadi tercampak kan, " Nyaa.... " suara Yue pula saat meregangkan tubuhnya.
Setelah itu ia pun naik ke pundak Quennevia dan mengelus-eluskan kepala nya kepada Quennevia, dia jadi bersikap manja kepada tuannya.
" Kalian beruntung karena master hanya tidak sadarkan diri selama 10 hari, biasanya jika hal tersebut terjadi master tidak akan bangun hingga 2 tahun lamanya. " ucap Yue pula sambil menjilati kakinya. (* Eh, kaki apa tangan?? Udah lah, yang penting kenapa sifat nya malah jadi kaya kucing ya. *)
" Apa?!! 2 tahun!!. " mereka malah kembali berteriak mendengar hal itu.
" Yang benar saja, menunggu 10 hari saja sudah sangat lama. Bagaimana jika 2 tahun??. " ucap Oscar.
" Huaa... aku tidak mau sampai itu terjadi. " ucap Niu dan Meliyana pula.
" Eh, jangan dipikirkan. Yang penting sekarang akhirnya bangun bukan??. " sela Quennevia sebelum mereka semakin membahasnya dan malah ngelantur ke mana-mana.
" Pokoknya kita harus menangkap pelakunya. " ucap Arkan pula dengan sangat semangat, yang mana ia sama sekali tidak mendengarkan ucapan Quennevia.
" Benar, benar. Kita tidak bisa membiarkan nya pergi begitu saja!. " sahut Ethan pula menyetujui nya.
Yang lainnya juga malah ikut mengangguk bersamaan, seperti nya mereka memang tidak akan bisa mendengarkan ucapan Quennevia sampai selesai, deh. Itu malah membuat Quennevia jadi merasa kurang nyaman, bagaimana jika mereka malah menangkap dan menghakimi orang sembarangan.
Bisa jadi apa yang terjadi padanya karena unsur ketidaksengajaan bukan, siapa yang tahu mungkin ada yang sedang melakukan percobaan dan Quennevia tidak mengetahui hal itu.
" Ah.. Sepertinya akan rumit deh. " batin Quennevia dengan senyum kikuk yang menghiasi wajahnya.
***********
Beberapa saat kemudian, pelajaran siang pun kembali di mulai. Mau tidak mau Ethan dan yang lainnya harus meninggalkan Quennevia di ruang istirahat sendirian, meskipun sebenarnya Quennevia berencana untuk segera keluar dari sana karena dia tidak apa-apa.
Tetapi ia urungkan hanya untuk tidur siang sebentar, barulah ia akan kembali ke asramanya sendiri. Dia lebih merasa baik disana dari pada di ruang kesehatan itu, dia juga tidak akan kesepian ketika malam tiba karena ada teman-teman nya.
Wusshhh.....
Namun ketika Quennevia tertidur itu, ada dua orang yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang itu diam-diam. Dua orang yang misterius, ia berjalan kearah Quennevia dengan langkah yang sangat pelan agar tidak menimbulkan suara sedikit pun. Dan Yue juga tidak ada di sana karena Quennevia memintanya untuk mengawasi sekitaran Akademi yang luas itu, jadi akan memakan banyak waktu untuk kembali.
Sementara itu situasi saat ini dimanfaatkan oleh dua orang itu agar bisa menyelinap masuk ke dalam sana. Dan kini dua orang misterius itu sudah ada di dekat tempat tidur Quennevia.
" Kita harus melakukan nya sesuai rencana, jangan sampai ada yang salah sedikit pun. " bisik orang pertama kepada rekannya.
" Kita harus merebut jiwa wanita pembawa bencana lebih dulu, dengan begitu kita bisa punya posisi yang lebih baik dan pujian yang bagus. " sahut yang satunya menimpali ikut berbisik.
" Jika gadis ini mati, maka jiwa wanita itu juga kan keluar bukan. Kita hanya tinggal membawanya saja, jadi mari kita bunuh saja sekarang. " ucap orang pertama itu.
Ia mengangkat pisau yang ada di tengan nya tinggi-tinggi, mencoba untuk menusuk Quennevia yang tengah tertidur itu. Namun ketika ia menurunkan pisau itu, Quennevia tiba-tiba saja membuka matanya, dan....
Boomm.....