Quennevia

Quennevia
Pertandingan murid baru



Setelah para murid baru yang terpilih beristirahat di hari itu, besok nya mereka semua dikumpulkan di sebuah arena. Jumlah murid baru ada sekitar 100 orang mungkin lebih, dan diantara mereka terlihat sombong hanya karena bisa terpilih.


Quennevia datang ke sana bersama dengan teman-teman sekamar nya, juga Oscar dan Ethan yang kebetulan bertemu di jalan. Itu karena jarak antara asrama putri dan asrama putra cukup jauh.


" Ah, apa ini. Pagi-pagi sudah disuruh kumpul di sini. " gerutu Ethan yang masih ngantuk nampaknya.


" Kau terlalu banyak tidur, bodoh. Bisa-bisa kau berubah jadi seekor ba*i. " ucap Quennevia mengejek nya.


" Hek... Mana mungkin pria setampan ini akan berubah jadi makhluk seperti itu. " ucap Ethan pula dengan sangat percaya diri.


" Pffttt....Iya, tampan sekali. Sampai-sampai aku tidak bisa melihat wajahmu. "


" Itu kan salah mu sendiri. "


Keduanya malah berdebat dan saling menggoda satu sama lain sendiri hingga yang ada di belakang sana terlupakan, rasanya seperti tempat itu milik mereka berdua saja.


" Rasanya... Mereka jadi lebih akrab dari sebelumnya. " ucap Meliyana yang kebingungan melihat nya.


" Eh, iya... Bisa dibilang seperti itu. " sahut Niu.


" Aku sih lebih penasaran bagaimana Quennevia bisa tahu benda-benda dan orang di sekitar nya, padahal ia tidak bisa melihat nya. " ucap Oscar, membuat Meliyana dan Niu juga setuju dengan nya.


" Dia bisa membedakan seseorang dari mana dan juga aura yang dimiliki orang itu, sedangkan untuk benda-benda ia mengandalkan indra lainnya untuk mengetahui nya. " jelas Yuki.


" Bisa membedakan sampai seperti itu, bahkan untuk orang yang punya kemampuan besar pun akan sulit mengetahui jelasnya. Tapi dia.... Sebenarnya kekuatan seperti apa yang ia miliki. " batin Yuki pula.


Penjelasan Yuki tadi membuat mereka bertiga akhirnya paham, jadi dia bisa membedakan seseorang dari mana milik orang itu. Memang seperti yang diharapkan dari Quennevia, keahlian nya banyak sekali.


Lalu kemudian kepala Akademi pun muncul, dan semua orang lekas berbaris dengan rapi tengah lapangan. Seperti nya akan ada hal menyenangkan yang akan di umumkan oleh kepala Akademi.


" Semuanya, selamat datang di Akademi bintang utara. Biar ku perkenalkan lagi, aku adalah kepala Akademi Lun, disini adalah tempat anak-anak muda seperti kalian berkumpul dan belajar banyak hal, tapi sebelum itu ada sebuah pertandingan antar murid baru melawan senior kalian. " ucap kepala Akademi.


" Setiap siswa wajib melakukan nya, jika kalian berhasil mengalahkan senior kalian kalian akan maju ke babak seterusnya. Pertandingan ini bukan untuk kemenangan, tapi untuk mengenal satu sama lain. Jadi kuharap kalian melakukan nya dengan serius dan juga baik. " ucap nya pula.


Seruan penuh semangat dari para murid menggema di tempat itu, seperti nya semua orang sangat antusias dengan pertandingan yang di diadakan oleh Akademi. Sementara itu, Quennevia teralihkan kepada seseorang disamping arena yang memanggil nya.


" Ada apa?? " tanya Ethan.


" Ah, nampaknya aku ada urusan. Seperti nya aku tidak bisa melihat pertandingan kalian. " ucap Quennevia.


" Apa itu hal penting, kalau begitu pergi lah. Kita bisa bertemu lagi nanti. " sahut Meliyana.


" Kalau begitu sampai nanti. " jawab Quennevia.


Kemudian ia pun pergi meninggalkan tempat itu, yang mana juga meninggalkan banyak pertanyaan bagi mereka yang ada di sana.


" Dia jadi banyak pergi dari kita. " ucap Niu sambil mengerucut kan bibir nya.


" Iya, nampaknya dia memiliki lebih banyak rahasia. " sahut Oscar.


Pertandingan pun dimulai, banyak para murid baru yang gagal dalam pertandingan itu, namun tak sedikit pula yang berhasil melakukan nya. Sementara itu di tempat yang terpisah, Quennevia juga mengikuti pertandingan itu dengan diawasi oleh para tetua. Lawan nya cukup tangguh namun bisa ia lawan dengan mudah.


Pertandingan itu berlangsung sampai sore hari, dan akhirnya pertandingan itu akan dilanjutkan besok lagi. Quennevia adalah orang terakhir yang pergi dari arena itu, namun saat ia akan kembali ke asrama nya ia merasa Ethan sedang menunggu nya di depan sana.


" Apa kau menunggu ku dari tadi??. " tanya Quennevia.


" Iya, Kira-kira seperti itu. Ayolah, aku akan mengantarkan mu ke asrama mu. " sahut Ethan sambil mengulurkan tengahnya kepada Quennevia.


Quennevia sendiri juga menerima uluran tangan itu dengan senang hati, dan mereka pun mulai berjalan ke arah asrama putri untuk mengantarkan Quennevia. Selama perjalanan itu hati Quennevia tidak henti-hentinya berdebar dengan cepat, wajahnya tersipu karena Ethan yang terus menggenggam tangannya itu.


Padahal sebelum nya ia tidak pernah seperti ini, Quennevia jadi bingung dengan dirinya sendiri. Waktu di jantung hutan pun ia terus saja memikirkan nya hingga terbawa mimpi, ia sampai mengira kalau dirinya itu gila.


" Ngomong-ngomong, apa matamu itu benar baik-baik saja??. " tanya Ethan mencairkan suasana.


" Iya, Everon bilang ini tidak akan memakan waktu lama untuk pulih. " sahut Quennevia.


" Begitu. " jawab Ethan pula, suasana jadi canggung diantara mereka, entah kenapa hal itu terjadi, apa mungkin karena mereka tidak bertemu untuk waktu yang lama. " Anu, itu... Sebenarnya aku juga ingin mengatakan hal lain padamu, tapi karena sebelumnya ada Oscar dan yang lainnya aku jadi ragu mengatakan nya didepan mereka. " ucapnya pula panjang lebar.


" Jadi, apa yang ingin kau katakan??. " tanya Quennevia pula.


" Itu... emm.. mm... "


Nampaknya meski hanya ada mereka berdua dia masih tetap ragu untuk mengatakan nya, ia bahkan sampai bicara tidak jelas seperti itu. Sedangkan Quennevia sih malah penasaran dengan apa yang ingin ia katakan.


" Itu.... aku senang.. bisa bertemu dengan mu lagi. " ucap Ethan, wajah yang tersipu malu setelah mengatakan hal itu.


Quennevia juga hanya tersenyum mendengar itu, saat mereka pun juga sampai di depan asrama putri. " Hanya itu??. " tanya Quennevia berbalik kearah Ethan.


" 5 tahun terakhir ini, kau terus saja ada di pikiran ku. Seperti nya.... aku.. kerinduan mu. " ucap Ethan.


" Hah??. " ucap Quennevia pula dengan terkejut.


Wajah nya pun semakin memerah tak kalah merah dengan Ethan yang mengatakan nya, ia pun buru-buru berbalik membelakangi Ethan karena itu.


" A.. Aku akan masuk sekarang, sebaiknya kau kembali ke asrama mu sekarang. " ucap Quennevia.


" Ah, kau benar aku harus kembali jangan sampai teman sekamar ku itu membunuh ku. " ucap Ethan yang hendak berbalik pergi dari sana, saat suara Quennevia menghentikan nya untuk sesaat.


" Aku juga merindukan mu, sampai jumpa besok. " ucap Quennevia.


Ethan yang mendengar nya langsung berbalik kembali kearah Quennevia, namun ia sudah tidak ada di sana. Ia seolah-olah hilang begitu saja dari sana, tapi Ethan juga senang mendengar itu, ia kemudian kembali berbalik dan pergi dari sana dengan senyum cerah di wajahnya.


Sedangkan Quennevia sendiri, tengah berdiri di depan jendela lantai dua di asrama putri. Sambil menatap kepergian Ethan (meski sebenarnya gak bisa) dengan wajah merah dan senyum bahagia, hatinya berdebar sangat kencang saat mendengar Ethan bilang merindukan nya, seolah-olah jantungnya akan meledak saking senang nya.


" Si bodoh itu. " gumam Quennevia kemudian ia pun pergi ke kamar yang ia tempati.