Quennevia

Quennevia
Kepulangan 2



* Pegunungan Hitam, kastil klan Retia.


Apa yang baru saja terjadi begitu mengejutkan bagi semua orang, tidak terkecuali orang-orang di klan Retia. Pertanda kembalinya Dewi Dunia tengah, dan turunnya wahyu pada saat yang sama, sudah cukup untuk membuat mereka semua dilanda kebingungan yang besar.


Ketika cahaya naik dari kelima kuil besar Dewi Dunia Tengah, pertanda itu telah disaksikan oleh seluruh makhluk hidup yang ada di benua. Sekaligus isyarat, kalau perang keadilan ini tidak akan lagi berat pada sisinya.


Gadis yang orang-orang kenal sebagai Putri Empat Dunia, dan inkarnasi Dewi telah kembali.. Bersama dengan orang-orang yang telah dipilihnya.


Ini bukanlah situasi yang harus ditanggapi dengan main-main..


Setidaknya Seriana dan sebagian besar anggota klan berpikir demikian.


" Ini lebih cepat dari dugaanku, apakah leluhur memiliki cara untuk mengatasi ini. Ketika wahyu turun dikuil Dewi setelah yang terakhir turun 1000 tahun lamanya, itu artinya takdir yang sebelumnya kusut sudah mulai ditenun ulang.. Aku harap beliau sudah memikirkan cara.."


Semua kegelisahan memenuhi pikirannya, Seriana yang tidak bisa menghilangkan perasaan itu pun melangkahkan kakinya dan pergi menuju ke tempat dimana Seretia seharusnya berada. Ruang takhtanya...


Pintu berbuka ketika kedatangannya, dan Seriana masuk ke dalam ruangan disaat yang sama ketika pintu itu kembali tertutup dengan sendirinya.


" Leluhur.."


Ketika itu, perhatian nya pun langsung tertuju kepada Seretia yang sedang memandangi lekukan pegunungan dari jendela ditempat itu. Dia terlihat begitu tenang meskipun Seriana yakin kalau dia telah mengetahui apa yang terjadi diluar sana.


" Leluhur, firman Dewi telah turun di ke tujun kuil besar. Firman yang akhirnya turun setelah sekian lama telah membawa pengaruh yang besar. Saat ini semua orang sedang dalam kegelisahan, apa yang harus kita lakukan??" ucapnya.


" Hmm... Kenapa kau terlihat sangat khawatir dengan hal itu, Seriana?" tapi seperti nya Seretia tidak peduli sama sekali dengan hal tersebut.


Sampai-sampai Seriana pun heran mendengar jawaban darinya. " Maaf?"


Seretia pun kemudian mengalihkan perhatian nya dan menatap Seriana disana, melihat bagaimana anak yang memimpin klan dibuat bingung hanya karena kata-katanya. Bagaimana pun, dia terlalu berhati-hati.. itulah menurut Seretia.


Ia pun berbalik menghadap kearahnya dan tersenyum lebar, dan Seretia mengajukan pertanyan kepada keturunan yang ada dihadapannya saat ini.


" Seriana.. Apa kau bersenang-senang dengan bersembunyi selama ini? Kenapa kau tidak mengungkapkan kekuatan mu ke dunia?" tanyanya.


Seriana yang mendengar pertanyan itu berpikir sejenak, saat tak lama kemudian ia pun menjawabnya. " Bukankah berbahaya jika terlalu gegabah? Kami tidak bisa menunjukan eksistensi kami sebelum mendapatkan kekuatan, dan juga membangkitkan anda." dan itulah jawaban yang diberikan olehnya.


" Kenapa begitu?"


" Mm... Karena akan buruk jika Putri Empat Dunia bergerak lebih dulu dan mengacaukan rencana."


" ...Kau benar. Tapi kau mengabaikan potensimu."


" Maksudnya?"


Seretia melangkahkan kakinya mendekat setelah pertanyaan itu datang, ia pun mengangkat kedua tangannya dan memegang wajah Seriana dihadapannya dengan kedua tangan itu. Mereka begitu dekat, dan untuk beberapa alasan, Seriana dapat merasakan dengan lebih jelas kekuatan besar yang berkecamuk, siap dilepaskan kapanpun oleh orang dihadapannya.


Meskipun dia terlihat begitu tenang, tapi didalam dia telah menantikan hal ini. Ketika akhirnya Seretia bisa menantang Dewi dan menginjak-injak kepercayaan yang dia sebarkan keseluruh dunia tepat didepan wajahnya. Seriana bisa merasakan hasrat itu darinya. Itu membuatnya sedikit tegang...


Sementara Sretia yang melihat itu hanya tersenyum kepadanya, dan ia kembali berkata. " Kegelapan... Tidak akan pernah hilang, Seriana. Karena itu adalah bagian dari manusia." ucapnya.


Disaat yang sama, kedua tangannya pun turun mengikuti kulitnya. Menyentuh leher dan berhenti dipundaknya. Seretia pun melanjutkan kata-katanya..


" Apapun hasil dari pertarungan ini, kita tidak akan pernah kalah. Kita menyembah bencana. Dan ketika kegelapan paling besar dibebaskan dan melahap dunia, kita semua akan kembali. 'Dia' akan menciptakan dunia dimana tidak ada satupun hal yang bisa mengalahkan kita... Hanya 'Dia' yang akan memberikan kedamaian abadi kepada kita." Seretia mengatakan semua itu dengan menekankan setiap kata-katanya.


Membuat Seriana yang ada dihadapannya bergeming, dan entah bagaimana... keresahan yang sebelumnya ia rasakan perlahan menghilang.


" 'Dia'... itu siapa?" dan pertanyan itu pun datang.


Seretia pun melepaskan tangannya dari bahu Seriana dan mengangkat sebelah alisnya karena pertanyan itu...


Ia pun membalasnya, " 'Dia'... Apa yang kita temui dijurang terdalam dunia sebelumnya."


Seriana mengingat itu, mata besar dari makhluk yang tidak diketahui. Sosok dengan kekuatan yang bisa setara dengan 3 dewa pencipta dunia, dan hawa keberadaan yang dapat menelan segalanya. Makhluk itu yang telah terkurung dalam kegalapan dibawah jurang...


Mengingat itu dia cukup percaya, makhluk itu dapat melawan para dewa dengan mudah. Dan dia juga yakin, kalau makhluk itu dapat menghancurkan segalanya jika sampai ia bebas. Jadi apakah itu hal yang benar-benar baik bagi mereka??


Saat kemudian lamunan Seriana buyar karena perintah dari Seretia...,


" Siapkan pasukan, Seriana. Katakan kepada semua orang untuk tidak khawatir, Dewi tidak akan bisa turun dengan wujud sejatinya, maka itu artinya kemampuan nya masihlah sama dan telah dibatasi. Itu karena dia terlalu peduli kepada dunia yang sama sekali tidak berarti ini. Anggota klan ku adalah orang-orang yang telah dipilih oleh sang bencana, kekuatan mereka lebih dari cukup kuat untuk bisa bergabung dalam panggung berdarah terakhir untuk kita." ucapnya.


Mendengar itu, Seriana pun menganggukan kepalanya menanggapinya, " Baik, sesuai keinginan anda."


Ia pun segera berbalik pergi dari sana untuk menyampaikan perintah yang disampaikan oleh leluhur mereka yang agung, tapi.. sebelum ia benar-benar pergi dari sana. Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika dia mengingat sesuatu...


" Ah, benar juga.." gumamnya, dan Seriana pun kembali menoleh kepada Seretia dibelakang nya. " Bolehkan aku tahu dimana Lorenzo dan Ryohan? Aku tidak melihat mereka sejak beberapa hari yang lalu." tanyanya.


Seretia yang ditanya pun kembali tersenyum, dan kemudian sedikit memiringkan kepalanya dengan satu tangan bertumpu dipinggangnya.


Ia pun menjawab, " Ryohan pergi ke ruang latihan, sepertinya dia masih perlu waktu dengan penyesuaian. Tapi dia akan baik-baik saja. Sementara Lorenzo... Iyah, aku tidak tahu dia pergi ke mana. Aku melihatnya keluar dari jendela beberapa jam yang lalu dan masih belum kembali hingga sekarang." ucapnya.


" Begitukah..." Seriana menerima jawaban itu dengan baik, meski begitu... ada sedikit keraguan diwajahnya. " Ryohan.. Apa dia benar-benar bisa mengendalikan kekuatan itu??" atau mungkinkah itu sebuah insting?


Sriinkk..


" Tidak apa. Seriana, kau punya anak-anak dengan tekad kuat. Mereka akan baik-baik saja."


Namun Seretia terus meyakinkannya, dan dia tahu kalau anak itu tidak akan bisa melawan...


{Ack... Hah.. Ha..}


" Lagipula... Tidak ada lagi yang lebih layak dari Ryohan, dia spesial. Karena itu, kau jangan khawatir... Seriana."


***


* Didepan pintu gerbang Akademi Bintang Utara saat ini, beberapa jam setelah kejadian yang menggemparkan seluruh benua.


Semuanya kembali normal setelah semua hal yang mengejutkan yang terjadi, suasana diakademi nyaris sepi meski para sukarelawan dan murid-murid telah kembali berkumpul setelah melewati masa-masa sulit. Sementara yang ada digaris depan, tetap berjuang dan menjaga wilayah perbatasan antara pegunungan hitam dan bagian luarnya meskipun situasi sedang tenang setelah kemunculan wahyu dewi.


Hanya ada dua orang penjaga yang berdiri diatas benteng dimana gerbang masuk itu berada. Dan tentu saja, suasana sepi itu tidak mungkin tidak membuat seseorang merasa bosan berada disana.


" Hoamm~..."


" Mulutmu bisa kemasukan lalat jika kau membukanya terlalu lebar, lho." ucap Kai, yang jadi salah satu penjaga disana.


Sementara itu rekannya yang diingatkan hal itu sedikit terkejut dan kemudian menoleh kearah dengan senyuman canggung diwajahnya..


" Yah, aku tetap tidak terbiasa berdiri disatu tempat untuk waktu yang lama dengan suasana seperti ini. Tidakkah kau pikir kalau ini membosankan, Kai?." tanya orang itu pula kepadanya.


" Tidak juga, aku sudah terbiasa."


" Kau memang selalu seperti itu.."


Kai hanya tersenyum menanggapi hal itu, jujur saja dia sudah sering mendengar ucapan seperti itu sejak ia bekerja diakademi sesuai keinginan tuannya, yaitu Quennevia. Dia juga jadi dapat belajar banyak hal baru dan mendapatkan banyak teman baru juga.


Meski begitu, dia juga sebenarnya khawatir. Sejak Quennevia dan yang lainnya tidak lagi terlihat, Kai selalu bertanya-tanya kemanakah mereka pergi sebenarnya. Dia harap dia bisa membantu, tapi sepertinya akan sulit untuk dirinya bisa berdiri bersama mereka.


Disamping itu, dia juga terpikirkan seseorang...


" ...Putri Meliyana, ya?"


" Iya.."


Sesaat kemudian Kai tiba-tiba terkejut sendiri atas jawaban yang ia utarakan kepada rekannya yang menanyakan hal itu.


" Bu-bukan. Maksudku.." ia berusaha menyangkal kembali hal itu dengan wajahnya yang berubah memerah.


Sementara itu teman nya menunjuk sesuatu yang ada didepan nya, dia juga menyangkal apa yang sedang dipikirkan Kai saat ini. " Bukan itu, tapi disana." ucapnya.


Mendengar perkataan itu darinya, membuat Kai pun kembali mengalihkan perhatian nya kearah yang ditunjuk oleh rekannya. Dan ia juga melihat nya.. Ada seseorang..


Sekelompok orang yang berjalan kearah gerbang dimana mereka berada, mereka adalah sosok yang sangat mereka kenal disana. Karena itu mereka jadi sangat terkejut...


" Tuan Arkan.. Tuan Oscar dan Nona Niu, bahkan Putri Sakura dan Pangeran Ethan pun juga kembali." ucap rekannya yang memperhatikan mereka dengan baik.


Dan ada juga, seseorang yang ia lupa sebutkan...


Kai melihat rambutnya yang berkilauan diterpa oleh cahaya matahari yang terbenam dibelakang punggung mereka, dia orang yang ia pikirkan...


" Nona Quennevia..."


Tentu saja, dia lah yang datang bersama mereka. Da juga, Sakura yang juga ikut.


Kelompok terkuat diakademi yang selama ingin menghilang kini telah kembali, dan jelas mereka tidak biasa diam saja.


" Cepat! Bunyikan lonceng untuk memberitahu kepala akademi dan yang lainnya, aku akan membuka gerbangnya." karena itu Kai pun membagi tugas untuk mereka berdua yang mengetahui kedatangan mereka.


" Baiklah."


Mereka langsung bergerak dengan cepat kearah berlawanan untuk melakukan apa yang harus dilakukan. Sementara itu...


" Woah~.. Kurasa aku melihat Kai berlari terburu-buru turun dari tempatnya, manis sekali." Meliyana yang melihat bagaimana respon cepat mereka terlihat sumeringah karena itu.


" Tentu saja, bagimu apapun yang dilakukan Kai terlihat manis meski dia menghindarimu." sahut Niu menimpali hal tersebut.


" Selama mereka akhur, kurasa itu baik." tapi Quennevia tidak berpikir kalau ada yang salah dengan hubungan mereka.


Meski... memang terkadang Meliyana terlalu berlebihan menanggapi perasaannya terhadap Kai dan bersikap terlalu kekanakan, sangat berbeda dengan Kai yang sangat pemalu dengan hal itu, dan benar-benar merasa terbebani. Setidaknya mereka pasangan yang cocok.


Teng...Teng...Teng...


Bunyi lonceng terdengar bergema diseluruh akademi, disaat yang sama pintu gerbang didepan mereka pun perlahan terbuka dan semakin lebar. Mereka akhirnya dapat kembali melihat sekolah yang telah lama mereka tinggalkan.


" Anak-anak...!" suara itu terdengar memanggil mereka.


Dan kepala akademi terlihat berlari bersama dengan para tetua dengan begitu terburu-buru.


Bukan hanya mereka... para murid dan hampir semua orang yang ada disana semuanya berlarian keluar sebagai sambutan atas kembalinya mereka kesana.


" Ya, ini sudah satu setengah tahu berlalu, kan?" ucap Oscar saat melihat bagaimana antusiasnya orang-orang saling berlomba keluar untuk melihat kembalinya ia dan teman-temannya.


" Rasanya waktu sangat cepat berlalu tanpa kita sadari saat dalam perjalanan, ya." sahut Ethan pula menimpalinya.


Berbeda dengan mereka berdua yang biasa saja, Arkan justru merasa sesuatu yang tidak menyenangkan pasti akan terjadi. " Kurasa kita akan mendapat banyak sekali pertanyan dari kepala akademi."


" Aah... Kau mengingatkan sesuatu yang tidak menyenangkan." bahkan Yuki yang mendengar nya pun juga jadi bisa membayangkan hal tersebut. Dan ia benar-benar sangat malas dengan hal tersebut.


Sementara itu teman-temannya yang lain hanya tertawa mendengar keluhan mereka yang sudah bisa ditebak itu, mau bagaimana pun itu tidak diragukan lagi. Sepertinya mereka semua tidak akan punya waktu istirahat yang benar-benar sempurna selama beberapa waktu kedepan.


" Semuanya akan segera dimulai..."