Quennevia

Quennevia
Penunjuk jalan



[Season 2]


Ketika matahari mulai terbit ditimur, Ethan dan teman-teman telah bergerak kembali untuk mencari benda ke-empat yang mereka butuhkan. Mereka bergerak menggunakan kereta menuju ke desa para Elf, tempat dimana benda yang ia butuhkan berada.


" Kita hanya perlu mendapatkan kulit pohon kehidupan 'kan?? Kalau begitu kita tinggal memintanya kepada para Elf itu. " ucap Arkan dengan wajah yang masih ngantuk.


" Tidak semudah itu, dasar payah. Kita bahkan belum tahu ujian apa yang akan diberikan oleh pohon kehidupan pada salah satu diantara kita. " sahut Niu kesal.


Saat perhatian Arkan teralihkan kepada Yuki yang masih tertidur dipangkuan Niu saat ini. " Dia masih belum bangun? " tanyanya penasaran dengan hal itu.


" Ah, aku memberikan obat padanya karena Yuki bilang dia merasa pusing dan mual, dia juga berkeringat dingin. Karena itu dia tidur lagi. " jawab Niu.


Yah, Sejak beberapa hari yang lalu setelah Yuki meramal melalui bintang dia memang demam parah. Sepertinya menggunakan kekuatan untuk meramal lebih besar dibandingkan saat ia bertarung, karena itu Yuki jadi lemah setelah nya.


Kelomok Ethan berhenti terlebih dahulu, disebuah kota bernama Siria untuk menemui seseorang yang akan menjadi pemandu mereka menuju desa para Elf. Itu karena desa tempat mereka tinggal cukup tersembunyi dan juga sulit dimasuki, jika sambarangan mereka malah akan dianggap penyusup dan ditangkap.


Mereka pun turun dari 2 kereta yang mereka pakai untuk sampai kesana, dan berkumpul sambil mamakai penyamaran. Dikondisi sekarang, karena klan Retia sudah mulai aktif mereka harus sangat berhati-hati.


" Yang mulia, kesebelah sini. " ajak Mira yang ikut dengan mereka.


Gadia berambut merah itu sengaja dibawa, karena seseorang yang akan mereka temui itu sebenarnya adalah kakak nya, Mirion.


Mira menuntun Ethan dan teman-teman nya masuk lebih dalam ke kota. Tempat itu saat ini sangat ramai dan padat, terlihat juga orang-orang membereskan barang-barang mereka hendak pergi dari sana. Kota menjadi lebih sibuk dari biasanya.


" Kemana mereka mau pergi? Kurasa sebagian besar orang yang ada disini akan meninggalkan kota. " ucap Oscar bertanya-tanya dengan penasaran.


" Pergi mengungsi. " jawab Ethan singkat.


" Mengungsi?? Perangnya 'kan belum dimulai. " ucap Arkan pula yang langsung ditatap aneh semuanya.


" Kenapa kau terdengar seperti ingin sekali perang terjadi??" tanya Meliyana merasa heran dengannya.


" Jangan bicara sembarangan ditengah situasi seperti ini, satu kata yang salah saja bisa jadi masalah besar jika ada yang mendengarnya. " ucap Oscar pula memperingati


Karena hal itu, Arkan pun langsung menutup mulutnya rapat-rapat. Kemudian ia mengalihkan perhatian kepada dua peremuan yang ada disebelah nya.


Yuki yang baru saja bangun dari pengaruh obat yang diminumnya, " Kau yakin baik-baik saja? Lebih baik jangan memaksakan diri. " Niu membantu untuk memapahnya agar dia bisa jalan dengan baik.


" Tidak apa-apa, jangan khawatir. " Namun Yuki hanya berkata seperti itu.


Mereka pun melanjutkan jalan mereka sampai dihadapan sebuah toko teh traditional yang ada disana. Mereka langsung masuk ke dalam toko dan naik ke lantai dua setelah Mira menunjukan pesan dari Mirion kepada pegawai toko.


" Mira, dia ada disini??" tanya Ethan memastikan.


Yang mana diangguki oleh Mira, " Iya, suratnya bilang dia ada disini, dan akan memberitahu pelayan jika dia punya tamu. " jawabnya.


Mira pun mengedarkan matanya keseluruh penjuru ruangan, sampai ia berhenti disebuah meja besar didekat jendela tepat dipojokan tempat itu. Disana hanya ada seorang pria yang duduk sendirian.


" Dia disana. " Mira pun menunjuknya.


Dan mereka pun langsung berjalan menghampiri pria yang sedang minum teh sendirian disana. Dan tepat disampingnya...


" Kakak, kau terlihat aneh. " Mira langsung mengatakan itu kepada pria dihadapannya.


Membuat Ethan dan teman-teman nya melotot kaget mendengar itu. Sementara pria yang disebut kakak oleh Mira itu, dia masih diam ditempatnya dengan tenang, kemudian menaruh cangkir teh yang tadi ada ditangannya.


Ia menghela nafas panjang, " Mira, sudah kukatakan padamu berulang kali. Jangan memanggilku aneh. " ucapnya menyahuti perkataan Mira.


Kemudian Ethan menggunakan kesempatan itu untuk menangahi dua saudara itu, " Halo, Tuan Marlon. Saya Ethan Sanchez Sheillaveteos, senang bertemu dengan anda. " ucapnya memperkenalkan diri.


" Ah, yang mulia. Silahkan duduk, dan tolong panggil saja Mirion. " ucapnya menimpali Ethan dengan sopan.


Setelah mendengar itu, Ethan dan teman-teman nya pun langsung duduk bersama dengan Mirion. Kecuali Mira yang memang sudah duduk bersamanya lebih dulu.


" Jadi mereka adalah teman-teman anda, Yang mulia. " ucap Mirion ketika melihat yang lainnya.


Dan Ethan pun menganggukan kepalanya, " Benar. Oscar, Niu, Arkan, Meliyana dan Yuki. " ucapnya memperkenalkan mereka.


" Hallo. " sapa Meliyana.


" Senang bertemu dengan anda. " ucap Yuki.


Mirion pun tersenyum dan menganggukan kepala nya, kemudian ia kembali kepada Ethan yang duduk dihadapannya.


" Jadi apa yang anda butuhkan, Yang mulia?" tanyanya langsung pada intinya.


" Tidak perlu bertele-tele, kami ingin meminta bantuanmu untuk pergi ke wilayah para Elf. " jawab Ethan.


" Oh, itu mengejutkan. Apa yang anda butuhkan di wilayah kami? " tanya Mirion makin penasaran, ia pun kembali mengangkat gelas tehnya dan meminum itu.


" Kami ingin bertemu dengan pohon kehidupan. " ucap Ethan terus terang.


Yang mana langsung membuat Mirion sedikit tersentak, ia pun tersenyum dengan ragu. " Itu... sepertinya agak sulit. " ucap Mirion pula.


Tentu saja, pohon kehidupan adalah sumber kehidupan bagi Elf dan alam sekitar. Pohon itu memiliki energi yang begitu besar dan bisa menyembuhkan penyakit apapun, karena itu pohon kehidupan dianggap suci dan juga berharga oleh para Elf, sehingga penjagaannya pun juga dilindungi penghalang yang begitu kuat dan ketat.


Yang bisa mendekati pohon kehidupan hanya keluarga kerajaan, tanpa izin dari keluarga kerajaan.. tidak ada siapapun yang bisa mendekatinya. Kecuali penguasa hutan.


" Tentu, aku tahu. Karena itulah aku memintamu untuk memandu kami menemui keluarga kerajaan, sebagai Elf yang masih memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan, anda pasti bisa mengusahakan hal itu. " bujuk Ethan, meski jujur saja dia tidak yakin apa itu benar-benar bisa atau tidak.


Mirion juga sebenarnya tidak punya alasan untuk menolak, lagipula dia memiliki hutang budi karena kekaisaran bersedia menerima Mira apalagi memberinya posisi yang memberikan masa depan yang menjanjikan untuknya.


" Ya, soal itu-..!" ucapan Mirion terhenti ketika ia merasakan sesuatu, sesuatu yang terasa buruk.


Ethan juga menyadari hal itu, beberapa orang baru saja datang ke tempat yang sama dengan mereka. Duduk tak terlalu jauh dari tempat mereka berada, mereka semua memakai jubah hitam yang menutupi diri mereka.


Mirion menghela nafas sejenak kemudian ia mengangkat kepalanya, " Jadi kau menginginkan apel, kalau begitu aku akan membawakanmu ke kebun apel yang bagus. " ucap Mirion sambil tersenyum cerah.


Disamping itu, Arkan yang mendengarnya mengerutkan kening bingung, " Apel apa yang kau-.."


Buk..


" Sstt... Diam. " tapi Yuki langsung menyenggol tangannya dan menyuruhnya untuk tidak bicara.


Ethan pun balas tersenyum dan berkata, " Baiklah, tolong tunjukan kebun apel yang bagus dan luas. Aku akan membayar berapapun harganya. " jawab nya kepada Mirion.


Ternyata pembicaraan itu harus berakhir dengan cepat dan mudah karena ada pengganggu, tapi sebenernya... tidak ada penolakan sejak awal.


" Bagaimana jika pergi sekarang? " tanya Mirion pula tiba-tiba.


" Se-Sekarang juga??" ucap Niu dengan terkejut. Itu karena nada suara Mirion yang langsung berubah dari sebelumnya.


" Iya, sekarang. Lebih cepat lebih baik bukan, sebelum ada ulat yang menggerogoti apel yang manis itu. Kita harus memetiknya terlebih dahulu. " sahut Mirion yang kemudian bangkit berdiri dari duduknya.


Ia pun berjalan lebih dulu dari yang lainnya sambil menggandeng tangan Mira, melihat itu Ethan dan yang lainnya pun ikut berdiri dan mengikutinya pergi dari toko teh itu.


Disisi lain, orang-orang berjubah hitam itu kelihatan menatap mereka dengan curiga.


Tentu saja! Siapa yang tidak akan curiga saat seseorang membicarakan soal jual beli tanah ditengah situasi kacau karena rumor perang diseluruh benua??


Salah satu diantara mereka pun kemudian membisikan sesuatu kepada yang lain, dan mereka pun langsung ikut bangkit dan pergi dari toko itu. Mengikuti Ethan dan yang lainnya diam-diam.