Quennevia

Quennevia
Informasi



Ketika Quennevia dan Haika masuk ke sebuah celah di pohon itu, di dalam nya terdapat ruangan yang cukup besar dengan lorong-lorong yang sangat panjang, tepat seperti sebuah labirin besar.


" Kau yakin jalannya kesini adik, tempat ini lebih besar dari pada yang terlihat. " tanya Haika sambil melihat-lihat sekitar dari jalan yang mereka ambil.


" Tenang saja, aku yakin. " sahut Quennevia dengan pasti.


Mereka berdua terus berjalan menyusuri lorong itu, sampai mereka menemukan sebuah gerbang besar menuju sebuah tempat di dalam pohon itu.



Quennevia dan Haika melewati gerbang itu, terdapat pohon di tengah tempat itu, diterangi sinar matahari yang melewati celah pohon besar tempat mereka berada. Begitu indah dan sangat bersinar, sangat damai, tempat dimana pohon itu berada terlihat seperti sebuah pulau kecil di atas kolam, hingga Quennevia dan Haika harus berjalan di atas air untuk bisa sampai di dekat pohon itu.


Di depan sana, Misika tengah duduk di bawah pohon itu sambil berdoa ditemani oleh Xi di samping nya yang menoleh ketika menyadari keberadaan mereka di sana.


Pohon yang ada di depan mereka itu adalah sebuah pohon willow emas yang hanya ada satu-satunya di seluruh hutan mungkin juga satu-satunya yang ada di seluruh dunia, dan pohon itulah yang para spirit sebut sebagai pohon waktu. Mereka berhenti tepat di belakang Misika yang tengah berdoa itu.


" Akhirnya kau mengunjungi ku juga, ya.... Haika. " ucap Misika yang masih menutup matanya dan menyatukan tengan nya di depan dada ketika sedang berdoa menghadap ke pohon itu.


Haika yang mendengar itu terdiam sesaat, saat kemudian ia pun berkata.


" Iyah, akhirnya aku punya kesempatan untuk melihat tempat menakjubkan ini. " sahut Haika dengan penuh rasa haru.


Saat...


" Ibu, aku juga di sini loh. Kenapa hanya kakak saja yang di sapa??. " gerutu Quennevia dengan kekanakan menengahi percakapan mereka.


Misika pun akhirnya berbalik dan tersenyum kepada mereka, " Ibu tahu. Tapi kau kan bisa datang kapanpun kau mau, berbeda dengan kakakmu. " ucapnya.


Mendengar itu membuat Quennevia mengembungkan pipinya cemberut, dia juga ingin disambut oleh ibunya seperti Haika.


" Ah, baiklah baiklah. Aku tidak mau berdebat dengan kakak ataupun ibu, boleh aku bermain dengan Xi??. " tanya Quennevia pula kembali bersemangat, perubahan suasana hatinya begitu cepat sekali.


" Tentu saja, kenapa kau harus bertanya seperti itu??. " tanya balik Misika sambil terkekeh.


Quennevia hanya cengengesan mendengar ucapan Misika itu, kemudian ia pun segera memanggil Xi dan pergi meninggalkan keduanya di sana, sementara ia dan Xi keluar untuk bermain di sekitar pohon besar itu.


" Syukurlah dia jadi sangat ceria, ya. " ucap Haika yang masih menatap arah Quennevia pergi.


" Kau benar, itu benar-benar hal yang sangat bagus. " sahut Misika menimpali dengan senyum bahagia, namun sesaat kemudian senyuman itu pun pudar. " Lalu... bagaimana perkembangan tentang klan Retia??. " tanyanya pula kepada Haika.


" Mereka masih belum bergerak terlalu jauh, beberapa klan ku bilang kalau mereka sedang mengumpulkan kekuatan entah untuk apa. Dan baru terjadi sekali penyerangan lagi kepada Quennevia sejak 5 tahun lalu, itupun saat Quennevia menuju Chrysos. " ucap Haika panjang lebar.


" Bagaimana dengan rumor tentang pemimpin mereka??. "


" Kudengar pemimpin saat ini bernama Seriana, dia memiliki seorang putra namun nama dan rupanya masih belum diketahui. "


Misika memikirkan hal itu dengan sangat serius, akan berbahaya jika sampai mereka tidak menyadari musuh yang ada di dekat mereka. Tapi jika mereka bergerak terang-terangan pun sudah pasti akan lebih berbahaya, mengingat klan Retia memang sedang mengincar mereka atau lebih tepatnya Quennevia.


Satu satunya cara agar mereka bisa mengawasi klan Retia dengan leluasa tanpa memikirkan hal apapun, adalah dengan membuat Quennevia aman terlebih dahulu. Jika Quennevia ada di tempat yang aman, klan Retia juga akan kesulitan untuk bisa menangkapnya.


" Mungkin dengan mengirim Quennevia ke Akademi bintang utara adalah hal yang tepat, tapi mungkin saja tempat paling aman juga bisa jadi tempat yang paling berbahaya baginya. " ucap Misika dengan ekspresi murung memikirkan semua itu.


Haika yang mendengar itu bisa mengerti perasaannya, ia pun meraih kedua tangan Quennevia dan mengganggamnya. " Jangan khawatir, ibu. Aku sudah menyuruh anggota klan lain yang mengetahui keberadaan ku untuk mengawasi Quennevia dimana pun dia berada, aku juga sudah meminta izin kepada kepala Akademi dan beliau menyetujui nya. " ucap nya berusaha sedikit menghilangkan keresahan dalam hati ibunya.


" Itu adalah hal yang sangat bagus, klan kuno mu adalah yang terkuat yang kekuatan nya hampir sebanding dengan klan iblis darah yang dikatakan sebagai klan iblis paling kuat. Tetapi... Kita juga tidak bisa lengah dengan semua hal, kita perlu mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk nya, Haika. "


Itu adalah hal yang tidak ingin dipikirkan dan terjadi bagi Haika.


" Maksud ibu.... perang??. " namun itulah hal buruk nya.


" Benar, sebuah perang besar. Kita harus memusnahkan klan Retia kali ini. "


***********


Disaat Haika dan Misika tengah membicarakan hal penting di dalam sana dengan serius, sementara itu di luar, Quennevia tengah bermain ayunan dengan sulur yang menjuntai dari pohon besar itu.


" Wiii.... " ucapnya kegirangan.


Sedangkan Xi hanya duduk diam dan menonton tingkah kekanakan Quennevia itu, " Bukankah kau sudah terlalu besar untuk bermain seperti itu, Quennevia??. " tanya Xi.


" Ahaha... tidak ada yang bilang kalau ini hanya untuk anak kecil kan. " sahut Quennevia yang langsung melompat turun dari ayunan itu. " Lagipula, aku sudah memutuskan untuk menikmati hidupku. Jadi aku ingin melakukan apapun yang sebelumnya tidak kulakukan. " ucapnya pula.


" Tapi caramu itu yang kekanakan. " ucap Xi tidak mau kalah.


Tetapi Quennevia, " Ha.. ada si kelinci hitam. " tidak mendengarkan nya sama sekali, dia malah langsung berlalu begitu saja.


Xi hanya menatap Quennevia yang berlari kearah kelinci yang ia maksud itu dengan ekspresi datar, seolah Quennevia yang dingin dan kejam beberapa tahun lalu itu tidak pernah ada sama sekali.


Xi berpikir apakah mungkin kepalanya terbentur hingga kehilangan sifatnya itu, tepi ia rasa kalau itu sama sekali tidak mungkin. Ia pun tidak mau terlalu memikirkan nya dan mendekati Quennevia yang tengah bermain bersama kelinci tersebut saja.


" Hahaha.. hahaha... Oh, iya. Xi, jika aku berubah ke bentuk spirit ku, aku itu kelinci apa?? Ibukan kelinci putih, lalu bagaimana dengan ku?? Apa aku kelinci putih juga, atau hitam, bagaimana dengan coklat, mungkin abu-abu, ah..kuharap ada warna biru??. " tanya Quennevia dengan beruntun seperti itu.


" Kau kelinci hitam. " ucap Xi singkat.


" He.. begitu kah, jadi kita ini satu jenis dan juga satu warna. " ucap Quennevia kepada kelinci yang ia angkat dengan tangannya itu.


" Kau tidak merasa sedih dengan hal itu??. " tanya Xi pula, membuat Quennevia menatap kearahnya dengan bingung.


Quennevia pun tersenyum, " Kenapa harus sedih, jika ibu kelinci putih sementara aku kelinci hitam. Yang penting aku jadi diriku sendiri, dengan begitu tidak peduli seperti apapun diriku, aku tetaplah aku. " ucap Quennevia.


Iya, apapun itu tidak masalah untuk Quennevia, dia tidak pernah mempedulikan hal-hal kecil seperti itu. Sejak awal datang pun sebenarnya Quennevia tidak tertarik dengan apapun, tapi ia hanya ingin menjalani hidup menyenangkan yang sebelumnya tidak bisa ia dapatkan.


" Kau benar-benar anak yang tidak terduga. " ucap Xi setelah mendengar itu.


" Hm... Begitu kah menurutmu?? Tapi ada juga yang membuat ku bingung. " ucap Quennevia pula.


" Apa itu??. "


" Kau tahukan rambut ku dan ibu berwarna emas, menurutmu kenapa?? mataku juga berwarna hijau berbeda dengan para spirit kelinci yang mata nya berwarna merah termasuk ibu. "


" Benar juga. "


Quennevia sudah berpikir keras tentang hal itu tapi ia tidak mendapatkan petunjuk apapun soal warna rambutnya, jika matanya sih ia masih bisa berpikir itu turunan dari ayahnya yang memiliki mata berwarna hijau seperti Zambrud. Tapi memikirkan itu tidak akan membawanya ke mana pun, jadi ia menyerah.