Quennevia

Quennevia
Tangga ke 870



[Season 2]


Trang... sriiikkk...


" Hraaa..!"


Swosshh.... Duar!


Suara bising dari serangan demi serangan yang lain terus mengisi tempat itu, baik Felice atau Violetine tidak ada yang mengalah satu sama lain. Kekuatan salah satu dari mereka bisa jadi kelemahan bagi yang lain, dan kelemahan yang lain bisa jadi kekuatan bagi yang satunya. Terus seperti itu...


Karena itulah pertarungan ingin belum menemukan titik terang untuk menemukan siapa yang menang dan siapa yang kalah diantara mereka.


Violetine yang kemampuannya telah mencapai tahap transenden, dan Felice yang terlahir dari garis keturunan murni yang mendapatkan darah dan berkat dewa. Mereka bisa dibilang berada diperingkat yang sama, meski berlawanan.


Dan tentu saja, tujuan mereka jelas berbeda...


Tapi kelihatannya, Felice lah yang mendominasi pertarungan itu...


" Aaakk..!"


Brukk..


Ia baru saja mendorong jatuh Violetine yang sebelumnya dikira akan mengambil alih pertarungan dengan baik...


Violetine berusaha untuk bangun kembali meski dengan luka yang cukup serius, dan dilihat dari ekspresi nya saat ini. Sepertinya dia juga sangat terkejut dengan hasil tak terduga barusan...


" Aku... kalah..."


Violetine, kesatria terbaik dengan posisi tertinggi. Dan juga merupakan bagian dari Quennevia, kalah dari seseorang yang bahkan tidak sampai setengahnya memiliki kemampuan setara dengan dewa.


" Tidak mungkin..." itu bukanlah hasil yang ia harapkan, karena itu Violetine sangat terguncang dengan hal ini.


" Kelihatannya... kau tidak bisa menerima kekalahanmu."


Lamunan Violetine buyar ketika mendengar suara Felice, ia mengangkat kepalanya dan menatap Felice tepat dihadapannya saat ini..


Begitupula dengan Felice, ia menatap Violetine yang bersimpuh diatas kakinya. Dan ia pun kembali berkata, " Apa kau mengerti kalau yang kau lakukan itu sia-sia? Tujuanmu adalah menghalangi orang yang ingin naik ke istana itu, tapi yang kau halangi sekarang adalah pemiliknya. Dan orang yang dipilih oleh Putri Empat Dunia." ucapnya.


Violetine menggigit bibir nya menahan sesuatu, apa yang ia pikirkan bukanlah hal itu melainkan hal yang paling penting baginya.


Ia pun berkata, " Kalian tidak akan pernah mengerti. Memangnya apa yang kau tahu tentang kami?" ucapnya kepada Felice.


Sementara Felice menyipitkan matanya mendengar perkataan Violetine," Kami?"


Violetine menggenggam erat tombak ditangannya, " Iya. Setiap kali Quennevia lahir kembali, akan muncul satu alter ego yang lain. Ketika kami terpisah, kami hanya punya satu tujuan.... " dan ia pun mengangkat tombaknya tinggi diatas kepadanya kemudian mengayunkannya kepada Felice. " ...Yaitu untuk kembali kepada pencipta kami!!" lanjutnya pula.


Itu gerakan yang sangat cepat, orang biasa mungkin tidak akan punya cukup waktu untuk menghindar dari serangan yang tiba-tiba dalam satu detik. Tapi dalam satu detik yang singkat itu...


Trang...


Sudah lebih dari cukup bagi Felice untuk menangkis serangannya...


Tombak Violetine terbang karena tangkisan dari Felice, sementara Violetine sendiri kembali jatuh diatas kedua kakinya. Lagipula itu bukanlah serangan kuat seperti sebelumnya, hanya serangan biasa. Bahkan Violetine tidak menyalurkan energinya dalam serangan itu sama sekali.


Itu bukan serangan yang bisa ia pertaruhkan hasilnya...


Felice pun mengarahkan pedangnya kepada Violetine yang tertunduk dihadapannya, " Kalian juga bebas percaya pada apapun yang kalian mau. Tapi seharusnya kau sendiri yang memutuskannya. " ucapnya kemudian.


Disaat yang sama sesuatu mulai jatuh diwajah Violetine, " Karena itulah manusia tidak akan pernah mengerti!!." dia menyangkal itu dengan keras disaat air mata mengalir dari wajahnya. " Bagi kalian kami hanyalah bagian yang terpisah. Tapi alasan kenapa kami ingin membuktikan kami pantas kembali, adalah karena mereka yang dipisahkan oleh Quennevia telah di buang olehnya! Memangnya kau mengerti apa soal itu?!!"


Itu mungkin tidak bisa dipercaya, tapi itu benar. Violetine menangis...


" Manusia juga punya keyakinan. Yang terpenting adalah tidak kehilangan jati diri sendiri. Kekuatan untuk berpikir, keberanian untuk berlari, hati untuk bahagia dan bersedih... kau sendirilah yang memutuskannya." ucap Felice dengan suara tenang, " Lalu... apa benar dia membuangmu?"


" Huh??"


Pertanyaan itu membuat Violetine terdiam, dia tidak bisa menjawab hal tersebut. Ia tidak tahu bagaimana bisa ia berpikir demikian, namun pikiran itu telah tertanam sejak Quennevia meninggalkannya disana. Karena kalau bukan itu, jadi kenapa Quennevia meninggalkannya... itulah yang dia pikirkan.


" Kau tidak mengerti kenapa dia meninggalkanmu disini? Apa benar untuk menjaga tempat ini? Atau dia benar-benar membuangmu? Bisa jadi dia punya tujuan lain. Kau tidak tahu yang mana alasannya yang sebenarnya... Apa karena itu kau masih menunggunya ditangga bawah, bukan diatas??" Felice kembali bicara dari diamnya Violetine atas pertanyaannya.


Violetine tidak bisa menyangkal lagi, karena apa yang dikatakan Felice itu benar. Ia memejamkan matanya pasrah dengan keadaannya sekarang, namun...


" ....Baiklah. Anggap saja kau benar dengan alasan kenapa aku berpikir seperti itu. Tapi... kau salah tentang alasan kenapa aku ada dibawah.." ucap Violetine akhirnya kembali buka suara.


Disaat yang sama, sebuah kekuatan yang besar tiba-tiba menyeruang muncul memenuhi tempat itu. Itu sangat besar dan kuat melebihi eksisten Violetine sendiri, hingga membuat Felice terkejut.


" ...Alasan kenapa aku tidak diatas, itu karena disana ada dia. Orang yang bahkan tidak bisa kulawan." lanjut Violetine kemudian.


Felice yang mendengarnya pun langsung menoleh kearah tangga, dimana putranya dan asal kekuatan itu berada. Dengan ekspresi yang begitu cemas, Felice pun memanggil nama nya..


" Ethan...!"


-- Beberapa saat sebelumnya..


Ethan berada dianak tangga ke-869...


Ia ada diposisi yang begitu dekat dengan ujung tangga yang sangat banyak ini, dengan usaha yang begitu besar. Ethan mencoba bertahan dari semua yang berusaha untuk menjatuhkannya dari tangga ini.


Yah, dia hampir benar-benar terlempar oleh hempasan mendadak yang muncul ditangga 868 sebelumnya, karena itu dia sampai mengeluarkan tombak langit hanya untuk dijadikan pegangan dengan menancapkannya diatas anak tangga. Dan sekarang, dianak tangga ke 869.. satu langkah lagi, maka dia akan sampai ditangga ke 870.


" Fyuhh... Bertahanlah.. aku harus bertahan.." Ethan terus menggumamkan kata-kata itu sebagai penyemangat untuk dirinya sendiri.


Dan ketika ia ingin mengambil langkah lainnya, ia benar-benar naik ke atas dengan semua kekuatan nya yang tersisa. Tangga ke....


...870.


Crakk!


Ethan kembali menancapkan ujung tombak itu diatas tangga yang lebih tinggi darinya, dia berhasil bertahan.


Dan teman-temannya dibelakang sana bersorak kegirangan...


" Yeyy!! Kau bisa melakukan nya, Ethan!"


" Jangan menyerah, teruslah maju!!"


Terutama... Meliyana dan Arkan.


Keduanya jadi orang yang paling bersemangat dan menunjukannya terang-terangan. Membuat tempat itu jadi sedikit lebih ramai.


Tapi sesaat kemudian...


Swooshh...


" Heh?!"


" A-Apa ini..?"


Kekuatan yang amat besar itu mulai muncul, beberapa saat setelah Ethan mencapai tangga ke 870 itu.


" Urkk!!"


Ethan juga terlihat terbebani dengan tekanan dari kekuatan itu, ia menggeram kesakitan dan perlahan jatuh berlutut diatas kakinya karena itu. Kesadarannya dibawa pergi ke suatu tempat tanpa bisa ia menolak.


Dan teman-temannya yang menyadari ada yang salah dengan itu mulai merasa khawatir...


" Apa yang terjadi?! Kenapa Ethan seperti itu??" tanya Niu dengan panik.


[Itu dunia ilusi.] sahut Euclide mengalihkan perhatian mereka, ia memegang sebuah bola energi ditangan nya, yang kemudian terbang dari tangannya membesar. Dan bola itu memperlihatkan kondisi Ethan saat ini. [...Waktunya bagi Ethan untuk bertarung lebih keras dari sebelumnya.] lanjut Euclide kemudian.


Oscar dan yang lainnya yang mendengar perkataan nya pun langsung memusatkan perhatian mereka ke bola itu, ada tetapan yang berharap dengan cemas diwajah mereka. Mereka berharap Ethan akan baik-baik saja melalui ujian ini.


****


- Dunia tengah, saat ini...


Petir-petir mulai bersahutan dengan sangat ganas diluar penghalang, hujan dan angin kencang pun menerjang dan menabrak penghalang itu disaat yang sama. Menciptakan suara mencekam yang menggetarkan rasa takut. Semua orang masih ditempat berlindung mereka untuk antisipasi.


Berdoa bersama dengan harapan bencana segera berhenti dan kedamaian kembali. Para spirit guardian masih bersiaga ditempat-tempat perlindungan seperti instruksi dari penguasa hutan, bersama dengan pasukan dan murid-murid dari akademi yang bertugas sebagai penjaga. Klan iblis dan klan kuno juga ada diantara mereka.


Mereka semua menatap langit bersama, dan memperhatikan kedatangan mereka.


Piiii... Piii.. Ppiiii...


Gelombang suara melengking yang seperti pekikan burung mulai bermuncilan dari langit, membuat semua orang bersiap. Dan dari kejauhan, Azel terbang mendekat secepat yang ia bisa ketempat berkumpul. Ia membawa peringatan...


" Mereka muncul!! Dari arah barat!! Arwah siren kuno muncul bersamaan dengan arah awan dan angin!!" teriaknya kepada pasukan yang bersiaga.


Aqua yang memimpin dibarisan depan pun mulai memberikan komando, " Semuanya bersiap! Meski ini pelindung muntlak, kita tidak tahu kapan mereka akan menemukan titik lemahnya dan membuka celah!! Jangan alihkan mata kalian dari musuh sedetikpun, dan jangan lawan mereka secara perorangan!! Kita harus bertahan sampai Putri Empat Dunia mendapatkan izin!!."


" Baik!!" semua orang menjawab itu dengan tegas dan serentak.


Tanpa memikirkan kalau sebagian dari kata-kata Aqua itu hanyalah kebohongan... " Maafkan aku.." dan dia sendiri merasa sedikit bersalah, tapi ini yang terbaik.


Seperti yang diminta, mereka semua fokus kepada apa yang akan datang dihadapan mereka. Dan ketika itu mulai muncul, makhluk itu meringik dengan suara yang begitu nyaring untuk menandakan kedatangan mereka.


Nggiiikkkk...!


Makhluk itu mengambil bentuk seperti seekor kuda, dengan bagian belakang nya seperti ikan. Pertama hanya satu, kemudian jadi sepuluh, seratus, dan semakin bertambah menjadi seribu lebih. Mereka mengepung seluruh benua.


Mereka salah satu makhluk kuno yang tersisa sekarang.


Arwah siren kuno harusnya tersegel dibagian paling utara dibawah tanah, tapi dalam beberapa ratus tahun sekali... segel akan terlepas dan mereka akan keluar. Merenggut banyak nyawa untuk mempertahankan dan memperbanyak diri.


Serangan utama mereka, adalah gelombang suara...


Duakk!


" Aak!"


Semua orang berusaha menutup telinga mereka dari suara keras yang memekakan telinga, dan benturan keras ke bagian luar penghalang ketika makhluk-makhluk itu mulai menyerang secara bertubi-tubi.


" Ugh..! Mereka menyerang langsung dari depan." ucap Everon dengan kesal.


Itu terjadi disemua tempat, bahkan serangan itu bisa dilihat dari tempat Misika berada sekarang.


Misika menggenggam erat lengannya menahan kegelisahan..


" Mereka selalu saja menyerang dengan bringas. Apa penghalang ini dapat bertahan dari mereka..." Ia mencemaskan hal itu.


Haika yang ada bersamanya pun memegang kedua pundaknya dan berusaha menenangkan Misika, " Ibu, jangan khawatir. Kita akan melakukan apapun agar mereka pergi." ucapnya.


Misika tahu itu, semua orang akan berjuang. Mereka telah melakukan itu selama ini...


Tapi melawan Arwah siren kuno adalah hal yang sangat berbeda..


Kekhawatian itu semakin besar, sampai...


" Ah! Ibu, lihat itu." Kagura berkata seperti itu dan menunjuk langit.


Misika dan Haika yang melihatnya pun kemudian mengalihkan perhatian mereka kelangit, seekor arwah siren berkeliaran tepat diatas mereka. Saat...


Wosshh...


Khiikkk..!!


Sesuatu menyerang arwah itu dan ia langsung lenyap diudara...


Hiiikkk...!


Pekikan makhluk itu menghilang dan diganti oleh ringikan kuda yang ditunggangi oleh orang yang melenyapkannya.


Misika dan Haika yang melihat kedatangannya dan kavaleri yang dibawanya terpana.


" Va..Valkyrie..??" Haika sama sekali tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat hal paling tidak terduga dihadapannya saat ini.


Feryja, dia memimpin pasukannya turun ke dunia tengah dan berhadapan dengan arwah siren kuno. Ia mengangkat sebilah pedang ditangannya dan memberi perintah...


['Atas nama dewi. Hancurkan makhluk-makhluk ini dan bawa kemenangan dalam genggamannya!'.]


['Baik!!']


Para Valkyrie yang lain mulai berpencar dan bertarung melawan Arwah siren kuno, pertarungan itu terkesan sulit, tapi para Valkyrie mengatasinya dengan begitu mudahnya. Seperti yang diduga dari para penjaga dunia atas.


Kemunculan Valkyrie didunia tengah juga menciptakan kehebohan. Para Valkyrie yang biasa tidak muncul tanpa alasan khusus, sekarang datang untuk membantu manusia. Itu membantu orang-orang menarik kesimpulan dengan sendirinya...


" I-Itu para Valkyrie! Putri Empat Dunia melindungi kita..!"


" Puji Dewi! Hidup Putri Empat Dunia! Puji Para Valkyrie!!"


Mereka bersorak dengan begitu gembira atas kejadian ini...


Para spirit guardian tidak terlalu tahu apa yang terjadi, tapi mereka bersyukur masalah sedikit teratasi. Dan dengan kedatangan para Valkyrie, asumsi orang-orang kalau terjadi sesuatu kepada Putri Empat Dunia semakin berkurang. Itu bagus untuk rencana mereka.


Disaat yang sama, Feryja masih ada ditempat pertama, ia memperhatikan situasi pertarungan dengan seksama. Saat kemudian perhatian nya teralihkan kepada Misika, Haika, dan Kagura yang ada tak jauh darinya.


Ia pun menganggukan kepalanya kepada Misika yang masih menatapnya, seraya membisikan sesuatu. Dan hal itu membuat Misika cukup terkejut.


Baru setelah itu, Feryja pun kemudian ikut bergabung dalam pertarungan itu.


Misika sendiri, ia masih berdiri menatap kearah yang sama meski Feryja telah pergi. Saat ia sedikit terguncang, hingga membuat Kagura dan Haika terkejut.


" Ibu..!!"


" Ibu, apa kau baik-baik saja..??"


Mereka berdua langsung memeganginya dengan serempak, tapi itu bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan...


" Aku baik-baik saja.. Aku baik..." Misika hanya terlalu senang, dia senang mendengar pesan yang disampaikan oleh Feryja kepadanya.


" ...'Dewa Matahari, telah kembali'..."


Itu adalah pesan singkat yang disampaikan oleh Feryja, tapi Misika cukup mengerti apa yang ingin disampaikan oleh dia kepadanya. Karena itulah Misika tidak bisa menahan kegembiraannya.


" ...Kau akan berhasil Ethan! Kau pasti melakukannya.." Misika meyakini hal itu.


Dan untuk itulah, Ethan mengerahkan Valkyrie kedunia tengah...


*** Waktu Di pohon Dunia..


['Tuanku. Anda telah kembali, sebuah kehormatan bisa menyambut anda lagi ke dunia atas.'] Feryja dan pasukannya memberikan penghormatannya kepada Ethan yang baru mereka temui di pohon dunia saat itu.


Ethan yang melihat mereka pun tersenyum, dan berkata. " ....Ini masih terlalu cepat, tapi terima kasih, Feryja. Lalu... kuharap kau mau mengabulkan satu permintaanku." ucapnya.


['Baik. Silahkan katakan.']


" Sebentar lagi... Segel Arwah siren kuno akan terlepas, dan mereka akan menyerang dunia. Dimulai dari benua suci* terlebih dahulu."


(*Tempat Ethan dan Quennevia)


['Arwah... siren kuno..?']


" Iya. Aku ingin kau untuk turun... dan memusnahkan mereka. Apa kau bisa melakukannya... Feryja?"


Ini adalah perintah dari tuan yang ia layani, dewa yang telah lama hilang dan akhirnya kembali, lalu... juga orang yang paling ia kagumi. Bagaimana bisa Feryja menolaknya?


['....Baik, sesuai kemauan anda.']


Feryja menerima itu dengan senang hati.