Quennevia

Quennevia
Putri 4 Dunia Pertama



[Season 2]


" Itu...?!!"


Oscar sangat terkejut dengan apa yang dilihat nya, seseorang yang muncul dari dalam kuil itu terlihat sangat mirip dengan Quennevia. Hanya saja warna rambut, mata dan aura mereka sangat berbeda. Dan itu membuatnya menyadari sesuatu...


" Jangan-jangan ini... salah satu kehidupan masa lalunya..?!" batin Oscar.


Kemunculan Quennevia saat itu disambut dengan pujian dan sorak sorai dari semua orang yang ada disana...


" Wah, itu Saintess! "


" Dia cantik seperti yang dirumorkan. "


" Sang Dewi benar-benar memberkahi kita.."


Seorang Saintess, ini adalah kehidupan dimana eksistensi Putri Empat Dunia baru pertama kali diketahui oleh dunia. Dan nama Putri Empat Dunia pertama adalah....


" Adelaide Hills... " Oscar membaca tentangnya ketika dia datang ke menara perpustakaan di akademi dulu. Seorang gadis yang menjadi rebutan semua negara yang ada dibenua, dan yang menjadi alasan utama perang sering terjadi dahulu kala.


Adelaide, dibalut menggunakan gaun putih bersih yang indah. Bersamaan dengan rambut perak dan wajah cantik, membuatnya terasa seakan tidak nyata, belum lagi soal kekuatan luar biasanya. Sangat cocok jika orang-orang memanggilnya dengan sebutan 'Anak Yang Disayangi Dewi'.


Adelaide bersimpuh didepan petung dewi, memulai sebuah ritual pemujaan sembari menyatukan kedua tangannya. Dengan serentak semua orang yang ada disana pun mengikuti apa yang dia lakukan..


" Tolong aku... Kumohon.. "


Oscar tersentak kaget mendengar itu, dia mencari-cari asal suara itu, sampai perhatian nya kembali kepada Adelaide.


" Apakah.. dia baru saja meminta tolong?? Kenapa??" serbuan pertanyaan tiba-tiba muncul dikepalanya tanpa henti.


Oscar tidak tahu apa maksudnya meminta tolong, dan sepertinya hanya dia yang bisa mendengar itu. Tapi ada sesuatu yang terasa janggal...


Saat kemudian Adelaide pun bengkit berdiri dan berbalik menghadap semua orang yang berdiri dihadapan nya...


" Pujian bagi dewi agung dunia tengah, ibu dari segala kehidupan. Saya, Adelaide Hills yang merupakan 'wakil' sekaligus anak penerima berkat dewi agung, menyampaikan kasih sayang dan cinta ibu kepada negeri ini dan semua yang berdiri ditempat ini. " Adelaide berbicara dengan suara lantang kepada semua orang, disaat yang sama dia juga menyebarkan kekuatan nya.


Seketika itu pula, kekuatan itu memulihkan semuanya. Semua yang sakit menjadi sembuh, bahkan tanaman-tanaman yang kering pun kembali subur..


" Lukaku.. sembuh..."


" Penyakitku juga!"


" Waahh!! Hidup Saintess! Puji Dewi Agung! Hidup Saintess! Puji Dewi Agung! "


Semua orang kembali bersorak sorai atas berkah yang mereka dapatkan, memuji dan mengagungkan Sang Dewi dan Adelaide. Disaat yang sama Adelaide pun kembali masuk ke dalam kuil suci, dituntun oleh para pendeta yang ada bersamanya.


Oscar yang sudah merasa ada yang salah pun mengikuti nya masuk ke dalam kuil, lagipula tidak ada yang bisa melihat maupun mendengar nya, itulah yang dia pikirkan. Dia mengikuti Adelaide tepat dibelakang nya, melihat tidak ada yang aneh dengan perlakuan orang-orang yang ada disana, namun raut wajah Adelaide benar-benar murung. Sangat berbeda dengan sebelumnya.


Tapi ketika Oscar melihat kebawah, saat gaun putih yang dikenakan oleh Adelaide tersibak karena angin.. dia melihat sebuah rantai yang mengikat kedua kakinya.


Oscar terdiam membeku ditempat nya setelah melihat itu, dia terlihat sangat dihormati dan disayangi.. tapi kedua kakinya diikat seolah dia adalah tahanan yang akan pergi jika dilepaskan..


" Apa seperti ini perlakuan mereka kepada seorang Saintess...?!" batin Oscar.


Oscar baru tersadar, ketika melihat para pendeta yang mendampingi Adelaide memasukannya ke dalam sebuah ruangan dan menguncinya kemudian pergi begitu saja. Dia pun buru-buru mendekati pintu itu dan berusaha membukanya, namun tentu saja tidak bisa.


" Cih, sial! Andai saja aku bisa menembus-... Ahh!" ucapannya terhenti ketika apa yang ingin ia katakan benar-benar terjadi.


Brukk...


Tubuhnya jatuh menghantam lantai setelah berhasil menembus pintu yang tadi ada dihadapannya, " ... nya.." ucapnya dengan wajah datar, menyelesaikan kata-kata yang belum sempat ia katakan.


" Apa yang... "


Oscar mengangkat kepalanya ketika dia mendengar itu...


Dihadapan nya, Adelaide menatapnya dengan terkejut... " Apa yang kau lakukan disini? Atau... Bagaimana aku bisa masuk kesini?? " tanya Adelaide dengan waspada.


" Eh..? " untuk beberapa saat Oscar masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi, tapi kemudian... " Ka, ka, ka, kau bisa melihat ku?!!" Oscar meloncat kaget dan berteriak kepada Adelaide dihadapan nya.


" Hah? Apa maksudmu? Apa aneh jika aku bisa melihat mu? Apa kau semacam manusia tidak terlihat atau semacamnya? " tanya Adelaide lagi makin bingung.


" Tidak, bukan begitu... Sebenarnya... " Oscar tidak tahu harus melakukan apa, tapi...


Pada akhirnya dia mengatakan semuanya kecuali beberapa hal yang dia pikir tidak perlu dikatakan kepada Adelaide yang merupakan orang dari masa lalu...


Dan beberapa saat kemudian, mereka duduk bersama dibelakang satu-satunya pintu yang ada disana...


" Jadi begitu... Masa depan, ya... " gumam Adelaide dengan wajah tertunduk.


" Aku tahu ini kedengaran tidak masuk akal, tapi... itulah yang terjadi. Aku juga tidak menyangka kalau kau bisa melihat ku. " ucap Oscar dengan canggung.


" Itu sih wajar saja, karena aku seorang Saintess... " sahut Adelaide.


Oscar sepertinya memulai pembicaraan serius, karena reaksi Adelaide setelah mendengar itu benar-benar dingin. Lagipula, cepat atau lambat itu akan segera diketahui dunia.


" Apa hanya itu yang kau tahu tentangku? Kau bilang kau berteman dengan diriku dari masa depan kan?" Adelaide menatap Oscar dengan intens.


Oscar merasa seolah tatapannya itu bisa melihat semua yang ada pada dirinya, sampai segala hal yang ia sembunyikan sekalipun.


Oscar menelan ludah dengan perasaan gugup, saat kemudian dia pun menjawab...


" Ya, hanya itu yang saat ini aku dan teman-temanku yang lain ketahui. Memangnya masih ada hal lain lagi?" ucap Oscar.


Adelaide diam sebentar, kemudian ia menjawab sambil menggelangkan kepalanya..


" Tidak... Sepertinya diriku dimasa depan belum ingin memberitahu kalian, tapi aku yakin kalian akan tahu cepat atau lembat. " Rupanya memang ada yang lain.


" Ngomong-ngomong seperti apa masa depan itu..??" tanyanya pula dengan wajah penasaran.


Oscar terdiam mendengar pertanyaan itu, karena masa depan yang ia ketahui itu benar-benar buruk..


" ... Tidak semulus yang kita inginkan. " tapi hanya itu jawaban yang bisa ia berikan kepada Adelaide.


Memberikan informasi kepada orang dimasa lalu terlalu beresiko, satu kata saja yang harusnya tidak dikatakan bisa mengakibatkan butterfly effect dan mengubah jalan masa depan. Itu kedengaran bagus, namun disaat yang sama juga buruk dalam beberapa hal.


" Tentu saja. " dan Adelaide menerima hal itu dengan tenang.


Oscar masih belum bertanya soal rantai dikakinya itu, dia ragu apa itu hal yang pantas ia tanyakan atau bukan... Disisi lain dia memang penasaran dengan itu..


" Apa kau penasaran kenapa aku dikurung dan diikat seperti ini?? " tanya Adelaide pula membuyarkan lamunan Oscar.


" Ah, ya? Oh, kau benar. Tapi... Jika kau tidak mau memberitahunya itu tidak masalah... " jawab Oscar.


" Kenapa aku harus 'tidak mau memberitahu mu'? Kau satu-satunya orang yang bicara denganku sebanyak ini tahu, aku senang saat tahu dimasa depan aku mendapat teman seperti mu. " sahut Adelaide dengan senyuman cerah.


Oscar tersentuh mendengar nya, Quennevia jarang mengungkapkan hal-hal seperti itu. Jadi saat Adelaide mengatakannya, itu sedikit aneh, tapi juga membahagiakan..


Adelaide menyentuh rantai dikakinya kemudian berkata," Rantai ini... ini adalah pengekang, agar aku tidak bisa menggunakan kekuatan ku untuk kabur dari kuil ini. " ucapnya.


" Kenapa? Bukankah itu tindakan yang benar-benar kurang ajar! " sahut Oscar kesal.


" Kau benar. Tapi siapa yang peduli, asalkan Saintess tetap berada ditempat ini. Selain itu... Mereka bahkan mengancamku menggunakan keluarga-ku. Saat pertama kali mengajakku ke kuil, mereka menjanjikan agar keluarga ku bisa hidup nyaman tanpa khawatir apapun, tapi kemudian mereka dijadikan titik lemahku. Terkurung disini memang membuatku kesepian, tapi kadang-kadang ada seseorang yang diam-diam menemuiku dari luar jendela sana. " ucap Adelaide panjang lebar.


" Siapa? " Oscar jadi penasaran dengan orang yang dimaksud oleh Adelaide.


Saat tiba-tiba, ada sebuah batu yang terlampar masuk dari luar jendela itu... Dan saat melihat nya, Adelaide langsung bangkit berdiri dan menghempiri jendela.


" Lilya, kau terlembat. " ucapnya kepada orang yang diluar, dan ekspresi nya langsung berubah cerah seketika.


" Maaf, Adel. Aku kesulitan untuk ketempat ini karena ini hari festival, penjagaan mereka makin ketat. " sahut gadis yang dipanggil Lilya oleh Adelaide dari luar sana.


" Kau benar juga. Syukurlah kau tidak ketahuan. " Adelaide menimpalinya dan memegang kedua tangan Lilya yang terulur ke dalam.


Lilya tersenyum karena nya, " Oh, iya. Aku membawakan buku yang kubilang padamu sebelumnya. " ucap Lilya pula, dia merogoh kedalam jubah yang ia kenakan dan mengeluarkan buku yang ia sembunyikan. " Ini, bacalah... " lanjutnya sembari memberikan buku itu kepada Adelaide.


Tentu saja, Adelaide menerimanya dengan senang hati..


" Baiklah, maaf aku hanya bisa datang untuk memberikan buku itu. " ucapnya yang hendak pergi.


" Ya, tidak apa-apa. Asalkan kau baik-baik saja. " jawab Adelaide.


" Tunggu aku, Adelaide. Aku pasti akan mencari cara untuk membebaskan mu dan keluarga mu, pasti! " ucap Lilya pula yang kemudian benar-benar pergi.


Adelaide masih terdiam didepan jendela untuk beberapa saat, dan kemudian ia pun memeluk buku yang diberikannya dengan erat.


" Ya, aku percaya padamu. " gumamnya penuh keyakinan.


Sedangkan dibelakang nya, Oscar yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka entah kenapa merasa sedikit tenang. Mungkin karena masih ada yang peduli pada Adelaide, disaat dirinya hanya dimanfaatkan oleh orang-orang disekitar nya.


" Dia teman yang baik ya. " ucap Oscar kepada Adelaide.


" Ya, dia benar-benar sangat baik. " sahut Adelaide.


" Hei, Adelaide-..." kata-kata Oscar terhenti saat dirinya merasa seperti ditimpa sebuah batu besar, dan tubuhnya pun jatuh ke lantai. " Ukh..."


" Tunggu! Ada apa denganmu?! " tanya Adelaide yang segera menghampiri nya dengan panik saat melihat Oscar tiba-tiba terjatuh, dan tubuhnya pun mulai menghilang.


" Ugh... Sesuatu seperti.. menarikku untuk pergi.. " ucap Oscar pelan.


" Waktumu sudah habis ya.. Kau mungkin akan kembali atau.. berpindah kewaktu yang lain... " sahut Adelaide dengan raut wajah agak kecewa.


Oscar yang melihat nya pun mengerti, dia mungkin tidak ingin Oscar pergi karena dia bisa menemaninya selama apapun tanpa khawatir ada orang yang tahu. Teman yang dia impikan selama ini, agar dia tidak kesepian lagi...


Oscar tersenyum senang dengan itu, kemudian ia pun meraih wajah Adelaide... " Tidak apa-apa.. kita akan bertemu dimasa depan... karena itu.. tetaplah tersenyum.. " ucap Oscar saat kemudian dia benar-benar menghilang sepenuhnya.