
Saat ini Quennevia sedang menghadiri proses pemakaian ayah tercintanya, saat ia membuka matanya setelah mendengar kabar duka dari kakaknya, ia sudah sampai di kediaman nya.
" Quennevia, Kau sudah sadar. " ucap Lecht yang merasa senang, di sana juga ada Murphy, Jason dan juga Haika yang datang menjemput nya.
" Nona, syukurlah anda tidak apa-apa. " ucap Murphy, tapi Quennevia hanya menatap kosong kearah mereka, ia tidak mengatakan apapun.
Saat ia melihat tempat ayahnya berada, disana diisi banyak orang, bahkan Kaisar sendiri pun ada di sana untuk melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Dan di sana juga... Quennevia melihat ayahnya yang sudah meninggalkan nya.
Tempat itu diisi oleh banyak orang yang berduka, tapi yang didengar Quennevia hanya keheningan, bahkan suara isak tangis dari selir pertama dan kedua serta putri mereka pun tidak ia dengar.
" Huuhuhuu... Suamiku. " tangis selir pertama.
" Ibu.. kenapa ayahanda pergi. " tangis Arissa, sambil memeluk ibunya.
Pikiran nya kosong, yang ia tahu hanya ayah yang berharga baginya sudah meninggal kan nya, hanya air mata yang mengekspresikan perasaan nya saat ini.
Dia tidak bicara satu patah kata pun, dia hanya diam sambil memandang ayahnya itu. Sampai saat ini, saat ayahnya dimakamkan di pemakaman keluarga Kaisar, dia hanya diam.
Zrasshhhhhh.....
Bahkan saat para pelayat pergi dari tempat itu, dan sampai hujan turun membasahi nya, Quennevia masih setia memandangi makam ayahnya itu.
Matanya menatap lurus dengan tatapan kosong, dia terlihat sangat suram sama seperti langit hari itu. Ia masih berdiri di sana entah sudah berapa lama, hujan semakin deras bahkan sampai petir pun menyambar.
Quennevia sudah tidak bisa lagi membedakan mana air mata dan mana air hujan, sampai saat itu hanya ada satu yang ia pikirkan.
" Kenapa semua berakhir seperti ini lagi?? Kenapa di saat seperti ini?? Aku baru saja tahu kalau ibuku masih hidup, tapi kenapa ayahku juga yang direnggut?? " batin Quennevia.
Ia mengangkat kepala nya, menatap langit dengan awan gelap yang terus menurunkan air yang membasahi nya.
" Kenapa?? Padahal aku baru saja merasakan kasih sayang orang tua yang baru pertama kali kurasakan. Kenapa hal-hal baik selalu saja terjadi sangat singkat?? Apa aku memang tidak diijinkan untuk bahagia?? " batin Quennevia lagi.
Ia kembali menurunkan wajahnya, menatap tanah basah yang ada di bawah kaki nya. Saat seseorang memayungi nya agar tidak kehujanan lagi, padahal dia sudah menyuruh Murphy, Haika atau siapapun pergi meninggalkan dirinya sendirian dan saat Quennevia melihat siapa orang itu dia benar-benar orang yang tidak diduga.
" Aku langsung datang berkunjung saat mendengar kabar itu, aku turut berduka karena nya. Aku juga sudah bertemu dengan Kaisar dan meminta izin darinya, jadi tidak perlu khawatir. " ucap orang itu, yang tidak lain tidak bukan adalah Ethan.
" Heh.. Kau orang yang terlalu suka ikut campur. " sahut Quennevia.
" Kau tidak seharusnya seperti ini, apa yang kau lakukan sangat berbeda dengan apa yang kau ucapkan waktu itu. "
" Aku tahu, tapi bukan berarti aku tidak sedih kehilangan apa yang berharga bagi ku. "
" Dan jika itu Quennevia yang sesungguhnya, dia pasti sudah sangat histeris sambil menjerit-jerit seperti orang gila. " batinnya pula.
Iya, mau bagaimana pun Hudson adalah satu-satunya bagi Quennevia, bahkan meski sekarang dia bukan lagi Quennevia, tapi perasaan nya masih tetap sama kepada Hudson. Apalagi Quennevia yang sekarang tidak pernah mengenal apa itu kasih sayang orang tua dari kehidupan nya yang sebelumnya.
" Aku tahu, tapi kau terlihat sangat mengerikan. Bahkan kau sampai hujan-hujanan seperti ini. " ucap Ethan pula.
" Aku tahu, menyedihkan bukan. " sahut Quennevia.
" Aku akan mengantarkan mu, kau ini kembali atau ke istana Kaisar??. "
" Tidak, aku ingin kembali. Aku tidak bisa membuat para selir kurang ajar itu bertingkah seenaknya dengan memanfaatkan posisi kepala keluarga yang kosong."
Ethan hanya mengangguk kan kepalanya saja mendengar hal itu, Quennevia pun mengikuti Ethan yang mengantar nya kembali, ia bahkan tidak sadar jika Ethan terus menggenggam tangannya sadari tadi.
Saat sampai di depan kediaman nya, disana sudah ada Haika, Murphy, paman Sven dan juga Riyan dan Ace yang menunggunya. Bahkan Niu dan Oscar juga ada di sana untuk Quennevia, tadinya mereka berencana menjemput Quennevia tapi karena ia sudah datang mereka jadi mengurungkan niat mereka.
" Itu benar, kita adalah teman. Jadi kami akan selalu ada untuk mu. " ucap Oscar pula.
" Terima kasih. " sahut Quennevia.
" Yosh, kalau begitu ayo ganti pakaian mu, kau bisa terkena flu nantinya. " ucap Niu lagi.
" Anu.. Nona, dia siapa??. " tanya Murphy pula terlihat bingung, saat ia melihat Ethan bersamanya.
Iya, sudah pasti mereka semua tidak mengenal nya, kecuali Niu dan Oscar yang sudah tahu namanya, tapi mereka masih belum tau siapa dia yang sebenarnya.
" Ehh.. Bukankah kau Ethan, orang yang waktu iya ada di hutan. " ucap Oscar.
" Iya, ini aku. Senang kau masih mengingat ku. " ucap Ethan menimpali.
" Wahh.. teman putri lagi, aku tidak pernah melihat teman putri yang lain selain Oscar dan juga Niu. " bisik Ace kepada Riyan.
" Sama, aku juga. " bisik Riyan pula.
" Aku senang melihat adikku punya banyak teman. " ucap Haika pula.
" Saya juga turut senang, putri. " ucap paman Sven pula.
Nampaknya Haika dan paman Sven sedikit salah paham saat ia melihat Ethan menggandeng tangan Quennevia sedari tadi, sangat jelas terlihat dari wajahnya.
" Iya, aku juga senang bisa bertemu dengan mu lagi. Ngomong-ngomong apa kau tidak membawa dua orang itu lagi??. " tanya Niu.
" Oh, Yin ada di tempat ku. Sedangkan Ning sedang menemui baginda Kaisar. " jawab Ethan dengan santainya.
" Bertemu Kaisar?? Apa kau punya kepentingan dgn Kaisar??. " tanya Niu, Oscar dan Haika pula+paman Sven juga ikutan, nampaknya mereka bingung karena Ning sedang bertemu dengan Kaisar.
Sementara itu Ethan baru sadar dengan itu, dan Quennevia yang melihatnya hanya menghela nafas karena kelakuannya iti.
" Kalian semua, dia itu pangeran mahkota Kekaisaran Foldes. " ucap Quennevia yang akhirnya menjelaskan itu.
" Ehhh....!!. " teriak mereka yang ada di sana pula saking terkejut nya.
*****
Malam harinya, hujan masih mengguyur Kekaisaran Chrysos di hari itu. Dan hari itu juga Quennevia pindah dari kediaman putri, ke kediaman utama yang selalu di pakai ayahnya. Dia menempati kamar kosong yang ada di sebelah kamar mendiang ayahnya.
Kepindahan Quennevia itu sama sekali tidak diketahui siapapun, orang-orang di kediaman itu bungkam karena tidak mau mendapat masalah. Sedangkan para selir dan anak-anak mereka ada di kediaman mereka masing-masing karena hujan, mereka jadi tidak bisa pergi kesana-kemari dengan bebasnya.
Niu, Oscar dan juga Ethan juga tinggal di sayap kiri kediaman utama, karena itu adalah keinginan dari Quennevia sendiri, sementara Quennevia ada di sayap kanan. Haika juga dipaksa tinggal di saja oleh Quennevia, kini mereka semua ada di satu tempat yang sama meski terpisah.
Quennevia hanya menatap keluar jendela, menatap tetesan air hujan yang jatuh membasahi bumi. Termenung sendirian di kamar nya, karena hari sudah sangat larut, bahkan Murphy pun sampai tertidur di sebuah kursi karena menunggu Quennevia yang terus termenung dari tadi.
" Apa semuanya akan baik-baik saja?? Ibu, ayah sudah tiada. Jika ibu memang ada di sana, apakah kau bisa mendengar dan melihat semuanya juga??. " gumam Quennevia, sambil menggenggam kalung peninggalan ibunya itu.
Tiba-tiba saja Xi keluar dari kalung itu, ia menggigit lengan baju Quennevia untuk menarik perhatian nya. Saat Quennevia menoleh ke arahnya, ia melihat kalau Xi juga sangat sedih dengan apa yang terjadi. Ia pun tersenyum dan mengelus kepala Xi.
" Aku tahu, Xi. Takdir itu tidak bisa di ubah oleh siapapun, setidaknya aku harus mencari tahu siapa orang yang sudah melakukan ini kepada ayahku. " ucap Quennevia pula, dengan mata yang berkilat marah.
Ia pun menutup jendela yang terbuka, yang ia gunakan untuk melihat ke luar. Dan berjalan ke arah Murphy yang tidur di sana, ia menyelimuti nya agar tidak kedinginan dan akhirnya ia pun juga tidur di kasur miliknya, sambil memeluk Xi yang menemani di sampingnya.