
[Season 2]
- Di penginapan.
" Astaga, aku tidak percaya dengan apa yang kau lakukan disana. " ucap Arkan kelihatan sekali ia sedang mengeluh, sekaligus mengadu kepada yang lainnya.
Sementara itu yang lainnya hanya menatap nya bingung, dan Ethan yang hanya tersenyum tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh nya. Arkan sendiri terus ngomel-ngomel sendiri tanpa mempedulikan tatapan teman-teman nya kepada dirinya saat ini.
" Dia kenapa sih?? " tanya Meliyana yang merasa risih melihat apa yang Arkan lakukan.
" Aha.. Dia sedang mengomeliku karena memberikan uang untuk informasi. " jawab Ethan dengan santainya.
" Benar, benar. Aku tidak masalah dengan hal itu, tapi dia memberikan sekantung besar uang hanya untuk beberapa kata yang padahal bisa kita dengar jika menghajar berandalan lebih dulu. " ucap Arkan dengan emosi sekali.
" Apa sih, ternyata hanya itu. Kau terlalu berlebihan. " ucap Niu dengan ekspresi datar.
" Lagipula, melihat Ethan yang diam saja seperti nya bukan hanya itu yang ia dapatkan, ya. " ucap Oscar pula.
Hal itu membuat semua perhatian langsung tertuju kepada Ethan, terutama Arkan yang juga ikut dengannya tapi sama sekali tidak tahu akan hal itu. Ethan hanya mengangkat salah satu alisnya, kemudian mengambil sesuatu yang memang ia sembunyikan.
Beberapa lembar kertas, berisi daftar beberapa nama orang yang akan memburu harta di reruntuhan kuno itu, beserta informasi tentang status dan kekuatan mereka.
" Aku mendapatkan ini dari pemilik bar itu. " ucap Ethan, ia pun menyimpan kertas-kertas itu diatas meja.
Membuat yang lainnya puas melihat hal tersebut, kecuali Arkan yang kelihatan nya tercengang sekali melihat nya.
" Kenapa kau tidak memberitahuku?! " tanyanya kepada Ethan sambil mencengkram baju Ethan dan menatapnya tajam.
" Ah, kukira kau sudah tahu. " jawab Ethan dengan santainya.
Pada akhirnya Arkan pun melepaskan Ethan dan kembali ngomel-ngomel sendiri, padahal itu kan salahnya karena tidak memperhatikan sekitar dengan benar, hanya karena ia tidak suka tempat tadi.
*****
- Tiga hari kemudian.
Ini adalah hari yang direncanakan, Ethan dan yang lainnya pergi ke arah dimana reruntuhan kuno itu akan muncul, seperti yang sudah mereka ketahui namun ternyata lebih banyak orang yang datang dibanding perkiraan mereka. Bahkan pangeran kerajaan Aquila pun sampai ada disana untuk ikut masuk ke dalam sana.
" Oscar, kau yakin ini akan berhasil kan?? " tanya Yuki kepada Oscar.
" Tentu saja, kita akan menunggu seperti yang lainnya. Tapi kita lah yang akan masuk lebih dulu dari mereka. " jawab Oscar.
Sementara itu disisi lain, Arkan terus memperhatikan sebuah kelompok yang ada tak jauh dari mereka. Yang ia perhatikan adalah kelompok dari salah satu klan besar yang waktu itu dibicarakan oleh si pemilik bar.
Itu adalah Klan Taiga, salah satu klan besar yang ada di Kerajaan Aquila. Klan Taiga ini hampir mirip seperti klan pembunuh bayaran di Chrysos, tapi mereka tidak mengkhususkan diri di bidang bunuh membunuh. Kemudian Klan yang satu lagi adalah Klan Vientin, yang adalah Klan kuat yang menempati posisi pertama di Kerajaan Aquila, juga Klan yang paling dekat dengan keluarga kerajaan di sana.
" Aku tahu apa yang kau khawatirkan, Arkan. Jika kau ingin kembali sekarang, itu tidak masalah. " bisik Ethan kepada Arkan, membuatnya tersadar dari lamunannya.
Arkan pun kemudian menoleh kepadanya setelah mendengar itu agak terkejut, tapi kemudian ia pun menghela nafas dan tersenyum. " Tidak ada yang ku khawatirkan, selama bisa membantumu aku akan melakukan apapun sebisa ku. " ucap Arkan dengan sangat pasti.
" Kau memang teman yang setia. " ucap Ethan pula menimpali.
" Hei, kalian. Dari pada bisik-bisik berdua saja, lebih baik bersiap segera. " ucap Niu menengahi kedua nya, membuat perhatian mereka teralihkan.
Disaat yang sana, tempat dimana pemimpin Klan Taiga yang datang ke sana. Orang yang memimpin mereka saat ini adalah Tuan Muda mereka, orang yang memiliki kesempatan menjadi pemimpin Klan selanjutnya, Balin.
" Hm.. Entah kenapa rasanya orang itu kelihatan tidak asing. " batin Balin berkata demikian ketika melihat kearah kumpulan Ethan di sebrang sana.
Ia tidak bisa melihat wajah-wajah mereka karena semuanya memakai jubah hitam. Namun sesaat kemudian perhatian nya teralihkan kepada seseorang yang berjalan mendekati nya.
" Wah, tidak kusangka. Ternyata benar Tuan Muda Balin yang memimpin kelompok anda. " ucap orang itu, dia adalah pemimpin dari Klan Vientin, Carel.
" Astaga, aku tidak melihat kedatangan Tuan Muda Carel, maafkan aku. Apakah kau memerlukan sesuatu?? " sahut Balin pula.
" Tidak, Tidak. Aku hanya ingin menyapamu saja. " jawab Carel.
" Oh, begitu kah?? Ngomong-ngomong anda juga akan masuk ke dalam sana kan?? "
" Sama seperti mu. "
" Kalau bagitu semoga yang terbalik yang mendapatkan apa yang didalam, ya. " Balin kelihatan biasa saja ketika mengatakan hal tersebut, tapi matanya itu kelihatan sinis sekali.
Balin sendiri juga tidak terlalu memedulikan nya, ia lebih memilih fokus kepada kapan pintu reruntuhan didalam saja terbuka dari pada harus meladeni nya sekarang. Karena jika ia bisa mendapatkan apa yang ada didalam sana, maka Balin pasti tidak akan mudah dikalahkan oleh Carel lagi.
" Benar... untuk sekarang aku hanya harus fokus pada tujuan ku. " batin Balin mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Waktu tak terasa berjalan dengan sangat cepat, hingga sore ini tidak ada tanda-tanda pintu dari reruntuhan kuno didepan mereka itu akan terbuka. Padahal begitu banyak sekali orang yang menunggu hal itu. Beberapa diantara nya sudah menyerah dan kembali, dengan harapan kalau mungkin besok pagi pintu reruntuhan itu akan terbuka.
Sisanya masih setia menunggu di sana, bahkan sampai ada yang sudah mendirikan tenda untuk bermalam di sana.
" Haahh... Kapan pintu nya akan terbuka?? "
" Lama sekali... "
" Sampai kapan kita harus menunggu di sini?? "
Banyak sekali yang mengeluh karena nya, tapi itu sama sekali tidak akan bisa mempercepat terbuka nya pintu untuk mereka. Disaat yang sama Balin merasa anda yang aneh di sana, padahal prediksi terbuka nya pintu reruntuhan itu sudah sangat akurat, tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda nya sampai waktu prediksi telah berlalu.
" Aneh, kan?? Bukankah seharusnya sudah terbuka?? " tanya Carel yang tiba-tiba sudah ada di samping nya lagi.
" Aku benci mengakui nya, tapi kau benar. " jawab Balin.
" Tapi sepertinya sesuatu yang aneh itu sangat jelas, mau mencoba melakukan nya?? " tanya Carel pula.
" Maksud mu seperti biasanya?? "
" Tahu saja. "
" Baiklah, kali ini saja. "
Keduanya baru saja menyepakati sesuatu.
Sekalipun mereka sering berseliaih paham, tapi mereka juga kadang selalu punya pikirkan yang sama. Seperti saat ini... ketika mereka berpikir kalau ada sesuatu yang aneh di sana.
Kedua orang yang berbeda satu sama lain pun kemudian memasang kuda-kuda mereka, saat masing-masing diantara mereka mengeluarkan kekuatan terbesarnya. Apa yang mereka lakukan itu menarik perhatian semua orang yang ada di sana, apalagi dengan tekanan kekuatan yang mereka keluarkan.
" Apa yang mereka lakukan?? "
" Sedang bertengkar kah?? "
Setelah semua kekuatan terkumpul ditangan mereka, Balin dan Carel pun kemudian menyatukan kekuatan mereka dan menembakkan nya langsung kearah reruntuhan kuno didepan mereka secara bersamaan.
Untuk sesaat setelah serangan itu, tidak ada apapun yang terjadi. Tapi kemudian...
Krakk....
" A, apa itu?!. "
Balin tiba-tiba mengarahkan pandangan nya kepada kelompok Ethan yang terus berdiri di tempat mereka tanpa bergerak sedikit pun, tidak ada yang menyadari kejanggalan yang terjadi. Tapi Bilan selalu saja merasa ada yang salah, dan sekarang firasatnya itu terbukti. Saat Ethan dan yang lain itu sedikit demi sedikit mulai memudar.
" Sudah kuduga... " gumam Balin dengan perasaan yang benar-benar jengkel.
Krakk.. Krakk... Crashh...
Gambaran akan reruntuhan kuno dihadapan mereka semua itu tiba-tiba retak, tak lama kemudian hancur berkeping-keping.
" Apa?! Kita benar-benar sudah ditipu dan didahului!. " ucap Carel yang sangat geram dengan hal itu.
Patss...
Tapi Bilan mendahului langkahnya, " Terima kasih sudah membantuku ya, Carel. Sampai ketemu lagi di dalam!. " ucap nya yang langsung pergi bersama kelompok nya.
" Si sialan itu!... Bergerak sekarang!. " ucap nya pula pada bawah nya.
" Baik. " jawab mereka pula.
Mereka mengikuti langkah Carel yang ikut masuk ke dalam reruntuhan itu sama seperti Balin, begitu pula dengan orang-orang yang lain nya. Mereka langsung berhamburan masuk ke dalam sana sebelum pintu nya tertutup selama dua hari ketika gerhana matahari mulai muncul.
Sementara itu didalam reruntuhan sana, Arkan yang merasakan kalau penghalang yang dibuat nya dengan bantuan kekuatan Yue dan Zico hancur, pun menghentikan langkah nya sebentar. " Mereka sudah menghancurkan penghalang nya. "