
Tak terlalu jauh dari Akademi, sebuah dinding pelindung besar berdiri kokoh di sana. Di dalam pelindung itu ada para murid yang tengah cemas akan tempat mereka belajar, setelah melihat pertarungan Quennevia tadi mereka tidak tahu apa yang terjadi kepada bangunan Akademi mereka, karena mereka langsung dibawa pergi oleh para tetua.
" Huft... bagaimana ini, apa yang sebenarnya terjadi??. "
" Tadi itu ada orang-orang yang menyerang Quennevia, bukan??. "
" Serangannya kuat sekali. "
" Jika dulu ia bertarung seperti ini, kita pasti langsung kalah hanya dalam hitungan detik. "
Disaat yang sama Kian dkk, dan juga Lilac memilih memisahkannya diri dari para murid itu, mereka berkumpul di bawah sebuah pohon tak jauh dari para murid itu. Sementara para tetua masih mempertahankan pelindung yang ada di sana.
" Bagaimana keadaan mereka disana ya, kita langsung dibawa kemari ketika pertarungan itu terjadi. " ucap Jino.
" Kuharap mereka baik-baik saja. " jawab Arden.
" Ngomong-ngomong bukan hanya Ethan serta yang lainnya dan juga Kepala Akademi, bahkan Lorenzo juga tidak ada disini. " ucap Sayels membuat mereka menyadari hal itu.
" Dia itu pengkhianat. " sahut Lilac yang tengah bersandar dipohon sambil menyilangkan tangannya. " Dia bukan salah satu dari kita lagi, sudah beberapa kali dia mencoba menyerang Quennevia, beberapa kali pula aku mencoba menggagalkan nya diam-diam. " ucapnya pula.
Tentu saja mereka yang mendengar nya sangat tekejut, mereka tidak menyangka kalau hal seperti itu pernah terjadi. Mengingat kadang mereka selalu berkumpul bersama, pantas saja Lilac selalu tiba-tiba menghilang saat mereka bersama.
" Lalu apa yang ia incar sebenarnya, dan sejak kapan kau menyadari nya??. " tanya Kian.
" Entahlah, sejak pertama kali Quennevia tidak sengaja bertamu dengan Lorenzo aku sudah merasa aneh, seperti ada sesuatu yang diperhatikan oleh nya dari Quennevia. Beberapa pertemuan selanjutnya, Lorenzo selalu menghindari Quennevia namun aku melihat senyuman aneh darinya. Dia itu tipe orang yang tidak mungkin tersenyum sembarangan bukan, dan tidak mungkin ia jatuh cinta tetapi senyuman nya itu sangat mengerikan. " jelas Lilac masih setia dengan wajah dingin nya.
" Masuk akal juga, tapi mendengar dia yang tersenyum sendiri tetapi tidak ada hal lucu itu... aku jadi teringat seseorang, dan kupikir dia gila. " ucap Arden.
(*Orang yang dia ingat itu adalah Ethan yang selalu senyum-senyum sendiri. *)
Yang lainnya mengangguk setuju dengan ucapan Arden, namun tetap saja hal itu tidak menjawab pertanyaan tentang apa yang diincar oleh Lorenzo. Saat mereka tengah memikirkan hal itu, tiba-tiba saja mereka dikejutkan dengan suara teriakan seseorang, tidak... bukan hanya mereka, tetapi semua orang yang ada di sana.
" Gyaaa..... "
Semua orang langsung menoleh keatas tempat suara itu berasal, dan yang mereka melihat itu adalah Ethan dan yang lain nya yang tiba-tiba muncul dan jatuh dari langit.
" Aahh!! Kenapa kita jatuh dari langit!!. " teriak Niu panik.
" Kita akan mati!!. " teriak Arkan lebih panik lagi dari Niu.
" Lakukan sesuatu!!. " teriak Yuki pula.
" Kyaa... Green!! Keluarlah dan buatkan kami tempat mendarat yang lembut!. " teriak Meliyana.
Dan seketika muncul lah apa yang dipanggil olehnya, satu roh taman yang kekuatan nya adalah mengendalikan tumbuhan. Roh itu pun langsung membuatkan sebuah bola-bola kapas raksasa dibawah mereka yang jatuh tersebut, hingga mereka bisa mendarat dengan selamat dan yang penting... nyaman.
Disamping itu mereka juga mengalami beberapa luka karena serangan terakhir Quennevia itu, mereka dipindahkan sesaat setelah Quennevia melancarkan serangan nya.
Saat Quennevia mengayunkan pedang nya itu, tiba-tiba ada sebuah angin topan yang menerjang dan membuat mereka luka-luka, apalagi rasanya... mungkin hampir sama seperti tercabik-cabik oleh pedang.
" Huff... selamat. " ucap Oscar sambil menghela nafas lega.
" Untung saja ada Meliyana. " ucap Ryohan.
Sementara Meliyana jadi malu karena dipuji oleh nya, " Hehe... bukan hal besar, semuanya berkat Green. " ucap Meliyana pula sambil mencium roh taman yang ada di tangannya.
Ukuran roh itu cukup kecil dan sifatnya bersahabat, kira-kira sekitar setengah bulan lalu Meliyana membuat kontak dengan nya. Dan mereka jadi sangat akrab dalam waktu singkat itu.
" Kalian semua baik-baik saja??. " tanya Jino yang menghampiri bersama dengan teman-teman nya.
" Umm.. Iya, begitulah. " jawab Niu.
" Uhh... nyaman sekali. " gumam Yue yang juga ada bersama mereka, tetapi sesaat kemudian ia tersadar. " Master, anda baik-baik saja??... Master.. " ucapnya sambil celingak-cekinguk di sana.
" Quennevia dimana?!. " tanya Ethan pula yang ikut menyadari kalau dia tidak bersama dengan mereka.
Mereka jadi kebingungan sambil melihat kesana kemari untuk mencari kemana Quennevia, namun hasilnya nihil dia tidak terlihat dimana pun di tempat itu.
Azel yang mendengar suara mereka yang terdengar panik pun mengangkat kepalanya " Huh?? Kupikir dia bersamamu. " ucap Azel kepada Ethan, sementara dirinya tengah sibuk dengan kapas lembut yang dibuat oleh Green.
Sampai Aqua yang kesal melihat nya pun langsung memukul kepala nya, " Kenapa kau sangat tidak bertanggung jawab, kau yang paling bisa bergerak bebas di tangah angin besar itu!!. " teriak Aqua dengan sangat marah.
" Ow... jangan terus memukul ku dong. " keluh Azel pula.
" Salah mu tidak menjaga nya dengan benar, jika terjadi sesuatu padanya kau akan habis ditanganku!! Dan selanjutnya apa yang harus kita katakan kepada Misika, hah?!!. " teriak Aqua pula.
Namun di tengah-tengah itu kepala Akademi yang ada di sana pun melerai mereka, " Sudah diam, Quennevia ada di sana. " ucapnya sambil menunjukkan arah Quennevia datang.
Semua orang langsung menoleh kearah yang ditunjukkan oleh kepala Akademi, dan yang mereka lihat memang Quennevia. Namun ia terlihat tidak baik, luka-luka di tubuhnya lumayan parah, dan ditangan kanan nya ia masih memegangi pedang yang ia rebut dari Seriana dengan erat.
" Quennevia!!. " panggil mereka semua yang langsung menghampiri nya.
Para murid yang lainnya pun menatap Quennevia dengan kasihan, apalagi saat melihat dirinya yang penuh luka seperti itu.
" Quennevia, kau baik-baik saja?? Apa yang terjadi??. " tanya Ethan yang membantu Quennevia untuk duduk dan menyandarkan nya kepada dirinya.
" Apa yang terjadi padanya??. " ucap Arden.
" Niu, cepat bantu. Sembuhkan Quennevia. " ucap Lilac pula yang kelihatan panik.
" Ba.. Baik!. " sahut Niu, namun ketika Niu hendak menyembuhkan Quennevia, ada hal mengejutkan yang terjadi kepada nya. " Eh, Loh..??. "
" Ada apa, Niu??. " tanya Arden.
" Qu.. Quennevia.. tengah menyembuhkan dirinya sendiri. " jawab Niu terlihat tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Yang lainnya ikut tidak percaya mendengar itu, namun memang itulah yang sedang terjadi. Seluruh luka di tubuh Quennevia mulai menghilang, bahkan tidak ada bekas sedikit pun.
Mereka berpikir mungkin itu karena jantung iblis yang ada di dalam tubuh Quennevia, dan mungkin juga ada faktor lain yang menggiringinya. Mereka terkagum-kagum melihat berapa cepatnya Quennevia pulih
Iya, kecuali Aqua dan Azel, karena mereka sudah tahu hal itu.
" Umm... " perlahan-lahan mata Quennevia pun mulai terbuka, membuat mereka sangat senang karena nya.
" Quennevia. " panggil Meliyana dan Niu dengan sangat senang.
" Uhh... Semuanya selamat kan??. " tanya Quennevia yang masih bersandar kepada Ethan.
Ryohan pun mengangguk kan Kepala nya, " Iya, berkatmu semuanya selamat. " jawab nya.
Quennevia menghela nafas lega mendengar nya, jadi ia tidak terlambat untuk memindahkan mereka agar bisa terhindar dari bahaya.
" Quennevia, kau baik-baik saja kan??. " tanya Meliyana pula dengan wajah yang sangat khawatir.
Quennevia pun tersenyum, " Aku-.. "
Belum sempat ia menyelesaikan kata-kata nya, Quennevia langsung berdiri sembari menoleh kearah lain dan menyipitkan matanya. Ia masih menggenggam pedang yang ada ditangannya itu dengan erat, ia bahkan kelihatan nya sangat tidak suka dengan apa yang ia lihat.
Karena mengetahui hal itu mereka pun juga langsung mengikuti arah Quennevia melihat, dan apa yang mereka lihat adalah hal yang cukup mengejutkan.
" Lorenzo!!. " ucap Ethan menggeram marah.
Iya, apa yang dilihat itu adalah Lorenzo, dia tengah berdiri tak jauh dari mereka dengan santainya sambil menatap kearah mereka. Mereka yang melihat nya itu langsung waspada, sementara para murid yang lain tidak terlalu memperhatikan mereka.
" Apa yang kau lakukan lagi disini?!. " ucap Yuki dingin.
" Ternyata kau punya nyali juga untuk datang sendirian rupanya. " ucap Aqua pula sama dinginnya dengan Yuki.
" Aku kemari hanya untuk memberikan hadiah, lagipula tubuh ini hanya tubuh perantara, aku tidak bisa menyentuh kalian dan juga sebaliknya. " ucap Lorenzo dengan santai.
Kemudian ia pun melemparkan sesuatu kearah Quennevia, seperti sebuah mutiara yang ia ambil dari ruangan tetua. Namun bukan, benda bulat itu berbeda dengan mutiara pemisah jiwa, dan ukuran nya lebih kecil.
Hal itu tentu saja membuat Quennevia reflek menangkapnya, meskipun ia tidak yakin apakah itu benda aman atau tidak. Lalu ia pun menatap Lorenzo dengan tatapan bertanya, namun masih dengan wajah datar.
" Hadiah mu, kupikir dengan kekuatan mu yang sudah terbangkitkan lagi, kau bisa melihat apa yang ada di dalam sana. " ucap Lorenzo.
Azel pun memegang pundak Quennevia, membuatnya menoleh kearahnya " Jangan lakukan, bisa saja sebuah jebakan. "ucapnya dengan wajah serius.
" Itu bukan jebakan, aku yakin kau akan menyukai nya. " ucap Lorenzo pula mencoba meyakinkan Quennevia.
Quennevia juga ragu dengan itu, namun ia penasaran apa yang diberikan oleh Lorenzo, sampai-sampai ia berpikir kalau Quennevia akan menyukai nya.
Akhirnya Quennevia memutuskan untuk melihat apa yang ada di dalam bola ditangan nya itu, perlahan-lahan matanya mulai menyala saat ia menggunakan kekuatan nya.
Namun sesaat kemudian Quennevia tersentak, dan tubuhnya mulai gemetar setelah melihat apa yang ada di dalam bola itu.
" Ka.. Kau!! Apa yang sudah kau lakukan padanya?!!. " tanya Quennevia kepada Lorenzo sambil menatap nya dengan penuh kebencian.
" Haha.. Jika kau ingin tahu datang saja sendiri ke tempat ku, itupun jika kau memang ingin menyerahkan dirimu sendiri. " jawab Lorenzo yang kemudian menghilang dari sana.
Ethan dan juga yang lainnya penasaran apa dengan maksud nya, namun mereka tidak ada satupun yang bertanya. Apalagi melihat Quennevia yang sekarang... tengah menangis tanpa suara di depan mereka.
Quennevia menggenggam pedang milik ibunya di tenaga kiri nya, sementara tangan kanan nya menggenggam bola yang diberikan oleh Lorenzo itu. Ia menaruh tangan kanan yang memegang bola itu di dadanya, sambil menggigit bibinya menahan supaya ia tidak terisak.
" Kagura... " gumamnya di sela tangisan nya itu.