
[Season 2]
Telah berlalu beberapa menit setelah Ethan terpisah dengan teman-temannya, Sang Hakim membawanya pergi ke tempat yang lain. Ethan tidak terlalu memperhatikan, namun ia merasa familiar. Ditempat yang tidak pernah ada cahaya ini, Ethan merasakan yang namanya deja vu, dimana ingatan lamanya perlahan kembali dalam bentuk kaset yang tidak jelas.
" .... Cahaya .... berkat .... .... ..dunia..."
" .... pertama .... .... dewi .... ...."
Itu semua ingatan yang tidak jelas dan kusut, layaknya puzzle yang tidak langkap, namun perlahan-lahan dia mendapatkan pelengkapnya.
Sebuah ingatan yang telah lama terlupakan...
[Lewat sini..]
Suara sang hakim kembali membuyarkan lamunan nya, Ethan pun mengangkat kepalanya menatap kearahnya. Dimana sang hakim sedang berdiri disamping sebuah pintu lain yang terbuka dihadapannya.
Hakim itu menyuruhnya untuk masuk ke sana.
Jadi Ethan pun kemudian melangkahkan kakinya ke dalam sana, namun kali ini dia hanya sendirian. Sang hakim tidak ikut masuk ke dalam sana bersama nya.
Dan sesaat setelah dia melangkah melewati pintu tersebut, suasana didalam langsung berubah.
Ethan sedikit menoleh kearah belakang sana, pintu yang sebelumnya ia masuki tadi hilang menjauh, yang ada dibelakang punggungnya hanyalah beberapa pohon dan semak yang rimbun.
Lalu seekor kupu-kupu pun lewat didepan wajahnya.
Kupu-kupu itu menarik perhatian Ethan, dan terbang dengan sinar redup seolah menjadi penunjuk jalan kepadanya.
" Dilihat bagaimana pun kupu-kupu itu benar-benar cantik.." gumam Ethan sebelumnya ia mengambil langkah mengikuti kupu-kupu tersebut.
Ia berjalan disepanjang jalan koral hitam, dan bunga spider lily yang membentang. Ada sebuah pohon delima, ada juga kolam yang memancarkan kilauan bagai berlian. Namun mata Ethan hanya terpaku kepada kupu-kupu yang menuntunnya, sampai ke sebuah gazebo berwarna perak, yang menjadi satu-satunya sesuatu dengan warna lain disana.
Kupu-kupu itu pun kemudian hinggap dibahu seorang pria yang duduk disana, dan langkah Ethan terhenti tepat didepan gazebo itu. Ethan hanya diam memperhatikan nya, disaat keheningan yang dalam datang menerpa mereka disaat-saat yang begitu tegang tersebut.
[ ....Lama tidak bertemu.] Pria dihadapan nya itu pun menbuka mulutnya pertama kali.
" Aku tidak yakin ini pertama kalinya bagimu." dan Ethan pun kemudian menyahutinya.
Sosok dihadapannya itu pun kemudian memutar kepalanya menatap Ethan. Seorang pria yang terlihat seperti kegalapan itu sendiri, memancarkan keberadaan yang sangat kuat dan juga tekanan yang berat.
Mata hitamnya terlihat menjebak segala kehidupan, dan rambut panjangnya yg terurai terlihat seperti langit dunia bawah. Dia adalah penguasa, dan orang yang menduduki takhta ditempat ini... Raja dunia bawah .
Ethan merasakan hawa dingin darinya, bukan sebuah permusuhan, itu karena dia memang seperti itu sejak awal.
Ethan tidak bisa melakukan apapun tentang itu, jadi dia hanya menanggapinya dengan senyuman. " Jujur saja aku agak kecewa... Kupikir kau akan langsung memarahiku ketika aku sampai disini." ucapnya kemudian.
Perkataan nya itu berhasil membuat sebelah alis Hades terangkat, [ Untuk apa aku memarahi anak nakal yang bahkan tidak mengingat siapa dirinya.] dan ia pun menimpali.
" Kejamnya, padahal aku sangat berharap."
[ Berhenti beromong kosong dan bawa dia kemari.]
Ethan hanya tertawa dengan hal itu, baru kemudian ia melangkah lebih dekat dan naik ke atas gazebo. Ethan berdiri tepat disamping penguasa dunia bawah, ditempat yang benar-benar lebih dekat daripada siapapun saat ini dengannya.
Ethan pun kemudian mengangkat tangan kanannya dimana gelang ruangnya berada, dan ia mengeluarkan Quennevia dari sana. Ethan pun meletakan kelinci yang sedang tidur itu diatas meja, tepat didepan mereka.
Hades yang melihat itu diam menatapnya, ini mungkin jadi yang pertama kalinya baginya melihat seorang Putri Empat Dunia seperti ini dan dalam bentuk ini. Namun tak lama kemudian, ia pun bicara juga..
[ ...Dia benar-benar lemah.] Ia pun mengulurkan tangannya kearah kelinci dan mengangkat tengkuk kelinci itu dengan satu tangannya itu, hingga Quennevia terlihat bergelantungan disana. [ Dia kelihatan enak untuk dimakan.] saat kemudian dia mengatakan kata-kata horor itu dengan ekspresi datar.
Bahkan Ethan yang mendengar kata-katanya langsung tersentak kaget, ia buru-buru merebut kembali Quennevia dari tangannya dan menjauhkannya sambil memeluknya didadanya. Disaat yang sama dia juga menatap Hades dengan tatapan mencela.
Jika ada orang lain disana, mereka pasti akan berpikir kalau dia adalah satu-satunya manusia yang tidak punya rasa takut dihadapan dewa.
Namun bagi Ethan, Quennevia jauh lebih penting dari pada dewa tersebut.
Hades juga tidak mengatakan apapun tentang sikapnya itu, dia hanya sedikit mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum remeh sambil menatap Ethan yang duduk dihadapan nya saat ini.
[ Jangan membuat ekspresi seperti itu, aku cukup waras untuk tidak memakan anak itu. Memikirkan bagaimana jadinya alam semesta ini tanpa dirinya]
" Tolong jangan berkata apapun tentang itu, kau membuatku takut."
[....Kau takut dengan kata-kata seperti itu, tapi kau tidak takut untuk datang ke dunia bawah?]
Ethan tidak menjawabnya, dia hanya terdiam dan kemudian mengalihkan perhatian nya kearah kolam yang ada tak jauh dari mereka. Sekumpulan kupu-kupu yang beterbangan disekeliling kolam itu, kupu-kupu dengan jenis yang sama dengan yang sebelumnya membawanya ke hadapan dewa dihadapannya ini.
Mereka adalah kepingan dari jiwa-jiwa murni yang datang kesini dalam keadaan baik, dan orang-orang yang mendapatkan tempat khusus disamping Raja Dunia bawah.
Ethan bisa merasakannya, salah satu diantara mereka... Lilya, orang yang hidup dimasa lalu, dia yang selalu ada disisi Adelaide dan... Murphy, dayang Quennevia yang mati beberapa tahun yang lalu.
[Kau mengenali anak malang itu?]
[Apa kau bertanya-tanya kenapa mereka tetap disini dan hidup kekal sebagai kupu-kupu daripada lahir kembali?] Hades kembali membuka suaranya memecah keheningan.
Ethan masih diam dengan itu, saat kemudian ia pun sedikit menundukan kepalanya dan tersenyum kecut. " Tidak... Aku tidak yakin kehidupan lain adalah yang mereka inginkan, aku hanya penasaran apa mereka bahagia disini atau tidak?." dia menjawabnya seperti itu.
[Lalu kenapa kau tidak bertanya langsung?]
" Aku takut mengetahui kenyataan itu."
[Takut... tidak akan membawamu ke manapun, ini hanya akan menjadi penghalang yang tidak akan pernah bisa kau singkirkan tanpa kau atasi. Kupikir kau telah mengatasi ketakutan mu dipulau itu sebelumnya.]
Lagi-lagi Ethan terdiam mendengar itu, ia merasa kalau dua hal itu berbeda, tapi mungkin itu memang hal yang sama. Jadi kenapa dia seperti ini? Apa itu benar karena kondisi Quennevia sekarang, atau rasa bersalahnya yang membuatnya takut?
Ethan tidak bisa menjawab apapun, ia hanya memperhatikan saat air dari dalam teko jatuh turun ke atas gelas ketika Hades menuangkan teko itu. Dan disaat itu, Ethan pun merasa seolah terpana.
[Ambil ini dan jernihkan pikiranmu, takdir yang kami siapkan hampir selesai.] Hades pun kemudian memberikan cangkir berisi teh yang dia tuang sendiri kehadapan Ethan.
Dan Ethan menatap itu dengan ekspresi cerah, " Aku tidak tahu kalau dewa menuang tehnya sendiri." ucapnya kemudian, entah kenapa itu agak lucu.
[Apa aku semalas itu sampai hal mudah seperti ini pun tidak bisa kulakukan?]
" Darimana kau mendapatkan teh ini? Apa dunia bawah memproduksi teh untuk para dewa sekarang?"
[Ha, jangan konyol. Dunia bawah bukan tempat untuk benda seperti ini tumbuh, aku mendapatkan nya dari persembahan yang diberikan anak kecil dikuil.]
" Ahahaha...." Ethan tidak bisa menahan tawanya dengan yang itu.
Itu pasti bukanlah hal yang akan dipikirkan oleh semua makhluk kalau pengusa dunia bawah akan melakukan hal ini. Terlebih untuk menjamu tamunya yang berasal dari dunia tengah.
Tapi sekarang itulah yang terjadi kenapa Ethan...
" Padahal orang-orang bilang, jika kau memakan makanan yang dijamu di dunia bawah, maka kau akan terjebak disini selamanya."
[Nah, apa hukum seperti itu akan berlaku untukmu??]
" Aku tidak yakin..."
Ethan pun kemudian menyentuh cangkir itu, ia menerimanya dengan baik. Ia pun mengangkat cangkir itu dan menyesapnya, sementara Hades sibuk memperhatikan air teh dalam cangkir nya sendiri.
Itu adalah sebuah pertemuan dan percakapan yang tidak biasa, namun setidaknya bagi kedua orang itu...
Itu adalah hal yang biasa.
***
Ditempat lainnya pula, Oscar terbaring diam disebuah tempat yang dikelilingi oleh kegelapan.
Tes...
Saat kemudian dia merasa terganggu dengan tetesan air yang mengenai wajahnya, ekspresi nya pun langsung berkerut ketika air dingin itu jatuh diwajahnya. Lalu secara perlahan, Oscar pun membuka matanya, dan hal yang pertama kali ia sadari adalah... dia sendirian.
" Ukh... Apa yang terjadi??" ucapnya yang kemudian bangkit berdiri dengan perlahan.
Lalu ia pun mengedarkan pandangan nya ke segala arah ditempat nya, itu terlihat seperti sebuah lebirin berisikan cermin disetiap sudutnya. Dan ada sesuatu yang basah dibawah sana, sebuah genangan air setinggi mata kakinya membanjiri seluruh tempat itu.
Sebelumnya ia ingat kalau dirinya dan teman-temannya diperangkap oleh asap hitam, lalu setelah itu...
" Ah! Teman-teman...!" dia harus mencari dimana mereka saat ini, jadi ia pun langsung bergerak mencari-cari mereka. " Niu! .. Arkan! Yuki! ...Meliyana! Kalian dimana?! Ethan!" dia berteriak sekencang yang ia bisa, namun sama sekali tidak mendengar sahutan apapun.
Seolah-olah tempat nya saat ini bukan hanya menyerap cahaya, tapi juga suara. Menciptakan keheningan total yang terasa mencekam disana.
" Dimana mereka semua sekarang..??" Oscar benar-benar khawatir dengan keadaan mereka.
Disaat yang sama, ditempat Meliyana..
Ia juga sama dengan Oscar, dia sedang mencari keberadaan teman-temannya yang entah ada dimana sambil berlarian dilabirin itu.
" Oscar! Niu! Semuanya, jangan main-main! Kalian ada dimana?!" dia benar-benar takut ditinggalkan sendirian disana, mengingat ada dimana mereka sekarang.
Bahkan Arkan juga berlarian mencari mereka sama seperti Meliyana..
" Teman-teman!! Apa kalian baik-baik saja?! Siapapun jawab aku!."
Bahkan Yuki juga tidak ada bedanya, dia berlari dengan panik takut terjadi sesuatu kepada teman-temannya saat ini.
" Ini tidak mungkin, apa kami sengaja dipisahkan satu-satu seperti ini?? Untuk apa?" dan ia sedang memikirkan kemungkinan apa yang membuat mereka langsung dibuat seperti ini sesaat setelah masuk ke dalam istana penguasa dunia bawah.
Disamping itu, sementara ke-empat orang itu saling mencari satu sama lain dari tempat mereka masing-masing berada, dan mulai berputar-putar ditempat itu dalam kebingungan. Niu...., menjadi satu-satunya orang yang masih belum sadarkan diri ditempat nya sendiri.