
[Season 2]
Situasi Ethan saat ini, segera setelah ia melewati celah yang ia buat dan masuk ke dalam dimensi tak dikenal yang ada didalam tubuh Celestial Quennevia. Ia terus jatuh dari arah dimana ia masuk dan terus jatuh tanpa akhir, Ethan hampir tidak bisa melihat dasar dari tempat ini sama sekali.
Namun beberapa kali, dia melihat sesuatu yang terlewati mengambang diantara dimensi ini.
Dan tak lama dari itu, ia menemukan sebuah pijakan yang bisa ia pakai. Karena itu, Ethan pun bergerak kearah pijakan yang ia lihat dan mendarat disana dengan selamat.
" Haa..."
Ethan sedikit menghela nafas, dan kemudian mengangkat kepalanya dan menatap sekelilingnya. Apa yang ada dihadapannya dan yang ia pijak saat ini, terlihat seperti sebuah potongan lantai dan pintu dari sebuah kamar.
Tidak hanya itu, ketika ia menolehkan kepalanya dan melihat dengan lebih jelas, dia bisa melihat reruntuhan dari tempat-tempat yang tidak terlalu asing juga. Juga tempat yang pernah ia lihat dan kunjungi. Bahkan ada benda-benda seperti cangkir, boneka, bahkan sebuah pohon. Mereka mengambang dengan cara yang berbeda dan ukuran yang berbeda pula.
Ethan setidaknya bisa menebak apa semua itu...
" ....Apa ini potongan memori Quennevia??"
Semuanya terpecah belah sama seperti ingatan Quennevia sendiri. Tapi ada yang lain juga... itu adalah gelembung-gelembung yang ikut mengambang diantara reruntuhan juga. Itu adalah gelembung mimpi milik Quennevia. Harapan, dan keinginannya.
Ia memandangi mereka dengan seksama, sampai suara ayahnya menyadarkannya...
" Ethan..."
Ethan yang mendengar itu sedikit terperanjat, tapi kemudian dia kembali tersenyum sembari memegangi leher kanannya dengan kepala sedikit miring.
" Ini benar-benar merepotkan, ya. Mencari kesadaran asli Quennevia ditempat tanpa batas, itu sama saja mencari jarum dalam tumpukan jerami." ucapnya kemudian.
Tentu saja itu hal yang sulit, ditambah.... bukan hanya dialah satu-satunya yang ada didalam sini saat ini. Dia tidak bisa terus berada ditempat ini terlalu lama, waktu yang dia miliki adalah satu setengah jam. Euclide dan Hades juga hanya bisa mempertahankan keadaan diluar paling lama dalam dua jam.
Sementara itu, apa yang mungkin harus ia lawan tidak terpengaruh oleh batasan apapun. Jadi ini adalah pertarungan waktu. Siapa yang berhasil mengusir yang lain lebih dulu, dialah yang jadi pemenangnya.
Dan itu... sudah dimulai sejak ia masuk.
" Dibelakangmu, Ethan."
Ethan berbalik ketika mendengar peringatan dari ayahnya, tentu saja dia juga tahu karena dia bisa mendengar suara berisik yang dikeluarkan oleh mereka yang datang kepadanya.
Dan apa yang Ethan lihat adalah sebuah badai serangga dalam jumlah besar. Sejenis makhluk perpaduan antara lalat, belalang dan juga kalajengking pada saat yang sama. Itu adalah kombinasi yang tidak pernah ingin ia lihat dalam hidupnya.
" Mereka terlihat menjijikan." ucap Ethan melihat semua itu.
" Jelas sekali orang yang menciptakan mereka memiliki imajinasi yang mengerikan." bahkan Felice juga setuju dengan pendapat putranya.
Kieeekkhhh..!
Mereka mengeluarkan suara lengkingan yang benar-benar keras. Tak lama kemudian beberapa dari mereka pun mengarahkan ekornya kepada Ethan, karena nya Ethan pun secara reflek melompat ke belakang untuk menghindari serangan itu. Disaat yang sama ia mengayunkan kakinya dan menendang semua kepala mereka hingga hancur.
Mereka yang datang lebih dulu tumbang dihadapannya, tapi yang lainnya pun mulai berdatangan. Ethan pun dengan cepat menarik pedangnya dan menebas mereka semua dalam sekali tebasan. Tentu saja, mereka bukanlah makhluk yang cukup kuat sejak awal, Ethan juga tahu itu.
Tapi apa yang membuatnya merinding adalah apa yang muncul dibelakangnya setelah ia menyingkirkan semua serangga itu.
["Kau melakukan sesuatu yang tidak berguna."]
Suara itu muncul dengan nada rendah dan terdengar bergema seolah yang mengatakan hal itu bukan hanya satu orang. Dan Ethan pun perlahan menolehkan kepalanya, ia melihat sosok hitam seperti wanita dibelakangnya menyeringai dengan kejam kearahnya.
["Jika kau tidak keluar, kau pasti akan mati. Kami yang menentukan akhir dan awal disini."] suara itu kembali bicara padanya.
" Ethan! Jangan dengarkan dia."
Bahkan meski Felice berusaha menyadarkannya pun, tubuh Ethan tetap terpaku ditempatnya. Ia bisa merasakan keringat mengucur turun ditubuhnya, jantungnya berdebar dengan kencang dan jari-jari tangannya terasa dingin menggenggam erat pedang ditangannya. Ethan bisa merasakan bahaya yang begitu besar dari sosok yang ada didepannya saat ini...
Disaat yang sama dengan itu, pikiran Ethan pun kacau saat ini...
" Dia... aku harus membunuhnya.. apakah dia yang asli.. atau bukan.. haruskah kutebas dia sekarang.. Aku..."
" Teruslah maju." tapi suara itu menenangkannya. Dan Ethan melihat Violetine berdiri disisi lainnya diatas sebuah pilar dengan ekspresi tegas diwajahnya.
" ..Violetine.." Ethan sangat terkejut dengan kemunculannya.
["Jangan mengganggu!!"] sementara itu sosok hitam itu sangat terganggu dengan kehadirannya. Dia menggeram marah kepada nya, saat sebuah tangan hitam besar muncul dari bayangannya dan berusaha mencengkramnya.
Tapi Violetine sama sekali tidak menggubris hal itu, ia justru menunjuk kearah belakangnya masih dengan tatapan yang tertuju kepada Ethan, tanpa perubahan ekspresi sama sekali. " Terus berjalan dan bangunkan dia." ucapnya sesaat sebelum tangan besar itu menangkap dan meremasnya erat-erat.
Ethan yang melihat itu pun langsung melesat pergi dari tempatnya kearah yang ditunjuk oleh Violetine sebelumnya, ia tidak punya waktu untuk mengkhawatirkan apa yang terjadi dihadapannya. Karena pada dasarnya, Ethan juga tahu kalau itu bukanlah Violetine yang sebenarnya. Itu hanyalah potongan kesadaran...
Violetine yang sebenarnya, sudah lama menghilang sejak ia bersatu dengan Dunia Atas. Meski begitu, tentu saja itu hal yang sulit untuk meninggalkan sesuatu yang berharga seperti itu.
" Ugh..."
" ..Iya."
Ethan tidak lagi menoleh kebelakang, ia meninggalkan bayangan hitam itu yang mulai memudar setelah kepergiannya. Tapi, itu bukanlah akhir darinya...
[" Ethan... "] Suara itu kembali muncul, lebih dekat. Ethan merasakan kehadirannya tepat dibelakang punggungnya. ["..Kau tidak bisa meninggalkanku sendirian disini."] dia berbisik tepat ditelinganya disaat yang sama saat tangannya menyentuh bahu Ethan.
Dan seketika itu, Ethan merasakan kesadarannya terguncang, penglihatannya mulai kacau. " Hok..!"
Itu perasaan yang mengerikan, seolah ada sesuatu yang mengocok isi perutnya. Kepalanya juga mulai terasa pusing seolah baru saja menghantam batu yang sangat keras.
" Sa... Eth..!!" ia mendengar suara khawatir Felice yang seolah terputus-putus, telinganya berdengung. Dan untuk mengembalikan kesadarannya, Ethan pun mulai menggigit lidahnya sendiri.
" Khh!!.." Setelah memastikan semuanya kembali, Ethan langsung memutar dan mengayunkan pedang ditangannya.
Swishh..
Dia mengenainya. Tapi seperti yang ia duga, itu bukanlah yang asli. Ethan merasakan pedangnya menembus bayangan itu begitu saja, seolah dia memotong kabut, dan sosoknya pun juga menghilang dari hadapannya.
Yang asli pasti saat ini ada disuatu tempat yang tidak terjangkau oleh penglihatan nya, dan mengawasi nya dengan tenang dan tidak terburu-buru. Tidak ada waktu untuk bingung atau mencari, Ethan kembali melanjutkan jalannya menuju arah yang dimaksud.
Meski begitu, perasaan mengerikan itu masih bisa ia rasakan. Dibandingkan melawan musuh yang kuat, hal seperti ini yang sama saja dengan siksaan mental jauh lebih buruk.
" Ethan, tenangkan lah dirimu."
" ...Baiklah."
Felice juga bisa merasakan kegelisahan yang dirasakan oleh putranya, tentu saja dia sangat mengerti betapa sulitnya melewati semua ini. Tapi tidak ada lagi jalan lain selain maju, dan Ethan tidak bisa kembali.
***
Berbeda dengan kondisi Ethan didalam dimensi tak dikenal, keadaan diluar cukup tenang meski semua orang masih berusaha melakukan yang terbaik untuk membangunkan Quennevia. Teman-teman Ethan juga memperhatikan dengan seksama bagaimana Ethan menjelajahi tempat nya sekarang, dan jujur saja... mereka sedikit tidak sabar karena ingin membantu.
" Aargh... Kenapa kita hanya berdiri diam saja disini?? Jika saja kita masuk ke sana bersama Ethan sebelumnya." Arkan berkata sambil mengacak-ngacak rambutnya sendiri karena frustasi dengan situasi itu.
" Kau benar... Apakah tidak ada hal yang bisa kita lakukan??" sahut Niu pula menimpali.
Mariana yang mendengar keluhan mereka itu pun kemudian menolehkan kepalanya kebelakang dan tersenyum, " Tolong tunggulah sebentar lagi, kalian akan dapat giliran nanti." ucapnya kepada mereka.
Mereka tidak bisa melakukan apapun jika memang begitu, meski mereka sebenarnya juga tidak mau hanya diam saja.
Sementara itu... Sakura sendirian, dia tenggelam dalam pikirannya sendiri dan mengenalisis semua situasi yang sedang terjadi didepannya melalui pengetahuan yang ia dapatkan.
***
Ditempat lain...
Lebih tepatnya World Borders, Kagura yang ditinggalkan sendirian disana oleh Misika hanya diam menatapi danau luas dimana Aqua biasanya berada. Hanya duduk diam dan tidak melakukan apapun, pandangannya hanya tertuju kepada apa yang ada dihadapannya.
Meski begitu sebenarnya, dia tidak benar-benar sendirian...
" Kagura."
Haika baru saja tiba dan memanggilnya yang sedari tadi terdiam seperti itu, dan Kagura yang mendengar suaranya pun kemudian menolehkan kepalanya kepada Haika yang berjalan menghampirinya dan tersenyum.
" Apa yang sedang kamu pandangi sedari tadi? Apakah kau tidak bosan?" tanya Haika sembari pengelus kepala Kagura kemudian.
" Tidak, aku sedang menunggu kakak." dan itulah jawaban yang diberikan oleh Kagura kepadanya.
" Menunggu kakak?? Maksudmu Quennevia? Tapi, dia tidak ada disana, kan? Dia sedang ada ditempat lain."
" Tapi.. Rumah ada disana."
Kagura mengatakan itu dan kembali mengalihkan perhatiannya kearah danau yang ia tunjuk. Haika yang me denger itu sedikit bingung dengan maksudnya, sampai kemudian dia mengingat sesuatu.
Apa yang selama ini terpendam didalam danau itu, bangunan suci yang menjadi tempat Dewi Tengah tinggal jika dia ada didunia ini.
" Aha. Maksudmu Istana Dewi Tengah??"
Kagura pun menganggukan kepalanya mengiyakan itu, " Mhm." dan ia kemudian mengangkat kedua tangannya dadan menyangga dagunya dengan ekspresi tidak sabar. " Aku ingin melihat istananya naik ke permukaan." ucapnya pula.
Haika bisa mengerti, betapa menariknya melihat sesuatu yang tidak biasa mereka lihat terjadi didepan mereka. Tapi disaat yang sama, dia juga sedikit khawatir... Apakah usaha dari Ethan dan yang lain nya berjalan dengan baik ataukah tidak. Dia harap semuanya baik-baik saja...
Karena kepastian itulah yang mereka semua butuhkan untuk dunia ini sekarang.
" Quennevia... Ethan... Ibu... Kumohon kembalilah dengan selamat."