
Esok paginya, semua murid melakukan hal-hal seperti biasanya, belajar, berlatih atau hanya saling menyapa teman satu sama lain. Namun tidak dengan Quennevia dan teman-teman nya, soalnya mereka... seperti nya tidak bisa tidur karena sesuatu.
Ketika malam mereka datang ke kamar mereka, wajah mereka benar-benar pucat seolah habis melihat hantu. Tapi saat Quennevia tanya mereka hanya bilang kalau kepala Akademi meminta mereka untuk menemuinya.
Teman-teman sekamar Ethan juga sama seperti mereka, mungkin mereka juga mengalami hal yang sama dengan Meliyana, Yuki dan Niu. Dan saat di kelas saat ini pun, mereka hanya tidur saja karena terlalu lelah. Untung saja yang mengajar saat ini bukan hal yang terlalu penting, jadi mereka tidak terganggu begitu juga dengan guru yang mengajarnya.
- Tidak lama kemudian istirahat bagi mereka pun tiba...
" Um... Bisakah kalian lebih semangat sedikit, ada apa sih??_-' " tanya Ethan.
" Uhh... Tapi rasanya jiwa kami hilang setengahnya. " sahut Arkan.
" Memangnya apa yang kepala Akademi lakukan pada kalian?? " kini giliran Quennevia pula yang bertanya.
" Pak kepala, memberikan pidato panjang selama 3 jam penuh tanpa berhenti. " ucap Meliyana dengan wajah yang benar-benar kusut.
Mendengar itu membuat Quennevia jadi teringat dengan apa yang dilakukan oleh kepala Akademi itu sama dengan yang dilakukan Everon, begitu pula dengan Ethan saat mengingat ketika Ning mengajari nya dulu.
Pada akhirnya jadi bukan hanya teman-teman mereka saja yang berwajah kusut seperti itu, tetapi Ethan dan Quennevia pun juga jadi seperti mereka, ketika mengingat masa-masa kelam seperti itu diinginkan mereka.
" Aku juga... punya kenangan buruk soal itu " gumam Quennevia.
" Aku ingat dulu Ning juga melakukan pidato seperti itu di hadapan ku selama 5 jam penuh. " ucap Ethan.
" Apa?! 5 jam penuh?!. " ucap mereka sedikit berteriak saking terkejut nya.
Beberapa murid di kantin Akademi pun langsung menoleh kearah mereka, mungkin karena ikut terkejut mendengar mereka tiba-tiba berteriak.
" Jadi kalian sudah sangat terbiasa, ya??. " tanya Ryohan.
" Ha.. hahaha... Itu bukan hal yang perlu dibanggakan. " ucap Quennevia dengan wajah yang terlihat penuh beban sambil tersenyum hambar.
" Oh, iya. Aku lupa. " ucap Niu berusaha mengalihkan pembicaraan, dia tidak suka melihat mereka saling membicarakan tentang hal itu. Dan itu berhasil mengalihkan perhatian mereka dari semua pembicaraan kelam itu.
" Quennevia, seperti nya Meliyana menyukai Kai. " ucap Niu dengan ceria.
" Ni.. Niu, apa yang kau katakan??. " ucap Meliyana pula menimpali dengan wajah yang merah merona.
Sementara itu Quennevia mencoba untuk memahami perkataan Niu terlebih dahulu, " Suka?? Meliyana??. " ucapnya masih dengan bingung.
Tidak lama kemudian ia pun akhirnya mengerti, dan menatap Meliyana dengan tatapan terharu. Jadi sekarang Meliyana kecil itu sudah tumbuh besar, meski sebenarnya dia lah yang lebih tua satu tahun dari nya. Bahkan Ethan pun sampai menatap nya dengan kagum.
Namun berbanding terbalik dengan Meliyana yang malah menatapnya dengan kesal, " Apa maksud tatapan mu itu??. " tanyanya.
" Pfftt... jangan marah seperti itu, tapi bukan kah bagus jika kau bisa bersama dengan Kai?? Dia itu orang yang kuat. " ucap Ethan menimpali.
" Wahahaha... wajahmu jadi seperti tomat. " ucap Arkan sambil tertawa keras, diikuti tawa yang lainnya juga.
Meliyana hanya mendengus kesal karena teman-teman nya itu, harusnya ia lebih memperhatikan sekitar agar tidak perlu menanyakan Kai kepada mereka. Dengan begitu dia tidak akan digoda habis-habisan seperti ini.
Sesaat kemudian perhatian mereka pun langsung teralihkan kepada Quennevia yang tiba-tiba berdiri.
" Kau mau ke mana??. " tanya Yuki dengan wajah datarnya.
" Aku mau pergi ke perpustakaan menara, kenapa??. " tanya balik Quennevia.
" Apa?!! Kau bisa pergi ke sana?!!. " tanya Niu, Meliyana, dan Arkan pula kembali berteriak.
Sementara teman-teman nya (-Ethan dan Yuki yang tetap santuy) menatap nya tidak percaya dengan mulut yang menganga, kali ini Quennevia yang lupa kalau dia tidak memberitahu hal itu kepada mereka atau siapapun. Jadi sudah sewajarnya jika mereka seperti itu ketika mendengar nya.
***********
Beberapa saat sebelum Quennevia datang ke perpustakaan menara, ada seseorang yang misterius berdiri di sana sambil menatap sebuah bola kristal. Ia menyunggingkan sebuah senyuman aneh di wajahnya, ia pun kemudian menyentuh bola kristal itu dan memasukkan sebuah kekuatan aneh di dalam nya.
Kriett....
Suara pintu yang terbuka mengalihkan perhatian nya, ia pun langsung pergi dari sana tanpa jejak sedikit pun. Lalu dari balik sebuah rak buku yang menghalangi pintu itu....
" Tetua, aku sudah datang. " ucap Quennevia agak berteriak.
Namun tidak ada siapapun disana, membuat Quennevia merubah ekspresi ceria nya tadi menjadi datar.
" Hm... Katanya tetua Rouen akan menunggu ku di sini, kenapa sekarang sendirian lagi??_-' " gumam Quennevia.
Quennevia bahkan tidak sempat menyadari kalau orang yang ia gumam kan ada di belakang nya, " Iya, aku baru saja datang kok. " ucap tetua Rouen.
Quennevia pun langsung menoleh kebelakang karena terkejut mendengar nya, dan di belakang nya ada tetua Rouen yang hanya tersenyum kepada nya.
" Tetua, anda mengejutkan ku. " ucap Quennevia sambil mengelus dadanya.
" Fufu.. Siapa suruh kau hanya fokus ke depan. "
Quennevia hanya gerutuan nya di dalam hati, jika ia mengatakan nya tidak akan ada habisnya berdebat dengan tetua Rouen nantinya.
" Tetua, kapan kita akan mulai pelajaran nya??. " tanya Quennevia mengalihkan pembicaraan.
" Oh, kalau begitu sekarang saja. " sahut tetua Rouen yang diangguki oleh Quennevia dengan semangat.
Itu akan lebih berguna bagi Quennevia dari pada hanya membahas hal yang tidak perlu, sekalian ia ingin membicarakan tentang dirinya yang dikendalikan waktu itu kepada tetua Rouen, biar dia saja yang memberitahu para tetua yang lainnya dan juga kepala Akademi.
- Beberapa saat kemudian.
Setelah tetua Rouen selesai mendengar kan pengakuan Quennevia tentang dirinya yang dikendalikan, tetua Rouen benar-benar terkejut mengetahui hal itu. Namun ia tetap meminta Quennevia untuk tenang dan tidak perlu terlalu memikirkan nya, meskipun sebenarnya itu adalah hal yang sangat gawat.
Quennevia hanya mengiyakan saja ucapan tetua Rouen dan kemudian memulai pelajaran dari tetua Rouen, namun baru juga sebentar mereka melakukan kegiatan belajar mengajar, Rouen harus langsung pamit dari sana karena tetua Kara yang tiba-tiba datang dan menariknya pergi lewat jendela. Sedangkan Quennevia hanya bisa tersenyum canggung melihat tingkat tetua Kara itu yang sedikit bar-bar itu.
Dan sebelum kembali, Quennevia pun membereskan tempatnya belajar tadi, serta mengembalikan buku-buku yang tadi ia baca ketempat nya semula. Setelah selesai ia berjalan hendak pergi dari sana, namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti dan langsung berbalik ke belakang.
Quennevia yang tadinya hendak ke luar malah menghampiri bola kristal yang ada di sebrang ruangan sana, entah kenapa tapi seperti ada kekuatan yang menariknya ke arah bola kristal itu.
" Entah kenapa bola kristal ini terlihat sangat menarik. " batin Quennevia, Ia pun mengulurkan tangannya kearah bola kristal itu untuk menyentuhnya.
Zrrtt....
" Akh!!... " pekik Quennevia yang langsung menarik kembali tangannya.
Tiba-tiba saja ada sebuah sengatan yang sangat menyakitkan padahal hanya jari saja yang menyentuhnya, seketika tubuhnya seperti disetrum oleh listrik dengan tegangan tinggi. Membuat Quennevia berteriak kesakitan, bersamaan dengan tubuhnya yang ambruk di lantai.
" AAARRRGGHH!!. "
Sesaat kemudian pandangan Quennevia pun mulai meremang, dengan rasa sakit yang ia rasakan tak juga kunjung hilang. Quennevia sempat melihat nya walau sesaat, ada seseorang yang mendobrak pintu menara itu setelah ia berteriak tadi.
Quennevia tidak sempat melihat siapa itu karena ia langsung tak sadarkan diri di tempat nya, akan tetapi Quennevia berharap jika itu adalah teman-teman nya atau siswa lain yang kebetulan ada di sana.