Quennevia

Quennevia
Pemilihan Ketua Klan Yang Baru



Di tempat lain, mungkin bisa di bilang sebuah desa tersembunyi, di sekitaran hutan York. Haika sedang pergi ke sana untuk menemui Klannya, ditemani dengan seorang anak buahnya yang setia bernama Hugo.


Dia kesana untuk memperhatikan posisi nya sebagai Tuan Muda di sana, mungkin juga dia akan langsung diangkat sebagai Ketua Klan ketika menemui para Tetuanya. Namun sebelum itu, dia harus meyakinkan mereka terlebih dahulu jika itu memang dirinya dan dia berhak atas posisi itu.


" Tuan Muda, apa anda yakin dengan pilihan anda??. " tanya Hugo.


" Aku yakin, jika itu adalah salah satu cara untuk melindungi Quennevia aku akan lakukan. Lagipula sudah lama sekali aku tidak kembali ke sini semenjak meninggalkan Klan. " ucap Haika.


" Saya mengerti. " Hugo mengangguk paham.


Mereka pun kembali meneruskan perjalanan mereka itu, dan ketika sampai di desa itu. Banyak orang yang memperhatikan mereka, bukan karena Hugo karena mereka sudah mengenalnya sebagai prajurit paling setia.


Namun karena kehadiran Haika yang misterius itu, pasal nya ia mengenakan jubah panjang yang menutupi seluruh tubuh nya (Iya kecuali muka ya, tapi tetep gak kelihatan). Mereka sudah pasti bertanya-tanya siapa Haika itu.


Setelah cukup lama mereka berdua ada di desa itu, Haika dibawa Hugo menuju tempat para Tetua itu berada. Seperti nya kebetulan sekali mereka sedang melakukan rapat untuk menunjuk ketua baru, ayah Haika yang sebenarnya nya pun ada di dalam sana.


" Ketua klan, anda tidak bisa terus menunggu seperti ini. Keberadaan Tuan Muda Haika saja tidak ada yang tahu di mana, dia sama sekali tidak pernah terlihat lagi seolah memang menghindari kita. Atau mungkin dia memang sudah tewas waktu itu, kita tidak bisa terus menunggu seperti ini dan harus segera memilih penerus anda. " ucap tetua ke 4 di sana.


" Itu benar, kita tidak bisa terus seperti ini. Selama ini klan kita sudah mempertahankan kekuatan kita, dan juga kedamaian kita. Tidak mungkin kita terus menunggui orang yang tidak tahu kapan akan datang ke mari, sementara tugas yang harusnya ia urus itu terbengkalai begitu saja. " ucap tetua kedua pula.


" Setidaknya kita harus mencari informasi anakku terlebih dulu, setelah itu baru aku akan percaya apakah dia sudah mati, ataukah dia memutuskan untuk hidup di tempat lain. " ucap si pemimpin klan itu, ayahnya Haika, Vince.


" Benar, bagaimana pun juga dia adalah cucu ku, tidak mungkin aku membiarkan nya begitu saja. " ucap tetua pertama pula, kakeknya Haika, Cody.


" Tetua pertama, anda juga berpikir begitu?? Haiiss.... lalu bagaimana dengan masa depan klan ini, apakah anda dan ketua klan akan terus membiarkan nya saja??. " tanya tetua ke 3 pula.


Semua orang disana berdebat dengan hal seperti itu, iya memang hal yang sulit jika seorang ayah yang ingin anaknya kembali, namun disaat yang sama dia juga memikul beban untuk memimpin sebuah klan.


" Mau bagaimana lagi, anak itu benar-benar sangat merepotkan bukan??. " gumam Vince.


" Kakak, para tetua. Jika aku boleh merekomendasikan, anakku adalah yang paling kuat diantara orang di klan. Bagaimana jika dia yang menggantikan keponakan ku jika dia tidak ada??. " tanya seseorang pula, yang sudah pasti dia adalah paman dari Haika, Fergus.


Ia menunjukkan anaknya yang bernama Falsa, kepada para tetua yang ada di sana begitu pula dengan kakaknya yang adalah ketua klan. Dan orang bernama Falsa itu membungkuk hormat kepada mereka, sudah pasti itu adalah hal yang ditunggu-tunggu oleh si Fergus itu.


Menjadi pemimpin klan berarti bisa mengendalikan klan itu, jadi dia akan ada di puncak kekuasaan, seperti itulah yang ia pikirkan. Meski sebenarnya anaknya tidak terlalu suka hal-hal seperti itu, karena hubungan nya dengan Haika itu sangat baik. Tidak seperti ayahnya yang selalu licik berusaha mengambil alih posisi ketua klan.


" Hoo... seberapa besar kekuatan nya saat ini??. " tanya tetua ke 3.


" Saya sudah berada di level 69 tetua, umur ku sekarang harusnya sama seperti kak Haika (23 tahun). " ucap Falsa.


" Woh... sungguh luar biasa. Lihatlah keponakan mu ini ketua klan, dia begitu membanggakan. Jika kita mengangkatnya menjadi ketua di masa depan, klan kita akan tetap berjaya. " ucap tetua ke 2.


" Haahh... pokoknya kita tunggu dulu saja beberapa hari, jika dia benar-benar tidak datang aku akan mengangkat seseorang sebagai calon penerus kepemimpinan ku. " ucap Vince.


" Kurasa itu tidak perlu. "


Mendengar suara dari seseorang itu, mereka semua langsung bangkit dari duduk mereka dan melihat kearah suara itu berasal. Haika berdiri di ambang pintu sana, kemudian ia pun menurunkan tudung jubah yang menutupi kepalanya itu.


" Aku sudah kembali ayah, kakek. Maaf membuat kalian khawatir selama ini. " ucap Haika sambil tersenyum.


" Putra ku!. "


" Cucu ku!. "


Ucap Cody dan Vince bersamaan, mereka pun langsung berjalan menghampiri Haika dan memeluknya. Kebahagiaan terlihat dikedua orang itu, namun sebenarnya ada juga yang tidak suka dengan kehadiran Haika di sana.


" Putraku, kemana saja kau selama ini?? Kenapa kau baru datang sekarang??. " tanya Vince.


" Maaf, ayah. Setelah penyerangan itu aku hanyut di sungai dan kehilangan ingatan ku untuk sementara, saat itu aku diangkat menjadi anak oleh ibu Misika dan ayah Hudson. Dan setelah ingatan ku kembali, aku ingin menjaga adik kecilku terlebih dahulu. " ucap Haika memberi penjelasan kepada ayahnya.


" Hudson?? Maksud mu adik dari kaisar Chrysos yanh telah meninggal 5 tahun lalu?? " tanya Cody.


" Benar, dan berkat mereka juga saat ini aku bisa mencapai level kekuatan 70. " sahut Ethan.


Mendengar itu tentu saja sontak membuat semua orang di sana jadi terkejut.


" Bagaimana bisa dia mencapai level 70 begitu saja??. " batin Fergus dan Falsa pula bertanya-tanya.


" Uhuk... jadi mau bagaimana sekarang, apa yang akan kita lakukan untuk memilih pemimpin klan selanjutnya??. " tanya tetua ke 2 membuyarkan lamunan mereka.


" Benar, lagipula kita sudah punya dua orang calon penerus di sini. " ucap tetua pertama (Cody) pula.


" Kita bisa lakukan sesuai tradisi saja tetua, orang yang dianggap paling mampu maka akan diangkat menjadi pemimpin. " ucap Fergus memberi usul.


" Iya, itu bukan ide yang buruk. Namun Haika masih belum punya pendukung di sini setelah hilangnya dirinya, itu akan menjadi berat sebelah meskipun Haika sedikit lebih kuat dari Falsa. " ucap tetua ke 4.


" Oh, kalau soal pendukung anda tidak perlu khawatir tetua. " ucap Haika yang membuat mereka bingung.


Sementara itu Haika mengeluarkan sebuah kristal kecil yang ia bawa dan langsung menghancurkan nya begitu saja. Tentu saja itu membuat mereka tambah bingung dengan apa yang dilakukan oleh Haika.


Namun beberapa saat kemudian mereka pun dibuat terkejut dengan seseorang yang tiba-tiba muncul disamping Haika.


" Hah??... " ucap Quennevia yang dipanggil datang itu, dia sendiri juga bingung kenapa bisa tiba-tiba ada di sana.


" Yo adik kecil, selamat datang di klan Aira. " ucap Haika dengan wajah tenpa dosa.


Sementara Quennevia memelototi nya karena itu, " Kak, kau sembarangan membawaku ke tempat lain lagi. " ucap Quennevia.


" Ahahaha... ayolah jangan seperti itu, ayo sapa para tetua, dan yang ini adalah ayahku dan yang disana adalah paman dan adik sepupu ku. " ucap Haika sambil mendorong Quennevia kehadapan orang-orang yang masih belum sadar dari keterkejutan nya itu.


Quennevia sendiri hanya bisa menghela nafas karena tingkah laku Haika, dia jadi lebih seenaknya dari biasanya. Namun ia tetap menurutinya memberi hormat kepada mereka.


" Halo, senang bertemu dengan kalian. Namaku Quennevia Von Arkharega, aku adik angkatnya kak Haika. " ucap Quennevia dengan sopan sambil membungkuk kepada mereka.


" Hohoho... ternyata kau adalah adik yang dimaksud oleh anak nakal itu, ya. Selamat datang di klan ini. " sambut tetua pertama dengan ramah.


" Terima kasih, tetua. Dan ngomong-ngomong..... kenapa kakak seenaknya memanggilku tanpa pemberitahuan, kakak ingin ku bunuh ya??. " ucap Quennevia pula sambil menarik kerah baju Haika dan menatapnya dengan menyeramkan.


" Haha... jangan dong, nanti tidak ada orang yang bisa kau jahili lagi. " ucap Haika mulai gugup.


Quennevia hanya mendengus kesal dan kemudian melepas kan Haika begitu saja, dia kesal karena tiba-tiba ada di tempat itu padahal sedang jalan-jalan bersama teman-teman nya.


" Baiklah, pemilihan ini akan dilakukan sesuai tradisi. Bagaimana menurut kalian berdua??. " tanya Vince kepada Haika dan Falsa.


" Aku sih tidak masalah, bagaimana dengan mu Falsa??. " tanya Haika pula kepala Falsa.


" Aku menolaknya. " ucap Falsa.


" Hah, ke,kenapa??. " tanya Haika lagi yang bingung dengan Falsa, begitu pula dengan orang-orang disana termasuk ayahnya si Falsa.


" Aku tidak mau mengurus urusan memusingkan ini, itu bukan gaya ku. Kak Haika saja yang urus, aku mau pergi, bye. " jawab Falsa yang kemudian langsung pergi dari sana.


Bahkan tidak membiarkan orang-orang disana untuk bicara terlebih dahulu, dan malah membuat mereka tercengang mendengar itu. Semantara Quennevia hanya menatap kepergian Falsa itu dengan wajah datar.


" Oke, masalah selesai aku juga mau pergi. " ucap Quennevia yang berjalan keluar dari sana, tetapi kemudian ia berhenti dan menatap Haika terlebih dahulu. " Aku akan pergi bersama yang lainnya, jadi jangan panggil aku untuk sementara waktu. Mengerti??. " ucap Quennevia menatap Haika tajam.


" Iya??. " sahut Haika.


Syutt....


Namun Quennevia langsung saja menghilang dari sana tanpa berkata apa-apa lagi, meninggalkan suasana canggung diantara orang-orang yang masih di dalam.


Sementara itu Vince tengah memikirkan sesuatu, " Haika, kau diacuhkan. " ucapnya pula.


" Haha... tidak, dia menang seperti itu. " jawab Haika.


" Dia marah padamu, ya??. " tanya Cody pula kepada Haika.


" Uhhh_-' " namun hanya itu jawaban dari Haika.