Quennevia

Quennevia
Keluarga Sakura



[Season 2]


-- Distrik ke-3..


Ethan dan teman-temannya, termasuk Sakura telah kembali ke kota dan tiba disebuah komplek perumahan elit disana. Mereka berhenti didepan sebuah rumah yang cukup besar yang ada disana, dan segera turun dari kendaraan mereka masing-masing. Alasannya sederhana, mereka akan menginap dirumah orang tua Sakura untuk malam ini. Iya, hanya malam ini saja.


Yuki kali ini tidak ikut bersama dalam mobil bersama teman-temannya yang lain, melainkan naik motor bersama Sakura. Itu karena, ia memberikan kursinya kepada Quennevia..


" Semuanya disini??" tanya Ethan memastikan kalau tidak ada yang tertinggal ketika mereka sampai.


" Iya.." dan teman-temannya pun menjawabnya, beberapa juga menganggukan kepalanya. Sementara itu disampingnya, Quennevia terus menggenggam tangannya dengan erat.


***


Beberapa waktu yang lalu, setelah pertemuan mengejutkan mereka dipondok itu...


" Ini sudah malam. Bagaimana jika kalian beristirahat saja dulu? Kalian bisa melanjutkannya besok, aku juga akan membantu meski mungkin bantuanku tidak besar." Sakura mengusulkan itu karena dari cerita yang ia tangkap, Ethan dan juga teman-temannya tidak beristirahat dengan benar sejak memulai misi ini.


" Hmm... Tidak ada salahnya beristirahat sebentar." Oscar yang mendengar nya pun memiliki pendapat yang setuju dengan Sakura.


Sementara beberapa dari mereka telah menunggu seseorang mewakili keinginan mereka mengatakan itu..


" Iya! Ayo lakukan!."


" Aku akan merebahkan tubuhku yang mulai terasa kaku.~"


Arkan dan Meliyana langsung menanggapi usulan itu dengan penuh semangat. Mereka bahkan melompat-lompat kegirangan seperti tupai...


Em, tupai..


Ethan juga tidak merasa kalau itu adalah masalah, " Baiklah, ayo kita pergi-.." ia terhenti ketika hendak melangkah, dan ia menoleh saat mendapati Quennevia memegangi pakaiannya.


Melihat itu membuat Ethan menatapnya bertanya-tanya, begitu pula dengan teman-temannya yang mengintip diantara sesama mereka. Saat kemudian Quennevia mengangkat kepalanya dan menatap Ethan dengan ekspresi memelas...


" ....???"


Ethan masih berusaha memahami maksud Quennevia menatapnya seperti itu, saat beberapa saat kemudian dia sesuatu terlintas dikepalanya.


" Ah, kau tidak ingin kembali ke ruang dimensi??" ia pun menanyakan hal itu.


Membuat ekspresi Quennevia berubah cerah, dan ia menganggukan kepalanya dengan cepat. Ethan memikirkan itu, tidak ada salahnya selama Quennevia tidak mengerahkan kekuatan besar. Ia sudah mengumpulkan kekuatan yang cukup untuk tetap dalam wujud ini sementara waktu, jadi...


" Baiklah, kau pasti juga merindukan tempat ini, kan??" Ethan tidak bisa menolak hal itu.


Akan lebih baik jika Quennevia berkeliaran ditempat ini dalam wujud manusia nya, bukan wujud kelinci.


" Kalau begitu, kau bisa duduk ditempatku saja. Aku akan ikut bersama Sakura." ucap Yuki kemudian, ia tahu apa yang harus dilakukan tanpa diminta sekalipun. Dan Sakura sendiri mengangguk setuju dengan itu.


***


Dan di sinilah mereka semua sekarang....


Jam saat ini menunjukan pukul 19:48 malam, jadi ini masih dianggap wajar untuk bertamu malam-malam kerumah orang lain. Iya, begitulah...


" Ayo masuk. Aku sudah memberitahu orang tuaku kalau teman-temanku dari 'negara lain' akan datang berkunjung. Dan mereka sudah mengizinkannya." ucap Sakura membimbing mereka kearah rumah orang tuanya.


Ethan dan yang lainnya hanya mengikuti dibalakang, dan lalu Niu pun kemudian bicara. " Apa benar tidak apa kami datang malam-malam begini??" tanyanya agak tidak enak.


Yah, datang dijam segini sambil berbondong-bondong, itu agak membuat nya tidak nyaman dengan orang yang ada disekitar. Karena mereka mungkin akan memikirkan sesuatu yang aneh..


" Jangan khawatir soal itu." ucap sakura menimpali, ia pun membuka pintu dan masuk saat dia terkejut karena melihat semua anggota keluarga nya ada disana.


" Oh, akhirnya kau pulang, Sakura." dimulai dari ibu tiri nya, Vania.


" Bagaimana patrolimu malam ini??" ayahnya, Damon.


" Jadi kau benar-benar pulang."


Dan juga saudara laki-lakinya yang acuh dan sombong, Liam. Bahkan beberapa pelayan juga ada disana seolah mereka sedang melakukan penyambutan penting.


Sakura kehabisan kata-kata dengan itu, " ...Apa yang kalian lakukan didepan pintu seperti ini??" dia merasa aneh dengan tingkah mereka.


" Hm, bukankah kau bilang teman-temanmu akan datang kemari?? Tentu saja kami harus menyambutnya, kan?" sahut Damon menimpali nya.


Tapi, Sakura justru mengkerutkan keningnya terlihat terganggu dengan itu, dia adalah orang yang tidak pernah peduli apapun yang dilakukan olehnya. Kenapa dia sangat peduli sekarang?? Bertingkah seperti ayah yang peduli kepada putri yang telah ia telantarkan dan tempatkan diambang bahaya setiap waktu.


" Itu benar, Sakura. Kami harus menunjukan sopan santun kami sebagai tuan rumah." Dan ibunya yang selalu memandang rendah dirinya, ada apa dengan mereka saat ini?? Apakah karena dia berkata kalau teman-temannya dari luar negeri, mereka jadi penasaran. " Jadi, dimana mereka, nak??" tanya ibu tirinya pula.


Sakura hendak menimpali nya, saat tangan seseorang kemudian menyentuh kedua bahunya dari belakang menbuat Sakura menoleh kearahnya.


" Jadi anda adalah Tuan dan Nyonya, juga Tuan muda Heliansia, ya..." suara itu menengahi percakapan keluarga yang agak aneh ini, dan sosoknya maju dan berdiri disamping Sakura. "...Senang bertemu dengan kalian, namaku adalah Ethan. 'Teman baik' Sakura." Ethan berdiri disana dan tersenyum dengan cerah kepada orang-orang yang ada disana.


" Kami juga disini.." ucap Arkan juga mengikuti tingkahnya, sementara yang lain hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pasrah.


Bahkan kedua orang tua Sakura juga sampai kehilangan kata-kata dengan itu...


Disaat yang sama, saudara laki-laki Sakura, Liam yang terkejut... perhatian nya kemudian teralihkan kepada salah satu yang ada diantara mereka yang diam saja. Dia menatap Quennevia yang berdiri dibelakang Sakura, dan ketika tetapan mereka bertemu, Liam tersentak kaget dan langsung memalingkan wajahnya dengan ekspresi yang tidak biasa.


Tak lama dari itu, setelah mereka sadar dari keterkejutan dan mulai mengenalkan satu sama lain. Ethan dan teman-temannya yang lain pun dibawa ke ruang makan dan disambut dengan hidangan mewah sebagai tamu kehormatan. Tentu saja seperti itu, akan sangat mengecewakan jika mereka malah bersikap tidak menyenangkan setelah melihat wajah-wajah menawan mereka.


" ...Jadi begitu, ya."


" Iya, kami semua berasal dari tempat yang sama. Dan ini pertama kalinya kami kemari, sangat senang karena Sakura ada disini, dia pernah membantuku dan aku punya hutang budi padanya."


" Hahaha... Dia memang anak yang membanggakan."


" Tentu saja."


Ethan dan Damon yang memimpin percakapan diantara mereka, keduanya bahkan terlihat akrab seolah telah mengenal satu sama lain sejak lama. Hal itu tidak diragukan lagi bagi Oscar dan yang lainnya, sebagai seorang bangsawan, apalagi pangeran kekaisaran, kemampuan bicara haruslah jadi yang terbaik.


Berbeda dengan Sakura yang justru tersenyum sinis mendengarkan percakapan keduanya sambil fokus pada steak yang ada dihadapannya, " Membanggakan, huh??" dia sadar Ethan hanya bermain kata-kata dengan ayahnya, tapi tidak ia sangka kata-kata 'membanggakan' itu akan keluar dari mulut ayahnya.


Disamping itu juga... ada yang mengganggunya.


Yaitu soal saudara laki-laki nya yang terus menatap Quennevia yang ada ditengah-tengah antara dirinya dan Ethan, hal itu juga disadari oleh Ethan sendiri. Sayangnya ia hanya bisa tersenyum menahan kekesalahan karena itu...


" Beraninya dia menatap Quennevia seperti itu tepat didepan mataku..."


" Playboy ini..! Dia pikir dia siapa berani menginginkan siapa..?!"


Keduanya jelas memiliki suasana suram yang buruk dibalik sikap tenang mereka tentang hal itu, tapi teman-teman yang lain hanya pura-pura tidak tahu soal itu.


Sedangkan bagi Vania, dia yang duduk di samping putranya, Liam, juga menyadari soal ketertarikan nya itu. Karena tidak perlu diragukan lagi, dia juga tidak bisa menahan rasa takjubnya...


" Woah... Dia benar-benar seperti boneka. Wajahnya cantik, bulu mata lentik, bibir manis, tubuhnya juga bagus dan berisi. Dia benar-benar wanita yang sempurna. Terutama soal rambutnya yang sangat langka ini. Warnanya pirang lebih cenderung ke emas yang halus, rambutnya terlihat seperti untaian benang emas yang indah dan berkilau." seperti itulah kesan yang diberikan Vania soal penampilan Quennevia.


Tanpa disadari siapapun, Meliyana yang sedari tadi diam berusaha menahan sesuatu dengan gelisah karena sedari tadi Green yang bersembunyi dibalik rambutnya sedang membicarakan banyak hal dengan suara yang hanya bisa ia dengar. Yang mana itu berhubungan dengan isi kepala orang-orang yang ada disana...


Saat sebuah pikiran muncul dikepala Vania, " Dia akan sangat cocok dengan putraku.."


" Khuuk..!! Uhuk.. uhukk.." yang mana langsung membuat Meliyana yang mendapatkan semua pendengaran tersedak karena makanannya.


Perhatian semua orang pun langsung tertuju padanya, dan Niu pun buru-buru memberikan air kepadanya sembari menepuk-nepuk punggungnya.


" Meliyana, kau baik-baik saja??" tanya Niu kemudian, dia jadi khawatir karena melihat nya tiba-tiba seperti itu.


Sementara Meliyana yang masih berusaha mengatur nafasnya, masih dengan sesekali terbatuk, ia pun kemudian tersenyum dan menjawab. " Iya.. uhuk.. Aku hanya baru mendapat kabar mengejutkan dari ponselku hingga membuat ku tersedak, maaf membuat kalian kaget." ucapnya kemudian, tentu saja bohong.


" Astaga, Meliy, kau harus lebih berhati-hati." sahut Ethan pula sambil tersenyum.


" Iya..." Meliyana hanya mengiyakan hal itu, karena dia tahu...


Melihat dari bagaimana Ethan tersenyum dengan menyeramkan sekarang, dia juga mendengar apa yang ia dengar barusan. Itu membuat Meliyana berteriak dalam hatinya...


" Kumohon jangan ada pembunuhan disini sekarang!!!" seandainya ia bisa, dia ingin meneriakan itu secara langsung sebenarnya.


Tidak ada yang tidak menyadari apa yang terjadi diantara teman-temannya yang lain juga, karena itu sudah sangat jelas.


" Uh... Ngomong-ngomong, apa kalian akan lama berada disini??" Vania pun kemudian mengalihkan suasana yang tiba-tiba canggung setelah apa yang terjadi pada Meliyana.


" Kami berniat pergi ke suatu tempat besok." dan Oscar pun langsung menimpali hal tersebut.


" Benarkah? Kalian akan menikmati liburan ini." sahutnya kembali, saat kemudian perhatiannya pun kembali kepada Quennevia. Dia menyadari sesuatu yang aneh darinya, " Bagaimana dengan nona yang disana? Apakah kau baik-baik saja? Kau terlihat sedikit pucat." tanyanya terdengar seperti khawatir.


Quennevia yang diajaknya bicara merasa sedikit gelisah, dan ia pun melirik Ethan yang ada disampingnya. Ethan yang melihat itu pun sedikit menganggukan kepalanya...


Dan ia pun berkata, " Ah, maaf nyonya. Quen tidak bisa bicara." ucapnya.


" Apa..?"


" Dia mengalami sebuah kecelakaan parah, dan karena itu dia tidak bisa bicara. Saat ini dia masih dalam masa pemulihan."


" Oh, begitu rupanya."


" Iya..."


Ethan hanya tersenyum menanggapi itu, lagipula itu bukanlah kebohongan. Dia hanya... tidak mengatakan detailnya kepadanya.


Setelah makan malam itu selesai, sesuai yang direncanakan. Ethan dan teman-temannya akan bermalam dirumah ini, sungguh baik karena Damon telah menyiapkan kamar untuk mereka. Pembagiannya seperti ini...


Meliyana dan Yuki mendapatkan kamar yang sama, begitu pula dengan Arkan dan Oscar. Sementara Ethan sendiri, Niu dan Quennevia bisa tidur bersama Sakura yang memiliki kasur lebih besar dan cukup untuk tiga orang. Tapi dimalam itu...


Quennevia berjalan keluar sendirian meninggalkan mereka dikamar. Ia hendak taman belakang sebenarnya, untuk mencari angin. Dengan kaki tanpa alas dan gaun tidur putih, ia berjalan melewati koridor yang sepi sampai kemudian penglihatannya mendapati seseorang ada dihadapannya.