
[Season 2]
Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa hari sebentar lagi akan berganti malam. Matahari terlihat hampir terbenam dibarat, dibelakang bukit dimana Ethan sekarang berada saat ini. Dia sedang menunggu dengan kedua tangan terlipat didepan dadanya dan kaki kanan yang terus mengetuk-ngetuk tanah dengan suara yang teratur. Dia menatap kota dibawah sana dalam diam.
Sementara itu dibelakang nya, Velskud dan Yulles sedang memperhatikan nya dengan ekspresi yang cukup cemas. Namun mereka ragu untuk bicara, hal itu membuat suasana disana benar-benar dingin dan sunyi. Selain suara sepatu Ethan yang mengetuk tanah dan menimbulkan suara seperti jarum jam, tidak ada suara lain yang terdengar lagi disana.
Alasan kenapa suasana seperti ini ada sungguh sederhana....
...Teman-temannya belum juga datang hingga saat ini.
" Mereka terlambat, ya." bisik Yulles dengan suara pelan kepada Velskud yang berdiri disampingnya.
Velskud yang mendengar itu pun menganggukan kepalanya, " Iya, mereka terlambat." ucapnya pula.
" Wah, benar-benar..." saat kemudian suara Ethan yang tiba-tiba terdengar ditengah keheningan itu sedikit mengejutkan mereka.
" Apa?" Velskud pun menyahuti nya.
Sementara Ethan mengangkat kepalanya menatap langit ketika angin sepoy datang menerpa mereka...
" ...Mereka tidak menepati janji." ucapnya kemudian.
Velskud dan Yulles yakin dia tersenyum, tapi senyuman itu sekarang terlihat mengerikan dengan auranya yang terlihat suram.
" ...Yue." sampai akhirnya Ethan mengambil kesimpulan.
Sebuah portal ruang pun muncul diudara dan Yue melompat dari sana. Dia berubah jadi manusia, menatap Ethan kemudian bertanya.
" Kau memanggilku?"
" Bawa para gadis kembali. Aku akan membawa dua yang lainnya..." ucap Ethan yang langsung ke intinya.
Yue hanya mengangguk mendengar itu, " ..Baiklah." sahutnya pula.
Kedua orang itu pun langsung mengambil langkah besar dan melompat turun dari bukit menuju ke kota, meninggalkan dua yang lainnya dalam keheningan ditempat itu. Velskud hanya berekspresi datar dengan apa yang baru saja terjadi, dia sudah menebak kalau ini pasti akan terjadi.
Disisi lain, Yulles memasang raut kasihan di wajahnya mengingat teman-teman Quennevia itu.
" Ahh... Mereka pasti dalam masalah.." dia yakin dengan itu.
***
Dikota, lebih tepatnya sebuah pemandian air panas disana...
" Ah~, segarnya. rasanya aku sudah lama tidak mandi dengan tenang seperti ini." Niu baru saja keluar dari sana, tentu saja diikuti oleh Meliyana dan Yuki dibelakangnya.
Mereka telah jalan-jalan, belanja, makan dan mandi dikota ini...
Dan Meliyana pun mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan olehnya, " Benar, benar. Ini menyenangkan. Pemandian disini benar-benar sangat bagus." ucapnya menimpali.
Sementara itu dibelakang mereka, Yuki terdengar menghela nafas lelah. " Haa... Bagus jika kalian merasa seperti itu. Tapi kita harus segera kembali sekarang." ucapnya dengan serius.
Niu dan Meliyana hanya menatapnya mendengar itu, kemudian mereka pun saling pandang satu sama lain dan tersenyum.
" Ayolah, sekali-kali kita seperti ini. Tidak apa-apa kan jika santai sedikit." ucap Niu dengan mudahnya, sepertinya dia melupakan hal itu.
" Iya, Yuki! Ini juga pertama kalinya kita datang ke tempat yang menakjubkan ini, jika tidak sekarang kapan lagi?" bahkan Meliyana juga sama.
Dan itu cukup mengesalkan bagi Yuki, " Apa kalian lupa kalau-..." dia menghentikan ucapannya ketika dirinya melihat sesuatu dibelakang Meliyana dan Niu.
Mereka berdua yang merasa aneh dengan itu dan Yuki yang langsung terpaku pun kemudian menoleh, melihat apa yang dilihat Yuki dibelakang mereka. Yue berdiri sambil menatap mereka dengan ekspresi datar di wajahnya.
" Yue..?"
" Ah..."
Meliyana dan Niu baru ingat soal itu, tepat saat kemudian Yue mengangkat ekornya naik dibelakang sana. Mereka tidak punya kesempatan kabur sekarang.
***
Ditempat lainnya pula, dihalaman toko pandai besi saat ini... Arkan tengah memperhatikan sesuatu dengan begitu serius. Dia tengah mempertimbangkan salah satu senjata yang dipajang ditempat itu. Saat kemudian ia pun menyentuh dan mengangkatnya..
" Bagaimana menurutmu dengan ini.??" tanya Arkan sambil menunjukan palu besar yang ada ditangannya kepada Oscar.
Sementara Oscar sendiri, dia menatap Arkan dengan ekspresi agak kesal disana. " Itu tidak cocok. Letakan kembali." ucapnya menimpali nya.
" Cih. Kalau begitu apa yang menurutmu bagus?" Arkan juga kesal dengan hal itu. Sejak tadi Oscar terus menolak semua senjata yang dia tunjukan.
Sebenarnya ada alasannya. Itu karena semua senjata yang di tunjukan Arkan kepadanya terlihat aneh. Dimulai dari kapak yang ukurannya lebih besar darinya, kemudian sabit yang memiliki mata, dan juga pedang dengan mulut. Itu terlihat menyeramkan.
Oscar merasa pusing dengan ini, " Aku tidak akan menolak nya jika senjata itu normal, aku juga sudah memperbaiki pedangku, jadi ayo kembali sebelum Ethan marah!." ucapnya kemudian menjelaskan situasi.
Namun sayang, Arkan hanya menanggapinya dengan main-main. Ia mengangkat kedua bahu dan tangannya dengan bibir yang mengerucut.
" Jangan khawatir, lagipula matahari belum terbanam." ucapnya dengan sangat santai, sambil berjalan pergi dari sana bersama dengan Oscar juga.
" Apa kau lupa apa yang dikatakan Ethan? Dia bilang 'sebelum matahari terbenam', itu artinya sebelum matahari terbenam kita harus sudah ada disana!."
Oscar jadi tak habis pikir, ini seperti Arkan belum pernah saja melihat nya marah. Dia memijit kepalanya yang terasa berdenyut sakit, nampaknya Arkan harus ditampar kenyataan terlebih dahulu baru sadar.
Namun baru juga dia berpikir seperti itu, sesuatu jatuh dari langit tepat dihadapan mereka...
Syuutt... Brakk..!!
Sesuatu atau.. seseorang itu jatuh dengan cukup keras, hingga membuat tanah disekitarnya pecah. Orang lain yang melihat itu pasti juga terkejut sama seperti mereka.
Namun lebih dari terkejut, Oscar dan Ethan juga sangat gugup sekarang...
" Ah, sial.." Arkan tidak pernah memperhitungkan hal seperti ini.
" Mati sudah.." Oscar tahu ini pasti terjadi.
Ketika debu yang berterbangan disana menghilang, pria dengan rambut pirang pun terlihat ditempat jatuhnya itu. Ia pun kemudian bangkit berdiri dan menatap Oscar dan Arkan, dilihat dari auranya dia kelihatan tidak baik.
Saat kemudian Arkan pun berkata sesuatu, " He-Hei, kau disini. Kami baru saja mau kembali." ucapnya sambil berusaha menyembunyikan kegugupan nya.
" .... "
Tapi Ethan tidak menjawabnya.
Dan itu membuat Arkan semakin panik, " A-apa yang kau lakukan? Bukankah kita harus pergi sekarang? Ayolah, katakan sesuatu." ucapnya pula.
"....Sepertinya kalian bersenang-senang." dan Ethan akhirnya menyahuti nya.
" Ah, i-itu..."
Oscar tersentak, dia tidak melanjutkan kata-katanya ketika melihat Ethan yang mengangkat kepalanya menatap mereka... Sambil tersenyum menahan kekesalan itu.
" Aku penasaran apa saja yang kalian lakukan sampai melupakan waktu janjian kita, hm.." ucap Ethan pula kepada mereka.
Sedangkan Oscar dan Arkan memucat tidak bisa berkata-kata dengan hal tersebut, mereka benar-benar dalam masalah.
***
Tak lama kemudian, Yue sampai lebih dulu...
Dengan ketiga gadis yang dicari Ethan terikat menggunakan ekornya.
" Ah, aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi.."
" Yue, Kumohon lepaskan kami, ya? Kami juga bukan nya akan kabur."
" Haa..."
Yue tidak menanggapi apapun, dia hanya diam berpura-pura tidak mendengar apapun.
Mereka kelihatan seperti telah melewati masa-masa yang sulit dalam perjalanan menuju ke tempat itu. Sementara Yulles dan Velskud hanya menatap mereka dengan wajah datar.
" Kasihannya, aku penasaran dengan dua yang lainnya." ucap Yulles kemudian setelah melihat apa yang terjadi.
" Sebaiknya kau tidak memikirkan nya." dan Velskud pun menyahuti nya.
Yulles hanya tersenyum mendengar itu, jika didengar sekilas dia akan terdengar seperti orang yang tidak berperasaan, tapi sebenarnya sifatnya memang seperti itu. Aslinya dia orang yang cukup perhatian.
" Ngomong-nomong Tuan Velskud.... apa anda telah menemukan orang yang cocok untuk menggantikan posisi anda kelak??" saat tiba-tiba Yulles mengatakan sesuatu yang cukup sensitive.
Velskud tersentak mendengar itu dan langsung terdiam, tapi itu malah membuat Yulles tersenyum nakal.
" Saya dengar kalau putra anda tidak ingin meneruskan posisi pemimpin klan." lanjutnya pula dengan senyuman tanpa rasa bersalah.
Yah, seperti itulah Titus...
" ...Iyah, beruntung sekali klanmu karena memilikimu setelah kakakmu meninggal, ya." Velskud pun menimpali sambil memalingkan wajahnya dengan ekspresi agak suram.
" Haha... Jangan khawatir karena saya masih muda, meski ayah saya tidak memberikan posisinya pada saya. Beliau tinggal menunggu saya punya keturunan saja." sahut Yulles pula.
Itu cukup menusuk bagi Velskud. Mereka memiliki kejadian yang hampir serupa tapi akhirnya benar-benar berbeda. Dan apa yang dikatakan olehnya juga benar...
....Dia tidak bisa meminta cucunya menggantikan posisinya disaat dia punya kekaisaran besar untuk diurus. Disisi lain, putra nya justru tidak tertarik dan hanya mengurung diri dibawah tanah untuk menulis buku. Dia bahkan tidak punya ketertarikan untuk menikah dan memiliki keturunan.
Velskud benar-benar pusing karena Yulles tiba-tiba mengungkit hal itu saat ini....
" Oh, kau cepat juga, Yue." sampai kemudian suara itu mengalihkan perhatian mereka.
Ethan baru saja tiba sambil menarik baju dua temannya yang lain ditangan kanannya, dengan ekspresi yang jauh lebih santai. Yue yang mendengar ucapannya hanya menghela nafas kemudian berkata...
" Wajar saja aku cepat, karena mereka sama sekali tidak mencoba melawan." Yue pasti dengan hal itu.
Dilihat bagaimana pun dia benar. Berbanding terbalik dengan mereka yang dibawa oleh Ethan. Meliyana, Yuki, dan Niu terlihat cukup baik. Sedangkan Oscar dan Arkan... mereka terlihat seperti kehilangan setengah nyawa mereka.
Melihat itu membuat para gadis menelan ludah dengan gugup, mereka memiliki satu pemikiran serupa saat ini...
" Aku tidak akan membuatnya marah lagi..."