Quennevia

Quennevia
Niat buruk yang terlihat jelas



Sesuai yang dikatakan selir kedua sebelumnya, malam harinya ada tamu yang datang ke kediaman itu. Akhirnya Quennevia pun terpaksa menunda pembuatan obat itu dan menghadiri acara yang ayahnya lakukan.


" Ah, aku benar-benar tidak mau pergi. " gumam Quennevia.


" Bagaimana jika pura-pura sakit saja, nona?? " tanya Murphy.


" Tidak, mereka pasti akan berpikir aku tidak berani hadir. "


Murphy hanya tersenyum mendengar nya, dia senang karena nona yg ia layani tidak lemah seperti dulu lagi. Lamunan nya buyar katika melihat Quennevia yang terlihat kesusahan dengan rambut panjangnya.


Murphy terkekeh melihat itu, wajah kesal Quennevia terlihat sangat lucu baginya. Dia pun menghampiri nya dan mengambil sisir yang ada di tangan Quennevia. Dia pun kemudian membantunya menyisir sambut nya dan menghias nya.


" Putri, anda semakin mirip dengan nyonya. " ucapnya.


" Benarkah, andai saja beliau masih ada di sini. " sahut Quennevia.


" Nona, anda harus membalas kematian nyonya. Dia sangat menderitanya. "


Quennevia merasa ada yg aneh dgn ucapan Murphy, wajahnya juga terlihat sangat sedih saat membicarakan ibunya. Dan lagi kalimat yg dia ucapkan...


" Membalas kematian?? " batin Quennevia.


" Apa yang kau ketahui, Murphy?? " tanyanya.


Murphy langsung menjatuhkan diri nya dan berlutut dibelakang Quennevia.


" Nona, Nyonya besar meninggal bukan karena penyakit. Beliau menginggal karena di racuni saat dirinya sedang lemah karena terluka, waktu itu tuan sedang tidak ada di sini, dan anda masih sangat kecil. Saya tidak berani mengatakan nya, dan tiga hari kemudian tuan baru tiba di sini. " jelas Murphy.


Quennevia mengepalkan tanganya, meski dia bukan Quennevia yang asli tapi perasaan itu mengalir dalam dirinya. Jika Quennevia yang asli mendengar itu dia pasti sudah menggila.


" Siapa?? "tanya Quennevia, dia berusaha mengendalikan emosinya.


" Waktu itu selir pertama tiba-tiba datang ke sini, dia bilang ingin memberi obat kepada nyonya karena beliau sedang sakit. Tapi besoknya nyonya sudah ditemukan tidak bernyawa dengan anda yang menangis di samping nya. " jawab Murphy.


Tidak, masuk akal. Itulah yang ada di pikiran Quennevia, jika ibunya sakit bukannya tidak akan langsung mati seperti itu. Jika memang benar, itu artinya selama ini kondisi ibunya terus memburuk karena racun yg diberikan oleh kedua selir itu dan lukanya.


Benci, banar Quennevia membenci mereka. Setelah mengetahui kehidupan didunia ini dia tidak bisa lagi berdiam diri saja, dia harus membalas perbuatan mereka. Quennevia pun bangkit dari duduk nya dan berbalik menghadap Murphy.


" Bangunlah, Murphy. Kau tidak perlu berlutut seperti ini. " Quennevia membuat Murphy bangun.


" Putri.. " ucap Murphy.


" Tidak perlu khawatir, aku pasti akan membalas perbuatan mereka kepada ku, kau dan juga ibuku selama ini. " ucap Quennevia meyakinkan Murphy.


" Iya. "


Setelah meyakinkan Murphy, mereka pun pergi dari sana menuju aula tempat tamu ayahnya. Diperjalanan dia bisa mendengar bisik-bisik dari para pelayan yg masih merendahkan nya, dia tidak mempedulikan itu. Tapi...


" Hai, kalian! Diam jangan bicara sembarangan!. " teriak Murphy yang kesal mendengar itu.


" Murphy. " Quennevia menepuk pundak Murphy, dia pun menggelengkan kepalanya.


" Jangan urusi sampah seperti mereka. " ucapnya.


" Tapi putri... " ucap Murphy.


" Sudahlah, ayo. Kita akan terlambat nantinya. "


Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka pergi ke sana, dan di jalan itu dia berpapasan dengan seseorang lagi.


" Adik, apa kau sudah baik-baik saja?? " tanya seseorang.


Quennevia pun melirik kearah asal suara itu, disana dia melihat seorang pria berusia sekitar 18 tahun mendekatinya. Haika Morlowe, Kakak yang diangkat ibunya. Dia orang yang sangat menyayangi Quennevia sama seperti ayahnya sendiri.


" Aku baik, kakak. Apa kakak juga akan pergi ke tempat itu. " tanya Quennevia sambil tersenyum ramah.


" Iya, aku juga diminta hadir oleh ayah. " jawabnya.


" Kalau begitu mari pergi bersama. " ajak Quennevia.


Haika yang mendengar itu hanya membalasnya dengan senyuman lebar, dia terlihat sangat senang dengan itu.


Akhirnya mereka pun benar-benar pergi ke sana bersama. Saat tiba, ditempat itu sudah berkumpul banyak orang. Quennevia dan Haika pun segera masuk dan memberi hormat kepada ayah mereka. Kemudian langsung duduk bersama dengan yang lainnya, kecuali Quennevia yang duduk bersama dengan ayahnya.


Para tamu itu adalah tuan Starvoc dan juga anaknya, serta beberapa pengikutnya juga. Tapi ada satu hal yang membuat Quennevia ingin langsung pergi dari sana. Tatapan dari anak tuan Starvoc itu... Seperti serigala yang menentukan mangsa.


" Hmm.... Quennevia, dia anak yang paling dicintai oleh tuan Hudson. Meski dia tidak berguna, tapi dia bisa membuat derajat ku semakin tinggi. Dia juga sangat cantik, aku pasti akan sangat beruntung. " batin anak dari tuan Starvoc, Ain Starvoc.


" Cih, kau pikiran aku tidak tahu isi otakmu itu. " batin Quennevia.


Mereka mengobrol dengan tenang selama beberapa waktu, membahas banyak hal bersama dengan ayahnya. Pengaturan wilayah dan birokrat, bisnis dan sebagainya, hingga saat ada kesempatan.


" Tuan Arkharega, nampaknya putrimu tumbuh dengan sangat baik dan cantik, sama seperti ibunya, ya. " ucap Tuan Starvoc.


" Hahaha.. Anak baik, anak baik. Pasti sulit bagimu untuk beradaptasi dengan suasana seperti ini, kan?? Apa lagi saat orang-orang berpikir jika kekuatan itu labih penting. " ucap orang itu lagi.


" Iyah, anda benar tuan. Saya sangat khawatir jika membebaskan nya diluar sana. " sahut Hudson dengan tenang.


Nampaknya tuan Starvoc itu benar-benar licik, mereka ingin status yang besar untuk diri mereka sendiri. Apalagi mengingat kalau ayahnya Quennevia itu adiknya kaisar. Nampak dengan jelas dimata Quennevia bahwa orang-orang seperti mereka itu benar-benar sangat menjengkelkan.


" Mereka licik seperti rubah. " ucap Quennevia dalam hatinya.


" Anu... Master, aku juga rubah loh. " ucap Yue tiba-tiba dalam pikirannya, membuat Quennevia teringat.


" Maksud ku bukan jenis seperti mu, Yue. Tapi rubah jahat, rubah menjengkelkan. " ucap Quennevia pula memberikan klarifikasi pasti, tapi Yue tetap merasa agak terganggu dengan itu.


Perbincangan mereka berakhir karena keterkejutan Quennevia mendengar apa yang di ucapkan oleh tuan Starvoc.


" Bagaimana jika membuat putri Quennevia menjadi tunangan Putra ku. Putraku sudah jadi petarung level 17." ucapnya.


" What?!!. " Quennevia merasa seperti ada seseorang yang dengan sengaja berusaha menghantamnya dengan palu, padahal dia sudah sangat pusing ditambah lagi ini.


Semua orang juga yang ada di sana juga sangat terkejut dengan pernyataan tiba-tiba yang tidak sesuai dengan agenda itu, tentu saja kecuali orang-orang tuan Starvoc yang sudah merencanakan hal itu dari awal. Pertunangan?? itu sesuatu yang terdengar kurang menyenangkan bagi Quennevia, ekspresi nya pun berubah dingin.


Sementara, " Soal itu... " Hudson sangat ragu dengan hal itu.


" Ayahanda, adik masih terlalu kecil. Lagi pula masih ada aku, paman Sven dan juga para prajurit lainnya yang bersedia melindungi adik. " ucap Haika, dia benar-benar tidak setuju dengan usulan itu.


" Iya, mau memang benar. " ucap Hudson.


Quennevia mengangguk puas mendengar itu, akhirnya ada juga orang yang membelanya disaat situasi nya sangat sulit. Lagipula siapa yang mau dengan anak jelek seperti anak tuan Starvoc, pikir Quennevia. Ya.. dia tidak begitu jelek, tapi dia tetap tidak mau. Quennevia tidak suka dengan pria macam ini.


" Iya, ini untuk berjaga-jaga saja. Bagaimana jika putri ingin pergi ke luar, tapi anda dan juga para prajurit tidak ada. Itu akan membuat anda repot. " tapi tuan Starvoc masih belum menyerah.


" Tuanku, kurasa itu bukan ide yang buruk. Putri masih butuh perlindungan yang baik, dan anak tuan Starvoc adalah petarung level 17." ucap selir Anna berusaha mendorong situasi yang menguntungkan baginya.


" Sialan kau nenek tua! " Quennevia berusaha untuk bersabar dan tersenyum mendengar itu, meski jujur saja dia ingin langsung lari menabrak jendela dan kabur saat ini..


" Aku juga merasa seperti itu, ayahanda. Adik ketiga perlu perlindungan ekstra. " bahkan Adele sampai ikut-ikutan juga.


Quennevia sangat kesal sekarang, di tempat ini lebih banyak orang yang membantu tuan Starvoc itu dari pada dirinya. Ah, andai dia langsung menunjukkan Yue miliknya, mereka semua pasti langsung tunduk padanya. Tapi...


" Sabar, aku tidak bisa gegabah. Aku harus menahannya terlebih dahulu. " batinnya.


Dia pusing menghadapi pembicaraan itu, memang seharusnya dia pura-pura sakit saja biar tidak datang ke tempat ini. Sekarang dia malah mendapatkan permasalahan soal pernikahan, padahal dirinya sekarang baru 11 tahun, meski pun jiwanya sudah 18 tahun.


" Haha... Aku menyesal sekarang, Murphy. " batinnya.


Murphy juga terlihat khawatir dengan apa yang terjadi sekarang, tapi dia tidak bisa bertindak seperti ini. Bahkan meski dia sangat ingin membantu, menyela diantara majikan adalah sesuatu yang tidak boleh ia lakukan.


" Jadi bagaimana, tuan Arkharega. Bukankah itu hal yang sangat membantu?. " tanya tuan Starvoc.


" Itu... "


Hudson masih ragu dengan itu, dia memang berpikir kalau itu bukan hal yang buruk. Tapi yang ia pertimbangkan itu perasaan putrinya, dia tidak ingin memaksanya atau membuatnya merasa seolah dia berusaha menyingkirkannya. Quennevia yang melihat ekspresi rumit diwajahnya itu bisa mengerti, jadi terpaksa deh dia yang harus turun tangan sendiri.


" Aku tidak membutuhkan nya. "


 


 



Nama : Quennevia von Arkharega.


Umur : 11 tahun.


Ket : Merupakan reinkarnasi dari Nevia dari dunia modern.



Nama : Haika Morlowe


Umur : 18 tahun.


Ket : Kakak angkat Quennevia.



Nama : Murphy Shavira


Umur : 12 tahun.


Ket : Dayang Quennevia yg sudah di anggap saudara sendiri.