
Keesokan paginya, Quennevia melakukan rapat dengan para guru, tetua dan juga para murid yang termasuk ke dalam pasukan elit di Akademi. Mereka ingin membahas tentang apa yang dipikirkan oleh Quennevia, namun kenapa mereka malah ribut sendiri tentang persoalan keributan yang dilakukan oleh para klan Retia saat ini.
Dirinya dan teman-temannya yang berada di posisi tertinggi di Akademi saat ini pun jadi pasukan paling elit di sana, bahkan bisa dibilang mereka itu jabatannya tepat dibawah Tetua bahkan lebih tinggi sedikit dari para guru. Para murid pertama yang bisa melebihi posisi guru setelah Tetua.
Quennevia benar-benar pusing dengan semua ucapan orang disana saat ini, bahkan para tetua pun ikut pusing dengan apa yang mereka katakan. Dan teman-temannya Quennevia pun bingung harus melakukan apa dengan semua perdebatan tiada akhirnya itu. Sampai kemudian...
Brakk...
" Diamlah!. " ucap Quennevia dingin.
Semua orang disana langsung diam seperti yang dikatakan oleh Quennevia, tidak ada yang mau membuatnya marah karena takut akan kekuatan nya. Disisi lain teman-temannya dan para Tetua pun akhirnya hanya tersenyum sambil menghela nafas lega karena itu.
" Baiklah, jadi.. aku sudah dengar soal semua kerusuhan itu dari laporan kalian. Aku juga sudah meminta para kerajaan termasuk Kekaisaran Chrysos dan Kekaisaran Foldes yang akan ikut membantu sesuai perintah Ethan, bahkan klan Aira pun ikut dikerahkan kakakku untuk mengatasi masalah itu. Jadi tolong tenang sedikit sampai kita mendapatkan kabar dari mereka. " ucap Quennevia.
" Akan tetapi... saat ini seluruh benua sedang dalam kekacauan, jika terus seperti maka.... "
" Akan terjadi perang?? Aku tahu, karena itulah yang diinginkan oleh klan Retia. " ucap Quennevia memotong ucapan orang yang tadi bicara itu.
Mereka bisik-bisik setelah mendengar itu, memang benar apa yang dikatakan oleh Quennevia. Klan Retia sejak dulu memang selalu berusaha untuk menguasi benua ini, dan menjadikan mereka berada di puncak pemerintahan. Tidak mengherankan jika Quennevia sendiri tahu akan hal itu.
" Semuanya, tolong dengarkan. Kami mengadakan rapat itu untuk membahas sesuatu yang sangat penting. " ucap Ryohan yang langsung menarik perhatian mereka semua.
" Kita disini untuk membahas soal pergerakan kita yang beberapa saat lalu selalu saja diketahui oleh pihak luar, kami curiga seperti nya ada mata-mata atau pengkhianat yang ada di sisi kita. " ucap Yuki pula.
" Pengkhianat??. "
" Bagaimana bisa seperti itu??. "
" Siapa kah dia??. "
" Karena itulah, kami meminta kepada kalian semua... untuk melaporkan gerak-getik orang yang menurut kalian mencurigakan, tetapi tolong jangan bertindak sendirian. " ucap Meliyana.
" Kalau begitu bagaimana dengan Nona Beatrice?? Dia orang yang terakhir datang ke Akademi setelah perginya Lorenzo, mungkin saja dia adalah pengkhianat/mata-mata nya. "
" Tidak, jangan berasumsi seperti itu terlebih dahulu. Kita tidak tahu siapa yang melakukan nya jadi jangan menghakimi seseorang telebih dahulu, untuk saat ini perintahnya adalah melaporkan semua pergerakan orang yang menurut kalian mencurigakan tanpa melakukan tindakan sembrono. Hanya itu, rapat selesai. " ucap Quennevia yang langsung mengakhiri nya karena sudah terlalu pusing.
Semua orang pun langsung keluar dari tempat itu, tidak terkecuali dengan Quennevia dan yang lain pula. Mereka semua menghala nafas lega karena rapat yang memusingkan itu pun akhirnya sudah selesai, tentu saja untuk saat ini.
" Haahh... Tidak kusangka rapat seperti ini benar-benar sangat amat memusingkan, aku heran bagaimana Ethan dan Pangeran Lecht mengatasi hal seperti ini hampir setiap hari saat di Kekaisaran. " ucap Oscar yang terlihat benar-benar tertekan.
" Ya ampun, nyawaku berkurang setengahnya. Sekarang aku mengerti penderitaan ayahku. " ucap Meliyana pula dengan wajah yang kelihatan lesu.
Jika Meliyana saja sudah seperti itu, lihat bagaimana Arkan saat ini. Dia bahkan sudah seperti zombie yang berjalan di antara mereka, orang yang tidak pernah berpikir terlalu keras seperti Arkan akan sangat kesulitan menangani hal dalam rapat tadi.
" Kalau begitu semuanya, aku dan Quennevia pergi duluan ya. " ucap Ethan pula tiba-tiba menyela pembicaraan mereka itu.
" He... kalian mau ke mana??. " tanya Niu.
" Kami mau ke kota, hanya berdua. Hahaha... " jawab Ethan pula sambil sambil menekan kan kata hanya berdua, ia merangkul Quennevia dan langsung pergi dari sana.
" Arghh.. sialan, jangan bermesraan di depan kami!!. " teriak Meliyana dan Arkan serempak.
" Haha... sudahlah ayo pergi ke kantin Akademi saja. " ucap Oscar pula yang langsung disetujui oleh mereka semua.
Kecuali Yuki, ia malah tidak bergerak dari tempatnya sama sekali, saat dia melihat seseorang yang menurut nya terlihat mencurigakan, sementara itu teman-temannya yang lain sudah pergi lebih dulu. Karena Yuki yang penasaran dengan gerak-getik orang itu, ia pun langsung mengikuti nya saja tanpa pikir panjang. Meskipun sebelum nya Meliyana sudah bilang untuk tidak bertindak gegabah.
Meski pun begitu Yuki tetap ikut masuk menyusulnya, dan bersembunyi di balik tembok dimana orang itu berada. Dan Yuki membelalakan matanya saat lihat dan dengar apa yang terjadi disana setelah mengikuti orang itu.
" Bagaimana hasilnya??. "
" Mereka mulai curiga ada pengkhianat di sini, itulah yang kudengar saat mereka melakukan rapat. " ucap orang yang dikejar oleh Yuki itu.
" Maksudmu saat kau menguping nya, hahahaha... "
" Menguping sungguh kata yang kasar, namun itu bukan hal penting saat ini bukan??. "
" Haha.. baiklah, aku akan menyampaikan hal ini kepada pemimpin klan. Untuk saat ini bertingkah seperti biasa lah agar mereka tidak mencurigai mu. " ucap orang yang bicara dengan orang yang dikejar oleh Yuki, sesaat kemudian orang itupun menghilang dari sana.
Yuki yang saat itu sudah mengetahui kebenarannya akan pergi dari sana, namun tanpa sengaja ia malah menendang reruntuhan yang tepat berada di dekatnya. Hingga membuat suara yang sudah pasti didengar oleh orang misterius itu.
" Siapa di sana?!. " ucap orang itu.
" Sialan!. " umpat batin Yuki, ia pun berlari keluar dari reruntuhan itu.
Namun saat diluar ia sudah dicegat oleh orang itu lagi, siapa yang sangka dia akan secepat itu. Ah, harusnya Yuki tidak mengikuti nya terlalu jauh tadi, dia seharusnya mengikuti perkataan Meliyana dan Quennevia.
" Hei, mau kemana Yuki??. " tanya orang itu sambil tersenyum tanpa dosa.
" Kenapa?? Padahal kami sangat percaya kepada mu?!. " tanya balik Yuki dengan sangat marah.
" Haha.. kenapa kau masih bertanya 'Kenapa' ? Tentu saja karena aku tidak pernah ada di pihak kalian sejak awal, dan aku paling tidak suka saat melihat Ethan dan Quennevia bersama. " sahut orang itu.
" Quennevia dan yang lainnya bahkan tidak pernah mencurigai mu sama sekali meski tingkahmu memang agak aneh, tapi malah inilah yang kau lakukan!! Padahal kau tahu kalau dia sangat menderita dengan semua ini!!. " ucap Yuki.
" Hm... Yah, memang sangat bagus mereka tidak menyadari hal itu. Dan karena kau sudah tahu banyak, ini saatnya kau melupakan apa yang sudah terjadi. " ucap orang itu pula.
Ia melemparkan sesuatu kepada Yuki saat itu, dan seketika muncul sebuah cahaya yang begitu menyilaukan. Hingga membuat Yuki tidak bisa melihat apapun dan kemudian jatuh tak sadarkan diri di sana, orang itu pun berjalan kearah nya setelah Yuki pingsan itu.
" Hng... Maaf ya, Yuki. Aku tidak ingin melukai mu, tapi tak ada yang boleh mengatahui hal ini. " ucap orang itu pelan.
- Beberapa saat kemudian.
Setelah beberapa saat Yuki pingsan, kini ia mulai sadar ketika merasa ada seseorang yang mengguncang tubuhnya. Dan ketika membuka matanya, yang ia lihat didepannya itu adalah Ryohan.
" Hei, Yuki. Kau baik-baik saja??. " tanya Ryohan dengan raut wajah yang kelihatan sangat khawatir.
" Ah, umm... Iya, aku baik-baik saja. " jawab Yuki, ia langsung bangun dari tempatnya.
Kepalanya berdenyut sakit hingga membuat Yuki hampir jatuh lagi, namun untungnya ditahan oleh Ryohan. Ia merasa melupakan sesuatu namun sama sekali ia tidak bisa mengingat nya.
" Kau yakin?? Sebenarnya apa yang terjadi, dan... kenapa kau ada di sini??. " tanya Ryohan lagi yang kelihatan bingung.
Yuki sama bingung nya dengan Ryohan, " Soal itu... aku merasa sedang bicara dengan seseorang tadi, memungkin hanya mimpi ku saja ya. Kau sendiri kenapa kau ada di sini. " ucap Yuki.
" Kau sangat lama tidak kelihatan setelah rapat, yang lainnya pun jadi ikut khawatir. Saat aku mencari mu, aku mendengar dari beberapa siswa yang melihat mu kearah sini, jadi aku kemari. Dan setelah nya aku malah melihat mu yang pingsan ditempat ini. " jelas Ryohan.
" Hm.. Yah, sudah lah. Akan kuingat-ingat nanti, ayo kembali saja. " ajak Yuki pula sambil mengalihkan perhatian nya, ia jadi malu sendiri karena sedari tadi Ryohan memegangi nya terus.
Sedangkan Ryohan sendiri bingung dengan reaksi Yuki yang tidak biasa, tapi ya sudahlah ia ikuti saja kemauan nya. Dia tidak mau ditatap dingin oleh Yuki, karena bagi semua orang itu sangat menyeramkan, termasuk menurutnya.